
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Sebelumnya maafkan Al bi, tapi Al harus mengatakan ini, coba bibi lihat ke botol kecil itu ". Seru Al dengan menunjuk botol kecil yang sudah tergeletak di lantai.
" Itu adalah botol yang berisi bubuk racun, bubuk yang bisa merusak bahkan memberikan kerusakan yang sangat parah apabila bubuk obat itu terkena ke kulit, dan itulah yang ingin dilakukan oleh Sintia, dia ingin mencelakai kedua putraku dengan memberikan obat bubuk itu, dan satu hal yang Al ingin dengan tanpa pengecualian apapun, Sintia anak bibi harus Al penjarakan ". Pungkas Al pada akhirnya.
Bu Nadia membelalakkan kedua bola matanya tak percaya, bagaimana bisa Sintia putrinya memiliki niatan yang sangat keji apalagi pada bayi yang tidak tahu apa - apa, dan penjelasan Al tidak mungkin itu semua bohong, bu Nadia tahu betul siapa Al yang tidak akan sembarangan dalam menuduh seseorang.
Sedangkan Adinda, ia sampai menutup mulutnya tak percaya, Adinda benar - benar tidak percaya jika kakak sepupunya benar - benar nekat akan mencelakai kedua putranya, itukah sebabnya kedua putranya merasa takut dan ingin segera digendong?, ternyata ini penyebabnya, bagaimana bisa kakak sepupunya sampai begitu tega ingin melukai dua makhluk kecil yang tidak memiliki salah apa - apa?.
" Dan bibi sudah tahu kan bagaimana Al, Al tidak akan tidak akan menuduh seseorang tanpa adanya barang bukti ". Imbuh Al lagi.
Adinda kembali meneteskan air matanya, sebegitu bencinya kak kakak sepupunya itu padanya, tidakkah kakak Sintia nya itu mengingat masa - masa sewaktu dan mana dirinya masih kecil dan sering bermain dengannya, sungguh Adinda benar - benar sangat kecewa.
Selama ini Adinda sudah berusaha untuk selalu bisa memaafkan kesalahan kak Sintia nya, tapi kali ini tidak lagi, Adinda sudah tidak bisa memberikan maaf lagi, kejahatan yang sudah dilakukan oleh perempuan yang selama ini sudah Adinda anggap seperti saudara kandungnya sendiri sudah tidak bisa ia terima.
" Sayang ". Seru Al dengan mengeratkan kembali pelukannya.
" Mas hiks..., Adinda, Adinda tidak bisa memaafkannya lagi hiks hiks... ". Serunya.
" Iya tenanglah, mas akan memberikan hukuman yang setimpal untuknya ". Sahut Al.
Sedangkan bu Nadia saat ini hanya bisa menangis, kali ini dirinya sudah tidak bisa berbuat apa - apa lagi, putrinya memang sudah sangat keterlaluan dan memang sepatutnya mendapatkan hukuman, bu Nadia sangat merasa sedih karena ia sebagai seorang ibu merasa sudah gagal mendidik putri semata wayangnya.
Bu Nadia sangat paham dan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Adinda saat ini, tidak ada seorang ibu yang sanggup menerima jika anaknya di celakai.
*****
Sepasang calon suami dan istri kini sedang mengendarai mobil mewahnya. Nampak di dalam mobil sang calon suami sedang begitu asyiknya menyetir sedangkan sang calon istri sedang duduk di kursi belakang dan menunggu kapan mobil yang dikendarai nya itu akan sampai.
Dengan masih menggunakan pakaian kerja kini sepasang calon suami istri itu benar - benar akan meluangkan waktu istirahat kerjanya untuk menemukan sesuatu yang mereka inginkan, ya siapa lagi sepasang calon suami dan istri yang dimaksud jika bukan Andrew dan Vita.
" Vita ". Seru Andrew.
" Iya tuan ". Sahut Vita.
" Kamu dari tadi hanya diam, ada apa?, apa ada masalah? ". Tanya Andrew.
Vita nampak diam sejenak.
" Saya hanya memikirkan Adinda tuan ". Sahut Vita.
" Memikirkan nyonya Adinda, memangnya apa yang sedang kamu pikirkan? ". Tanya Andrew.
" Anu tuan, saya sampai sekarang masih belum memberi kabar, jika saya sudah dilamar tuan, bahkan sebentar lagi sudah akan menikah ". Sahut Vita.
Andrew tersenyum mendengar penuturan dari Vita.
" Sama, aku juga masih belum memberi tahu tuan Al jika aku sudah melamar mu dan sebentar lagi kita akan menikah ". Sahutnya dengan masih tersenyum.
" Apa?, jadi tuan masih belum memberitahukannya juga? ". Tanya Vita yang tak menyangka.
" Sudah jangan khawatir, tenang saja ". Sahut Andrew pada Vita agar dirinya tak merasa tegang.
" Iya bukan apa - apa tuan, hanya saja sebagai seorang sahabat sekaligus saudara angkatnya saya merasa tak enak hati jika tidak memberitahu Adinda ". Sahut Vita lirih.
Lagi - lagi Andrew tersenyum melihat sikap Vita.
" Vita, Vita, aku tidak salah telah jatuh cinta dan memilihmu, selain kamu polos, baik, kamu juga sangat setia kawan ". Batin Andrew.
Setelah hampir sepuluh menit lamanya mobil mewah milik Andrew itu melewati jalanan ibu kota, kini mobil mewah itu telah sampai di sebuah toko perhiasan mewah.
Andrew dan Vita pun mulai keluar dari mobil dan memasuki toko perhiasan itu.
__ADS_1
" Selamat datang tuan nona, ada yang bisa kami bantu? ". Sapa seorang pelayan wanita di toko perhiasan itu.
" Selamat siang mbak, kami sedang mencari sepasang cincin untuk pernikahan kami ". Sahut Andrew.
" Silahkan tuan nona, disini ada banyak model yang bisa tuan dan nona dapatkan ". Sahut pelayan itu dengan ramah.
Andrew begitu teliti melihat berbagai macam jajaran cincin pernikahan mewah yang ada di sana.
" Tuan ". Panggil Vita, dan Andrew pun langsung menoleh.
" Ada apa? ". Tanyanya.
" Tuan, cincinnya cincin yang biasa saja, tidak perlu yang mewah dan mahal - mahal ". Serunya.
Andrew tersenyum. " Memangnya kenapa? ". Sahut nya.
" Ya nanti kalau membeli cincin yang mewah - mewah dan juga mahal kan sayang uangnya tuan nanti bisa - bisa uang tuan habis ". Sahutnya.
Lagi - lagi Andrew tersenyum dibuatnya.
" Sudahlah kamu jangan khawatir, jangankan untuk membeli sepasang cincin pernikahan, membeli semua perhiasan disini termasuk tokonya sekaligus aku mampu ". Sahutnya dengan begitu percaya dirinya.
Vita membulatkan kedua bola matanya yang disertai dengan mulutnya yang menganga.
" Sudah, ayo kita fokus memilih cincinnya ". Lanjut Andrew lagi.
" Apa yang benar saja, dia bisa membeli semuanya, percaya diri sekali dia, dasar sombong ". Batin Vita kesal.
Andrew dan Vita memperhatikan satu persatu setiap sepasang cincin yang ada di balik benda pipih bening itu, setelah sekitar hampir sepuluh menit lamanya melihat namun Vita tak kunjung menemukan cincin yang ia inginkan karena menurut nya semua cincin itu terlihat sangat bagus mewah dan pasti harganya sangat mahal, sedangkan Vita tidak ingin jika uang calon suaminya harus banyak mengeluarkan uang hanya demi sepasang cincin.
" Yang ini mbak ". Seru Andrew pada akhirnya.
Andrew memilih sepasang cincin yang terlihat elegan namun begitu mewah. Pelayan wanita itupun mengambil cincin itu dan memberikannya pada Andrew.
Vita nampak diam sejenak.
" Tuan, sepertinya cincin ini sangat mahal, kenapa tidak mencari yang lebih murah saja ". Seru engan wajah yang sedikit memelas.
" Vita, aku bertanya padamu apakah kamu suka cincin ini, bukan tentang cincin murah atau mahal ". Sahut Andrew bahkan kali ini tatapannya sedikit menajam.
Melihat perubahan tatapan Andrew sontak saja Vita menjadi sedikit bergidik, seharusnya ia paham jika tuan Andrew nya ini tidak suka dengan hal - hal yang diluar keinginannya.
" I, iya tuan saya suka ". Sahut Vita pada akhirnya. Vita tak ingin hanya karena sepasang cincin ia dan juga tuan Andrew nya menjadi bermasalah.
" Kenapa tuan Andrew tidak ada sabar - sabarnya sekali sih, kalau dilihat - lihat hampir mirip tuan Al, sama - sama mudah emosi, tapi tuan Al masih bisa bersikap lemah lembut pada orang yang disayanginya, tetapi tuan Andrew apa dia juga tidak bisa bersikap sedikit lembut, heeeh menjadi asisten dari bos besar membuat mu benar - benar menjadi pria kaku tuan Andrew ". Batin Vita kesal.
Tak menunggu waktu lama, kini Andrew pun selesai mendapatkan cincinnya, sedangkan Vita sudah tidak ada sepatah katapun yang keluar dari kedua belah bibirnya semenjak kejadian tadi.
" Kita mampir dulu ke restoran yang ada di sebelah toko ini ". Seru Andrew pada Vita disaat melangkahkan kakinya yang akan keluar dari toko perhiasan itu.
Vita hanya menurut saja apa keinginan tuannya, ia tidak ingin bicara ataupun menanyakan apa - apa lagi yang ternyata dapat memicu emosi tuannya.
Mereka berdua terus melangkah hingga sampailah di restoran itu. Kini Andrew dan Vita telah berada di meja yang sama dan mereka pun juga memesan menu yang sama. Dan benar saja setelah hampir lima menit lamanya menunggu menu yang dipesan pun telah datang.
" Ini tuan nona makanannya, selamat menikmati semoga anda berdua menyukainya ". Seru pelayan itu dengan begitu ramahnya.
" Terima kasih ". Sahut Andrew dan Vita secara bersama.
Andrew dan Vita pun menikmati makanannya, tidak ada obrolan ataupun ucapan selamat makan dari keduanya, entahlah semenjak kejadian tentang cincin pernikahan tadi mereka berdua lebih banyak membisu, hingga sekitar lima belas menit lamanya mereka makan barulah mereka selesai dari aktivitas makannya.
Vita masih diam, Andrew memandang wajah Vita hingga...
" Vita ". Panggil Andrew dan ia pun mulai meraih jemari Vita, namun sayang baru saja tangannya menggenggam, Vita malah langsung menarik jemarinya.
" Iya tuan ". Sahutnya.
__ADS_1
" Maafkan aku, aku minta maaf atas sikapku yang tadi ". Serunya dengan rasa bersalah.
Vita hanya tersenyum meresponnya.
" Kenapa, kamu marah padaku? ". Tanya Andrew yang sedikit khawatir.
Vita pun menggeleng.
" Tidak tuan saya tidak marah ". Sahutnya.
" Vita maafkan aku ya, aku bersikap seperti tadi agar kamu tidak perlu lagi memikirkan tentang harga cincin, itu sebabnya aku bersikap seperti tadi agar pikiranmu menjadi teralihkan ". Sahut Andrew menjelaskan.
Vita menjadi sedikit tertegun dengan penjelasan dari tuannya, jadi tuannya tadi bersikap seperti itu bukan karena dia emosi tetapi karena tuan Andrew nya ingin agar dirinya tidak terlalu memikirkan soal harga cincin pernikahan.
Vita menjadi sedikit menyesal sekarang karena sudah berpikiran yang tidak - tidak tentang calon suaminya sendiri.
" Maafkan saya tuan, saya tadi sempat kesal dengan sikap tuan ". Sahut Vita.
" Tidak - tidak seharusnya aku yang meminta maaf ". Sahut Andrew.
Sebenarnya didalam hatinya Andrew benar - benar semakin bangga pada Vita calon istrinya, meski Vita telah dibuat kesal olehnya namun Vita tak menampakkan sikap yang agresif atas ketidaksukaannya, jangankan untuk hal yang kontras seperti ini membantah ucapannya pun tidak Vita lakukan dan hal itu benar - benar membuat Andrew semakin bangga pada calon istrinya.
" Setelah aku menikahimu nanti aku tidak melepasmu Vita, aku akan terus membahagiakanmu ". Batin Andrew.
*****
Suara tangisan meraung - raung begitu memenuhi ruang tamu di kediaman bu Nadia. Teriakan akan penolakan agar dirinya tak mendapat hukuman nampaknya tak begitu dihiraukan. Siapa lagi orang yang meraung - raung dengan tangisan agar dirinya tak dihukum selain Sintia.
" Tidak, aku tidak ingin di penjara, aku tidak ingin di penjara, tolong aku bu, aku tidak ingin di penjara hiks hiks.... ". Teriak Sintia dengan tangisan pilunya.
Namun bu Nadia tidak bisa berbuat apa - apa dirinya hanya bisa diam, meski sebenarnya hati kecilnya ingin menolong tetapi bu Nadia juga tidak bisa menutup mata jika apa yang dilakukan oleh putrinya itu memanglah benar - benar jahat.
" Adinda tolong maafkan aku, aku janji aku tidak akan jahat padamu dan juga anakmu lagi, aku janji Adinda hiks hiks... ". Serunya lagi pada Adinda.
Adinda hanya diam, sepertinya Adinda memang sudah benar - benar memaafkan kesalahan saudara sepupunya.
" Adinda, kenapa dari tadi kamu hanya diam, aku, aku berjanji tidak akan berbuat buruk lagi pada anak - anak mu, jadi aku mohon jangan hukum aku ya, aku tidak ingin di penjara hiks... ". Serunya lagi dengan memohon pada Adinda.
" Simpan kata maaf mu itu kak, selama ini aku sudah cukup diam menghadapi sikap buruk mu, tapi kali ini tidak lagi, kamu berani ingin mencelakai kedua anakku dan aku tidak akan pernah bisa menerima itu, dan kenapa kakak baru menyadarinya sekarang, kenapa hanya kata penjara yang membuat kakak menyesali perbuatan jahat kakak itu, seharusnya dari awal kakak berpikir jika berbuat jahat pada orang adalah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan tapi kenapa kakak tetap melakukan nya, dan ingat ini kak tidak ada seorang ibu pun yang rela jika anaknya dijahati oleh orang lain, apalagi anak itu masih bayi, dan apa kakak meminta untuk tidak dipenjarakan? ". Marah Adinda.
Al yang menyaksikan kemarahan istrinya benar - benar sangat tak menduga dan tak percaya jika istrinya akan seberani ini berbicara sampai meluap - luapkan emosinya.
Beruntung Aganta dan Damian sudah berada dan bermain di box bayinya sehingga kedua bayi gembul itu tak mendengar kemarahan mommy nya.
Adinda menoleh pada sang suami
" Mas, maukah mas Al melakukan sesuatu untukku? ". Tanya Adinda, bahkan ini adalah pertama kalinya Adinda meminta sesuatu pada suaminya.
" Iya sayang tentu katakanlah ". Sahut Al.
Al memberikan hak pak istrinya untuk meminta hal apapun yang istrinya inginkan. Kemudian Adinda pun menoleh pada bibi kandungnya dan setelah itu Adinda kembali mengarahkan pandangannya pada sang kakak sepupu.
" Baiklah jika itu memang mau kakak, kakak tidak ingin di penjara kan?, tidak ada penjara maka akan ada pengasingan ". Sahut Adinda pada akhirnya.
Mendengar jawaban dari sang istri membuat Al sedikit mengernyit bingung, bukankah di penjara akan lebih baik untuk Sintia tetapi mengapa istrinya malah memilih untuk diasingkan?.
" Sebenarnya apa maksud kamu sayang, kenapa wanita ular ini harus di letakkan di pengasingan?..... heh aku tahu sekarang pasti karena kamu tidak ingin bibi mu merasa sedih, baiklah aku akan meletakkan wanita ular itu di tempat pengasingan, tempat dimana orang - orang tidak bisa melihatnya ". Batin Al tersenyum.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, karena dukungan kalian adalah bagi Author untuk menyelesaikan karya ini. πππππ
β€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1