
Meka berharap Bu Arin tidak berbuat yang salah. Karena perbuatan salah itu akan merugikan dirinya sendiri dan akan berakibat fatal.
Meka dan kedua sahabatnya memasuki ruangan kelas. Mahasiswa yang lainnya memandang ketiganya dengan tatapan aneh.
"Hei Deon, kemana aja Lo kemaren-kemaren. Gak kelihatan batang hidung Lo," celetuk Mahasiswa A.
"Deon, apa Lo kemaren nikahan ya sama Isna. Gak ngundang-ngundang Lo," ledek Mahasiswa B.
"Iya nih, gak ada akhlak banget si Deon. Kalau emang nikahan, kasih tau dong biar kita datang makan daging rendang, hahahaha," Mahasiswa lainnya juga ngeledek Deon.
Deon emosi dan marah karena merasa diolok-olok oleh mereka. Lalu Deon mendatangi meja Mahasiswa itu dan menggebraknya.
"Lo pada bisa jaga mulut supaya tidak berkata-kata seperti itu!" Deon mencengkram salah satu baju Mahasiswa yang tadi mencemohkannya.
Mereka berkata seperti itu karena Deon bertingkah laku seperti perempuan. Sehingga teman-teman yang lain menganggapnya tidak normal.
"Apa-apaan Lo Deon! Lepaskan!" teriak laki-laki yang di cengkramnya.
"Lo pikir gw gak bisa menghajar mulut Lo yang banci itu, hah!" bentak Deon dengan mata yang menyala, amarahnya memuncak karena mereka menjelekkannya dan Isna.
"Oh Lo dah berani sekarang ya sama kita?! Sini Lo kalau berani, dasar banci Lo!" ledek Mahasiswa B.
"Banci Lo bilang? Maju Lo kalau berani," tantang Deon yang sudah memuncak amarahnya. Dia ingin menghajar mulut laki-laki combreng itu.
Lalu, beberapa Mahasiswa yang tadi mengoloknya maju mengepung Deon di ruangan itu. Deon dengan santai menghadapi Mahasiswa itu. Lalu dari belakang dengan curangnya, salah satu Mahasiswa menendang Deon. Namun karena kejelian Deon, dia bisa menangkap kaki itu dan mematahkannya hingga tak berdaya dan jatuh tersungkur.
Melihat temannya dikalahkan, sisa dari mereka serentak memberikan tendangan dan pukulan ke Deon. Namun lagi-lagi bukannya Deon yang kena, melainkan mereka bertiga terluka dengan tersungkur di lantai.
Deon menyeringai puas melihat keempatnya terkapar di lantai. Lalu dia kembali ke tempat duduknya. Namun sebelum itu, Deon mengeluarkan kata-kata menohok bagi mereka.
"Dasar banci kalian. Besok gw sarankan kalian pakai pakaian perempuan ke kampus ya, karena itu lebih pas dengan mulut combreng kalian," ucap Deon santai.
Keempat Mahasiswa itu kalah, mereka merasa malu karena sudah dikalahkan sama Deon si laki-laki yang bertingkah seperti perempuan. Ada yang mengepalkan tangannya dengan menatap tajam Deon, ada juga yang menunduk malu.
Hingga akhirnya Dosen mereka memasuki ruangan.
"Siang semuanya!" sapa Dosen itu.
"Siang Pak...!" sahut semua Mahasiswa-i.
Si Dosen mengedarkan pandangannya ke arah keempat laki-laki yang berkelahi tadi. Dia mengerutkan keningnya menatap curiga.
"Mahasiswa A, kenapa wajah kamu biru begitu? Apa kau berkelahi dengan orang?" tanya Dosen itu.
"Ah, ini Pak tadi saya kejedot pintu kamar mandi gara-gara buru-buru," ngeles Mahasiswa A.
__ADS_1
"Benarkah itu?" tanya Dosennya tak percaya.
"Benar Pak," balas Mahasiswa A sambil melirik yang B.
"Loh, kamu juga dan yang itu juga, ada apa dengan kalian?" Apakah kalian kejedot berjama'ah?" tanya Dosennya ngeledek.
"Ya bisa dibilang begitu Pak," jawab salah satu diantaranya.
"Jawaban yang mantep untuk berkilah," sindir Dosennya.
"Baiklah, saya akan mengabsen satu persatu ya," ucap Dosen itu.
"Baik Pak," jawab mereka serempak.
Pembelajaran pun dimulai, sang dosen menerangkan materi yang diberikannya. Hingga sebuah tugas diberikan kepada Mahasiswanya. Setelah sejam berlalu, Dosen tersebut menyudahi pembelajarannya.
Setelah Dosen itu keluar dari ruangan, Mahasiswa yang tadi berkelahi dengan Deon, mendatangi Deon.
Tanpa di duga Deon dan Isna serta Meka. Mereka meminta maaf karena telah mencemohkannya.
"Deon, gw minta maaf udah buat kekeliruan. Gw dan yang lainnya gak bermaksud ngeledek Lo, kami hanya ingin bertanya, kemana Lo beberapa hari yang lalu gak masuk Kampus," ucap Mahasiswa A dengan tulus.
"Maksud Lo, apa?" tanya Deon bingung.
Isna pun bingung mendengar pernyataan temannya itu.
Lalu Deon dan Isna saling bertatapan. Mereka mengernyit bingung dengan ucapan temannya itu. Kemudian mereka langsung menoleh ke arah Meka.
Meka yang sudah paham dengan keadaan, pura-pura menghubungi Zain. Dia menghindar dari tatapan kedua sahabatnya.
Deon berusaha tenang dan terpaksa berbohong.
"Oh yang kemaren, gw ke Semarang buat ketemu orang tua gw. Ada urusan keluarga. Dan Lo benar, gw sama Isna akan menikah tapi tunggu kelar kuliah. Lo dan yang lain pasti di undang," sindir Deon dengan sedikit berbohong.
"Gitu dong Deon! Sekarang kami senang Lo mau berubah menjadi pejantan sejati. Lo hebat, gw gak nyangka kalau Lo pinter berkelahi," puji Mahasiswi B.
"Gw juga berterima kasih, berkat kalian yang ngajak gw duel, keberanian gw muncul sebagai laki-laki," ucap Deon terkekeh.
Setelah percakapan itu selesai, Deon dan Isna yang sudah menahan rasa penasaran mereka. Akhirnya menghampiri Meka.
"Mek, sekarang Lo jelasin ke kita apa yang terjadi?" pinta Deon dengan tatapan memaksa.
Meka membuang nafas dengan berat, lalu menatap kedua sahabatnya.
"Baiklah kalau kalian mau mendengarnya, tapi gw harap kalian berdua tidak ketakutan saat gw menceritakannya," pinta Meka.
__ADS_1
"Ok, gw dan Isna siap mendengarkannya," balas Deon mantap.
"Ayo keruangan Dosga kita. Lebih baik disana gw menceritakannya," ajak Meka.
Lalu Meka dan keduanya berjalan ke ruangan Dosga mereka. Meka membuka pintu ruangan yang tak terkunci itu. Ternyata Zain ada di dalam ruangan itu.
"Mas udah selesai mengajarnya?" tanya Meka.
"Udah, nih baru aja masuk ke sini, kenapa sayang?" tanya Zain.
"Ini Mas, Deon dan Isna ingin mendengar cerita tentang kejadian seminggu yang lalu," ucap Meka.
"Loh kok mereka bisa tau?" tanya Zain bingung.
"Tadi di kelas, teman-teman bertanya. Kemana mereka kemaren? Kenapa gak ada khabarnya, gitu loh Mas," jawab Meka.
"Oh...., terus apa yang mau diketahui kalian?" tanya Zain yang berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri mereka.
"Kami penasaran Pak, apa yang terjadi dengan kami? Karena kami gak merasa kalau kami tidak masuk kuliah kemaren," jawab Deon.
"Ya sudah, kalian duduklah disitu. Meka akan menceritakannya," perintah Dosga mereka.
Lalu Deon dan Isna berjalan ke sofa. Mereka duduk dengan santai sambil menunggu Meka membuka obrolannya.
"Sayang, lebih baik kamu ceritakan ke mereka, supaya Deon dan Isna tidak bingung menghadapi semuanya saat di Kampus," pinta suaminya.
"Tapi Mas, aku khawatir mereka akan ketakutan mendengarnya," balas Meka.
"Gimana Deon dan Isna, apa kalian sanggup mendengarnya dan menyimpan semua ini selamanya?" tanya Dosga mereka.
"Saya siap Pak, dan tidak akan membongkar peristiwa ini kedepannya," jawab Deon tegas.
"Saya juga Pak, siap dan akan menutup rapat mulut saya untuk mmmenyimpannya selamanya," sambung Isna.
"Baiklah kalau gitu, jika memang kalian siap dan akan menyimpan cerita ini selamanya, gw akan menceritakannya," ucap Meka.
"Iya, kami akan mendengarkannya," balas Deon.
"Memang apa yang dikatakan teman-teman kita dikelas itu benar. Kita sudah beberapa hari yang lalu tidak masuk Kampus. Dan itu semua ada sebabnya,"
"Jadi itu semua benar Mek?" tanya Isna tak percaya.
"Ya Na, kita beberapa hari yang lalu tidak masuk kelas karena kita mengikuti tour Kampus yang diselenggarakan Bu Arin. Saat itu gw juga mengajak sahabat gw Ani. Kalian masih ingat sama dia kan?" tanya Meka mengingatkan keduanya.
"Oh iya, kami ingat. Kemana dia sekarang? Apakah ada hubungannya juga dengan kami?" tanya Isna.
__ADS_1
"Ya kita semua ada dalam perjalanan tour ke sebuah Desa yang bernama Desa tua. Kita melakukan tour kegiatan disana. Sesampainya disana, kita bertemu dengan yang namanya Ki Baron. Dia orang yang bertanggung jawab atas kegiatan kita dan Kepala Desa disana. Disana, kita diberitahu sama Ki Baron untuk mematuhi aturan dan larangan yang tidak boleh dilanggar. Dan kalau dilanggar, akan ada konsekuensinya terhadap kita," Meka tak sanggup menceritakan lebih dalam lagi.
"Kenapa Mek?" tanya Isna yang semakin penasaran.