
Meka dan Zain terus berjalan kaki menikmati suasana kota Paris. Setelah puas berjalan kaki, akhirnya mereka berhenti di sebuah cafe. Zain mengajak Meka masuk ke cafe itu. Namun Meka memilih duduk di bagian luar cafe.
Saat mereka sudah duduk di cafe bagian luar, pelayan datang memberikan buku menunya.
"S'il vous plaît Monsieur le menu, que souhaitez-vous commander?"
"(Silahkan Tuan menunya, anda mau pesan apa)?" ucap pelayan itu sambil menyerahkan buku menunya.
"Merci, attendez un instant."
"(Terima kasih, tunggu sebentar)," balas Zain yang menyuruh pelayan itu menunggu.
"Mas, aku ikut kamu aja deh mesan makanannya. Habis aku gak tau nama-nama menunya," bisik Meka ditelinga suaminya. Dia tidak ingin kalau pelayan itu mengetahui jika Meka tidak mengerti bahasanya.
"Iya sayang, aku akan pesankan kamu makanan yang lezat disini," balas Zain sambil melihat-lihat menunya.
Setelah selesai memesan makanan mereka, Zain dan Meka ngobrol dengan santai.
"Mas, aku gak nyangka bisa honeymoon ke sini. Rasanya ini hanya mimpi, tapi aku cubit pipiku, ternyata sakit, hehehe berarti nyata," ucap Meka dengan polosnya.
"Kamu lucu banget sayang. Ini bukan mimpi, tapi nyata."
"Iya Mas, sangat nyata."
Mereka pun tertawa bahagia. Meka melupakan sejenak masalah yang di hadapinya di Indonesia. Dia ingin menyenangkan pikirannya disini. Begitupun dengan Zain, letih dengan banyaknya masalah yang di hadapi di Indonesia, hingga punya kesempatan, akhirnya Zain mengajak Meka liburan di Paris.
Tak berapa lama, makanan yang dipesan akhirnya datang juga. Pelayan menghidangkan makanan dia tas meja dengan keramahannya.
"Profitez bien mesdames et messieurs."
"(Silahkan dinikmati Tuan dan Nyonya)," ucap pelayan itu tersenyum.
"Thank you," balas Zain.
Lalu pelayan itu pergi meninggalkan Meka dan Zain.
"Mas, apakah makanan ini enak?" tanya Meka yang melihat makanan aneh menurutnya.
Meka tidak pernah mencoba makanan seperti yang di hidangkan di atas meja mereka. Baginya cukup aneh melihat model makanannya.
"Ayo kamu coba, ini sangat enak sayang," balas Zain yang menyuapi makanannya ke mulut Meka.
Sebelum masuk ke dalam mulut Meka, dia mencicipi makanan itu dengan bibirnya terlebih dahulu. Ternyata makanan yang di sodorkan Zain tidak cocok di lidah Meka. Dia langsung melepehkan makanan itu.
"Sayang, aku gak suka makanan ini. Bisakah kamu memesan makanan yang cocok dengan lidahku?" tanya Meka memohon.
Meka tidak suka makanan yang aneh baginya. Walaupun dia sering nongkrong bareng temannya di cafe, Meka juga pilih-pilih menu yang sesuai lidahnya.
"Iya Mas akan pesankan kamu makanan lainnya ya," balas Zain.
Akhirnya Zain memesan makanan lainnya untuk Meka. Zain dan Meka menikmati makanan dengan santai. Mereka berdua benar-benar menghabiskan waktu berdua di luar.
Puas dengan jalan-jalan di luar Hotel, Meka dan Zain kembali ke Hotel.
__ADS_1
"Wah aku puas banget Mas jalan di luar sana. Besok aku pengen ke tempat yang jauh ya Mas. Tempat yang sering di kunjungi wisatawan. Kamu tau kan Mas tempat-tempatnya?" tanya Meka antusias.
"Besok Mas akan bawa kamu ke tempat yang kamu inginkan. Sekarang kita istirahat dulu ya," Zain dan Meka memasuki Hotel.
Merek berjalan memasuki lift. Sesaat kemudian, mereka sampai di lantai atas. Saat mereka keluar dari lift, lagi-lagi Meka merasakan ketidaknyamanan di hadapan kamar depan lift. Meka menderang suara jeritan orang kesakitan, meminta tolong. Meka berhenti sesaat di depan kamar itu.
Meka menatap pintu kamar itu dengan memicingkan matanya. Dia ingin menyentuh pintu kamar itu. Ketika tangan Meka terulur hendak memegang pintunya, tiba-tiba sang pemilik kamar keluar dari dalam.
Meka terpaku di tempat dan tangannya menggantung di udara.
"Que fais-tu devant ma chambre ?"
"(Apa yang anda lakukan di depan kamar saya)?" tanya laki-laki itu dengan wajah dingin dan lembut tapi tatapannya tajam setajam silet.
Meka yang mendengar laki-laki itu berbicara, dia terbengong karena tidak mengerti apa yang di ucapkan laki-laki itu.
Zain yang melihat Meka berurusan dengan laki-laki itu, langsung menghampirinya. Karena Zain tidak menyadari kalau Meka berhenti di depan kamar itu.
"Sayang kamu ngapain disini?" tanya Zain sambil menoleh ke laki-laki itu.
"Aku gak tau apa yang di katakan nya Mas. Dia tadi ngomong sesuatu, tapi aku gak ngerti," jawab Meka polos.
Lalu Zain menoleh kearah laki-laki itu dan memperlihatkan senyum ramahnya. Zain tidak ingin bermasalah dengan orang lain.
"Pardonnez ma femme monsieur, elle aime oublier."
"(Maafkan Istri saya Tuan, dia suka lupa)," ucap Zain.
Zain langsung merangkul pinggang Meka dan membawanya segera berjalan menghindari laki-laki itu.
Laki-laki itu menatap tajam ke arah Meka. Wajahnya dingin tapi mata dan auranya terlihat kejam dan bengis. Dia sempat menyunggingkan senyumnya yang mengerikan.
Meka telah berurusan dengan seorang psikopat yang sangat sadis dan jahat. Dia tidak sadar kalau psikopat itu telah menargetkan Meka dan Zain sebagai sasarannya.
Zain dan Meka sengaja tidak masuk ke dalam kamarnya langsung. Mereka pelan-pelan sambil ngobrol santai berjalan di sepanjang lorong kamar hingga laki-laki itu masuk ke dalam lift.
Zain menoleh ke belakang dan melihat laki-laki itu sudah tidak ada di depan lift.
"Sayang sepertinya laki-laki itu sudah tidak ada. Ayo kita kembali ke kamar. Kita ngobrol di dalam," ajak Zain.
"Iya Mas, ayo."
Mereka pun berjalan ke arah kamarnya dan kemudian Zain membuka pintu kamarnya.
Di dalam kamar Meka dan Zain langsung membersihkan diri masing-masing. Setelah selesai dengan kegiatan masing-masing, Zain mengajak Meka naik ke atas tempat tidur.
"Mas, maaf ya tadi aku gak sengaja ingin memegang pintu kamar itu. Seperti ada yang menarikku untuk masuk ke dalam. Aku gak tau Mas, energi itu begitu kuat hingga aku tak menyadarinya," ungkap Meka menatap serius ke Zain.
"Mas khawatir terhadap kamu sayang, apa kamu tadi melihat tatapan laki-laki itu. Mas sempat bergidik ngeri melihatnya apalagi, gak sengaja Mas melihat dia menyeringai ke arah kamu," balas Zain.
"Maaf ya Mas, aku gak akan berurusan lagi dnegannya," sesal Meka lalu menunduk.
"Kenapa kamu ingin memegang pintu kamarnya sayang? Ada apa emangnya di kamar itu?" tanya Zain penasaran.
__ADS_1
"Tadi saat kita mau keluar jalan-jalan, ketika kita menunggu di depan lift, aku mendengar suara jeritan kesakitan dan teriakan tangisan dari dalam Mas. Awalnya sih aku bisa menghiraukannya. Lalu kita bertemu dengan laki-laki itu di bawah, apa kamu ingat Mas, dia orang yang tabrakan denganku," jawab Meka menjelaskan.
"Oh iya Mas baru ingat, dia laki-laki yang tadi tabrakan dengan kamu. Oh ternyata dia tinggal di kamar depan lift ya," ucap Zain mengingat laki-laki itu.
"Iya Mas, aku juga gak nyangka, ternyata dia yang tinggal di kamar itu. Saat kita tadi keluar dari lift, lagi-lagi aku mendengar suara jeritan itu Mas. Dan banyak suara-suara teriakan memilukan yang aku dengar. Mereka seperti menarikku ke dalam Mas," jelas Meka lagi.
"Ya Allah, lebih baik kita menghindar sayang darinya. Jangan berurusan dengan orang itu. Kita gak mengenalnya dan tidak tau siapa dia. Ok," ucap Zain yang meminta Meka mengikuti perintah Zain.
"Iya Mas, aku tidak akan menggubrisnya. Sebisa mungkin aku akan menghindarinya," balas Meka.
Lalu tiba-tiba Khodam Meka muncul sebagai wujud laki-laki tampan.
"Meka, jangan menatap matanya ketika kau bertemu dengannya. Dia manusia setengah iblis. Dia seorang psikopat sadis. Suara yang terdengar dari dalam itu bukanlah manusia. Mereka iblis peliharaan laki-laki itu. Dia memberinya makan dengan membunuh perempuan dan memotong-motong dagingnya untuk santapan iblis peliharaannya," jelas Khodamnya.
"Apa?" Meka terkejut mendengarnya.
"Sebaiknya kalian menghindarinya. Kamar yang kamu lihat kecil itu bukan kamar sembarangan. Kamar itu berisi daging-daging manusia yang sengaja di gantung laki-laki itu setelah di mutilasinya. Itu untuk memudahkan iblis-iblis itu menyantapnya," jelas Khodamnya lagi.
Seketika Meka mual-mual mendengar cerita Khodamnya.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal?" tanya Meka takut.
"Meka, aku tidak selamanya mengingatkanmu. Karena aku harus bermeditasi. Tapi ketika aku merasakan hal yang berbahaya, aku akan segera muncul untuk mengingatkanmu," jawab Khodamnya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud memaksamu untuk selalu mengingatkanku," sesal Meka.
"Tidak apa-apa Meka. Aku akan tetap berusaha melindungi mu. Ingat jangan memandang matanya Meka. Itu berbahaya, karena kau akan selalu menurut terhadapnya," Khodam Meka mengingatkannya sekali lagi.
Meka mengangguk mendengarkan peringatan Khodamnya.
Zain melihat kearah Meka dengan mengerutkan keningnya. Dia tau kalau dalam keadaan diam seperti itu, Meka akan berkomunikasi dengan Khodamnya.
"Sayang, ada apa?" tanya Zain setelah Meka menatap ke arahnya.
"Mas, tadi Khodamku muncul. Dia mengingatkan aku untuk tidak berurusan dengan laki-laki tadi. Karena ternyata dia bukan manusia seutuhnya, melainkan separuh iblis," jawab Meka.
"Kamu serius sayang?" tanya Zain lagi.
"Aku serius Mas. Dan dia melarang ku untuk menatap matanya ketika gak sengaja bertemu, karena kalau aku sampai menatap matanya, maka aku akan selalu menurut sama laki-laki itu," jawab Meka ketakutan.
"Apa kita pindah hotel sayang?" tanya Zain.
"Menurut kamu gimana Mas?" Meka malah balik bertanya.
"Sepertinya kita harus pindah hotel, Mas gak mau membahayakan kamu sayang," jawab Zain.
"Kalau gitu besok kita harus segera mencari hotel lainnya. Aku juga gak mau Mas berurusan dengan laki-laki itu," ucap Meka.
"Iya sayang, kita akan segera mengganti Hotel besok ya. Mas akan mengurusnya besok pagi," balas Zain.
"Ayo Mas kita tidur, aku capek jalan-jalan tadi," ajak Meka.
"Ayo, sini Mas peluk," pinta Zain.
__ADS_1
Meka dan Zain tidur dengan posisi berpelukan. Meka mulai memejamkan matanya sampai tertidur.