
Semua yang berada di depan pintu kamar itu terkejut dan menutup mulut mereka rapat-rapat dengan kedua tangannya.
"Apa yang terjadi dengan dia Pa?" tanya Mamanya Zain ketakutan.
"Papa juga gak tau Ma, gimana ini? Papa tidak tau keluarganya dimana?" tanya balik Papanya Zain yang juga kebingungan.
Mamanya Zain seketika teringat dari mana pembantu ini datang. Dia belum menyadari kehadiran Mona dan Mamanya serta mertuanya.
"Pa, bukankah dia pembantu yang di bawa sama Mamanya Mona? Tentu dia tau tentang keluarganya," jawab Mamanya Zain yang tidak tahan melihat apa yang terjadi.
"Ma, Papa panggil dulu Ustadz di mesjid dekat rumah kita. Mana tau Ustadz itu bisa menolongnya. Sebentar ya Ma," ucap suaminya yang tergesa-gesa pergi.
"Pa, Mama gak mau di sini?" istrinya ikut bersama suaminya meninggalkan kamar itu.
Mona, Mamanya dan Omanya serta si Bibi masih berada di depan pintu melihat Nina yang sudah tak bersuara lagi tapi wajahnya menahan sakit yang luar biasa. Mona mencoba masuk melangkahkan kakinya ke dalam. Dia kaget melihat iblisnya masih berada di dalam.
Iblis itu melihat Mona, wajah iblis itu terlihat menyeramkan dan Mona bisa melihatnya dengan jelas karena memang iblis itu menginginkannya.
"Hahahaha, Mona, kau memang pengikutku yang hebat. Memberikan ku kekuatan. Dia masih perawan dan aku bisa menyerap energinya hingga dia mati. Dan untuk tumbal yang sudah kau berikan untukku, apa keinginanmu, akan ku kabulkan," ucap iblis itu dengan senyum yang mengerikan.
Mona ketakutan saat matanya melihat senyum mengerikan iblis itu. Dia membalikkan tubuhnya keluar dari dalam kamar itu.
"Ada apa sayang?" tanya Mamanya ketika melihat wajah Mona yang sedikit pucat.
"Ah gak ada apa-apa Ma. Hanya takut saja melihatnya. Ayo Ma kita ke kamar," ajak Mona yang gak ingin melihat wajah mengenaskan pembantu itu.
"Iya sayang, ayo."
Mona dan Mamanya pergi dari tempat itu. Keduanya berjalan ke kamar. Sementara Omanya masih tak percaya dengan keadaan pembantu itu. Dia bingung kenapa dalam hitungan jam pembantu itu bisa berakhir mengenaskan dan belum menghembuskan nyawa.
"Apa ini ada hubungannya dengan mereka? Apa jangan-jangan, oh tidak!" Omanya langsung menutup mulutnya tak percaya dengan tebakannya. Omanya menggeleng-gelengkan kepalanya untuk tidak mempercayai pikirannya itu.
"Ada apa Nyonya besar?" tanya si Bibi. "Ayo Nyonya kita menunggu di ruang tengah saja. Saya takut kalau berdiri di sini terus. Takut kenapa-napa," ucap si Bibi.
Omanya tak menjawab, dia langsung pergi dari kamar itu. Pikirannya masih tertuju kepada Mona dan Mamanya.
"Kalau mereka benar-benar melakukan itu, berarti aku pun bisa menjadi tumbalnya kalau tidak mengikuti kemauannya. Kurang ajar mereka berdua. Aku sudah masuk dalam perangkap mengikuti keinginannya. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Omanya dengan suara nyaris tak terdengar.
Si Bibi yang berada di belakangnya merasa heran melihat majikannya berbicara sendiri.
__ADS_1
"Apa si Nyonya besar kesambet ya? Kok ngomong sendiri gitu? Ih.....jadi takut saya dekat-dekat dengan si Nyonya," bathin si Bibi yang lantas menjauh sedikit dari Omanya Mona.
Di kamar Meka, dia sedang duduk di atas tempat tidur. Zain menemaninya duduk di sebelah.
Papanya Meka dan Omnya juga istrinya ikut menemani Meka. Mereka takut terjadi sesuatu dengan anak dan ponakannya.
Papanya Meka ingin bertanya, tetapi dia mengingat kehadiran istrinya Sandy. Lalu Papanya Meka memberikan kode kepada Sandy agar membawa istrinya keluar dari kamar mereka.
Sandy yang memang melihat tatapan Abang iparnya, memberikan kode kepadanya, langsung mengerti dengan situasi. Dia mengajak istrinya untuk kembali ke kamar mereka.
Setelah Sandy dan istrinya keluar dari dalam kamar Meka, Papanya langsung duduk di depan Meka dan menatapnya dalam.
"Sayang, apa yang kamu ketahui?" tanya Papanya langsung.
Meka mendongak melihat tatapan Papanya yang menginginkan kejelasan. Meka masih terlihat sedikit ketakutan. Kondisi Meka memang lemah saat dia mengandung.
"Meka, katakan sama Papa, apa yang terjadi?" tanya Papanya yang gak sabar mendengar cerita Meka.
"P--pa, di--disana ada iblis. Perempuan itu menjadi tumbal," jawab Meka dengan suara gemetar.
"Apa!" pekik Papanya.
"Iya Pa, Meka takut Pa. Ayo pergi dari sini Pa. Bawa Meka secepatnya ke Medan Pa," pinta Meka.
"I--iya sayang, Papa akan membawa kamu keluar dari rumah ini," balas Papanya sambil mengusap kepalanya.
"Zain, ayo kita segera pergi dari sini. Biarkan keluarga kamu yang mengurusnya. Kita harus membawa Meka pergi dari sini," perintah Papa mertuanya.
"Baik Pa," balasnya. "Tapi apa yang terjadi Pa. Kenapa perempuan itu menjadi tumbal? Dan siapa yang melakukannya?" tanya Zain yang masih tak percaya.
"Kalau dia menjadi tumbal, itu artinya orang yang melakukannya berarti tidak jauh dari kita semua. Dan bisa saja kita menjadi sasaran berikutnya," jawab mertuanya.
"Ya Allah, kita harus membawa Meka menjauh dari sini Pa," ucap Zain mengulang ucapan mertuanya.
"Kalau begitu Papa, akan menemui orang tua kamu. Dan akan pergi dari sini demi keselamatan Meka dan anak kamu."
Papanya Meka keluar dari dalam kamar. Dia berjalan menuju ruang tengah. Namun tak melihat keberadaan orang tua Zain. Dia hanya melihat Omanya Zain dan pembantu mereka.
"Bi, kemana Papanya Zain?" tanya Papanya Meka tanpa memperdulikan keberadaan Omanya Zain.
__ADS_1
"Oh Tuan dan Nyonya sedang ke mesjid meminta bantuan Ustadz di sana Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Kalau mereka sudah kembali, tolong khabari saya. Karena ada yang perlu saya sampaikan," ucap Papanya Meka.
"Baik Tuan," balas si Bibi.
Papanya Meka membalikkan badannya dan pergi meninggalkan keduanya di ruangan itu. Omanya Zain menggerutu.
"Dasar orang tua tidak sopan. Orang kampung mau mencoba jadi orang kota," gerutu Omanya dalam hati.
Ketika Papanya Meka berjalan ke arah kamarnya Meka, dia tidak sengaja melihat sekelebet bayangan hitam masuk ke dalam kamar yang tidak tau milik siapa. Papanya Meka berhenti memperhatikan kamar itu.
Pada saat itu ada seseorang yang menegurnya. "Pak Besan, kenapa di sini?" ternyata yang menegurnya adalah Papanya Zain yang baru tiba dan melihat besannya terbengong berdiri di tengah ruangan.
"Hah, ah g--gak apa-apa Pak. Saya lagi bingung mau ke dapur mengambil minum atau menyuruh si Bibi yang nganter ke kamar Meka," kilah Papanya Meka yang mencoba menyembunyikan sesuatu.
"Oh kalau gitu biar saya suruh Bibi yang nganter," balasnya.
"Oh ya Pak, tadi saya ingin bicara dengan anda. Sepertinya kami harus segera pergi dari sini. Karena saya khawatir dengan keadaan Meka. Saya minta maaf karena tidak bisa membantu untuk urusan seperti ini," jelas Papanya Meka.
"Hah...," Papanya Zian menghela nafasnya. "Baiklah Mas, saya minta maaf juga karena harus berada dalam keadaan yang seperti ini," balasnya.
"Bagaimana dengan Ustadznya? Bisa di minta kemari?" tanya Papanya Meka yang memberikan perhatian.
"Sudah, sebentar lagi datang. Karena Mamanya Meka masih di sana menunggu bersama istri Ustadz itu. Mereka akan. segera kemari bersama beberapa orang mesjid," jawab Papanya Zain.
"Kalau begitu kami berangkat sekarang saja Pak besan. Saya akan bilang ke Zain dan Meka dulu." Papanya Meka langsung berpamitan meninggalkan besannya yang masih diam berdiri memandang punggung besannya. Lalu dia berbalik ke ruang tengah menghampiri Bibi dan Mamanya.
"Bi, anterin air minum buat non Meka di kamar," perintah Tuannya.
"Baik Tuan," balas si Bibi.
"Gimana nak, apa Ustadz bisa membantu?" tanya Mamanya.
"Belum tau Ma. Sebentar lagi akan datang beberapa orang ke rumah ini. Mama bisa masuk ke dalam kamar saja."
"Baiklah, kalau gitu Mama tinggal dulu. Mama takut nak melihatnya. Bisa-bisa Mama yang kenapa-napa," Mamanya pun berlalu dari hadapan anaknya. Dia meninggalkan Papanya Zain sendirian di ruang tengah menunggu Ustadz dan yang lainnya.
Setelah beberapa menit, tibalah Ustadz dan rombongannya ke rumah. Zain dan yang lainnya masih berada di dalam kamar. Karena Papanya Meka meminta kepada mereka untuk menunggu sebentar setelah selesai keadaan ini.
__ADS_1