Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Adinda Mengerti Mas


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Bu Nadia sang bibi, yang mendengar segala kesiapan Al, tentang malam resepsi pernikahannya dengan sang keponakan, merasa bersalah. Ada rasa sedih yang tak bisa ia sendiri jabarkan. Bu Nadia merasa tak sanggup. Rasa bersalah karena keburukan putrinya dulu, mendadak meradang lagi di dadanya. Bu Nadia merasa tak sanggup. Ia seperti ingin menghindar dari situasi ini.


" Adinda, nak Al, sepertinya bibi lupa sesuatu, ada baju bersih yang masih belum bibi rapikan di kamar, bibi mau ke kamar dulu ya sebentar, bibi mau lipat baju yang sempat bibi keluarkan dari lemari tadi ". Serunya tiba - tiba, nampaknya bu Nadia, ingin beralih dengan mencari kesibukan lain.


" Oh, yasudah bi, tak apa, kalau bibi mau ke kamar, ya ke kamar lah ". Sahut Al.


" Adinda bantu ya bi, biar cepat selesai ". Inginnya membantu sang bibi.


" Tak perlu nak, kamu di sini saja, temani ayahmu ". Tolaknya lembut pada sang keponakan.


Tak ada sahutan dari Adinda. Ia setuju saja jika itu memang keinginan bibinya. Tak ingin berlama-lama, bu Nadia pun melangkah menuju kamarnya, dengan meninggalkan keluarganya di ruang tamu.


Srup... srup... srup... suara seruputan nampak terdengar dari gelas Damian. Rupanya jus alpukat nya itu sudah mulai tandas, sehingga hanya menyisakan gelas dan sedotannya saja.


" Cudah mommy, dush putat - putat ( jus alpukat) na Mian dah habish ". Seru bocah kecil itu, lalu ia segera turun dan meletakkan gelas kosongnya di atas meja.


" Pintarnya anak mommy, sudah menghabiskan jus nya ". Sahut sang mommy dengan senyumannya.


Dan tak lama dari itupun, si kecil Aganta juga sudah menghabiskan jus alpukat nya.


" Aganta sudah juga nak?, pintarnya anak mommy ". Ujarnya lanjut pada putra yang satunya.


" Cudah mommy, dush na Anta cudah habish ". Sahutnya sambil dengan tangan mungilnya yang masih memegang gelasnya.


" Boy, kalian suka jus alpukat nya, sampai habis tanpa sisa begitu? ". Timpal Al dengan sedikit heran.


" Bahkan teh jahe punya daddy masih ada loh boy, tapi kalian malah selesai duluan minum jus nya ". Lanjut Al lagi.


" Talna dush na, enat daddy ". Sahut Aganta, lalu bocah kecil itu kembali menaiki sofa duduknya yang tadi.


Adinda pun mulai menata dua gelas bekas milik kedua putranya, nampaknya ibu muda itu ingin membawanya ke dapur.


" Mau kemana kamu nak? ". Tanya Budi.


" Adinda mau ke dapur yah, mau cuci gelas - gelas ini, sekalian juga ke kamar bibi ". Sahutnya.


" Tunggu dulu sayang, teh ku tinggal sedikit, sebentar, mau aku habiskan dulu tehnya ". Tahan Al pada sang istri, lalu ia segera menyeruput teh jahe nya lagi dengan cepat.


" Ya sudah, Adinda ke dapur dulu mas ". Sahutnya lagi, lalu Adinda pun membawa semua gelas bekas itu.


Sepasang kaki jenjangnya yang tertutup gamis itu, terus ia langkahkan menuju ruangan dapur. Alas kaki yang sederhana dan begitu ringan yang dikenakan nya, hampir tak menimbulkan suara.


Di tengah - tengah langkahnya, terlihat jika kamar bibinya sedikit terbuka. Namun Adinda masih terus melangkah menuju dapur.


Kran air pun sudah dinyalakan nya, satu persatu Adinda menyabuni gelas bekas mereka tadi hingga di bilas bersih dengan air.


Adinda melanjutkan lagi langkahnya menuju kamar bibinya. Hingga langkahnya itu telah benar - benar sampai di daun pintu kamar bibinya. Karena pintu itu sedikit terbuka, membuat Adinda ingin segera saja masuk, dengan mendorong pintu itu.


" Bibi Adinda masuk y... ". Kalimatnya itupun tak jadi ia lanjutkan.

__ADS_1


Adinda terdiam melihat sang bibi yang ternyata sudah berlinang air mata. Adinda terkejut setelah melihatnya. Sang bibi yang tadi sempat mengatakan ingin melipat baju di kamarnya, nyatanya tak seperti itu dan malah menangis.


" Bi, bibi kenapa menangis? ". Seru Adinda dengan segera mendekati bibinya.


Bu Nadia, yang sudah tertangkap basah oleh sang keponakan, buru - buru segera menghapus lelehan air matanya.


" Bi, bibi kenapa menangis?, bibi ada masalah?, cerita sama Adinda bi ". Serunya lagi dengan mengelus punggung sang bibi.


" Tidak apa - apa nak, bibi tidak ada masalah ". Sahutnya dengan mengelak.


" Kalau memang tidak ada masalah, lalu kenapa menangis, sudah, bibi jangan menyembunyikan apapun dari Adinda, Adinda tahu, kalau sekarang bibi sedang ada masalah, tapi bibi berusaha menutupinya dari kita semua ". Sahut Adinda lagi, karena itulah yang dirinya rasakan.


Bu Nadia, sudah tak bisa menutupinya lagi. Apa salahnya jika ia menceritakan semuanya. Bu Nadia menatap wajah keponakan yang hanya tinggal satu itu. lalu kedua tangannya yang sedikit agak berkeriput itu, mulai menggenggam tangan mungil Adinda.


" Bibi tidak masalah nak, hanya saja, bibi merasa bersalah padamu, karena kesalahan yang dilakukan putri bibi dulu, kamu harus menjalani hidup yang lebih pahit. Coba saja kalau putri bibi itu tidak jahat sama kamu, pasti kebahagiaan ini sudah dari dulu kamu rasakan ". Sahut bu Nadia pada akhirnya dengan tersenyum getir.


Adinda pun beralih dengan menggenggam balik kedua tangan bibinya.


" Bi, sudahlah, jangan bibi merasa bersalah lagi, semuanya sudah berlalu bi, semuanya sudah berubah menjadi baik, jangan bibi terus - terusan merasa bersalah seperti ini, Adinda tak suka bi. Beberapa hari lagi adalah malam indah pernikahan Adinda dan juga mas Al, jadi Adinda mau, di malam pesta nanti, bibi ku ini tersenyum, Adinda ingin di malam pernikahan Adinda, bibi jadi ibu Adinda ". Sahutnya dengan seulas senyuman nya.


Bu Nadia pun langsung memeluk tubuh Adinda, ia memeluknya dengan sangat erat. Dan tanpa terasa, kini air mata itu kembali terjatuh membasahi kedua pipinya.


" Bibi sangat menyayangimu nak ". Serunya.


" Adinda juga sayang bibi ". Sahut Adinda.


Sepasang bibi dan sang keponakan itupun masih larut dalam rengkuhan hangatnya, hingga akhirnya, bu Nadia tersadar akan sesuatu. Sepertinya Adinda masih belum mengetahui tentang kabar kehamilan Sintia.


" Tunggu dulu nak ". Seru bu Nadia dan melepas pelukannya.


" Kamu sudah dengar kabar kehamilan kakak mu Sintia? ". Ujar bu Nadia.


" Hah... kak Sintia hamil? ". Sentaknya terkejut.


" Jadi kakak mu belum memberi kabar kehamilannya, hemmm.... anak itu ". Bu Nadia menggeleng tak percaya.


" Kak Sintia belum beri kabar apapun sama Adinda bi, apalagi tentang kehamilannya, ya kalaupun video call, pasti hanya Aganta dan Damian yang bicara pada Kenzie ". Jelas Adinda.


" Sintia kakak mu hamil nak, usia kehamilannya berapa bulan ya, tiga atau empat bulan kalau tidak salah ". Sahut bu Nadia.


" Sudah berjalan selama itu?, dan kak Sintia belum memberitahunya pada Adinda? ". Adinda masih tak percaya dibuatnya.


" Ya sudahlah nak, mungkin kakak mu itu ingin memberi kejutan, soalnya katanya kemarin, Sintia mau main ke sini kalau cucu kedua bibi itu sudah lahir ". Ujar bu Nadia.


" Hemm... begitu ternyata, ya ada bagusnya juga bi ". Tuturnya.


*****


Sang mentari telah lama tenggelam menuju tempat peraduannya, dan menjemput malam yang indah sebagai gantinya, waktu pun sudah malam, dan tanpa terasa malam pun sudah semakin larut.


Dua sosok mungil yang selama hampir seharian penuh itu bermain bersama kakek dan neneknya, sudah cukup lama terlelap di box tidurnya masing - masing, mungkin karena keduanya sudah cukup lelah beraktivitas seharian, sehingga membuat keduanya menjadi lebih cepat tertidur.


Adinda sang mommy, yang masih terjaga senantiasa menatap wajah kedua malaikat kecilnya. Semakin hari kedua putranya ini terlihat semakin menggemaskan, apalagi di tambah dengan banyaknya colotehan - celotehan dari keduanya benar - benar membuat Adinda semakin gemas di buatnya.

__ADS_1


Cup... cup... tak lupa kecupan - kecupan hangat itu senantiasa Adinda berikan pada kening kedua putranya sebelum dirinya benar - benar menuju ranjang kasurnya.


" Selamat tidur anak - anakku, semoga kalian bermimpi indah ". Serunya, dan setelah itu Adinda melangkah menuju kasur empuknya.


" Sayang, kamu sudah mau tidur? ". Seru Al dari balik pintu kamarnya.


" Iya mas, mata Adinda sudah terasa agak berat, sudah ngantuk ". Sahutnya, dengan meraih selimutnya.


Al mendekati kedua box tidur kedua putranya, dan ia pun mencium kedua kening putranya sebelum akhirnya ia pun berlalu menuju ranjangnya sendiri.


Al juga ikut merebahkan tubuh kekarnya itu di samping tubuh sang istri, tangannya selalu terulur untuk mengelus sang babby yang masih setia berdiam diri di perut mommy nya.


" Anak daddy, kamu kapan sih mau lahir sayang, daddy sudah tidak sabar ingin melihatmu ".


" Mas, jangan bicara begitu, kalau Adinda benar - benar melahirkan bagaimana?, malam resepsi kita sudah dekat loh mas ".


" Oh iya sayang, kenapa aku bisa lupa ya, kalau kamu melahirkan sekarang, nanti yang ada malah gagal malam resepsinya ". Serunya dengan menepuk jidatnya sendiri.


" Hihihihi... mas mas, kok bisa sih mas Al lupa, hemm... dari saking tak sabarnya mau melihat si adik lahir, sampai lupa sama malam resepsinya sendiri ". Serunya.


Dalam sesaat Al terdiam mendengar tawa ringan istrinya. Memorinya teringat akan peresmian pernikahannya yang sudah sah secara hukum.


" Sayang ". Panggilnya dengan menatap wajah sang istri.


" Iya mas ". Sahutnya.


" Aku sudah meresmikan pernikahan kita secara hukum kemarin ". Ungkapnya.


Adinda terdiam. Ia paham mengapa suaminya baru meresmikan pernikahan mereka sekarang, apalagi penyebabnya jika bukan karena usianya yang pada saat itu masih belum genap mencapai usia menikah.


" Sayang, maafkan aku ya, yang baru melakukannya sekarang ". Seru Al lagi yang meminta maaf.


" Tidak apa - apa, Adinda mengerti mas, kenapa mas Al melakukan semua ini, wajar jika pernikahan kita baru mas resmikan sekarang, kan pada waktu mas menikahi Adinda, Adinda kan masih belum cukup umur ". Sahutnya, karena memang itulah alasan yang sebenarnya.


" Maafkan aku ya sayang ". Serunya lagi dengan memeluk tubuh istrinya.


" Iya mas, tidak apa - apa ". Sahutnya lagi.


" Sayang, aku juga sudah menyuruh Andrew untuk segera mengurus akte kelahiran kedua putra kita, mungkin besok sudah selesai ". Ungkapnya lagi.


" Maafkan aku ya sayang, karena perbuatan bejatku dulu, kamu harus mengalami semua ini, menunggu sesuatu yang seharusnya kamu kamu dapatkan sedari dulu ". Ucap Al lagi, bahkan bola mata biru keabu-abuan itu nampak terlihat sendu.


Adinda meraih rahang tegas suaminya itu, mencoba menatap lebih dalam lagi kedua bola mata laki - laki yang di cintainya.


" Mas, sudahlah mas, jangan mas Al menyalakan diri mas terus, Adinda sudah melupakan semua itu, yang Adinda inginkan dari mas adalah, Adinda ingin mas tetap seperti ini, yang selalu mencintai Adinda dan juga anak - anak ". Sahutnya lembut, agar suaminya tak lagi merasa bersalah.


Cup... cup... cup... cup... cup...Al menciumi seluruh bagian wajah istrinya, seolah tak ingin menyisakan nya sedikitpun.


" Terima kasih sayang, setelah ini, tidak ada lagi hal yang perlu kamu tunggu, dan setelah ini hanya akan ada kebahagiaan saja ". Serunya lagi, lalu Al pun kembali merengkuh tubuh istrinya dan membawanya serta anak yang di kandun sang istri ke dalam dekapannya hangatnya.


Bersambung..........


Hai kakak - kakak, bagi yang menunggu malam resepsi pernikahan mereka, sabar dulu ya, karena jawabannya ada di episode berikutnya.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2