
Mereka semua yang berada di dalam rumah terkejut mendengar suara dobrakan pintu.
"Apa itu tadi?" tanya Deon yang terus menatap ke arah pintu itu.
"De, kok aku ngerasa kita salah datang kemari ya," bisik Isna yang memepetkan tubuhnya ke Deon.
Mereka melangkah mundur ke belakang ketika suara dobrakan terdengar kembali.
Zain yang tak pernah merasa takut, kini nyalinya benar-benar diuji. Dia merasakan bulu kuduknya meremang dan mundur terus dengan menarik lengan Meka.
Meka menoleh ke arah suaminya yang wajahnya sudah terlihat pucat ketakutan. Meka pun mencoba menenangkan hati Zain dengan memegang kembali tangan Zain dan memberikan senyumannya.
Meka juga bingung, apa yang terjadi di luar sana. Mengapa begitu banyak mahluk tak kasat mata berada di luar rumah itu.
"Ustadz, ada apa di luar sana?" tanya Zain melihat ke arah Ustadz Ahmad.
"Iya Ustadz, bunyi apa itu tadi?" tanya Deon yang sudah mulai ketakutan.
Ustadz Ahmad, tidak bisa memberitahukan apa yang sedang terjadi di depan rumahnya.
Tiba-tiba dari belakang mereka, Kakek tua datang menghampiri mereka yang sedang berdiri menghadap pintu.
"Dia sudah mulai melakukan penyerangan terhadap Meka. Iblis itu mencoba kekuatan yang ada disini. Dia ingin mengetahui sebesar apa kekuatan yang melindungi Meka," ucap Kakek tua itu tiba-tiba.
Mereka semua langsung menoleh ke arah Kakek tua itu dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Deon dan Isna yang tidak mengetahui dengan jelas tentang peristiwa yang terjadi dari tadi, merasa bingung. Lantas dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Kek, iblis siapa yang di maksud?" tanya Deon dengan bodohnya.
Isna langsung menyikut lengan Deon dengan keras. Memberinya kode untuk tidak memberikan pertanyaan yang tak penting seperti itu.
"Apa yang harus kita lakukan Kek? Apa lebih baik kita membiarkan yang diluar sana melakukan apapun?" tanya Meka.
__ADS_1
"Itu lebih baik Meka. Dari pada kita mengeluarkan banyak tenaga dan energi untuk menghancurkan mereka semua. Lebih baik kita beristirahat di dalam. Saya rasa Khodam kamu sudah memberikan pagar ghaib untuk pintu itu," jelas Kakek tua itu.
Meka pun paham dengan ucapan Kakek tua itu. Dia tau bahwa Khodamnya akan selalu berada di sampingnya jika bahaya datang di hadapannya.
"Kek, bukankah tadi kita sudah memusnahkan mahluk itu?" tanya Ustadz Ahmad dengan tenang.
"Maaf Ustadz, mahluk itu tidak akan musnah begitu saja. Iblis itu bisa mendatangkan mahluk yang lebih banyak lagi. Kita akan menunggu bulan purnama untuk memusnahkannya," jawab Meka.
"Lebih baik Meka menemui Ki Baron untuk meminta bantuan darinya. Mungkin dia mengetahui sesuatu untuk membantu kamu Meka," sambung Kakek tua itu.
"Apa yang dikatakan Kakek itu benar nak Meka. Besok kamu dan Pak Zain harus ke Desa itu lagi. Karena besok malam bulan purnama, lebih baik pagi kalian berangkat," ucap Ustadz Ahmad yang mendukung saran Kakek tua.
"Maaf Ustadz, saya tidak mengizinkan Meka ke sana lagi. Saya gak mau dia kenapa-napa," balas Pak Zain yang tidak mau mengikuti saran Kakek tua itu.
"Pak Zain, Meka harus melakukannya. Karena ini berhubungan dengan keselamatan Pak Zain sendiri," protes Ustadz Ahmad.
"Mas sepertinya kita harus menemui Ki Baron. Mungkin apa yang di katakan Kakek dan Ustadz itu benar. Aku akan mencobanya," Meka membenarkan ucapan Ustadz Ahmad dan Kakek tua.
Zain pun menghela nafas beratnya. Dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan semuanya.
"Tidak baik berkata seperti itu Pak Zain. Kita akan saling membantu dan mendukung. Karena Pak Zain dan nak Meka sudah banyak membantu yang lainnya. Jadi saya juga ingin membantu masalah yang sedang di hadapi walaupun nyawa menjadi taruhannya," tegas Ustadz Ahmad.
Zain tak bisa ngomong apa-apa lagi. Dia merasa gak enak mendengar ucapan Ustadz Ahmad yang rela memberikan nyawanya untuk membantu mereka.
Sementara Deon dan Isna yang tidak tau apa-apa, hanya terbengong mendengar pembicaraan mereka. Deon dan Isna menoleh bergantian ke arah Ustadz Ahmad dan Kakek tua serta Meka dan Pak Zain. Sehingga membuat mereka pusing.
"Na, sepertinya kita salah melangkah kemari deh. Tadi lebih baik kita kembali ke Apartement aja ya," sesal Deon dengan berbisik.
"Hussst kamu jangan berisik Deon. Gak enak di dengar Meka nanti," balas Isna dengan melototkan matanya.
"Aku takut Na, disini sepertinya keadaannya kurang baik," ucap Deon yang masih berbisik.
"Sama De, aku juga takut. Tapi gimana lagi. Kita udah disini dan harus menerima keadaan saat ini," balas Isna.
__ADS_1
Deon dan Isna sudah menjadi orang yang jenuh dengan keadaan yang dihadapi mereka. Mereka berdua berniat untuk tidak ingin terlibat dengan Meka lagi. Deon dan Isna mulai menjadi orang yang egois.
"Apa gak sebaiknya kita beristirahat di kamar aja ya Na. Karena gak ada gunanya juga kita berada disini," ucap Deon lagi.
"Tapi gimana cara bilangnya ke Ustadz. Aku gak enak De kalau harus ngomong seperti itu," Isna takut kalau mereka di anggap gak perdulian dengan sahabat sendiri.
"Terus gimana dong Na?" Deon terus memaksa Isna untuk bertindak.
"Udah mending kita lihat aja apa yang akan terjadi selanjutnya. Lebih baik kita diam disini sampai ada yang menyuruh kita istirahat," balas Isna yang tidak suka melihat sikap Deon.
Sedangkan Meka dan yang lainnya masih berdiam berdiri di depan pintu. Mereka masih tidak beranjak dari tempatnya.
Lalu Khodamnya Meka berbicara dengannya melalui bathin Meka.
"Meka, lebih baik kamu dan yang lainnya beristirahat. Biar aku yang menangani mahluk di luar itu. Persiapkan saja diri kamu untuk esok, karena akan banyak yang nanti kamu dan Zain hadapi," ucap Khodamnya Meka.
Meka celingak-celinguk mencari keberadaan Khodamnya. Ternyata Khodamnya berada di belakang Deon dan Isna.
"Baiklah, aku akan beristirahat. Terima kasih karena kamu selalu mendampingi ku," balas Meka mengangguk.
Deon yang ternyata melihat ke arah Meka, merasa bingung karena Meka mengangguk ke arah dia. Dan Deon sadar ternyata mata Meka tak mengarah ke arahnya, melainkan ke belakangnya. Seketika bulu kuduk Deon mulai berdiri. Dia pun mulai bergidik ngeri saat membayangkan mahluk tak kasat mata berdiri di belakangnya.
"Kalau begini ceritanya, lama-lama bisa mati berdiri gw," bathin Deon.
Khodamnya Meka bisa mendengar suara bathin Deon. Dan dia pun meniupkan angin kencang untuk memberikan peringatan terhadap Deon.
Deon langsung menoleh ke belakang melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Sementara Isna yang melihat gelagat aneh Deon, mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa De?" tanya Isna.
"Ah ini, anu gak ada apa-apa kok Na. Aku cuma merasakan angin bertiup kencang dari belakang tubuhku," jawab Deon yang tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.
__ADS_1
Isna langsung menoleh ke belakang Deon mencari sesuatu yang aneh.