
Mekq bingung saat mendengar cerita Asih. Ada keraguan dalam benaknya dengan mendengar suara Asih.
"Ada apa Sih? Kenapa Lo ngomong seperti itu? Apa yang terjadi Sih?" tanya Meka curiga.
"Gak ada Mek, beneran kok," jawab Asih yang sedikit gugup.
"Syukurlah kalau masih bisa dihadapi disana. Semoga tidak terjadi hal yang buruk ya Asih," ucap Meka penuh harap.
"I..iya Mek, semoga aja," bohong Asih yang memang itu sudah terjadi.
"Maafin gw ya udah bohong dengan Lo. Disini keadaannya kacau dan menyeramkan. Gw juga gak ngerti dengan apa yang terjadi Mek!" bathin Asih yang menatap teman-teman lainnya yang masih tersisa.
Saat ini di dalam kamar perempuan, mereka hanya tinggal tujuh orang saja. Sedangkan dikamar rombongan Laki-laki tersisa enam orang lagi. Mereka yang tersisa merasa ketakutan, ada yang menangis ingin minta pulang, ada yang mondar-mandir gak jelas, serta ada juga yang ngobrol pelan-pelan untuk menghilangkan ketakutan. Mereka tidak ada yang berani untuk tidur. Semua berusaha menajamkan telinga, melebarkan mata dan saling berdekatan satu sama lainnya.
Begitu juga dengan rombongan laki-laki. Mereka kumpul dikamar khusus laki-laki. Mereka tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Banyak pikiran dan pertanyaan yang berputar di kepala masing-masing. Terutama Ridho. Dia merasa bingung dan ketakutan luar biasa melihat adegan demi adegan yang mengerikan.
Setelah obrolan selesai, Meka menghampiri Zain. Dia duduk di sebelah Zain dan berkata,
"Mas, tadi aku menghubungi Asih. Aku pengen tau gimana kondisi dia saat ini," ucap Meka.
"Gimana keadaan disana sayang? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Zain penasaran.
"Iya Mas. Saat ini ada dua Mahasiswi perempuan yang menghilang. Mereka gak berani keluar malam untuk mencarinya. Terus Mahasiswanya disana ada yang kesurupan. Tapi sudah normal kembali kata Asih, Mas," jawab Meka.
"Syukurlah kita segera keluar dari Desa itu sebelum malam hari. Mas gak tau apa yang akan terjadi kalau kita tetap bermalam disana."
"Iya Mas, aku juga gak ngerti kenapa Bu Arin ngotot ngajak kita ke Desa itu. Seperti yang dibilang Asih, apa Bu Arin gak tau tentang Desa itu?" pikir Meka.
"Tap kok kayaknya Mas agak curiga sama dia. Mas memperhatikannya, sepertinya dia sangat dekat dengan Ki Baron. Tapi ntahlah, itu menurut pandangan Mas saja," ungkap Zain.
"Ya sudahlah Mas, apapun yang direncanakan Bu Arin, biarlah dia yang mengetahuinya. Yang penting kita harus berhati-hati dan menjauh sebisa mungkin darinya," ucap Meka.
"Iya sayang, kamu benar."
__ADS_1
Lalu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar mereka. Zain dan Meka saling menatap karena sedikit terkejut. Tapi Zain segera bangkit dan membuka kan pintu itu. Ternyata yang datang, Isna dan Deon.
"Akhirnya kalian datang juga," ucap Meka yang menghampiri keduanya.
"Iya Mek, kami agak telat. Karena tadi gw menghubungi Nyokap untuk memberitahukan keadaan disini," ucap Deon saat sudah masuk ke dalam kamar.
"Loh, Lo kasih tau sama Nyokap Lo bagaimana keadaan disini? Kenapa Lo harus bilang Deon....! Kan kasihan Nyokap Lo bakalan kepikiran," Meka marah dengan Deon karena kebodohannya.
"Iya ya Mek, gw gak kepikiran sampai disitu. Gw bingung mau ngomong apa tadi. Karena Nyokap gw merasakan hal yang tidak nyaman terhadap gw, makanya gw jujur sama Mama," balas Deon.
"Ya sudah, semoga Mama Lo gak kepikiran terus. Gw kasihan aja kalau orang tua mendengar tentang anaknya yang sedang dalam bahaya. Gw harap Lo ngerti ya," pinta Meka.
"Iya Mek, sorry ya," ucap Deon.
"Ya udah sekarang kita isi perut dulu, karena makanan sudah ada disini. Kalian pasti laper banget kan?" tanya Dosga mereka.
"Iya Pak, habis jalan jauh tadi, makanya kelaparan saat ini," sambar Isna.
"Ya perjalanan memang jauh Na, dan kita belum menyelesaikan perjalanan itu. Besok pagi kita kembali ke Desa itu. Gw akan mengajak mereka untuk keluar dan meninggalkan Desa ini besok. Karena gw gak ingin mereka sampai bermalam lagi disana.
"Sekarang ayo kita makan," ajak Meka.
Keempatnya makan dengan tenang dan tidak terburu-buru. Tidak ada pembicaraan yang terjadi, karena mereka sibuk dengan pikirannya.
Zain menatap satu persatu Mahasiswanya, terutama Istrinya yang sangat disayanginya.
"Mek, apa besok kita harus kembali kesana?" tanya Isna.
"Sepertinya iya Na, kita harus melihat keadaan disana," jawab Meka.
"Gw takut Mek kalau harus melewati hutan itu lagi," balas Isna
"Iya Na, gw juga takut kalau harus kembali ke Desa itu," sambung Deon.
__ADS_1
"Tapi kita harus kesana Na, De!"
"Buat apa kita kesana lagi Mek? Kita kan sudah tau gimana Desa itu!" seru Deon.
"Sahabat gw masih ada disana Deon...! Gw gak mungkin tidak perduli dengan keadaannya. Sedangkan dia ikut ke Desa itu karena ajakan gw," ucap Meka sedikit emosi.
"Tapi kan Lo udah ngajak dia kemaren Mek! Dan dianya aja yang gak mau dengan alasan ada mantannya yang bisa nemani dia. Terus buat apa Lo masih mikirin dia!" sentak Deon.
"Bukan hanya dia yang gw perdulikan tapi semua rombongan yang ikut ke Desa itu Deon," ucap Meka dengan wajah sedihnya.
Zain yang melihat perdebatan antar ketiga sahabat itu, hanya bisa mendengarkannya. Dia tau bahwa Meka memiliki kepedulian yang sangat tinggi serta tanggung jawab atas sesuatu.
"Deon, Isna, jika kalian tidak ingin ikut bersama Meka besok, tidak apa-apa. Itu pilihan kalian. Saya tidak ingin memaksanya," ucap Dosga mereka.
Isna dan Deon merasa bersalah karena sudah tidak perduli dengan yang lainnya.
"Maaf Pak, saya ketakutan jika harus kembali kesana. Tapi bukan berarti saya tidak perduli dengan keadaan mereka yang masih tinggal di Desa itu," jelas Deon.
"Iya Pak, saya juga gitu. Saya hanya ketakutan karena Desa itu mengerikan. Apalagi kalau kita jalan melewati hutan itu. Tapi kami akan tetap ikut bersama Meka besok kembali ke sana," ucap Isna tegas.
"Iya Pak, saya pun setuju ikut kembali ke Desa itu," sambung Deon.
"Baiklah, besok kita semua akan kembali ke Desa itu setelah sarapan pagi. Dan setelah makan malam ini, kalian tidur lah. Supaya besok bangun bisa segar kembali," ucap Dosga mereka.
"Iya Pak," jawab mereka berdua.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Deon dan Isna kembali ke kamar mereka. Mereka tidak mau berlama-lama untuk tidur. Jadi mereka berdua memutuskan untuk segera tidur.
Sedangkan Zain dan Meka, masih membahas tentang apa yang terjadi malam ini. Terutama Meka, dia masih khawatir dengan keadaan Asih. Setelah mendengar ucapan dari Khodamnya tentang Asih, Meka menjadi lebih tidak tenang.
Malam pun semakin larut, Zain menyuruh Meka untuk segera istirahat agar pikiran dan tubuhnya bisa fit dan segar saat esok bangun pagi.
Mereka berdua akhirnya memejamkan matanya hingga terlelap.
__ADS_1
Keesokan harinya, saat pagi menyapa, Meka bangun duluan dan segera membersihkan tubuhnya. Lalu dia membangunkan Zain agar segera mandi.