
Akhirnya makan malam yang sangat menyenangkan itu berakhir. Meka dan Zain kembali ke kamar mereka. Begitu juga dengan Om Sandy dan istrinya. Sedangkan Papanya Meka berada di dalam kamar sendirian.
Tepat pada saat mereka sudah kembali ke kamar masing-masing, Khodamnya Meka muncul di hadapan Papanya Meka.
"Ada apa kamu menemuiku?" tanya Papanya Meka.
"Saya menemui anda karena ingin mengatakan bahwa akan ada kejadian yang membuat kehidupan Meka berantakan," jawab Khodamnya Meka dengan tenang.
"Apa maksud kamu?" tanya Papanya Meka.
"Sudah waktunya Meka kembali ke dia. Laki-laki itu sudah melihat dan bertemu dengan Meka. Dan aku harap kamu ingat akan perjanjian kita dulunya," ucap Khodamnya Meka mengingatkannya.
"Tapi aku menyayanginya. Hanya dia yang kumiliki sekarang? Istri dan anakku sudah pergi. Aku tidak mau kehilangan Meka," balas Papanya Meka dengan marah.
"Pasangan Meka di dunia ini sudah tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Dan sesuai perjanjian kita, jika pasangan Meka tidak bisa memberikan kebahagiaan untuknya, maka Meka akan kembali ke tempatnya," tegas Khodamnya Meka.
"Tidak bisa, aku Papanya, dan aku tidak akan membiarkan dia meninggalkanku," ucap Papanya Meka.
"Kau lupa, bahwa Ayah kandungnya sedang menanti kedatangannya?" tanya Khodamnya Meka mengingatkan Papanya Meka.
Papanya Meka seketika terdiam, dia teringat akan kejadian yang dulu terjadi. Istrinya harus tidur bersama mahluk ghaib untuk mendapatkan keturunan perempuan dan tentu saja kejadian itu tanpa sepengetahuan istrinya. Dan bayi itu akan menjadi penerus keluarga itu sebagai pemilik Khodam leluhur.
"Jangan ingatkan kejadian itu. Biarkan Meka yang menentukan hidupnya. Aku harap kau tidak membuat sesuatu yang akan membuatnya terluka," tekan Papanya Meka dengan menatap tajam ke arah Khodam itu.
"Baiklah, aku akan menunggunya, beristirahatlah. Karena besok akan ada hal yang mengejutkan buat Meka. Kau harus mendukungnya," ucap Khodam itu.
Kemudian Khodam itu menghilang meninggalkan laki-laki paruh baya itu dengan suasana hati yang sedikit terguncang akibat perkataan Khodam itu.
"Aku sangat menyayanginya. Dia peninggalan Istriku yang sangat berharga. Bagaimana bisa aku berpisah darinya?" gumam laki-laki tua itu.
Papanya Meka mencoba membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan matanya agar tertidur. Namun pikirannya terganggu mengingat masa lalunya. Kejadian yang di sembunyikan dari siapapun termasuk Almarhum istrinya sendiri.
"Maafkan aku Istriku. Aku terpaksa melakukannya. Jika itu tidak dilakukan, maka aku tidak akan bisa hidup bersamamu lagi. Karena rantai kepemilikan Khodam berakhir di diriku yang tidak mau menerimanya," sesal Papanya Meka.
Papanya Meka merenung mengingat semua yang sudah terjadi. Dia sudah kehilangan Istri tercintanya. Dan dia tidak ingin kehilangan Meka anak yang sudah sangat di sayangnya.
Malam pun semakin larut, akhirnya Papanya Meka tertidur karena lelah dalam pikirannya.
Sementara Meka belum bisa memejamkan matanya. Dia merasa aneh dengan berbagai kejadian yang menimpanya.
"Kenapa mahluk ghaib itu menginginkan diriku dan bayiku? Ada apa denganku?" bathin Meka.
Tiba-tiba Khodamnya Meka muncul di hadapannya. Khodamnya itu tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Kau bertanya kenapa?" tanya Khodamnya.
Meka mengangguk, dia ingin tau jawabannya saat itu juga. Namun Khodamnya itu tidak memberikan jawaban yang memuaskan.
"Kau akan tau setelah semua selesai," ucap Khodamnya.
Meka mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan ucapan Khodamnya yang membingungkan.
"Apa maksudmu selesai?" tanya Meka.
"Nanti Papamu sendiri yang akan menjelaskannya. Dan ku harap kau bisa menerimanya," jawab Khodamnya.
"Apa maksudmu?" tanya Meka lagi.
"Beristirahatlah Meka. Besok hari sudah menantimu untuk acara yang di tunggu semua orang. Dan berhati-hatilah," jawab Khodamnya.
"Kenapa aku harus berhati-hati? Apa ada yang akan terjadi besok?" tanya Meka menebaknya.
"Dia sudah kembali. Berhati-hatilah," pesan Khodamnya lagi. Kemudian Khodamnya menghilang meninggalkan Meka dengan banyak pertanyaan di pikirannya.
"Hah, dia selalu saja seperti itu. Meninggalkan tanda tanya besar dalam pikiranku. Dasar gak jelas tuh Khodam," bathin Meka.
Meka pun membaringkan tubuhnya, sekilas dia melihat suaminya yang sudah tertidur pulas. Meka pun memejamkan matanya mengikuti suaminya yang sudah tertidur.
"Ternyata sudah pagi," ucapnya. Lalu Meka membangunkan suaminya agar bersiap-siap dan kembali ke rumah Mamanya.
"Mas, ayo bangun, kita harus kembali ke rumah Mama. Ayo Mas," Meka menggoyang-goyangkan bahu Zain agar terbangun.
"Iya sayang, kamu mandi duluan gih. Mas bentar lagi bangun. Mata Mas masih perih, gak bisa buru-buru bangun," ucap Zain.
"Baiklah Mas, aku akan bersiap duluan," balas Meka. "Tapi aku mau menghubungi Papa dan Om Sandy. Takut mereka belum pada bangun," ucapnya lagi.
"Iya sayang, coba hubungi mereka."
Meka pun menghubungi Papanya. Ternyata Papanya sudah bangun dari tadi dan menunggu Meka dan yang lainnya keruangan Papanya untuk berkumpul.
Setelah itu, Meka menghubungi Omnya. Ternyata mereka juga sudah bangun. Dan sesuai janji bahwa mereka akan berangkat pagi ke rumah Zain.
"Mas, mereka sudah bangun semua. Aku duluan siap-siap," ucap Meka memberitahu.
Meka berjalan ke kamar mandi tanpa memperdulikan Zain yang apakah merespon ucapannya atau tidak. Di la hanya ingin segera selesai bersiap-siap.
Setelah itu Meka keluar dari dalam kamar mandi. Ternyata Zain sudah bangun dan bergantian dengan Meka.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian semuanya sudah kumpul di dalam kamar Papanya Meka.
"Sudah siap semuanya kan?" tanya Papanya Meka.
"Kami sudah siap Bang. Ayo kita berangkat," ucap Sandy mengajak mereka segera bergerak.
"Iya Pa, Meka juga sudah siap," ucap Meka.
"Baiklah kita berangkat. Zain, apa kamu sudah menghubungi orang tuamu, bahwa kita akan datang pagi ini ke sana?" tanya Papanya Meka.
"Sudah Pa, Mama dan Papa sudah tau kalau keluarga Meka akan ke rumah iagi ini. Mereka sangat senang Pa," jawab Zain.
"Ayo tunggu apa lagi. Kita berangkat," ajak Papanya lagi.
Semua akhirnya keluar dari kamar Papanya Meka dan berjalan ke arah parkiran mobil.
Zain melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya dengan kecepatan sedang. Dia tidak ingin terburu-buru. Zain sangat menjaga kandungan Meka agar tidak berbahaya melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Sepanjang jalan, Sandy selalu menghidupkan suasana yang sempat dingin tanpa ada percakapan yang terjadi di dalam mobil.
"Bang, nanti setelah sampai di sana, kita bisa gak ya sarapan dulu. Aku laper nih bang," ucap Sandy.
Sontak saja, ucapannya itu membuat Istrinya malu, laku menyikut lengan suaminya. Sandy pun menoleh dan tersenyum kecut ke arah Istrinya yang sudah memasang wajah geramnya.
"Iya Om, nanti kita akan sarapan dulu. Mama juga sudah menyiapkan sarapan buat kita semua," balas Zain sambil senyum-senyum dan melirik kaca spion.
"Wah Zain, kamu emang keponakan Om yang sangat pengertian. Om senang mendengarnya," canda Omnya.
Ucapan Sandy membuat semua yang berada di dalam mobil merasa terhibur. Mereka pun tertawa merasa lucu dengan ucapan Sandy.
Tak berapa lama, mobil memasuki halaman rumah orang tuanya. Dimana sudah ada beberapa mobil yang mungkin milik saudara lainnya.
"Kita sudah sampai Pa, Om, Tante," ucap Zain memberitahu.
"Ini rumah orang tuamu Zain?" tanya Om Sandy.
"Iya Om, ini rumah orang tua saya," ucapnya kembali.
"Kelihatannya sudah banyak yang datang ya Zain?" tanya Papanya Meka.
"Zain tidak tau Pa, mungkin baru saudara yang datang Pa," jawabnya. "Ayo kita masuk Pa," ajak Zain.
Mereka semua keluar dari dalam mobil. Zain dan Meka membimbing semuanya berjalan ke arah pintu rumah itu.
__ADS_1