Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 108


__ADS_3

Meka duduk di dekat Asih dan Isna. Sesekali Meka menoleh ke arah Bu Arin. Dia terlihat tenang dan santai.


"Bu Arin tidak memperlihatkan sesuatu yang mencurigakan. Tapi apa dia gak tau menahu tentang Desa ini? Kenapa dia membawa kami ke tempat yang banyak mahluk ghaib yang?" bathin Meka bergejolak.


Zain yang duduk disebelah Pak Anton, menatap Meka terus. Dia mengkhawatirkan istrinya yang memiliki kelebihan. Lalu dengan berani Zain menghampirinya dan duduk disebelah Meka.


"Sayang, dari tadi Mas perhatikan kamu banyak melamun. Gak baik melamun disini. Apa ada yang kamu sembunyikan dari Mas?" tanya Zain dengan suara pelannya.


"Mas..."


" Ayo kita ke kamar Mas," ajak Zain.


"Tapi Mas, gimana dengan mereka. Nanti mereka akan tau kalau kita sudah menikah!"


"Biarkan saja, Mas gak mau tidur sendirian. Apalagi pisah denganmu," ucap Zain yang berjalan duluan.


Meka diam sejenak, dia tidak mengikuti langkah suaminya yang berjalan menuju kamarnya. Meka melirik dikamar paling ujung, kamar kosong yang digembok dari luar. Bulu kuduk Meka berdiri seketika.


Zain menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap ke Meka. Lalu dia berjalan kearah Meka dan menarik tangannya.


"Mas, gak enak dilihat sama yang lainnya. Mereka akan berpikir yang tidak-tidak Mas," ucap Meka namun tetap mengikuti langkah suaminya.


Saat mereka pergi, semua mata memandang kearah mereka kecuali Asih, Isna, Deon, Pak Anton. Hanya mereka ya mengetahui jika keduanya sudah menikah.


Bu Arin menatap tak suka kearah Meka. Dan beberapa Mahasiswi lainnya.


"Loh itu si Meka kok main masuk ke kamar Dosga kita ya?" tanya Dewi yang duduk disebelah Asih.


"Biarin aja, emang kenapa rupanya, kan gak masalah," ketus Asih.


"Ya gak pantas dong, Mahasiswi masuk ke dalam kamar Dosganya berduaan gitu. Apa kata yang lainnya, celetuk Puspita.


"Udah-udah jangan ikut campur urusan mereka. Biarkan saja, toh mereka gak salah kok berduaan didalam kamar," tiba-tiba Pak Anton berucap.


Semua yang ada disitu mengerutkan keningnya dengan penuh tanda tanya.


Sedangkan di dalam kamar, Meka dan Zain duduk ditempat tidur yang kecil.


"Sayang, Mas kangen. Kamu tidur disini aja ya. Gak enak kalau gak ngeloni kamu. Mas udah biasa disampingmu kalau tidur," pinta Zain.


"Nanti kalau mereka nanya gimana Mas?"


"Udah biarin aja, Mas yang akan ngomong ya."

__ADS_1


"Iya deh Mas," ucap Meka sambil matanya mengarah ke tembok dinding kamar suaminya yang bersebelahan dengan kamar kosong.


"Sayang, kamu kenapa? Mas lihat dari tadi kamu banyak ngelamunnya. Mikirin apa?" tanya Zain yang mengkhawatirkan istrinya.


"Mas, tempat ini benar-benar tidak baik untuk kita semua. Aku bisa merasakan ada hawa jahat di Desa ini. Tadi saat kita duduk di depan, aku melihat sosok tinggi besar dengan matanya yang merah melotot kearah tempat kita. Dan tadi saat kita sampai disini, aku melihat sosok gadis muda disamping rumah. Tapi dia langsung menghilang Mas saat aku datangi," ungkap Meka yang menatap suaminya.


"Iya Mas juga merasakan tak nyaman sayang disini. Terus kita mau balik aja ke Jogja? Gak usah ikut tour kegiatan disini?" tanya Zain yang minta pendapatnya.


"Kalau kita pergi, tentu Isna, Deon dan Asih juga ikut pergi Mas. Dan bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Meka bingung.


"Ya udah kita ikutin aja kegiatan ini. Tapi ingat kamu jangan jauh-jauh dari Mas. Dan kalau mau kemana-mana, kamu harus bilang sama Mas, biar Mas temani ya," pinta Zain.


"Iya Mas."


"Terus kenapa kamu menatap ke tembok itu sayang?" tanya Zain curiga.


"Mas, sepertinya ada sesuatu di kamar sebelah. Aku merasakan hal yang janggal di rumah ini Mas. Rumah ini sepertinya menyimpan sesuatu Mas," ucap Meka yang terus memandang tembok itu.


Tiba-tiba Meka dikejutkan dengan suara rintihan minta tolong dari kamar sebelah dan setelah itu suara ketawa cekikikan dan tangisan.


"Tooolooongin saaayaaaa, hihihihihi, hiks hiks hiks," suara itu terdengar sangat menyayat hati.


"Mas ada yang menangis minta tolong. Kamu denger gak?" tanya Meka yang melihat kearah suaminya.


"Mas gak ada dengar sayang. Dimana?" tanya Zain balik.


Lalu Meka berdiri dari tempat tidur dan berjalan menghampiri dinding pembatas kamar sebelah. Meka menempelkan telinganya kedinding itu dan berharap bisa mendengar kembali teriakan minta tolong tadi. Namun tak ada suara lagi. Saat Meka membalikkan badannya, dia terkejut karena bunyi suara hantaman benda tumpul ditembok dekat dia berdiri.


"Astaghfirullahal'adzim, apa itu Mas!" teriak Meka dan langsung berlari kearah Zain.


"Mas gak dengar sayang. Tidak ada suara apa-apa," ucap Zain bingung.


Zain melihat wajah Meka yang bingung dan sedikit ketakutan. Dia langsung mendekap Meka dalam pelukannya.


"Jangan takut Meka, dia tidak akan berani menyakitimu. Berhati-hatilah terhadap manusia lainnya, karena mereka lebih berbahaya dari pada mahluk ghaib," tiba-tiba Meka mendengar suara Khodamnya.


Meka menatap sekeliling, dia melihat sosok Harimau putih berdiri di dekat dinding tempat Meka tadi berdiri.


"Mas, sepertinya kita harus berhati-hati disini. Aku curiga dengan Ki Baron Mas. Tatapannya terhadapku berbeda. Apa dia tau ya Mas, kalau aku memiliki kelebihan?" tanya Meka menatap wajah suaminya yang khawatir.


"Mas juga kurang nyaman melihat Ki Baron saat kita kemari. Ntah kenapa, pandangannya ke kamu membuat Mas khawatir sayang," jawab Zain sambil mengusap lembut rambut Meka.


"Meka, laki-laki itu jahat. Dia seorang dukun ilmu hitam. Kalian harus segera pergi dari Desa ini sebelum semua terlambat," Khodamnya memberi peringatan terhadap Meka.

__ADS_1


"Mas, kita lebih baik pergi dari sini aja Mas. Karena aku sudah diperingati dengan Khodamku Mas," ucap Meka yang melepaskan pelukannya.


"Bagaimana dengan yang lainnya sayang?" tanya Zain.


"Mas, sepertinya malam ini kita jangan menginap disini Mas. Kita bilang aja mau jalan-jalan sore sebentar ke Kota, mau beli sesuatu keperluan gitu Mas, ya," Meka memberikan idenya.


"Gimana dengan Asih, Isna dan Deon, sayang?"


"Kita ajak aja Mas. Mereka pasti ikut kalau kita ajak mereka. Dan aku akan menceritakan semuanya dengan mereka, ya."


"Ya sudah, ini masih jam 14.30. Lebih baik kita gabung diluar dan kamu ajak bicara mereka bertiga ya," ucap Zain.


"Iya Mas, biar Bu Arin tidak curiga ya Mas?" tanya Meka.


"Iya sayang, kamu benar. Oh ya bukannya Asih belom tau kalau kamu memiliki Khodam dan mata bathin?" tanya Zain.


"Iya Mas, terus gimana caranya aku cerita. Aku takut dia akan menceritakannya dengan Eko mantannya."


"Gini aja, kamu ngobrol dulu sama Ghani dan Isna, karena mereka lebih tau tentang kamu. Kalau sama Asih, kamu ajak aja dia, bilang kalau kamu kurang nyaman disini, dan jangan ceritakan apapun sama dia ya," pinta Zain.


"Baiklah Mas. Ayo kita keluar gabung dengan yang lainnya," ajak Meka.


Zain dan Meka keluar dari kamar dan kembali ke ruang tamu, dimana masih ada beberapa orang saja yang bertahan diruangan itu.


"Kemana yang lainnya?" tanya Meka.


"Mereka pada masuk kamar, tuh diluar juga ada lagi main catur sama Pak Anton," jawab Isna.


"Oh...Bu Arin kemana Na?" tanya Meka saat tidak melihat keberadaan Dosennya itu.


"Pergi ke tempat Ki Baron dan Kepala Desa. Katanya mau membahas tentang kegiatan besok," jawab Isna.


"Sama siapa dia kesana Na?" tanya Meka lagi.


"Kayaknya sama Eko deh. Karena Eko juga gak kelihatan dari tadi Mek!" jawab Deon yang duduk disebelah Isna.


"Asih dimana?" Meka bertanya lagi.


"Kamu kenapa sih Mek nanya mulu?!" protes Deon.


"Na, Deon, dengerin gw baik-baik. Gw dan Pak Zain sore ini mau keluar dari Desa ini. Kami mau ke kota tapi jalan kaki sebelum malam tiba. Apakah kalian ikut?" tanya Meka serius.


"Emang kenapa Mek?" Bukannya kegiatan kita besok akan dilaksanakan?" tanya Isna bingung.

__ADS_1


"Nanti aja ceritanya. Kalian mau ikut atau bermalam disini?" tanya Meka.


Isna yang mengerti jika Meka mencoba menyelamatkan mereka, memilih untuk ikut


__ADS_2