Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 236


__ADS_3

Lagi-lagi Papanya Meka menatap serius ke arah Zain. Dia menyipitkan matanya menatap Zain lekat-lekat.


"Kenapa aku merasakan hal yang mengerikan akan terjadi ya. Ada apa ini?" bathin Papanya Meka yang terus menatap menantunya itu.


Tak sengaja Sandy memergoki Abang Iparnya terus menatap ke arah menantunya itu. Dia pun mendekat duduk di samping Abangnya itu.


"Apa yang membuat Abang memandanginya terus menerus?" tanya Sandy dengan suara yang nyaris tak terdengar. Sandy mengatakan apa yang hendak di tanyakannya dengan cara mengatupkan giginya tapi bibirnya bergerak pelan.


Papanya Meka tak langsung menoleh ke samping. Di mana Iparnya sudah duduk santai sambil meminum tehnya.


"Ntahlah San, Abang tidak bisa menceritakannya sekarang. Nanti setelah kita kembali, Abang akan bercerita ke kamu. Ntah ini hanya perasaan Abang saja. Tapi yang jelas, Abang melihat aura jahat di diri Zain," jelasnya tanpa menoleh ke samping.


"Aku tidak meragukan apa yang Abang perkirakan," balasnya dengan tersenyum ke arah Abangnya.


Papanya Meka langsung menoleh dan menatap Iparnya dengan mengerutkan keningnya.


"Bagaimana bisa?" tanyanya.


"Tentu saja, kau juga memiliki kelebihan itu. Tapi kau tidak ingin menerimanya. Tapi apapun yang terjadi di sekelilingmu, akan kau rasakan Bang," ungkap Iparnya yang memang benar adanya.

__ADS_1


Saat mereka ngobrol asyik, pintu kamar di ketuk. Sandy langsung berdiri dan mengecek siapa yang datang.


Ternyata pesanan mereka sudah datang. Bersamaan dengan pesanan online.


Sandy menerima pesanan online dan membayarnya. Kemudian pesanan yang dari hotel, dibiarkannya seorang pelayan masuk menghidangkan makanan ke atas meja yang ada di dalam kamar.


"Silahkan Pak, Mas, Mbak, pesanannya semua sudah di antar. Kalau ada yang kurang bisa hubungi kami kembali di Restaurant. Kami siap melayani Bapak dan yang lainnya," ucap pelayan tersebut dengan senyum ramahnya.


"Baik, terima kasih," balas Omnya Meka.


"Kalau begitu saya permisi dulu, selamat menikmati," ucap pelayan itu.


"Wah Bang, ini lebih menyenangkan dari pada kita harus keluar mencari makan. Karena perut kita saat ini juga sudah keroncongan," ucap Sandy di sela mereka makan.


"Iya Om, ini lebih menyenangkan. Aku bisa makan bersama kalian di sini," sambung Meka.


"Setelah makan, kita semua harus segera beristirahat kembali. Karena besok pagi, kita harus datang ke rumah nak Zain," ucap Papanya Meka memberitahukan semuanya.


Zain sontak menoleh ke arah mertuanya. Padahal dia ingin mengatakan hal tersebut. Tapi ternyata mertuanya itu sangat perduli dan mengerti posisi Zain dan keluarga besannya.

__ADS_1


"Iya Pa, tadi Zain juga mau memberitahukan hal itu ke Papa. Ternyata Papa sudah duluan mengatakannya," sambung Zain yang mendukung ucapan mertuanya.


"Tentu nak Zain. Karena besok acaranya, kami tidak mungkin datang siang. Tentu kami ingin bertemu dengan keluarga nak Zain," balas Papanya Meka.


"Apa besok kita sama-sama ke rumah Mas?" tanya Meka sambil mengunyah makanannya.


"Mas gimana baiknya aja. Kalau Papa dan Om serta Tante mau bareng sama kita, itu lebih baik," jawab Zain yang duduk di sebelah Meka.


"Kami akan ikut bersama kalian besok pagi Meka. Seperti yang disampaikan Pada kamu, kami ingin bersilaturrahmi terlebih dahulu dengan keluarga nak Zain sebelum acaranya," sambung Om Sandy.


"Iya Om," Meka setuju dengan ucapan Papa dan Omnya.


"Ayo habiskan sayang, nih mau tambah lauknya?" tanya Zain yang menawarkan lauk lainnya.


"Iya Mas, aku mau coba udang bakarnya," pinta Meka.


Zain pun memberikan udang bakar ke piring Meka. Lalu dia pun mengambil untuk dirinya.


Mereka sangat menikmati makan malam itu dengan tawa bahagia. Mereka tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok harinya. Dimana akan ada kejutan untuk Meka dan Zain pada acara besok. Meka terus tersenyum bahagia melihat satu persatu orang yang disayanginya.

__ADS_1


__ADS_2