Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Mian Yan Palin Tampan


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Celotehan kegembiraan dari si baby twins Aganta dan juga Damian, nampak terdengar menghiasi kamar mewahnya, apalagi penyebabnya jika bukan rasa bahagia mereka karena asyik memandang satu persatu hasil pemotretan tadi pagi. Senyum kebahagiaan selalu terpancar dari keluarga kecil itu.


" Bagus kan fotonya sayang, kedua putra kita terlihat sangat tampan ". Seru Al pada sang istri dengan merangkul bahunya.


" Iya, semua fotonya bagus, tidak mengecewakan, Adinda suka mas ". Sahut Adinda dengan senyumannya.


" Wah, mommy daddy liat, Mian cama Anta badush ya beldili na ( wah, mommy daddy lihat, Damian sama Aganta bagus ya berdirinya) ". Sahut si kecil Damian dengan menunjuk foto kebersamaan mereka.


" Iya anaknya mommy, pose yang anak - anak mommy tampilkan bagus semua sayang ". Puji Adinda senang dengan mengelus kepala mungil kedua putranya.


" Sayang, foto - foto ini kenangan khusus sewaktu anak kita belum lahir, tapi nanti kalau baby kita yang ini sudah lahir, kita harus foto lagi sayang ". Ujar Al lagi dengan mengelus perut buncit istrinya.


" Iya mas, Adinda juga maunya seperti itu ". Sahutnya.


" Mommy, daddy, poto na Anta cama Mian yan hana beldua temana ya? ( mommy, daddy, fotonya Aganta sama Damian yang hanya berdua kemana ya?) ". Tanya si kecil Aganta, nampaknya bocah kecil yang satu itu masih belum menemukan foto yang di maksudnya sedari tadi, padahal ia masih ingat betul jika tadi pagi ia juga berfoto berdua dengan saudara kembarnya.


" Iya myh, mana ya? ". Sahut Damian yang juga ikut menimpali.


" Sebentar nak, coba terus di buka fotonya, mungkin ada di bagian belakang sayang ". Sahut sang mommy Adinda dengan menunjuk Album foto mereka.


Kedua tangan mungil si baby twins boy itu nampak terampil kembali melanjutkan membuka satu persatu halaman yang berisi lembar foto itu, hingga setelah enam halaman berhasil di buka, nampaknya mereka sudah menemukannya.


" Ini poto na ". Seru Aganta tiba - tiba dengan menahan salah satu halaman di album foto itu.


" Iya ini poto na, wah, badush cetali ". Puji Damian.


" Bagus semua fotonya sayang ". Seru Adinda sang mommy.


" Kalian benar - benar tampan boy, sama seperti Daddy ". Sahut Al dengan rasa bangganya.


" Iya daddy ". Sahut Aganta yang membenarkan kalimat daddy nya.


" Dak, dak cama cepelti daddy, di cini Mian yan palin tampan ( tidak, tidak sama seperti daddy, di sini Damian yang paling tampan) ". Tolaknya tak terima, rupanya Damian tak terima jika ketampanannya di samakan oleh sang daddy dan juga saudara kembarnya.


" Loh boy, kalau tidak tampan seperti daddy, lalu tampan seperti siapa boy, wajahmu saja sangat mirip dengan daddy, bahkan kamu sama sekali tidak mirip mommy mu, artinya ketampanan mu memang diturunkan dari daddy ". Sahut Al, karena memang benar begitu adanya.


" Dak, Mian dak tampan cepelti daddy, Mian yan palin tampan, dak cama cepelti daddy duda dak cama cepelti Anta, potokna Mian yan tampan ( tidak, Damian tidak tampan seperti daddy, Damian yang paling tampan, tidak sama seperti daddy juga tidak sama seperti Aganta, pokoknya Damian yang paling tampan) ". Keukeh Damian yang merasa dirinya paling tampan melebihi sang daddy dan juga saudara kembarnya.


" Iya iya, pokoknya, daddy, Aganta, Damian, adalah laki - laki yang sangat tampan, oke, kenapa mommy katakan seperti ini nak, karena daddy, Aganta, dan juga Damian sama - sama memiliki hati yang baik, bagi mommy itulah sejatinya laki - laki tampan, memiliki hati yang baik dan juga penyayang ". Pungkas Adinda pada akhirnya, nampaknya ibu muda yang satu itu tidak ingin jika persoalan antara daddy dan juga anak itu malah semakin berlanjut.


Al hanya bisa menghela nafasnya, putranya yang satu ini memang benar - benar mirip dirinya, namun sungguh miris, mengapa yang mirip dengannya adalah sifat keras kepalanya?.


*****


Wanita muda dengan paras cantiknya itu tak melakukan apapun di siang menjelang sore ini, ia malah duduk termenung di kamar mewahnya sembari kedua bola matanya itu menatap ke arah halaman rumahnya yang tembus dari pandang kaca jendela kamarnya.


Semenjak kejadian tadi pagi, telah berhasil membuat hati seorang Diandra merasa khawatir dan juga bingung dalam waktu yang bersamaan.

__ADS_1


Diandra telah menceritakan semuanya pada sang papa tentang mengapa tunangannya Al yang sudah ia tinggalkan dulu secara sepihak sampai menikah dengan wanita lain, dan ternyata setelah sang papa mengetahui semua kisah yang sebenarnya, malah membuatnya tak terima.


Diandra khawatir jika papanya akan melakukan hal - hal yang nantinya akan dapat merugikan semuanya, memang benar jika sang papa telah berhasil membuat jarak yang begitu jauh antara Al dengan dirinya, namun itu hanyalah sementara jikalau semua yang menjadi harapannya tercapai, sungguh tak pernah terpikirkan oleh Diandra, jika sang papa akan sebegitu tak terima.


Drtt... drtt... drtt... suara getaran handphone itu telah berhasil menyadarkan Diandra dari ketermenungan pikirannya.


" Siapa yang menelpon? ". Gumamnya sebelum akhirnya Diandra pun meraih smartphone nya.


" Rendi, ternyata dia ". Lanjutnya lagi sesaat sebelum menerima panggilan itu.


" Halo, iya Ren ada apa? ".Tanya Diandra.


" Emm... Di, nanti malam, kamu ada acara tidak? ". Sahut Rendi.


" Sepertinya tidak ada, memangnya ada apa Ren? ". Tanya Diandra lagi.


" Emm... anu Di, nanti malam aku ingin mengajak kamu keluar ". Sahut Rendi.


Meski Diandra tak dapat melihat raut Rendi, namun terdengar jelas di telinganya jika Rendi sedang gugup. Diandra sendiri tak langsung menyahut.


" Oh tidak bisa ya Di, ya sudah tidak apa - apa ". Sahut Rendi lagi dengan nadanya yang terdengar lirih.


" Oh tidak - tidak, bisa kok Ren, aku tidak ada acara apa - apa nanti malam ". Sahut Diandra tiba - tiba.


" Baiklah Di, nanti malam aku akan datang menjemputmu ". Sahut Rendi.


" Ya sudah oke, aku tunggu ya ". Sahut Diandra.


Setelah menjawab panggilan dari Rendi, entah mengapa Diandra merasa tak biasa dengan perasaannya saat ini, mendadak perasaan menjadi gugup.


" Ya Tuhan, kenapa perasaan ku seperti ini, seperti pertama kali di tembak pria saja ". Gumam Diandra dengan memegangi dadanya.


βž–


Jika Diandra merasa gugup dengan keinginan yang tak biasa dari Rendi, maka di lain tempat sang empu yang telah berhasil membuat perasaan itu pada Diandra juga dilanda dengan perasaan yang juga tak biasa.


Rendi merasa gugup sekaligus senang dalam waktu yang bersamaan, ia merasa gugup karena tidak lama lagi akan menyatakan perasaannya pada Diandra, sekaligus ia juga merasa senang karena sebentar lagi setelah sekian lama ia bisa mengungkapkan rasa cintanya pada sosok wanita yang memang sudah menjadi dambaannya selama ini.


" Huh... tenanglah Rendi jangan gugup, belum apa - apa kamu sudah gugup huh... seperti akan menembak wanita untuk pertama kalinya ". Gumamnya yang berusaha menenangkan dirinya sendiri.


" Bukannya dulu kamu suka gonta ganti wanita hihihi... ". Batin Rendi tersenyum.


Ya, banyak orang tidak tahu jika diantara Rendi, Rian, dan juga Al, yang paling sering gonta ganti pasangan adalah Rendi, namun meski begitu Rendi bukanlah tipe pria yang suka mempermainkan perasaan wanita, Rendi sudah mulai menjalin hubungan berpacaran sewaktu dirinya masih duduk di bangku kelas dua SMP, dalam satu bulan Rendi bisa mengganti pacar wanitanya sebanyak dua kali, lebih tepatnya adalah saat Rendi menjalin cinta dengan lawan jenisnya, waktu tersingkat masa berpacaran nya hanya dua minggu saja, sedangkan waktu terlamanya hanya dua bulan, bisa di bayangkan sudah berapa banyak wanita yang sudah ia pacari.


Namun semua itu telah berubah total di saat dirinya telah mengenal akan sosok Diandra, wanita cantik, baik, ramah, dan yang paling membuat Rendi begitu mengaguminya adalah sikap pedulinya pada orang lain yang telah berhasil membuatnya tak bisa berpaling, namun sayang, di saat dirinya sudah bersiap ingin menyatakan perasaannya, ternyata sang sahabat dekatnya Al malah mengungkapkan perasaannya lebih dulu, dan yang lebih parahnya lagi wanita dambaannya itu malah menerima lamaran sahabatnya, tentu Rendi tak bisa berbuat apa - apa kala itu, karena itu adalah tentang perasaan, dan perasaan memang tidak bisa dipaksakan.


Dan setelah semua yang terjadi, ternyata dirinya masih memiliki kesempatan kedua. Rendi akan benar - benar ingin menyatakan seluruh isi hatinya selama ini. Ia ingin menjadikan Diandra satu - satunya wanita dalam hidupnya, dan mungkin ini memanglah jalan dari Tuhan, untuknya bisa bersama dengan wanita yang diharapkan nya selama ini.


*****


Riuhan kegembiraan di rumah Al terdengar hampir memenuhi ruangan bersantai yang memang hampir setiap harinya, siapa lagi dalangnya jika bukan si kecil Aganta dan juga Damian.

__ADS_1


" Yeay yeay yeay, adik Andi dah datan ( yeay yeay yeay, adik Andri sudah datang) ". Seru si kecil Damian kegirangan, bahkan bocah itu sampai melompat - lompat karena rasa tak sabarnya.


" Damian, hati - hati nak, biarkan uti duduk dulu ". Suruh Adinda.


" Ayo adik Andi, tita main minan ladi ( ayo adik Andri, kita main mainan lagi) ". Ajak Aganta pada sang adik yang masih berada dalam gendongan onti nya.


" Ham mam mam mam mam ta ta ta ". Sahut si mungil Andri dengan bahasa bayinya, entah apa yang bayi gembul itu sahut kan.


" Ayo uti uti, bawa duduk adik na, Mian mau main cama Andi ". Seru si kecil Damian pada onti nya yang masih berdiri.


" Iya iya, sebentar sayang, ini onti masih mau duduk ". Sahut Vita.


Ya, di sore hari yang begitu hangat ini, Vita dan juga Andrew memutuskan untuk berkunjung ke rumah Adinda.


Jika Vita berada di ruangan bersantai dengan Adinda, maka suaminya Andrew sedang di ruangan kerja kakak Al nya, entah apa yang dilakukan oleh dua pria itu, seolah tak pernah cukup dengan urusannya di kantor, hingga sampai di rumah pun masih harus berlanjut, mungkin seperti itu atau memang ada urusan yang lainnya.


" Ayo, cini - cini adik Andi, duduk cini cama Mian ". Pinta Damian, agar adiknya itu mau duduk di dekatnya.


Vita pun melakukan apa yang Damian inginkan, ia mendudukkan tubuh mungil Andri di tengah - tengah Aganta dan juga Damian.


" Vita, kamu ini bawa apa? ". Tanya Adinda, pasalnya saudara angkatnya itu seperti membawa sesuatu untuknya.


" Itu salad buah, aku yang membuatnya sendiri, cepat makan mumpung masih dingin ". Sahut Vita.


" Aduh terima kasih ya Vita ". Sahut Adinda.


" Huum, makanlah habiskan semuanya, biar keponakanku yang di dalam perut itu selalu sehat ". Sahut Vita.


Si kecil Aganta dan juga Damian rupanya sudah begitu sibuk bermain dengan adiknya si mungil Andri, nampak kedua bocah kembar itu banyak memperlihatkan mainannya di depan Andri, sehingga Andri pun merasa kebingungan harus melihat yang mana, karena semua mainan yang diperlihatkan sama - sama menarik perhatiannya.


" Hihihihi.... anak mommy bingung ya nak harus melihat yang mana ". Seru Vita dengan kekehannya.


" Iya, sepertinya Andri bingung, karena anak - anakku Vit ". Timpal Adinda.


" Ya seperti inilah Adinda, namanya juga anak - anak ". Timpal Vita juga.


" Oh iya Adinda, satu bulan lagi resepsi pernikahan mu akan dilangsungkan ya? ". Lanjut Vita lagi.


" Iya Vit, InsyaAllah, satu bulan lagi acaranya, aku minta bantuan doanya ya agar kegiatannya berjalan dengan lancar sesuai dengan yang di rencanakan ". Sahut Adinda dengan harapannya.


" Amin, pasti Adinda, pasti aku akan mendoakannya, aku akan mendoakan yang terbaik, semoga selama acara berlangsung tidak ada gangguan apapun, dan juga biar semua orang tahu jika kamu adalah istri dari seorang Alexander ". Sahut Vita.


Deg...


Entah mengapa, setelah mendengar jawaban dari Vita, mendadak hati Adinda merasa mendapat hantaman namun tak terasa sakit, entah apa ini, apakah ini benar - benar firasat atau hanya perasaannya saja yang terlalu menganggap serius kalimat Vita.


Bersambung..........


Sampai di sini dulu ya, semangat membaca.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2