
Meka dan Asih serta Dosganya memasuki Resto itu. Mereka melihat kesana kemari mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol.
"Eh Mek, tuh disana aja, kayaknya enak tuh nyantai buat kita makan siang," Dewi menunjuk tempat duduk yang dibelakang.
"Ya udah yuk kesana," ajak Meka.
"Sayang, kamu duluan aja. Aku udah kebelet nih! Atau kamu mau nemani aku?" tanya Dosganya dengan genit.
"Bolehlah yanx, aku juga mau ketoilet," jawab Meka.
"Lah gw ditinggalin sendirian. Nasib-nasib jadi pengawal sepasang sejoli," celetuk Asih dengan cemberut. Dia pun melangkah sendiri menuju tempat duduk yang sudah ditentukan.
Meka dan Zain pergi ke toilet. Zain masuk kedalam toilet laki-laki, sedangkan Meka masuk ke toilet perempuan.
Didalam toilet perempuan, hanya ada dua orang saja. Namun ada seseorang yang membuat Meka curiga. Meka melihat seorang wanita sedang menatap kearahnya dengan tatapan tajam. Meka menghindari tatapan matanya. Meka mengurungkan niatnya masuk kedalam salah satu bilik toilet. Ntah kenapa perasaan Meka tidak enak. Dia mengurungkan niatnya dan keluar dari toilet tersebut. Hingga Meka mendengar bisikan kembali.
"Hati-hati!! Dia sudah memulainya!" ucap suara bisikan itu.
Meka tidak mengerti kenapa dia sering mendengar suara bisikan ketika dia mengalami hal yang tidak menyenangkan. Meka melihat Zain sudah menunggunya didepan toilet perempuan.
"Sayang, kamu kenapa? Udah selesai kekamar mandinya? Kok wajah kamu ketakutan gitu?" tanya Zain yang bingung melihat kekasihnya seperti orang ketakutan.
"Ayo Zain kita pergi dari sini," Meka menarik tangan Zain meninggalkan toilet itu.
"Sayang ada apa?! Kasih tau aku!" Zain memaksa Meka untuk cerita.
"Didalam ada seorang wanita, dia melihatku sangat mengerikan. Aku takut melihatnya," ucap Meka yang terus berjalan.
"Trus gimana? Apa kita harus pergi dari sini?" tanya Zain yang juga terus berjalan.
"Gak usah, kita makan aja dulu. Habis tuh kita pergi dari sini," Meka terus berjalan hingga sampai ketempat Asih yang sedang duduk menunggu.
"Akhirnya datang juga kalian. Kok cepat banget Mek ke toiletnya? Sepi ya?" tanya Asih.
"Iya sepi, makanya cepat," jawab Meka.
Mereka pun duduk dan memesan makanan. Meka melihat ke sekeliling cafe itu, namun dia tidak melihat tanda-tanda keberadaan wanita yang ditemuinya tadi. Meka pun bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kemana pergi wanita itu? Apa jangan-jangan dia mahluk tak kasat mata? OMG...!! Kenapa hidup gw dikerubuni demit gini sih?" Meka bingung dengan dirinya sendiri.
Hingga Zain membuyarkan kegiatan Meka yang melihat kesana-kemari.
__ADS_1
"Kamu nyari siapa sayang?" Zain juga celingak-celinguk mengikuti apa yang dilakukan Meka.
"Ah, eh gak ada yanx. Aku cuma lihat banyak banget ya pengunjungnya," Cha mencoba mengeles.
"Bener kamu gak kenapa-napa?"
"Iya yanx, beneran kok," jawab Meka.
Hingga beberapa saat datang seorang pelayan mengantarkan pesanan makanan mereka. Dan secarik kertas kepada Meka.
Meka dan yang lainnya mengernyitkan keningnya merasa heran melihat kertas tersebut.
"Maaf mbak ini dari siapa?" tanya Zain.
"Tadi ada seorang wanita memberikan kertas ini. Katanya, tolong berikan ke Mbaknya," jawab pelayan itu.
"Sekarang dimana wanita itu? Kenapa gak dia aja yang ngasih sendiri?" giliran Dewi yang bertanya.
"Saya gak tau Mbak, dia cuma nitip ini aja. Apa ada yang mau dipesan lagi Mbak, Mas?" tanya pelayan itu yang tidak mau memperpanjang masalah kertas itu.
"Gak ada Mbak. Makasih ya?"ucap Asih.
"Gw gak mau membukanya. Lebih baik kita menikmati makan siang sekarang. Paling juga nih orang usil," Meka tidak mau membukanya. Karena dia tidak ingin acara makan siangnya terganggu dan merasa tak nyaman.
"Iya, lebih baik kita makan aja yanx. Lagian aku udah laper banget nih," sambung Zain.
Meka membuang kertas itu ketong sampah, lalu dia mulai menikmati makan siangnya.
Asih dan Zain juga sudah mulai menikmati makan siang mereka. Walaupun begitu Meka tetap berhati-hati dengan wanita yang ada ditoilet dan wanita yang mengirim kertas itu. Namun dia tidak ingin memperlihatkan kewaspadaannya kepada yang lainnya.
"Wah enak banget nih makanannya," Asih memuji makanan yang dikunyahnya sangat lezat.
"Awas keselek loh Sih!" Meka mengingatkan sahabatnya itu agar berhati-hati saat mengunyah.
Dari jauh seorang laki-laki melihat aktivitas ketiganya. Laki-laki itu bersama kakaknya mn AW f
perempuan yang tak lain adalah Bu Arin bersama adiknya Eko. Eko adalah adik kandung dari Bu Arin dan juga pacar dari Asih sahabat Meka. Meka tidak tau kalau Eko adiknya Bu Arin.
"Mbak, itu yang aku bilang. Cewek yang aku suka. Tapi dia sahabatnya pacarku," tunjuk Eko kearah Meka dan Asih.
Bu Arin sudah tau bahwa Meka sedang berada di Resto itu juga. Suatu hal yang kebetulan mereka bertemu di tempat yang sama. Namun Bu Arin tidak mau menyamperin mereka.
__ADS_1
Bu Arin sempat kaget mendengar adiknya menyukai Meka. Dan yang lebih mengejutkan Meka adalah sahabat pacar adiknya.
"Ya udah kenapa kamu tidak menyamperin mereka?" tanya Bu Arin.
"Gak usah, nanti dikira aku menguntit mereka lagi," celetuk Eko.
"Kamu beneran suka sama perempuan itu? Emang kamu gak merasa bersalah meninggalkan sahabatnya demi perempuan itu?" Bu Arin menatap adiknya penuh selidik.
"Iya kak, gak tau kenapa, saat pertama dikenalin sama dia, aku langsung jatuh hati. Dia berbeda kak dengan pacarku. Tapi sayangnya perempuan itu sudah punya kekasih," Eko menatap kearah Zain.
"Siapa kekasih perempuan itu?"
"Tuh yang duduk disebelahnya. Dia kekasih perempuan itu," jawab Eko menunjuk kearah Zain.
"Oh...," ucap Bu Arin.
Eko belom mengetahui jika Meka kuliah ditempat kakaknya mengajar jadi Dosen. Dan dia juga gak tau kalau kekasih Meka adalah Dosga dikampus Meka. Sekaligus laki-laki yang dicintai kakaknya.
Saat ini Bu Arin sedang menjalankan rencananya yang akan menjauhi Meka dari Zain. Tapi rencana itu akan dilakukan saat tour mereka nanti. Bu Arin sudah merencanakan sesuatu yang sangat berbahaya. Dia menggunakan orang pintar untuk menghancurkan Meka. Seperti yang saat ini terjadi.
Seorang wanita yang dilihat Meka adalah jelmaan dari mahluk tak kasat mata yang mulai dikirim orang pintar itu untuk memantau Meka. Bu Arin benar-benar sudah kehilangan akalnya untuk mencelakai Meka.
Kembali ke Meka dan yang lainnya.
"Mek, Lo masih berhutang cerita sama gw. Kapan Lo mau ceritanya?" tanya Asih yang menuntut hutang cerita dari Meka.
"Iya tar malam aja. Habis dari sini ya. Hati ini khusus kita menikmati jalan-jalan," jawab Meka.
"Cerita apa sayang?" tanya Zain tiba-tiba.
"Nih si Asih penegn dengar cerita tentang kenapa tadi malam aku pulang sendirian," jawab Meka nyantai.
"Oh...itu," balas Zain.
"Iya Pak, karena setau saya kan Meka pergi bareng sahabat-sahabatnya. Kenapa malah dia pulang malam banget.
"Nanti biar Meka aja yang jelasin. Iya kan sayang?" Zain tersenyum menatap Meka.
"Iya nanti pasti aku ceritain deh. Udah ah jangan bahas itu dulu. Nikmati aja jalan-jalan kita ini," Meka kesal ditanyain mulu.
Mereka pun tidak membahas cerita tadi malam. Meka dan Asih mengubah topik obrolan yang seru agar menghindari cerita yang tak nyaman.
__ADS_1