Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Bukti Rekaman CCTV


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Malam hari yang mulai nampak sunyi rupanya tak membuat seorang Andrew ikut larut menuju mimpi. Entah apa yang dilakukannya malam - malam seperti ini, sedangkan Vita sang istri sudah semenjak awal terlelap.


" Bagus, ternyata Erick sudah berhasil memperbaiki rekaman cctv tuan Al, good job Erick tidak salah aku punya teman cerdik sepertimu ". Gumam Andrew setelah dirinya berhasil membuka email yang ternyata hasil rekaman di rumah tuan Al nya.


Andrew mulai memperhatikan dan meneliti satu persatu tayangan dari rekaman itu hingga dimana rekaman itu menunjukkan pada waktu di malam hari dimana di rumah tuan Al nya sedang mati lampu.


" Astaga kenapa bisa sampai mati lampu seperti ini di rumah tuan Al, memangnya apa saja yang dikerjakan para pengawal di sana?, sudah rekaman cctv rusak mati lampu pula, benar - benar tidak becus mereka ". Gumam Andrew yang merasa kesal dengan dengan ketidakbecusan orang kepercayaan tuan Al nya.


Andrew masih terus menatap tayangan dari rekaman itu hingga tibalah indra penglihatannya pada sesosok Adinda yang berjalan menuju ruang dapur hingga sekitar dua menit kemudian datanglah seosok tuan Al nya.


Dalam rekaman itu Al terus melangkah melewati anak tangga dengan terburu - buru namun beberapa saat setelah itu tiba - tiba saja langkahnya menjadi terhenti. Al memegangi kepalanya yang sepertinya terasa sangat pusing.


" Astaga, apa yang terjadi pada tuan Al, seharusnya pada saat tuan Al pergi ke pesta itu aku ikut mendampinginya, pasti tuan Al pusing seperti itu karena ulah Viko, dasar brengs*k itu si Viko ". Gumam Andrew bahkan ia semakin geram dengan apa yang terjadi.


Al mencoba melanjutkan langkahnya dengan tertatih - tatih hingga pada saat Al sudah hampir berada di dekat pintu kamar, mendadak langkahnya kembali terhenti, bahkan Al sampai mendes*h dengan begitu kuatnya hingga des*han itu terdengar cukup nyaring di mikrofon Andrew.


" Astaga tuan Al ". Seru Andrew bahkan dengan menggelengkan kepalanya.


Hingga tak lama dari itu Adinda datang dari lantai bawah dan menaiki anak tangga dengan terburu - buru.


" Astaga nyonya, nyonya mendekati tuan Al?, itu sama saja dengan nyonya menyerahkan diri pada predator yang yang sedang kelaparan ". Andrew nampak sangat gusar.


Dalam rekaman itu Adinda mencoba mendekati dan menolong Al namun Al menolaknya dengan sangat keras bahkan Al memundurkan tubuhnya agar Adinda tak dapat menyentuhnya.


Sayangnya Adinda tak memperdulikan penolakan Al, ia tetap ingin menolong Al bahkan dengan berani menyentuh lengan Al dan mencoba memapahnya.


" Astaga nyonya, anda melakukan kesalahan besar nyonya ". Gusar Andrew.


Dan benar saja, Al langsung menarik paksa tubuh mungil Adinda ke dalam kamarnya hingga brakk... Al menutup pintu itu dengan sangat keras.


Andrew yang menyaksikan adegan dalam bagian rekaman itupun langsung membekap mulutnya.


" Astaghfirullah, astaghfirullah, tuan Al?... nyonya?... ya Allah kasihan sekali anda nyonya ". Seru Andrew yang begitu sangat shock dengan apa yang dilihatnya.


" Tuan, anda benar - benar melakukannya tuan ". Lirih nya pada akhirnya.


Dan dari lanjutan rekaman cctv itu, nampak Sintia melangkah tergesa - gesa hingga langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Al. Dalam rekaman itu menunjukkan jika Sintia begitu shock hingga membekap mulutnya setelah mendengar suara dari dalam kamar, tapi sayangnya bukannya berusaha menolong Adinda dari dalam kamar, Sintia malah pergi bahkan lari begitu saja menuju kamarnya.


" Astaga, astaga, ya Tuhan, jadi Sintia tahu semuanya tetapi dia malah pergi dan tidak menolong nyonya, dasar wanita tidak tahu diuntung, kalau saja dia menggedor pintunya, pasti kejadian buruk itu gagal terjadi, memang dasar kamu wanita brengs*k Sintia ". Gumam Andrew yang begitu sangat marah dengan kesengajaan Sintia.


" Dan tuan Al, anda memang benar - benar sangat bodoh tuan, anda menodai nyonya tetapi anda malah menikahi wanita brengs*k itu ". Andrew semakin tak habis pikir dengan dengan kebodohan tuannya.


" Tapi tunggu dulu, kenapa nyonya Adinda tidak mengatakan yang sebenarnya jika dialah yang dinodai oleh tuan Al dan bukan Sintia? ". Gumamnya bertanya - tanya.


Andrew kembali menonton rekaman cctv itu, hatinya begitu sangat penasaran akan apa yang sudah terjadi. Andrew mempehatikannya dengan tanpa melewatkannya sedikit pun, hingga...

__ADS_1


Deg.... terkejut... deg... terkejut. Berbagai macam bukti dari hasil rekaman itu telah membuktikan semuanya jika nyonya Adinda nya benar - benar sudah sangat dizholimi.


Betapa sangat sedih dan marahnya Andrew setelah mengetahui isi dari keseluruhan rekaman itu. Tubuhnya benar - benar menjadi lemas setelah menyaksikan semuanya, ia benar - benar tak sanggup melihat penderitaan nyonya Adinda nya, bahkan ancaman demi ancaman pun selalu nyonya itu dapatkan.


" Ya Allah nyonya, jadi ini alasan kenapa nyonya tidak memberitahukan kebenaran yang sebenarnya pada tuan Al?, karena ancaman dari wanita busuk itu, kasihan sekali anda nyonya ". Lirih Andrew yang sudah tak mampu melihat ketidakadilan yang di dapatkan oleh nyonya Adinda nya.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ternyata tanpa disadari, Andrew telah menggunakan waktu malam istirahatnya yang tanpa sengaja hanya untuk menyaksikan ketidakadilan yang di dapat oleh nyonya Adinda nya.


" Aku harus menyimpan bukti rekaman cctv ini, pada saat waktu yang tepat aku akan menyerahkannya pada tuan Al, agar tuan Al tahu dan menyadari betapa bodohnya dia selama ini ". Gumam Andrew kesal, dan ia pun segera merapikan dan menyimpan bukti rekaman itu.


*****


Dua orang wanita beda generasi itu telah memasuki kediaman rumah pak Budi. Tak lupa dua bocah kembar yang nampak gembira riang itu terdengar sedang bersahut - sahutan ikut meramaikan memanggil - manggil orang - orang yang disayanginya.


" Assalamu'alaikum, ayah, Vita, kami datang ". Seru Adinda memanggil - manggil.


" Atek atek tita tatang ( kakek kakek, kita datang) ". Seru Damian antusias memanggil - manggil kakeknya.


" Uti uti, utina anta nana na? ( onti onti, ontinya Aganta dimana ya?) ". Panggil Aganta yang menanyakan keberadaan onti Vita nya.


" Ma, mama duduk dulu ya, Adinda mau ke kamar ayah, mungkin ayah sedang istirahat di kamar ". Seru Adinda pada sang mama mertua.


" Iya ". Sahut Devina.


" Anak - anak mommy disini dulu ya dengan oma, mommy mau mencari kakek sama onti kalian dulu ya nak ". Pinta Adinda pada kedua putranya.


" Ote myh ". Sahut mereka kompak.


" Assalamualaikum ayah ". Seru Adinda dan ia pun langsung mencium punggung tangan ayahnya.


" Waalaikumsalam nak ". Sahut pak Budi, dan dibalas pelukan oleh Adinda.


" Selamat pagi pak Budi, bagaimana kabar anda ". Sapa Devina dengan menjabat tangan pak Budi.


" Selamat pagi bu, alhamdulillah ya seperti inilah kabar saya bu ". Sahut pak Budi ramah.


" Vita, aku membawa buah - buahan dan juga kue brownies coklat kesukaan mu ". Seru Adinda setelah selesai memeluk saudara angkatnya itu.


" Aduh Adinda terima kasih ya, tahu saja kamu yang aku suka ". Sahut Vita dengan senyuman kecilnya.


" Iya dong, apa sih yang aku tidak tahu tentang kamu " . Sahut Adinda.


" Iya iya, pokoknya kamu deh yang paling tahu segalanya ". Sahut Vita.


" Uti uti uti, nuk nuk ( onti onti onti, duduk duduk) ". Ajak Aganta tiba - tiba dengan meraih tangan Vita.


" Eh keponakan onti, sini sama onti ". Sahut Vita dan mereka pun duduk bersama di ruang tamu yang cukup mewah itu.


Jika Aganta begitu tak sabar ingin bersama onti Vita nya, bedahalnya dengan Damian. Bocah gembul yang satu itu lebih memilih duduk di pangkuan sang kakek karena rasa rindunya.

__ADS_1


" Aganta, Aganta sudah cium tangan kakek? ". Tanya Vita pada sang keponakan.


" U tah ( sudah) ". Sahut Aganta.


" Sudah nak tadi nak, bahkan Aganta memeluk ayah tadi ". Sahut pak Budi menimpali.


" Sepertinya Aganta lebih merindukanmu Vita daripada ayah ". Ujar Adinda dengan senyumannya.


" Oh ya?, aduh sayangnya onti, onti juga merindukanmu sayang ". Seru Vita dengan memeluk tubuh mungil Aganta.


" Damian nak, kamu anteng sekali di pangkuan kakek nak? ". Tanya Adinda pada sang putra.


" Mian tanen atek myh ( Damian kangen kakek mommy) ". Sahutnya.


" Hihihihi... ". Pak Budi tertawa kecil melihat sahutan cucunya.


" Kalau Aganta bagaimana nak, Aganta rindu kakek juga kan sayang sama seperti Damian yang rindu kakek? ". Tanya Adinda.


" Hukum ". Sahut Aganta dengan menganggukkan kepalanya.


" Adinda, Aganta putramu ini kalau rindu dengan ayah selalu bergerak lebih cepat dari kamu nak ". Sahut pak Budi menimpali.


" Bergerak lebih cepat?, bergerak lebih cepat bagaimana ayah? ". Tanya Adinda yang merasa bingung.


Begitupun dengan Devina dan juga Vita yang merasa bingung.


" Nak, Aganta itu kalau sudah rindu dengan kakeknya pasti dia langsung video call ". Sahut pak Budi apa adanya.


" Apa?, video call?, yang benar saja pak Budi?, Adinda nak, memangnya kamu sudah mengajari cara melakukan panggilan video pada Aganta nak? ". Ujar Devina.


" Tidak ma, Adinda tidak pernah mengajari Aganta seperti itu ". Sahut Adinda.


" Wah ternyata keponakan onti ini sangat pintar ya ". Puji Vita dengan mengelus kepala Aganta.


" Mian duda pital ( Damian juga pintar) ". Seloroh Damian. Entah mengapa nampaknya bocah gembul itu seperti juga ingin mendapat pujian.


" Ha ha ha ha ". Sontak saja semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Nampaknya sang Damian tak ingin jika hanya sang kakaklah yang mendapat pujian, namun dirinya juga ingin mendapat pujian.


" Iya iya Damian juga pintar kok nak, sama seperti Aganta ". Ujar Adinda yang berusaha membuang rasa kecemburuan diantara kedua putranya.


" Iya pintar, pintar menjahili daddy dan opa nya ". Timpal Devina.


" Ha ha ha ha ". Sontak saja semua orang di ruangan itu kembali tertawa.


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya, terima kasih.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2