
Meka hanya diam menyaksikan kelucuan yang di perlihatkan sahabatnya itu.
"Eh Mek, gimana dengan Lo di Paris. Pasti menyenangkan ya?" tanya Isna sambil menaik-naikkan alis matanya menggoda Meka.
"Ah elo Na. Ya gitu deh, disana emang sangat menyenangkan. Gw jalan-jalan terus disana. Ternyata Pak Zain pernah kuliah disana. Jadi gw gak kesulitan untuk jalan sana sini," jawab Meka.
"Terus Lo udah jalan kemana aja Mek?" tanya Deon yang juga pengen tau.
"Ya banyak sih De. Gw gak ngerti bahasa disana. Syukurnya Pak Zain bisa bahasa Perancis, jadi kami gak kesulitan untuk makan apa aja disana," jawab Meka.
"Jadi pengen gw jalan kesana bawa Isna bulan madu," ucap Deon ngasal.
"Nikah dulu Deon....baru bawa gw kesana honeymoon..," balas Isna dengan tersenyum lebar.
"Kalau gitu habis KKN, kita nikah yuk. Gw pengen cepat-cepat halalin kamu biar gak di lirik orang lain," ucap Deon lagi.
"Lah emang siapa yang lirik aku? Jelek begini," balas Isna yang merendahkan dirinya.
"Ada tuh si Robby. Aku tau dia itu diam-diam naksir sama kamu," Deon keceplosan mengungkapkan perasaan Robby.
"Darimana kamu tau?" tanya Isna curiga.
"Ya, aku kan sering mergokin dia diam-diam mandangin kamu sayang. Aku jeleous dong kalau kekasihku di lihatin terus," jawab Deon yang ternyata cemburu.
"Oh ya ampuuun, ternyata kekasihku ini cemburu ya. Aku suka banget dengan kejujuranmu sayang," puji Isna sambil memeluk Deon di kursinya.
"Ekhem ekhem, masih ada orang disini," sindir Meka.
"Hehehe, sorry Mek, ini ungkapan kegembiraan dengan kecemburuan Deon," balas Isna.
"Kalian itu sangat serasi jadi pasangan. Kapan nih nikahnya?" tanya Meka serius.
"Maunya sih secepatnya Meka. Tapi gw nurut aja sama Isna," jawab Deon.
"Oh ya Mek, Lo disana baik-baik aja kan?" tanya Isna yang penasaran dengan keadaan Meka di sana.
Meka terdiam seketika, lalu dia menatap dalam ke arah Isna. Lalu dia menarik nafas dalam dan menghempaskannya perlahan.
"Keadaan gw disana juga ada yang tidak menyenangkan Na," jawab Meka.
"Loh emang apa ada kejadian disana ya?" Isna malah bertanya balik.
"Ya ceritanya juga panjang Na, ini sangat menyeramkan. Gw takut kalau kalian tidak berani mendengarnya," jawab Meka.
"Lo pasti seperti itu Mek, suka menggantung cerita. Lo tau kan gw dan Deon orangnya suka penasaran. Mending Lo ceritain deh," ucap Isna semangat mendengar.
Deon dan Isna semakin penasaran untuk mendengar cerita yang akan di sampaikan Meka. Isna merasa ini pasti berhubungan dengan hal ghaib.
__ADS_1
"Udah Mek, mending Lo ceritain deh. Kami lagi semangat nih mendengarnya," sambung Deon.
"Ok kalau kalian mau mendengarnya. Gw sebenarnya juga gak nyangka bakalan menghadapi kejadian itu," ucap Meka.
"Emang kejadian apa sih Mek?" tanya Isna yang semakin penasaran.
"Kejadian waktu itu, saat gw pertama nginjakkan kaki ke hotel tempat kami menginap. Awalnya gw gak begitu perduli dengan keadaan di dekat kamar hotel gw. Tapi saat kami merencanakan jalan-jalan. Disitu gw baru sadar kalau ada salah satu kamar yang menyeramkan," cerita Meka.
"Emang menyeramkan gimana Mek? Apa ada demitnya juga disana?" tanya Deon.
"Penghuni kamar itu ternyata seorang psikopat yang separuh dirinya adalah iblis. Dia memelihara iblis di dalam kamar itu. Gw gak tau kenapa dia bisa memiliki penyakit seperti itu. Targetnya perempuan. Dan kalian tau apa yang di lakukannya di dalam kamar?" tanya Meka yang meminta mereka menebaknya.
"Duh Mek, jangan buat kita semakin penasaran deh, ya kan Na," ucap Deon yang minta dukungan Isna.
"Iya Mek, gw lagi males main tebak-tebakan nih. Pengen langsung denger aja," sambung Isna.
"Tapi ingat ya jangan sampai kalian ketakutan ketika sudah mendengarnya," balas Meka memperingati keduanya.
"Iya Meka....," jawab keduanya.
"Ternyata yang di lakukan laki-laki itu di dalam kamarnya adalah, bercinta dengan setiap perempuan yang di bawanya. Setelah itu dia akan membunuhnya dan memutilasi korbannya yang masih setengah hidup," ucap Meka sambil menunggu reaksi keduanya.
Deon dan Isna seketika mematung mendengar ucapan Meka. Terlihat dari pancaran wajah keduanya memperlihatkan ketakutan dan kengerian atas kata mutilasi yang masih bernyawa.
Deon membayangkan bagaimana sakitnya saat tubuh seseorang di potong-potong tapi nyawa masih di badan. Kengerian sekejap muncul di wajah Deon.
"Hei, kok malah bengong. Kalian lagi bayangin apa?" tanya Meka yang langsung menebak.
"Ah Mek, terus lanjutin ceritanya," jawab Deon yang pura-pura tak takut.
Meka melanjutkan ceritanya yang sangat menyeramkan itu.
"Laki-laki itu memutilasi tubuh korbannya dan daging potongan itu langsung diberikan ke iblis-iblis yang sedang menunggu di tempat tidur khusus untuk mutilasi korban. Sisa potongan tubuhnya di gantung di dalam kamar itu untuk stock makanan iblis itu. Dan kalian bisa membayangkan bagaimana kejam dan ngerinya perbuatan laki-laki itu," ucap Meka yang menyelesaikan ceritanya.
"Ihhhhh Mek...serem banget....Terus Lo kok bisa tau laki-laki itu berbuat keji begitu" tanya Deon yang sesekali bergidik ngeri.
"Gw bisa melihat apa yang sedang terjadi ketika gak sengaja gw memegang pintu kamar itu," jelas Meka.
"Laki-laki itu emang pernah ketemu sama Lo Mek?" tanya Isna.
"Ya, kami sempat bertemu beberapa kali. Dan dia menjadikan gw mangsa berikutnya. Dan akhirnya kami memilih pindah hotel. Pak Zain khawatir dengan keadaan gw yang terus-terusan merasa terpanggil untuk masuk ke dalam kamar itu," jawab Meka.
"Ya Allah Mek...syukurlah kalian tidak kenapa-napa. Terus di hotel yang baru, apa kalian tidak diganggu?" tanya Deon.
"Syukurnya sih nggak De, Pak Zain memilih hotel yang jauh dari tempat pertama kami menginap. Dia tidak ingin bertemu sama laki-laki itu lagi." jawab Meka.
"Mek, Lo tadi bilang dia melihara iblis? Gila nggak tuh. Buat apa? Terus dia psikopat lagi?" tanya Deon lagi.
__ADS_1
"Ya dia melihara iblis dan dia seorang psikopat yang mengerikan. Iblisnya ya itu sempat membuat gw tertarik untuk masuk ke dalam kamar itu. Tapi karena Pak Zain menyadarkan gw untuk tidak melihat ke arah pintu itu, jadi gw mengalihkan pandangan gw waktu itu ke Pak Zain," jawab Meka.
"Gila ya Mek. Ternyata dimana-mana tetap ada aja yang berbau ghaib. Kalau gw di posisi Lo, pasti gw udah ketakutan dan pingsan," ucap Isna.
"Iya Mek, gw juga bakalan seperti Isna. Lo hebat bisa melewatinya," sambung Deon.
"Sebenarnya gw juga sangat ketakutan waktu itu. Tapi Pak Zain selalu merangkul gw. Dan dia tidak pernah jauh-jauh dari gw. Makanya rasa takut itu hilang," ucap Meka.
Meka tak bisa membayangkan jika waktu itu Khodamnya tidak muncul, mungkin dia sudah menjadi tumbal iblis itu. Karena pengaruh iblis itu sangatlah kuat untuk menariknya ke dalam lingkarannya.
"Kayaknya kita harus berangkat sekarang Mek. Karena kita nanti harus singgah ke kost kami," ucap Deon yang mencoba mengalihkan topik pembahasan.
"Oh iya, kalau gitu bentar. Gw mau bilang sama Pak Zain dulu biar bersiap," balas Meka.
"Ok, kami tunggu di ruang depan ya," Isna pun beranjak dari tempat duduknya.
Sementara Meka berjalan ke arah kamarnya. Dia melihat suaminya sedang duduk sambil nonton.
"Mas, ayo kita berangkat sekarang," ajak Meka.
"Oh sekarang ya. Ya udah Mas ganti pakaian dulu," balas Zain.
Setelah mereka berdua berganti pakaian, Zain dan Meka keluar dari dalam kamar. Mereka menghampiri Deon dan Isna.
"Ayo kita berangkat," ajak Meka.
"Kita beda mobil atau satu mobil?" tanya Deon sebelum berangkat.
"Kita dua mobil aja. Karena nanti saya dan Meka akan pulang ke Apartement," jawab Pak Zain.
"Ok Pak, kalau gitu kita berangkat," ucap Deon.
Mereka pun keluar dari Apartement menuju kost-kostan Isna dan Deon.
Selama perjalanan Meka selalu memperhatikan jalanan di depannya. Karena mobil Deon memandu mereka untuk ke lokasi kost-kostan mereka.
"Mas, kapan kita ke rumah Mama?" tanya Meka yang membuka percakapan.
"Gimana kalau malam ini kita nginap di rumah Mama. Sekalian bawa oleh-oleh untuk Mama," jawab Zain.
"Boleh juga tuh Mas," balas Meka.
"Tapi tergantung keadaan di tempat Ustadz itu. Karena kita tidak tau apa yang akan disampaikan Ustadz Ahmad."
"Iya juga sih Mas. Tapi gak salah sih kalau Mas mengabari Mama kalau kita punya rencana nginep di rumah," saran Meka.
"Iya nanti Mas akan menghubungi Mama saat kita sudah sampai di kost Deon dan Isna."
__ADS_1
Meka hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan suaminya. Dia pun kembali diam dan memperhatikan jalanan.