Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Mall


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Hampir setiap keluarga selalu menantikan dan menunggu waktu hari liburnya dari bekerja, apalagi tujuannya jika bukan untuk menikmati waktu kebersamaan dengan keluarganya.


Hari demi haripun terus berlalu, dan tanpa terasa sudah tujuh bulan lamanya waktu bertambah.


Meski menjadi boss besar dengan segala kemajuan perusahaannya, tak membuat Al berindak sesuka hati, karena biar bagaimana pun, perusahaan itu ada sang papa lah yang merintis nya, sehingga membuat Al akan selalu memanfaatkan waktu liburnya dengan baik bersama sang keluarga tercinta.


Di mall.....


Sepasang suami istri dengan kedua anaknya memasuki mall miliknya. Tak lupa celotehan - celotehan dari si kembar Aganta dan juga Damian terdengar mengiringi langkah mereka yang saat ini senantiasa berada di gendongan sang daddy juga mommynya.


" Daddyh tita mau bemain mandi bula ( daddy kita mau bermain mandi bola) ". Ujar Damian pada sang daddy dengan bergelayaut manja di leher sang daddy.


" Iya tan anta? ( iya kan Aganta? ) ". Lanjut Damian bertanya pada sang kembaran.


" Iya ". Sahut Aganta singkat.


" Iya my twins boy nya daddy, Aganta dengan Damian mandi bola deh sepuas - puasnya di wahana bermain itu, tapi kita harus makan dulu ya nak, kalau sudah selesai makan barudeh Aganta dan Damian bermain mandi bola sepuasnya ". Sahut Al dengan memberikan penjelasan.


" Ote daddyh ". Sahut Aganta dan juga Damian dengan kompak.


Keluarga kecil itupun terus melangkah, dan benar, sepanjang kaki mereka terus berpijak banyak sekali pasang mata yang melihat kagum, ditambah lagi dengan adanya dua bocah kembar tampan yang begitu menggemaskan benar - benar menambah daya tarik bagi siapapun yang melihatnya.


" Ayo sayang ". Seru Al pada sang istri setelah dirinya sampai di dalam restoran yang ada di dalam mall mikiknya. itu.


" Selamat datang tuan Al, nyonya, ada yang bisa kami bantu? ". Tanya seorang pelayan wanita ramah yang memang sudah mengenal sang boss.


" Sayang kamu ingin memesan apa? ". Tanya Al pada sang istri.


" Apapun boleh mas, disamakan dengan menu yang mas pilih juga tidak apa - apa ". Sahut Adinda.


" Daddyh anta mau yan ada ayam doyen na ( daddy Aganta mau yang ada ayam gorengnya) ". Seru Aganta tiba - tiba.


" Oke boy, sebentar daddy carikan ya, kalau Damian mau yang mana sayang? ". Tanya Al pada putra yang satunya.


" Cetik pot tatto daddyh ( steak potato daddy) ". Sahut Damian.


Ya, meski Aganta dan Damian terlahir kembar namun bocah yang sudah berusia satu tahun tujuh bulan itu memiliki sifat yang berbeda dengan kesukaan yang berbeda pula termasuk dalam hal menyukai makanan.


" Mbak, aku dan istriku pesan menu yang ini, sedangkan kedua putraku pesan menu yang ini dengan yang ini ya, dan minuman kita sama semua ". Ujar Al dengan menunjuk beberapa menu makanan dan minuman yang dipilih.


" Baik tuan, mohon tuan dan nyonya harap menunggu sebentar, pesanannya akan segera kami siapkan ". Sahut pelayan itu ramah sebelum akhirnya berlalu pergi menuju kitchen.

__ADS_1


Sekitar kurang lebih lima menit lamanya keluarga Al menunggu, datanglah menu yang dipesan oleh mereka.


" Ini tuan, nyonya menu pesanannya, selamat menikmati ". Seru pelayan wanita itu ramah.


" Terima kasih mbak ". Sahut Adinda.


Kini keluarga kecil itupun mencoba ingin menikmati makanannya.


" Mas, mas bantu Damian ya memotong steak nya, dan Adinda membantu Aganta mengambil ayamnya ". Pinta Adinda pada sang suami.


" Iya sayang ". Sahut Al.


" No daddyh, no mommyh mian mau potong ceudili ( no daddy, no mommy, Damian mau memotong sendiri) ". Tolak Damian telak untuk menerima bantuan dari kedua orang tuanya.


" Tapi nak, memotong steak itu tidak mudah dengan tangan kecil sayang, biarkan daddy ya yang membantu Damian untuk memotong steak nya ". Seru Adinda memberi pengertian.


" No mommyh, mian mau beulajal motong cetik ( no mommy Damian ingin belajar memotong steak ) ". Sahut Damian lagi sampai memonyongkan mulut mungilnya.


" Ah, cudalah mommyh, teulcelah mian, anta cudah lapal momyh, mian tan cudah ada daddyh ( ah, sudahlah mommy, terserah Damian, Aganta sudah lapar mommy, Damian kan sudah ada daddy) ". Sentak Aganta tiba - tiba karena dirinya merasa sudah diabaikan oleh sang mommy, padahal dirinya sudah lapar.


" Ya Allah, maafkan mommy ya nak, iya iya ayo Aganta akan mommy bantu, mas, mas perhatikan Damian ya, jangan sampai Damian salah memotong dagingnya, bahaya mas ". Ujar Adinda.


" Tenanglah sayang, kamu jangan terlalu khawatir, dalam hal memotong putra kita ini pintar sayang ". Sahut Al agar istrinya tak terlalu khawatir.


Kegiatan memulai makan makanannya pun telah dimulai. Adinda dengan telaten menyuapi Aganta putranya, sedangkan Al sibuk memakan makanannya sendiri sambil lalu memperhatikan Damian yang tak kunjung selesai memotong Dagingnya.


" Damian bisa nak? ". Tanya Al di sela - sela dirinya mengunyah.


" Bica daddyh ". Sahutnya dengan tetap melanjutkan memotong nya.


Sudah separuh dari steak daging milik Damian yang sudah terpotong, tinggal separuh lagi yang akan terus dilanjutkan.


Entah apa yang terjadi, tiba - tiba saja kedua tangan mungil Damian menjadi kurang benar dalam memegang pisau dan garpu miliknya sehingga potongan daging nya menjadi meleset dan meluncur dari piringnya.


Tak... plak.....akibatnya.....


" Astagfirullah... ". Pekik Adinda.


Potongan daging itupun berhasil meluncur dan mengenai pipi kiri Aganta.


" Ya Allah nak, Aganta ". Seru Adinda kala pipi kiri Aganta terdapat banyak bubuk akibat dari terbangnya steak Damian.


Sontak saja Al yang tadi sedang asik makan, mendadakan langsung berhenti, sedangkan Damian, bocah kecil itu sudah diam membeku karena sangat terkejut akibat dari ulahnya sendiri.


" Aganta tidak apa - apa nak? ". Tanya Adinda yang merasa khawatir, lalu ia mengambil tisu dan mengelap pipi Aganta yang terkena bumbu steak, sedangkan Aganta jangan ditanya, bocah kecil itu sudah menatap tajam pada sang kembaran karena ulahnya lah dirinya sampai terkena kesialan seperti ini.

__ADS_1


" Aduh boy, steak mu mengenai wajah Aganta boy ". Seru Al pada Damian.


" Hihihihi, soulli anta, mian tan eundak seunada hihihihi ( hihihihi, sorry Aganta, Damian kan tidak sengaja hihihihi) ". Sahut Damian cekikikan dengan memasang wajah yang dibuat seimut mungkin.


" Endak lutu, talo endak bisha, endak usha masha, bial daddyh yan potong ( tidak lucu, kalau tidak bisa, tidak usah maksa, biar daddy yang potong) ". Sungut Damian dengan raut tak suka nya.


" Hihihihi ". Damian hanya meresponnya dengan cekikikan, ya karena hanya itu yang bisa bocah nungil itu lakukan untuk menutupi rasa bersalah dan rasa malunya.


" Mas, mas bantu Damian dulu ya ". Serunya pada sang suami.


" Damian putra mommy, kalau mommy mu ini menyuruh yang baik - baik harus nurut ya nak, bukannya mommy tidak mau Damian belajar mandiri, hanya saja kalau Damian ingin melakukan seperti tadi harus dibantu dengan mommy atau daddy ya nak, memotong steak sendiri untuk anak sekecil Damian sangat berbahaya sayang, untung yang terbang tadi dagingnya bukan pisaunya, bagaimana, Damian mau kan nurut sama mommy? ". Ujar Adinda panjang lebar.


" I-iya mommyh ". Sahut Damian kikkuk.


" Ya sudah, lepas itu pisaunya, biarkan daddy yang memotong ". Perintahnya lembut, dan Damian pun melakukan apa yang disuruh oleh sang mommy.


Setelah kejadian yang begitu mengejutkan tadi, kini sepasang suami dan istri dan juga kedua anak kembar nya, sudah memulai aktivitas makannya dengan penuh hikmat.


Di lain sisi namun masih berada di dalam mall yang sama, nampak Silvi yang tak lain adalah sekretaris dari Al sedang melakukan shopping dengan kedua temannya. Silvi dan kedua temannya itu nampak terlihat sangat senang, apalagi mall itu adalah mall milik CEO di perusahaan nya tempat ia bekerja.


" Silvi, Rita, bagaimana menurut kalian?, baju ini bagus ya, cocok tidak kalau aku memakai ini? ". Tanya Rani yang tak lain adalah teman Silvi sekaligus karyawan di kantor Al.


" Bagus, warnanya juga bagus, cocok dengan warna kulitmu ". Sahut Silvi setelah melihat bajunya.


" Rani, baju ini mau kamu pakai di kantor? ". Tanya Rita, entah apa yang ada di dalam pikirannya.


" Iya, memangnya kenapa? ". Tanya Rani balik.


" Ya tidak apa - apa sih, tapi apa tidak terlalu terbuka, lihat saja, bagian atasnya terbuka seperti itu, kalau kamu memakainya bisa dipastikan dua gunung kembar mu bisa menyembul ke atas ". Tutur Rita.


" Justru itu Rit, aku ingin membeli baju yang kekurangan bahan seperti ini, supaya sewaktu aku mengantar berkas berkas ke ruangan tuan Al ataupun ruangan tuan Andrew mereka bisa terpesona melihatku ". Sahut Rani dengan tanpa ada rasa malu.


" Apa? ". Pekik Silvi dan Rita.


" Jangan gila kamu Rani, tuan Al dengan tuan Andrew itu sudah punya istri ". Sahut Silvi yang tak habis pikir dengan Rani.


" Iya Ran, kamu ini jangan gila deh, bisa - bisanya mau menggoda tuan Al dan tuan Andrew, dua - duanya lagi ". Lanjut Rita.


" Memangnya kenapa sih, ya tidak apa - apalah dapat dua - duanya, kalau gagal dengan tuan Al masih bisa dengan tuan Andrew ". Sahutnya lagi dengan tanpa merasa bersalah dan malu sedikitpun.


" Astaga Rani kamu ini benar - benar ya ". Seru Rita yang tak habis pikir dengan obsesi Rani.


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya, semangat membaca.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2