Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 127


__ADS_3

Pagi menjelang, cahaya sinar matahari menembus tirai transparan jendela Meka.


"Uhhhh, jam berapa ini?" tanya Meka pada angin.


Lalu dia bangkit dan duduk diatas tempat tidur. Meka melihat Zain masih berada di sebelahnya dalam keadaan tidur lelap.


"Mas, Mas, ayo bangun. Kita harus berangkat ke Kampus," Meka membangunkan Zain.


"Jam berapa ini sayang?" tanya Zain sambil mengucek-ngucek matanya.


"Udah pagi Mas. Aku mandi duluan ya," ucap Meka.


"Iya sayang."


Meka pun beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Zain masih terduduk di tempat tidurnya. Lalu dia mengambil ponselnya dan mengecek isi ponselnya. Zain membelalakkan matanya melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Bu Arin. Lalu dia juga melihat ada pesan masuk dari no Bu Arin.


"Pak Zain, tolong....! Selamatkan orang tua saya. Saya mohon bantuan kalian. Tolong...!" isi pesannya.


Zain terus-terusan melihat pesan itu dan berulangkali membacanya karena tak percaya dengan pesan dari Bu Arin.


Zain menunggu Meka keluar dari dalam kamar mandi. Dia tak sabar ingin mengatakan hal itu.


Saat Zain gelisah, dia melihat Meka keluar. Zain pun langsung menghampiri Meka.


"Sayang, lihat ini," tunjuk Zain.


Meka heran melihat kebingungan di wajah suaminya pagi-pagi begini.


"Apa ini Mas?" tanya Meka sambil menerima ponsel Zain.


Meka melihat tulisan di ponsel Zain. Dia tidak sadar bahwa yang mengirim pesan itu adalah orang yang sudah mencoba memusnahkannya.


"Siapa ini Mas minta tolong sama kamu?" tanya Meka curiga.


"Sayang, coba lihat pengirimnya siapa? Kamu pasti gak menyangka setelah melihatnya," suruh Zain.


Meka pun membuka ulang pesan itu di ponsel suaminya. Dengan teliti dia membaca ulang pesan tersebut dan melihat nama pengirimnya. Meka pun terkejut sama halnya dengan Zain.


"Mas, ini apa maksud Bu Arin ya?" tanya Meka mengerutkan keningnya.


"Mas juga gak ngerti sayang."


"Ada apa ini, apakah belom selesai masalah yang kemaren? Mas, aku gak mau terlibat lagi dengan urusan seperti itu. Kita lebih baik tidak meresponnya," ucap Meka yang jenuh dengan masalah kemaren.


"Iya sayang, Mas gak akan meresponnya."

__ADS_1


"Ya udah, gih kamu mandi dulu Mas," usir Meka.


"Iya sayang, nih Mas mandi dulu biar wangi kalau dekat kamu,"


Setelah Zain masuk dalam kamar mandi. Meka mencoba berbicara dengan Khodamnya.


"Wahai Khodamku, apakah wanita bernama Arin memang membutuhkan pertolongan kami? Apa yang di alaminya?" tanya Meka melalui bathinnya.


"Orang tuanya di Desa tua sudah menjadi tumbal untuk iblis yang di sembahnya sendiri, karena mereka tidak berhasil mendatangkan atau memberi makan para lelembut di sana. Sehingga mereka yang memuja, menjadi tumbal bagi iblis itu sendiri," ungkap Khodamnya.


"Maksudnya Kepala Desa kemaren sudah meninggal?" tanya Meka serius.


"Ya Meka. Mereka juga ikut musnah karena kejadian kemaren."


"Terus apa yang akan aku lakukan?" tanya Meka lagi.


"Jauhi dia, jangan berurusan dengannya. Karena itu akan membuatmu menjadi membenci Zain."


"Kenapa bisa seperti itu? Apakah dia akan mencoba merayu Zain lagi?" tanya Meka terus.


"Ya Meka, dia ingin membuat perangkap untuk kalian berdua. Aku sarankan jauhi dia," tekan Khodamnya.


Meka pun mengangguk mengikuti saran dari Khodamnya. Dia terus berpikir, apa yang membuat Bu Arin sebegitunya mengejar Mas Zain.


Setelah Meka selesai ngobrol dengan Khodamnya, Zain keluar dari dalam kamar mandinya.


"Sayang, kamu udah selesai berpakaian?" tanya Zain.


Lalu Meka menyiapkan baju buat Zain. Dan menunggunya di luar.


"Mas, aku buatkan sarapan dulu ya. Nanti kalau Mas udah selesai, Mas langsung keluar dari kamar ya," pinta Meka.


"Iya sayang, Mas akan menyusul."


Meka pun keluar dari dalam kamar menuju dapur untuk membuat sarapan pagi. Meka melihat Deon dan Isna belom datang ke Meja makan.


Meka terus berkutat di dapur dengan semangat. Dia mencoba membuat mie goreng di pagi hari.


Setelah selesai membuatnya, meja menghidangkannya di meja makan.


Lalu disaat yang bersamaan, Zain keluar dari dalam kamar. Namun tak hanya Zain, Isna dan deon juga secara bersamaan keluar dari kamarnya.


"Hai Mek, sorry telat bangun ya. Jadi gak bisa bantuin Lo buat sarapan," sesal Isna.


"Ah biasa aja Na. Lagian aku nya aja mungkin yang kecepatan bangun," ucap Meka menyalahkan dirinya.


"Kalian hari ini jadi ke Kampus gak ya?" tanya Deon sambil mengambil kursinya.

__ADS_1


"Iya Deon, kami ke Kampus. Emang kenapa kalau nanya begitu?" tanya Meka bingung.


"Hanya sekedar nanya Mek. Kita bisa bareng ke Kampusnya," usul Deon.


"Sepertinya tidak usah. Kalian jalan duluan aja, atau kami yang duluan jalan," protes Pak Zain.


Deon merasa tak nyaman dengan jawaban Pak Zain. Dia jadi menyesal sudah memberikan usulannya yang ingin ke Kampus bareng.


"Sorry ya Na, Deon. Kali ini kita berangkat masing-masing aja ya. Karena Pak Zain ingin mengerjakan pekerjaan terlebih dahulu," bohong Meka yang terpaksa.


"Gak apa Mek, santai aja. Kami gak masalah kok. Oh ya Mek, belakangan ini gw suka mimpi yang aneh deh. Tapi gak mungkin itu menjadi kenyataan ya.


"Emang Lo mimpi apaan sih?" tanya Meka penasaran.


"Sama Mek, gw juga beberapa hari nih mimpi yang aneh-aneh deh," sambung Deon.


"Kok kalian bisa mimpinya bersamaan?" tanya Meka bingung.


"Ini serius Meka....!" seru Isna.


"Iya nih Mek, mimpinya beneran kok. Lo harus dengerin mimpi kita masing-masing," pinta Deon.


"Lah kenapa gw harus mendengarnya?" balas Meka.


"Na, Lo aja duluan yang kasih tau mimpi Lo!" suruh Deon.


"Mimpinya tentang gw yang di kejar-kejar sama mahluk ghaib di sebuah Desa. Gw ngelihat di Desa itu ada Lo dan Pak Zain serta Deon. Tapi gw gak bisa bersentuhan dengan kalian, aneh kan mimpinya," ucap Isna bingung.


"Kalau Lo gimana Deon? Emang Lo mimpi apaan?" tanya Meka.


"Gw hampir sama dengan Isna. Bedanya, kita berada di hutan yang serem banget sedang dikejar-kejar sama mahluk halus, gw ada bersama kalian bertiga. Tapi gw gak bisa menyentuh kalian, gimana? Aneh kan Mek...!" seru Deon.


"Iya mimpi kalian aneh," ucap Meka mendukung.


Sebenarnya Meka mengetahui kenapa mereka mimpi seperti itu. Namun Meka pura-pura tak mengetahuinya. Meka gak mau kalau Isna dan Deon tidak merasa tenang dalam menjalankan aktifitas mereka sendiri.


"Iya Mek, Lo gak bisa tau maksud dari mimpi kita berdua?" tanya Isna mencoba membujuk Meka untuk menafsirkan mimpi mereka.


"Sorry Na, gw gak bisa," tolak Meka.


"Terus itu mimpi kenapa ya?" tanya Deon penasaran.


"Udah gak usah di pikirkan. Lebih baik kalian siap-siap biar ke Kampus," usul Meka.


"Tapi gw masih penasaran Mek tentang mimpi itu!" ucap Isna.


"Kenapa harus penasaran. Kalau tidak mengganggu kehidupan kita, kenapa harus dicari tau arti mimpi itu. Benar gak....?" tanya Meka.

__ADS_1


"Lo sih benar Mek," jawab Isna.


Akhirnya mereka menyudahi sarapan paginya dengan obrolan yang sedikit berfaedah.


__ADS_2