Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Menanam Keraguan


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Mobil mewah milik Andrew yang sempat mengendara beberapa jam yang lalu, kini telah sampai di pelataran rumah keluarga Vita, lebih tepatnya rumah dari om Vita.


" Disini rumahnya? ". Tanya Andrew.


" Iya tuan disini ". Sahut Vita.


Andrew terdiam sejenak, ia nampak berpikir mengingat dimana dulu nyonya Adinda nya di temukan.


" Ada apa tuan? ". Tanya Vita.


" Tidak ada apa - apa, aku hanya teringat saat dimana dulu nyonya Adinda pernah ditemukan ". Sahutnya.


" Oh itu, kalau itu ada di desa sebelah tuan berdampingan dengan rumah kecil saya yang dulu ". Sahut Vita dan Andrew pun mengangguk.


" Tapi tunggu dulu Vita, kenapa kamu tidak tinggal bersama dengan om mu, kenapa kamu memilih tinggal sendiri? ". Tanya Andrew.


Vita hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari tuan nya.


" Ceritanya panjang tuan, nanti kalau sempat ada waktu akan saya ceritakan ". Sahutnya.


Mereka berdua pun telah keluar dari mobil dan menuju teras rumah om Vita.


" Assalamualaikum om ". Seru Vita di depan pintu yang sudah terbuka.


Namun masih belum ada sahutan dari orang yang ada di dalam rumah itu.


" Assalamu'alaikum om, ini Vita ". Seru Vita lagi.


" Waalaikum salam ". Sahut seorang wanita dengan melangkah menuju pintu.


" Assalamu'alaikum kak Lita ". Sapa Vita pada kakak sepupunya.


" Kamu?, wah ternyata kamu masih mau datang kesini? ". Sahut Lita dengan nada sedikit ketus.


Lita melihat ke arah laki - laki yang ada di sebelah Vita, tampan, tinggi, putih, wah benar - benar pria idaman.


" Boleh Vita masuk kak, Vita ingin menemui om Indra ". Sahut Vita.


" Boleh ". Sahut Lita namun ia masih menatap laki - laki yang ada di samping Vita.


Vita memasuki rumah om nya itu dan tak lupa Andrew juga mengikutinya dari belakang. Namun di sela - sela langkah mereka...


" Hai, perkenalkan namaku Lita, nama kamu siapa? ". Tanya Lita tersenyum manis dengan mengulurkan tangannya di depan Andrew.


" Andrew ". Sahut Andrew dengan tanpa menjabat uluran tangan dari Lita.


Andrew sama sekali tak bersikap ramah pada Lita, ia hanya terus melangkah mengikuti langkah Vita.


" Sialan, bisa - bisanya dia menolak ku, dasar pria sombong ". Batin Lita Kesal.


Vita dan Andrew pun telah mendaratkan tubuh nya di sofa, dan benar saja tidak lama dari itu nampaklah sessosok pria paru baya yang mulai datang menghampiri.


" Vita nak ". Seru Indra yang tak menyangka jika keponakannya akan datang setelah cukup lama berada di Jakarta.


" Om Vita rindu ". Seru Vita dan iapun langsung mencium punggung tangan om Indra dan setelah itu memeluknya.


" Ya Allah nak, akhirnya kamu datang juga kemari, maaf nak om belum sempat menjenguk mu di Jakarta ". Seru Indra.


" Tidak apa - apa om, melihat om, bibi, dan juga kak Lita di sini sehat, Vita sudah sangat bersyukur ". Seru Vita.


Vita pun mulai menguraikan pelukannya pada om nya.

__ADS_1


" Apa kabar om, perkenalkan saya Andrew calon suami Vita ". Sahut Andrew dengan tanpa basa - basi.


Deg...... Indra sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya.


" Apa?, calon suami? ". Pekik Lita.


" Duduklah dulu om ". Seru Vita pada om nya yang berdiri membeku akibat dari rasa keterkejutan nya.


" Sialan, si Vita dapat calon suami ganteng lagi, eh tapi bukan hanya ganteng sepertinya dia juga tajir, heh pasti dia merayu laki - laki ini agar mau menjadi calon suaminya, dasar wanita murahan ". Batin Lita.


" Ya Allah nak, kamu lama tidak datang kemari, dan setelah datang, kamu justru memberi kabar yang begitu mengejutkan sekaligus membahagiakan ". Sahut Indra.


" Iya maafkan Vita om yang tidak memberi kabar pada om sejak awal, semua ini terjadi juga baru - baru ini om, tuan Andrew dengan segala kesungguhan dan keseriusannya datang melamar Vita untuk dijadikan istrinya, dan lamarannya pun terjadi masih belum satu minggu ini om ". Sahut Vita pada om nya.


Mendengar penuturan dari keponakannya membuat Indra merasa sangat terharu dan bahagia. Akhirnya keponakannya akan memiliki seorang pendamping yang bisa menjaganya.


" Nak Andrew ". Panggil Indra.


" Iya om ". Sahut Andrew.


" Terima kasih karena kamu ingin mengajaknya ke hubungan yang lebih serius. Om tidak tahu bagaimana kamu sebenarnya, tetapi om yakin jika Vita sudah memantapkan hatinya untuk menerima seorang laki - laki pasti laki - laki itu adalah laki - laki yang baik dan bisa dipercaya ". Ujar Indra.


" Terima kasih om atas kepercayaannya ". Sahut Andrew.


" Vita, memangnya kamu yakin jika laki - laki yang sudah menjadi calon suamimu ini tidak memiliki simpanan?, jangan - jangan hanya di depanmu saja dia baik, eh tidak tahu di belakangnya malah main serong dengan wanita lain ". Cebik Lita yang ingin menanamkan keraguan di hati Vita.


" Astagfirullah, jaga ucapan mu Lita ". Sentak Indra.


" Loh ayah, ayah kok marah sih?, Lita mengatakan seperti ini kan hanya ingin mengingatkan Vita saja untuk jangan terlalu percaya dengan laki - laki yang tiba - tiba mengajak ingin menikah, Lita itu cuma tidak ingin Vita mengalami nasib yang sama seperti teman Lita, langsung diajak menikah sama laki - laki eh tidak tahunya laki - lakinya sudah beristri ". Sahut Lita dengan raut mengejeknya.


" Jaga ucapan mu Lita ". Seru Indra yang sudah merasa geram dengan sikap putrinya.


" Om sudah om biarkan saja, biarkan saja kak Lita ingin mengatakan apa, karena itu tidak akan mengubah keyakinan Vita ". Sahut Vita yang berusaha menengahi.


" Kurang ajar wanita ini benar - benar sangat licik, dia ingin menanam keraguan di benak Vita ". Batin Andrew


" Om, tante kemana?, kenapa Vita tidak melihat kehadirannya? ". Tanya Vita.


" Tante mu sedang ada acara arisan nak ". Sahut Indra.


" Ya sudah Vita sampaikan ke om saja ya, om Vita dan tuan Andrew sengaja datang kesini karena kami ingin meminta restu om, tiga hari lagi kami akan menikah, Vita harap om bisa datang untuk menjadi wali di pelaksanaan akad nikah Vita nanti ". Ujar Vita pada akhirnya.


Indra cukup tersentak setelah mendengar kalimat dari keponakannya, baru saja dirinya mendengar jika keponakannya telah di lamar dan memiliki calon suami sekarang sudah mendengar jika tiga hari lagi keponakannya akan menikah, tetapi sejurus kemudian Indra merasa sangat bahagia karena tidak lama lagi keponakannya ini akan benar - benar mendapatkan kebahagiaan nya.


" Baiklah nak, om akan datang untuk menjadi wali di pernikahan mu ". Sahut Indra dengan senyuman kebahagiaan nya.


" Terima kasih om ". Sahut Vita dan Andrew bersamaan.


*****


Sepasang bayi kembar yang sedang berada di masa pertumbuhan dan perkembangan ini memang sudah biasa melakukan aktivitas bermain dalam kesehariannya. Meski tanpa ditemani sang daddy yang selalu menemani mereka bermain namun masih sang mommy yang akan menemani mereka bermain.


" Mam, mam, mam, mam ". Celoteh Damian dengan mengacak - ngacak beberapa mainannya dan membuat mainan nya berantakan.


" Damian mau mainan yang mana nak? ". Tanya Adinda pada sang putra.


" Mam, mam, mam, mam ". Sahut Damian seolah bayi gembul itu menolak untuk dibantu oleh sang mommy.


Sedangkan Aganta, ia masih tetap dengan sikap kalem nya. Aganta sibuk dengan mainannya sendiri tidak seperti Damian yang saat ini sedang sibuk mengacak - ngacak mainannya.


" Haaahh..... ". Adinda menghela nafasnya cukup panjang, sebenarnya apa yang terjadi pada putranya Damian.


Dan tidak berselang lama dari itu handphone milik Adinda bergetar yang menandakan adanya sebuah panggilan yang sedang masuk.


Adinda meraih handphone nya, dilihat nya nama yang tertera di sana. Sebuah senyuman terbit di bibir prach nya, ternyata suaminya sedang melakukan panggilan Video padanya.

__ADS_1


" Iya mas assalamu'alaikum ". Sapa Adinda.


" Waalaikum salam sayang, baru beberapa jam mas meninggalkan kalian, sekarang mas sudah rindu ". Sahut Al.


Adinda tersenyum pada suaminya " Ih kebiasaan ". Sahut Adinda.


" Sayang sepertinya si kembar sedang bermain ya? ". Tanya Al.


" Iya mas mereka sedang sibuk bermain, tapi sayang sepertinya Damian terlihat kurang bersahabat mas dia kurang suka jika Adinda bantu mas, bahkan mainannya sudah acak - acakan, entahlah sepertinya putra kita yang satu ini merasa kesal ". Sahut Adinda yang terlihat sedikit lesu.


" Sayang, coba arahkan handphone mu ke arah si kembar, mas ingin bicara dengan mereka ". Suruh Al.


Dengan tanpa keberatan Adinda pun melakukan apa yang menjadi keinginan suaminya.


" Halo anak - anak daddy, kalian sedang main apa? ". Tanya Al dari layar handphone istrinya.


Aganta dan Damian nampak celingak - celinguk mencari sumber suara yang sangat mereka kenal.


" Ha ha ha ha, kalian bingung mencari daddy, daddy disini my twins ". Sahut Al dengan tawanya.


Akhirnya Aganta dan Damian tahu darimana suara daddy nya berasal.


" Mam, mam, mam, mam ". Seru Damian dengan tersenyum girang karena sudah melihat wajah daddy nya.


" Mam, mam, mam, mam, dy, dy ". Sahut Aganta yang juga tak kalah senang dari Damian.


" Kalian rindu daddy ya twins?, daddy masih di kantor my twins ". Sahut Al.


" Mam, mam, mam, ba, ba ". Sahut Damian dengan menunjukkan mainan terompet mininya pada daddy.


" Oh boy, kamu ingin daddy memainkan terompet itu? ". Tanya Al padanya.


" Mam, mam, mam, mam ". Sahut Damian dengan menggerak - gerakkan mainan terompet mininya seolah bayi gembul itu membenarkan ucapan sang daddy.


" Tapi nanti ya boy, jika daddy sudah kembali ke rumah ". Sahut Al pada putranya.


" Mam, man, mam, mam, ba ". Aganta juga ikut bersuara, dan ia juga memperlihatkan terompet mininya pada sang daddy.


" Oh my twins, rupanya kalian ingin daddy memainkan mainan kalian ya, aduh sorry sekali my twins daddy sedang di kantor, mainnya nanti sore saja ya ". Sahut Al dengan memberikan tawaran pada kedua putranya.


" Mam, mam, mam, ba, ba, mam, mam ". Tolak Aganta dan Damian. Kedua bayi gembul itu seperti menolak jika harus main di sore hari.


" Aduh mas bagaimana?, sepertinya anak - anak menolak, jika tidak dituruti Adinda khawatir mereka akan menangis ". Seru Adinda.


Al diam sejenak untuk mencari ide, hingga sebuah ide yang cukup bagus telah muncul di otak bakat bisnisnya.


" Baiklah my twins, daddy akan menuruti keinginan kalian, dengarkan daddy ya ". Perintah Al.


" Teeetooot... teeetooot... teeetooot....". Al menirukan suara terompet mainan milik kedua putranya.


" Mam, mam, mam, mam ". Celoteh Aganta dan Damian yang begitu senang.


" Teeetooot... teeetooot... teeetooot... ". Lagi - lagi Al melakukan hal yang sama.


Aganta dan Damian tertawa hingga cekikikan. Kedua bayi gembul itu benar - benar sangat senang dengan gembira ria karena daddy mereka telah berhasil mengeluarkan suara seperti terompet.


" Teeetooot... teeetooot... teeetooot... ".


Dan begitulah seterusnya, Al berusaha untuk membuat kedua putranya tetap bisa tertawa bahagia.


Adinda tersenyum bahagia melihat kedua putranya bahagia, hatinya begitu menghangat melihat kebahagiaan anak - anaknya. Ternyata ini yang diinginkan oleh kedua putranya, bisa bermain bersama dengan sang daddy.


Bersambung..........


Dukung terus karya Author ya, karena dukungan kalian adalah semangat bagi Author untuk melanjutkan karya ini.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2