
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Mobil hitam mewah itu telah sampai di pelataran rumah mewahnya. Tak ingin membuang waktu sang tuan besar itupun keluar dari dalam mobil dan melangkah dengan penuh kewibawaan. Meski sang waktu telah larut sore namun kali ini tak ada raut pancaran lelah dari wajah tampannya.
" Selamat datang tuan ". Sambut salah seorang penjaga di rumah Al.
" Nyonya ada di dalam? ". Tanya Al.
" Iya tuan, nyonya ada di dalam ". Sahutnya.
Al terus melangkah masuk. Dan sebuah tanda tanya telah muncul di kepalanya, namun Al tak terlalu mempermasalahkan itu, mungkin sang istri saat ini sedang berada di kamar bersama kedua anaknya.
Ceklek... Al pun membuka pintu kamarnya.
" Mas, mas sudah datang?, tadi Adinda dan anak - anak menunggu mas di luar, tapi karena tak kunjung datang, akhirnya kami masuk lagi ke kamar ". Ujar Adinda setelah dirinya beranjak dari posisinya dan mencium punggung tangan sang suami.
Cup... " Maaf ya sayang, mas terlalu larut sore pulangnya ". Sahut Al.
Iya, pantas saja Al sampai ke rumah hingga lebih dari pukul lima sore, karena ia baru saja menyelesaikan masalah tentang mata - mata Viko.
Sedangkan Adinda yang sama sekali tidak tahu hal apa yang dilakukan oleh suaminya di luar sana hanya bisa memaklumi.
" Mas mandi dulu ya, biar hilang lelahnya, sini Adinda bantu buka jas nya ". Seru Adinda sebelum akhirnya ia membuka jas suaminya itu.
" Sudah - sudah sayang, biar mas yang meletakkan jas ini sendiri, kamu istirahatlah sayang, aku tidak ingin kamu kelelahan kasihan adik bayinya nanti ". Tolak Al, dan ia pun mendorong tubuh istrinya dengan lembut agar duduk di kasur empuknya.
Al kali ini beralih pada kedua anak kembarnya yang saat ini hanya sibuk bermain dengan mainannya masing - masing.
Ada yang tak biasa kali ini pada kedua putranya. Biasanya kedua putra kembarnya selalu sangat antusias dalam menanti kepulangannya dari kantor, namun kali ini malah kebalikannya.
Si kecil Aganta dan juga Damian, nampaknya tak menggubris kedatangan sang daddy kesayangan, dan malah kedua manusia mini itu tak menoleh sedikitpun pada sang daddy, entah apa yang terjadi.
" Halo my twins boy nya daddy cup... cup... ". Sapa Al dengan mencium kedua kening anaknya.
" Kalian dari tadi sibuk bermain, tidak menyambut kedatangan daddy, kalian tidak rindu dengan daddy hem? ". Tanya Al dengan mengelus pucuk kepala kedua putranya.
" Dak ( tidak) ". Sentak Damian tanpa menoleh sama sekali pada daddy nya, sedangkan Aganta hanya bersikap acuh pada daddy nya.
Al mengernyit heran melihat perubahan sikap kedua putra kembarnya.
" Anak - anak daddy tidak rindu daddy, kenapa boy, tumben kalian bersikap seperti ini, apa daddy melakukan kesalahan pada kalian? ". Tanya Al. Ia merasa tidak habis pikir dengan perubahan sikap kedua putranya.
" Iya, daddy caullah ( iya, daddy salah) ". Sahut Damian telak bahkan ia sudah berani menatap sang daddy dengan tatapan menghunus nya.
" Loh, salah daddy apa boy? ". Tanya Al lagi yang masih heran.
__ADS_1
Namun kedua bocah kembar itu tak mau menyahut pertanyaan sang daddy.
Merasa dari kedua sifat anak kembarnya jika Aganta lah yang memiliki sifat lebih kalem, Al pun mencoba bertanya pada Aganta saja.
" Aganta, daddy ingin tahu nak, apa salah daddy pada kalian? ". Tanya Al dengan mengelus pucuk kepala Aganta.
Aganta pun menatap pada sang daddy dengan tatapan datarnya.
" Daddy lupa dak didio tol ( daddy lupa tidak video call) ". Sahut Aganta pada akhirnya.
Al menghela nafasnya cukup berat. Ternyata ini yang menyebabkan kedua putranya bersikap kesal dan acuh padanya. Al baru menyadarinya sekarang jika selama satu hari penuh ini dirinya tidak memberi kabar sama sekali pada istri dan juga anak - anaknya. Ya, sudah lupa.
" Ayo kemarilah anak - anak daddy ". Seru Al lembut dengan mengangkat kedua tubuh mungil putranya agar duduk di kedua pangkuannya.
Cup... cup... Al mencium dengan lembut kedua kening putranya.
" Aganta, Damian, maafkan daddy ya nak, tadi daddy ada urusan yang sangat penting dan tidak bisa ditinggal sampai - sampai daddy lupa mengabari kalian dan juga mommy, daddy janji mulai sekarang dan seterusnya kejadian ini tidak akan terulang lagi, maafkan daddy ya my twins boy nya daddy ". Ujar Al meminta maaf sebelum akhirnya ia memeluk erat tubuh mungil kedua putranya itu.
" Huum, iya ". Sahut Aganta dan juga Damian.
Adinda tersenyum bahagia kala melihat rasa perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh suaminya pada kedua putranya. Ia sangat bersyukur memiliki seorang suami seperti Al, seorang laki - laki yang sangat bertanggung jawab sebagai seorang suami dan juga sebagai seorang laki - laki yang sangat bertanggung jawab sebagai seorang daddy.
*****
Kantor G. Group...
Sebuah benalu yang sempat ada dan tumbuh meski masih kecil telah berhasil dituntaskan hingga ke tingkat akarnya. Dan ini adalah salah satu bukti jika siapapun orang yang mencoba bermain - main dengannya juga akan mendapatkan balasan tidak main - main pula.
Tok... tok... tok... ceklek... Andrew pun masuk ke ruangan tuan nya.
" Tuan ". Andrew setelah dirinya telah siap di dekat tuannya.
" Bagaimana, apa bedeb*h itu sudah memasuki rumah barunya? ". Tanya Al langsung pada intinya.
" Sudah tuan, saya sudah melihatnya sendiri jika Viko dan juga semua anak buahnya telah masuk ruang tahanannya tuan, dan sudah dipastikan mereka akan sangat lama, mendekam di sana ". Sahut Andrew.
" Bagus, itu memang pantas dia dapatkan ". Sahut Al dengan wajah dinginnya.
" Tapi tuan, meski Viko telah dipenjarakan masih sangat besar kemungkinan dia akan berulah lagi, bahkan mungkin akan melakukan perbuatan yang lebih nekat dari sebelumnya tuan ". Lanjut Andrew lagi.
" Aku tahu Andrew, Viko tidak akan semudah itu menghilangkan rasa dendamnya, apalagi yang menjadi penyebab kematian orangtuanya adalah karena aku sudah membuat perusahaannya bangkrut, pasti dia akan berulah dan membalaskan dendamnya setelah keluar dari penjara, tapi tidak masalah, aku masih akan memberinya satu kesempatan lagi, dan jika dia masih akan melanjutkan dendamnya itu, akan aku pastikan dia pasti kehilangan nyawanya ". Ujar Al tenang namun terdengar begitu mengerikan.
Setelah mendengar kalimat dari tuannya Al tak membuat Andrew langsung keluar dari ruangan itu, nampaknya masih ada hal penting lagi yang ingin disampaikan pada tuannya.
" Ada apa?, apa masih ada hal penting lagi yang ingin kamu berikan padaku? ". Tanya Al.
" Iya tuan, dan ini tentang Sintia ". Sahut Andrew.
__ADS_1
Al pun sedikit mengangkat alis sebelah kirinya.
" Memangnya hal penting apa yang perlu dibicarakan tentang Sintia? ". Sahut Al.
" Tentang anaknya dan juga ayah biologis dari anak itu tuan ". Sahut Andrew.
Al yang awalnya merasa tak peduli soal Sintia nampaknya berubah menjadi penasaran.
" Duduklah Andrew, aku ingin mendengar semuanya secara detail ". Perintah Al pada akhirnya, dan Andrew pun melakukan apa yang di suruh oleh tuannya.
" Tuan, saya dulu pernah mencari jejak tentang kekasih Sintia yang sudah membawa kabur anaknya dari rumah sakit tetapi saya tidak berhasil menemukannya ".
" Nama aslinya adalah Kelvin Handoko, tetapi dia berhasil mengubah identitas dirinya hingga membuat saya tidak bisa melacak keberadaan nya tuan, dan sekarang dia sudah mengembalikan identitas aslinya ". Seru Andrew menjelaskan.
" Lalu apa pentingnya Andrew, kamu ini kalau bicara yang jelas, jika Kelvin mengubah identitas dirinya, aku sama sekali tidak peduli, itu sama sekali tidak penting ". Cegah Al sebelum Andrew menyelesaikan kalimatnya.
" Tapi tuan, ini sangat berhubungan dengan keinginan Sintia, karena Kelvin sampai mengubah identitas dirinya hanya agar Sintia tidak lagi bisa menemukan keberadaannya ".
" Saat ini Kelvin sedang berada di Malaysia, dia tidak ingin bertemu dengan Sintia apalagi sampai menemui Sintia tuan, sedangkan Sintia begitu sangat ingin bertemu dengan mereka, dan sangat tidak mungkin jika saya mengajak Kelvin untuk datang ke sini tuan ". Ujar Andrew setelah panjang lebar dirinya menjelaskan.
Al terdiam. Sepertinya ia sudah mulai ada rasa iba untuk Sintia.
" Lalu harusnya bagaimana? ". Tanya Al.
" Keputusan tetap ada pada anda tuan, tapi satu - satu cara agar Sintia bisa bertemu dengan anaknya adalah untuk sementara Sintia harus dikeluarkan dari tempat pengasingannya tuan ". Andrew menjelaskan.
Lagi - lagi Al terdiam. Apakah Sintia memang harus harus dikeluarkan dari tempat pengasingannya?, tetapi bagaimana jika dia berulah lagi?.
" Baiklah, untuk sementara Sintia boleh keluar dari tempat pengasingannya dan bertemu dengan anaknya, tapi kamu harus bisa memastikan Andrew, jika dia tidak akan berbuat macam - macam setelah di luar nanti, iya dia boleh bertemu, tapi pertemuan mereka tidak boleh lebih dari satu hari, dan kamu harus bisa menjaga itu Andrew ". Sahut Al.
*****
Karena banyak yang berkomentar jika visual pemeran Al tidak cocok, maka dari itu Author mengganti visualnya ya, jujur saja untuk menemukan visual Al itu cukup susah, jadi Author akan memberikan visual nya yang mendekati karakteristik wajah Al, semoga cocok.
Alexander Gerald Georgino
Adinda Zilvanya Kanzu
Bersambung..........
Jangan lupa beri masukannya ya, tetap semangat membaca.
ππππππππππ
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ