Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Adik Bayina Dak Delak - delak


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Sang empu yang masih kecil itu meninggalkan makanan ikannya pada sang opa, karena rasa lelahnya atau memang karena ia sengaja tak ingin melanjutkan untuk memberi makan ikan - ikan itu lagi.


Damian bocah kecil yang sudah berusia dua tahun lebih itu mendekati mommy dan juga oma nya yang sedang duduk santai.


" Mommy myh, Mian mau duduk myh " Seru Damian pada sang mommy, namun ia malah memilih ingin duduk di tengah - tengah mereka.


" Duduklah nak, ayo kemari ". Ajaknya pada sang putra.


Tanpa di bantu oleh sang mommy, Damian pun naik ke sofa dan duduk di antara oma dan juga mommy nya.


" Cucu oma, kenapa cucu oma yang tampan ini berhenti memberi makan ikannya? ". Tanya Devina dengan mengelus kepala mungil Damian.


" Mian lelah uma, Mian mau ishtillahat ". Sahutnya pada sang oma.


Devina hanya mengangguk paham, sepertinya cucunya ini sudah tidak mood untuk beraktivitas lagi, hal itu terlihat dari cara Damian yang duduk sedang mencari aman.


" Mommy myh, Mian mau peyuk adik bayi myh ". Pinta Damian pada sang mommy.


" Tentu sayang, boleh kalau Damian mau peluk adik bayinya ". Sahut Adinda, kemudian ibu muda itupun menarik dengan lembut tubuh mungil putranya agar bisa memeluk perut buncitnya.


Damian memeluk perut buncit mommy nya, bocah kecil itu masih teringat bagaimana ia menginginkan seorang adik bayi.


Damian mengelus dengan lembut perut mommy nya dengan tangan mungilnya.


" Damian sayang adik nak? ". Tanya Adinda di sela - sela elusan tangan putranya.


" Iya myh, Mian cayan adik ". Sahutnya, bahkan bocah kecil itu sampai memejamkan kedua matanya sejenak yang menandakan jik ia benar - benar tulus menyayangi adiknya yang masih belum lahir itu.


" Tapi teunapa ya myh, talo Mian adak adik bayi na bicala, adik bayi na dak mau delak - delak, tapi talo cama Anta, adik bayi na mau delak - delak? ( tapi kenapa ya myh, kalau Damian ajak adik bayinya bicara, adik bayinya tidak mau gerak - gerak, tapi kalau sama Aganta, adik bayinya mau gerak - gerak?) ". Lanjut Damian lagi.


" Hahahaha... aduh... hahahaha... ". Tawa Devina dengan begitu kencangnya.


Sontak Aganta, Al, dan juga Enriko pun langsung menoleh dan menghentikan aksi memberi makan ikannya.


" Aduh Damian - Damian, kamu tahu kenapa adikmu tidak mau bergerak kalau kamu ajak bicara, karena kamu cerewet hahahaha...jadinya adik bayi pusing dengar omongan mu ". Sahut Devina masih dengan tawanya.


Damian si bocah kecil itu langsung cemberut mendengar jawaban dari oma nya.


" Ma, ada apa sih ma? ". Tanya Al setelah dirinya mendekat.


" Hihihihi... ini anakmu lucu sekali Al, Damian tadi tanya kenapa adik bayinya kalau di ajak bicara tidak mau bergerak, ya karena adik bayinya merasa pusing dengar Damian yang cerewet hihihihi... ". Sahut Devina masih dengan cekikikan kecilnya.


Al hanya bisa menghela nafasnya mendengar perkataan sang mama, bagaimana bisa mamanya bicara seperti itu, akibatnya kan putranya Damian bisa saja kesal.


" Ma, mama jangan bicara seperti itulah ma, lihat apa yang mama lakukan, Damian jadi cemberut seperti itu kan, heh mama ini, kalau bicara suka lepas ". Seru Enriko yang tak habis pikir dengan istrinya.


Sontak Devina pun langsung menoleh pada cucunya Damian, dan ternyata benar, cucunya itu nampak kesal.


" Aduh, sayangnya oma, oma minta maaf ya sayang, oma hanya bercanda tadi, sungguh oma hanya bercanda ". Seru Devina pada akhirnya dengan merangkul tubuh mungil Damian.


" Oma dak celu, oma dak cayan Mian ( oma tidak seru, oma tidak sayang Damian) ". Sahut Damian dengan sikap tak sukanya.


" Aduh aduh aduh, sayangnya oma, maafkan oma ya sayang, oma tadi hanya bercanda, bukan itu jawaban yang sebenarnya sayang ". Sahut Devina, lalu ia pun membawa tubuh mungil Damian untuk duduk di pangkuannya.


" Talo beditu apa ( kalau begitu apa? ". Pinta Damian akan jawaban yang sebenarnya.


Devina terdiam, ia merasa bingung harus menjawab apa pada cucunya, kalau sudah seperti ini bisa ribet urusannya.


Devina kemudian menatap pada sang suami dan juga putranya Al, ia berusaha meminta jawaban dari mereka, namun sayang Enriko dan juga Al sama sekali tak menyahut, malah ketiga pria beda generasi itu memilih duduk bersama.


" Waduh, aku harus menjawab apa ini, pasti Damian akan tanya terus kalau tidak di beri jawaban ". Batin Devina kebingungan.

__ADS_1


" Ayo uma, apa dawaban na?, Mian nundu ini ( ayo oma, apa jawabannya?, Damian nunggu ini ) ". Pinta si kecil Damian lagi.


" Eh, i-iya anu... ". Devina kebingungan harus menjawab apa.


" Pa, ayo bantu mama menjawabnya pa ". Serunya meminta bantuan pada sang suami.


" Papa tidak bisa menjawabnya ma, papa tidak tahu harus menjawab apa, habisnya mama sih ada - ada saja yang mengatai cucu kita, sudah tahu Damian seperti itu anaknya ". Sahut Enriko pasrah.


" Ayo uma, apa dawaban na? ".Tanya Damian lagi pada oma nya.


Adinda yang melihat mama mertuanya kebingungan merasa kasihan dan ingin menolongnya, karena jika sudah seperti ini putranya Damian sudah tidak bisa di atur lagi.


" Ayo uma, Mian ini nundu oma dawab ( ayo oma, Damian ini nunggu oma jawab) ". Pinta bocah kecil itu lagi, bahkan ia sudah nampak merengut.


" Damian anaknya mommy ". Panggil Adinda lembut.


Dan benar, Damian pun menoleh pada mommy nya.


" Ayo kemari, pindah ke tengah lagi ". Ajaknya pada sang putra.


Tanpa bertanya Damian pun menurut, lalu bocah kecil itu duduk di tempatnya yang semula.


" Dengarkan mommy, Damian ingin tahu, kenapa adik bayinya kalau di ajak bicara sama Damian jarang bergerak, sedangkan kalau dengan Aganta meski jarang di ajak bicara adik bayinya suka bergerak - gerak, karena Adik bayinya sayang sama Aganta dan juga Damian, iya sayang, adik bayinya sayang sama kakak - kakaknya nak ".


" Adik bayi, yang masih ada di perut mommy ini kenapa sering bergerak kalau sama Aganta, karena adik bayinya ingin Aganta bisa banyak berbicara bahkan banyak bercerita pada adiknya sayang, itulah sebabnya adiknya suka gerak - gerak agar kakak Aganta nya lebih semangat bercerita, adik bayinya suka mendengarkan cerita dari kakak Aganta nya ".


" Sedangkan sama Damian, kenapa adik bayinya itu jarang bergerak kalau di ajak bicara, karena adik bayinya suka sama yang di bicarakan Damian, adik bayinya suka dengan yang diceritakan Damian, itulah kenapa adik bayinya diam, karena si adik bayi ini mendengarkan cerita dari Damian nak, jadi adik bayinya itu suka sekali kalau di ajak bercerita dengan kakak - kakaknya ". Seru Adinda yang berusaha memberikan pengertian pada putranya.


Damian nampak mengangguk - ngangguk mengerti, bocah kecil itu sudah memahami perkataan mommy nya.


Devina sang oma cantik yang menjadi dalang kesalnya si kecil Damian sudah bisa bernafas lega, beruntung ia memiliki menantu yang baik dan pengertian seperti Adinda, karena jika tidak pasti cucunya ini akan terus mendemo meminta jawaban.


" Hihihihi... senang ma, bisa bernafas lega? ". Ejek Enriko pada istrinya, dan yang di ejek hanya bisa membeliakkan kedua bola matanya.


*****


Dua insan anak manusia itu masih duduk di kursi kayu panjang itu. Ya, Diandra dan juga Rendi masih duduk di sana, dengan berbagai macam obrolan ringan.


Tanpa terasa waktu kini sudah menunjukkan hampir pukul delapan pagi, karena terlalu asyik mengobrol Rendi dan juga Diandra sampai lupa waktu


" Ren, sepertinya aku harus pulang, coba lihat, ini sudah hampir pukul delapan, aku tadi keluar dari rumah pukul lima ". Seru Diandra yang ingin mengakhiri obrolannya dengan Rendi.


" Ya sudah kalau begitu, kita pulang bersama, pasti kamu ke sini naik sepeda ayun kan Di ". Sahut Rendi.


" Iya betul, ya sudah ayo kita pulang ". Ajak Diandra.


Dan benar, Rendi dengan Diandra pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan tempat duduk mereka.


Mereka berdua terus melangkah, hingga hampir mereka sampai di tempat di mana sepeda ayun mereka di parkir, Diandra nampaknya ingin membeli gorengan yang di jual si sekitar area taman itu, mungkin sebagai oleh - oleh untuk orang rumahnya.


" Sebentar Ren ". Tahan Diandra.


" Ada apa? ". Sahut Rendi.


" Kamu tunggu dulu ya si sini, aku mau beli gorengan dulu, itu yang ada di sana ". Tunjuk Diandra pada salah satu gerobak yang menjual aneka gorengan hangat.


" Memangnya kamu mau sama gorengan? ". Tanya Rendi.


" Ya maulah Ren, bahkan suka, tunggu dulu di sini sebentar, tidak lama kok ".Ucap Diandra lagi.


" Ya sudah terserah kamu saja Di, aku tunggu di sini ". Sahut Rendi.


Diandra pun meninggalkan Rendi yang sedang berdiri di dekat sepedanya, dan menuju gerobak penjual gorengan yang ia tunjuk tadi.


" Permisi pak ". Seru Diandra setelah dirinya sampai.

__ADS_1


" Iya neng ". Sahut bapak penjual gorengan itu dengan ramah.


" Gorengannya berapa harganya pak? ". Tanya Diandra.


" Satu harganya seribu rupiah saja neng ". Sahut bapak itu.


" Wah pak, murah sekali, ya sudah kalau begitu saya beli lima puluh ribu saja ya ". Pinta Diandra.


" Oh baik neng, akan saya bungkus segera ". Sahut bapak itu.


Bapak pemilik gerobak itupun memasukkan semua gorengan yang di beli Diandra. Dengan rasa sabar, Diandra menunggunya hingga semua gorengan yang dibelinya berhasil di masukkan semuanya.


Tanpa Diandra sadari, di mana tidak jauh dari posisinya berdiri saat ini, nampak seorang pria tengah menatapnya, bahkan pria itu menatap Diandra dengan tatapan nakalnya.


Entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu, nampaknya ia memiliki niatan tak senonoh pada Diandra.


Rendi yang pada kala itu memang mengawasi Diandra sedang membeli gorengan, merasa ada yang aneh dengan orang di sekitar Diandra, dan ternyata benar, tanpa Diandra sadari, seorang pria tengah menatapnya dengan tatapan tak biasanya, tidak, lebih tepatnya, laki - laki itu menatap Diandra dengan tatapan penuh gai*rah.


" Kurang ajar, berani sekali dia menatap Diandra seperti itu, sepertinya harus aku colek mata pria itu ". Batin Rendi kesal.


" Ini neng, sudah selesai ". Seru bapak itu.


" Ini pak uangnya ". Sahut Diandra dengan memberikan uang seratus ribuan.


Bapak penjual itupun hendak memberikan sisa uang kembalian milik Diandra, namun...


" Tidak perlu pak, uang kembaliannya untuk bapak saja ". Tolak Diandra segera.


" Aduh neng, terima kasih ya, semoga rejeki neng semakin lancar ". Sahut bapak itu.


" Amin, ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu pak ". Seru Diandra sebelum akhirnya iapun mulai berjalan menuju Rendi.


Dengan santainya Diandra melangkahkan sepasang kaki jenjangnya menuju parkirannya, namun baru lebih dari satu meter dirinya meninggalkan gerobak gorengan itu, tiba - tiba saja...


" Aaakh... ". Teriak Diandra.


Diandra memejamkan kedua bola matanya dengan erat, ia begitu sangat terkejut karena tiba - tiba saja dirinya seperti di tarik oleh seseorang.


Secara perlahan Diandra mencoba membuka kedua matanya yang terpejam, dan setelah dirinya berhasil melakukan nya, entah mengapa dirinya seperti berada dalam pelukan seseorang.


" Dasar pria kurang ajar, awas saja jika aku bertemu denganmu lagi, tidak akan aku biarkan kamu lolos ". Teriak Rendi dengan tetap memeluk tubuh Diandra.


Merasa jika dirinya berada dalam pelukan Rendi, dengan perlahan Diandra mencoba menguraikan pelukan Rendi.


" Eh, maaf Di, aku - aku tidak bermaksud melakukannya ". Seru Rendi, ia meminta maaf karena telah memeluk Diandra tanpa se izinnya.


" Sebenarnya ada apa sih Ren, memangnya siapa yang ingin mencelakai ku? ". Tanya Diandra setalah dirinya merasa tenang.


" Tadi ada laki - laki kurang ajar yang ingin melecehkan mu, itulah kenapa aku langsung berlari dan memelukmu Di ". Sahut Rendi.


Deg... Diandra cukup tersentak mendengarnya, apa?, ada laki - laki yang ingin melecehkan nya, dan itu sama sekali tidak dirinya sadari.


Diandra menatap Rendi, entah mengapa Diandra merasa seperti ada yang tak biasa pada tatapan Rendi, tidak, sebenarnya tatapan seperti ini sudah lama Diandra sadari, namun Diandra memilih untuk tidak ingin mengetahuinya.


" Terima kasih ya Ren, karena kamu sudah melindungi ku ". Sahut Diandra dengan tersenyum.


" Iya Di, ya sudah, kalau begitu kita pulang ". Sahutnya.


Dan akhirnya, Rendi dan juga Diandra mulai menaiki sepeda ayun nya masing - masing dan mulai meninggalkan area taman kota.


Bersambung..........


Sampai di sini dulu ya, semangat membaca.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2