
Deon dan Isna berhenti sejenak ketika sudah melakukan setengah perjalanan. Mereka berhenti sejenak untuk mengisi perut yang sudah laper.
"Na, kita makan dulu ya sekalian istirahat sebentar. Perjalanan kita masih beberapa jam lagi sampai ke Jogja," ucap Deon yang sudah memberhentikan mobilnya.
"Iya De, aku dan anak kita sudah laper. Aku pengen mesan sate di cafe itu," balas Isna semangat.
Keduanya keluar dari mobil itu dan berjalan ke cafe yang ada di depan mereka. Deon dan Isna masuk ke dalam dan mencari meja yang kosong. Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri mereka dan mengajak keduanya ke meja yang masih kosong.
"sebelah sini Pak, akan saya antarkan ke meja yang masih kosong di sebelah sana dekat dengan kolam ikan," penuturan si pelayan dengan sopan.
"Ah baiklah, terima kasih karena sudah membantu kami menemukan meja kosong," balas Deon senang.
"Silahkan Mas, Mbak ini mejanya dan ini menu makanannya," sil pelayan menyerahkan buku menunya. "Apakah anda mau memesannya sekarang?" tanya pelayan itu dengan tersenyum ramah.
"Tidak, kami ingin melihat-lihat dulu menunya ya," balas Isna yang memang tidak suka di buru-buru kalau memesan makanan.
"Baik kalau begitu saya tinggal sebentar. Nanti silahkan panggil saja pelayan di sini jika anda sudah selesai memilih menunya," info si pelayan.
"Terima kasih Mas," balas Deon.
Setelah kepergian pelayan cafe itu, Deon dan Isna dengan semangat melihat-lihat menu yang ada di buku menu. Setelah beberapa menit melihatnya, akhirnya Deon memesankan makanan mereka.
Si pelayan yang tadi di panggil sekarang pergi dari meja mereka.
"Na, apa kamu mau rebahan sebentar disini dulu sebentar?" tanya Deon yang peduli sama istrinya.
"Nggak De, aku tidak ingin beristirahat. Kalau kamu mau istirahat, ya direbahkan dulu badannya di lesehan ini. Nanti setelah sejam, aku akan bangunkan kamu," suruh Isna agar Deon beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan mereka lagi.
Tak berapa lama, pesanan makanan mereka datang. Isna sudah sangat tergiur melihat hidangan diatas meja mereka.
__ADS_1
Setelah pelayan itu meletakkan semua pesanan makanan ya, dia pun pamit dari hadapan mereka. "Mas, Mbak silahkan di nikmati hidangannya. Kalau ada yang kurang tolong infokan ke kami ya,"pesan pelayan itu dengan sopan.
"Ah iya makasih ya Mas," balas Isna dengan senyum ramahnya juga.
Di kota Jogja Meka tidak mengetahui kedatangan Isna dan Deon. Dia masih berada di alam ghaib juga tepatnya di Istana Rudy.
Papa dan yang lainnya masih memikirkan cara mengembalikan jiwanya Zain ke dalam tubuhnya.
"Kek sampai kapan kita membiarkan jiwa Zain di alam ghaib?" tanya Papanya Zain.
"Hari ini secepatnya kita akan mengembalikan jiwanya Zain," balas Kakek tua itu.
"Apa kita tidak mencoba meminta bantuan terhadap Khodam itu untuk mengembalikan jiwanya Zain?" tanya Papanya Meka.
"Saya merasa ada seseorang yang akan berusaha menarik jiwa Zain. Tapi kita harus menyembunyikan Zain dari orang tersebut saat jiwanya menyatu dengan tubuhnya," jawab Kakek tua.
"Seseorang? Maksud anda gimana ya? Saya tidak mengerti sama sekali," sambung Papanya Zain.
"Zain..., dimana kamu nak....,pulanglah...," ucap istrinya yang masih memejamkan matanya.
"Ma, bangun ma, sadar ma," Papa nya Zain mencoba menyadarkan istrinya dengan memberikan minyak kayu putih di bagian hidungnya.
Hingga beberapa saat, istrinya mulai membuka matanya dengan suara yang memanggil nama Zain. "Zain anakku.....!" teriak Mamanya Zian sambil terduduk melihat sekeliling.
"Ma, Zain belum kembali. Sabar Ma," ucap suaminya.
"Lebih baik Anda memanggil Khodam itu. Mari kita ke kamar," ajak Kakek tua yang meminta Papanya Meka mengikutinya.
Papanya Meka pun mengangguk dan mengikuti Kakek tua ke kamarnya dimana tubuh Zain berbaring di sana.
__ADS_1
Sementara Ustadz Ahmad menemani Papanya Zain dan istrinya. Mereka duduk di sofa dan menunggu hasilnya dalam keadaan hening. Tidak ada pembahasan yang terjadi diantara mereka.
Sedangkan Kakek tua dan Papanya Meka masuk ke dalam kamar dan melihat Zain yang terlihat pucat.
"Apakah kita perlu memberitahu Meka sekarang keadaan Zain?" tanya Papanya Meka.
"Apakah anda ingin membahayakan nyawanya Meka dan bayinya yang sebentar lagi akan dilahirkan?" tanya Kakek tua dengan menatap tajam ke arahnya.
"Tidak, tapi dia suaminya Meka. Mungkin bisa membantunya," balas Papanya Meka dengan rasa bingungnya.
"Lebih baik Anda sekarang memanggil Khodam itu dan biarkan dia yang menyelesaikannya," ucap Kakek tua yang sudah duduk bersila di samping tubuh Zain.
Lalu tanpa menjawab ucapan Kakek tua, Papanya Meka pun ikut duduk bersila dan mulai berkonsentrasi memanggil Khodam itu.
Tak membutuhkan waktu lama, Khodam itu muncul dihadapan keduanya.
"Ada hal penting apa kalian memanggilku?" tanya sang Khodam.
Lalu Papanya Meka dan Kakek tua membuka matanya dan melihat ke arah Khodam itu. Saat hendak menjawab, perhatian Khodam itu teralihkan. Dia menatap serius ke arah tubuh Zain yang berbaring dengan wajah pucatnya.
"Dia..!" kaget sang Khodam. Khodam itu berjalan ke arah tubuh Zain dan menatapnya dengan tajam. "Mengapa dia ada di sini? Dan siapa yang membawanya?" tanya Khodam itu yang masih fokus menatap wajah Zain.
"Orang tuanya yang membawa tubuhnya ke sini dalam keadaan jiwanya yang sudah tidak berada di raganya," jelas Kakek tua.
Khodam itu menoleh dengan memiringkan kepalanya kesamping menatap Kakek tua dengan mengernyit.
"Dia terlalu lemah sehingga jiwanya sangat mudah diambil mahluk ghaib itu. Hah..," Khodam itu menghela nafas beratnya.
"Kami memerlukanmu untuk membantunya," balas Papanya Meka.
__ADS_1
"Tidak perlu, sebentar lagi jiwanya akan kembali ke raganya. Kalian harus menyembunyikannya di sini dengan menggunakan mantra. Sehingga seseorang yang mengembalikan jiwanya tidak bisa.menemukannya dengan bantuan iblis," jelas Khodam itu.