Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 153


__ADS_3

Setelah mereka menyelesaikan makan malamnya, Zain mengajak Meka kembali ke Hotel. Meka merasa hari ini dia begitu puas menikmati jalan-jalannya bersama suami tercintanya.


Sesampainya di Hotel, Meka langsung meletakkan barang belanjaannya di sofa. Dia pun bergegas membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dan tak nyaman.


"Mas, aku duluan mandi ya," ucap Meka yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Zain hanya mendengarkan ucapan istrinya, dan dia memberikan anggukan terhadap Meka.


Zain duduk di tepi tempat tidur menunggu Meka keluar dari kamar mandi. Dia mengambil ponselnya dan mengecek group WA Kampus. Selain mengecek group WA, Zain juga melihat ada beberapa pesan masuk. Dia melihat ada pesan dari sepupunya yang bernama Mona.


"Zain, kamu kemana? Aku mencarinya di Kampus, tapi kamu gak masuk. Aku khawatir sama kamu Zain!" isi pesan dari Mona.


Zain tak menanggapinya, dia hanya membaca tapi tak berniat membalasnya.


Lalu ada juga pesan masuk dari Mamanya yang berisi, " sayang, kapan pulang? Mama rindu sama kalian Zain," isi pesan dari Mamanya.


"Pesan yang aneh. Kenapa Mama kirim pesan begitu. Bukannya Mama baru aja ketemuan dengan dia dan Meka tiga hari yang lalu? Bagaimana bisa Mama mengatakan rindu," gumam Zain heran.


Lalu terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Ternyata Meka sudah selesai membersihkan tubuhnya.


"Mas, kamu gak mandi?" tanya Meka saat berjalan ke arah lemari pakaian.


"Iya sayang, nih Mas mau mandi. Barusan Mas lagi baca pesan masuk ke inbox," jawab Zain.


"Emang ada pesan dari siapa aja Mas?" tanya Meka spontan.


"Dari sepupu Mas itu dan dari Mama juga ada. Tapi dari Mama, Mas merasa heran. Baru tiga hari yang lalu kita ketemuan sama Mama. Kenapa sekarang bilang rindu?" tanya Zain dengan menatap Meka serius.


Meka pun ikut menatap ke arah Zain, dia diam memikirkan ucapan mertuanya itu.


"Ah sudahlah Mas, jangan khawatir, mending Mas hubungi Mama segera. Biar tau gimana khabarnya," ucap Meka memberi saran.


"Kamu benar sayang, Mas akan menghubungi Mama. Tapi Mas mau mandi dulu ya. Biar wangi seperti kamu," goda Zain.


Dia pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dengan pikiran yang tak tenang, Zain segera membersihkan tubuhnya.


Meka tidak ingin melihat isi pesan yang ada di ponsel Zain. Dia selalu memberikan kebebasan terhadap Zain dalam berkomunikasi.


Tak berapa lama, Zain pun selesai. Dia melihat Meka yang sudah berbaring di atas tempat tidur. Meka terlihat sangat menggoda malam ini. Dia menggunakan pakaian tidur berbahan satin transparan bagian belakangnya seperti lingeria.


Zain kesusahan menelan ludahnya menatap Meka yang rebahan dengan posisi telungkup. Jakunnya pun turun naik. Zain mendekati Meka, dia merangkak naik ke atas tubuh Meka dan menindihnya.


Meka terkejut dengan kehadiran Zain. Dia memiringkan kepalanya ke samping dan melihat Zain sudah berada di atasnya.


Zain yang masih menggunakan handuk sebatas pinggang, langsung melepaskannya. Posisi Meka membuat gairahnya naik. Dia pun tak membuang waktu. Zain langsung menyerang Meka dengan memberikan rangsangan terlebih dahulu.


Hingga akhirnya Zain melakukannya dengan posisi belakang. Dia terus menghentak-hentakkan miliknya ke milik Meka. Permainan itu semakin panas. Suara-suara merdu terus terdengar kencang di dalam kamar. Peluh keringat pun mulai bercucuran. Meka terus meracau dengan menyebut nama Zain di sela-sela permainannya.


Zain tak merasa puas hanya dengan sekali melakukannya. Dia meminta jatahnya berulang kali hingga membuat Meka lelah dan mereka sama-smaa terkulai lemas. Zain jatuh di samping Meka, begitupun dengan Meka, dia ambruk lemas. Lalu Zain memberikan kecupan di kening Meka dan dia membawa Meka dalam dekapannya.


Kemudian Zain membelai lembut rambut Meka yang lembut. Zain melihat Meka sudah tidur terlelap. Dia memutuskan untuk mengikuti hukum Meka. Zain memejamkan matanya hingga dia juga terlelap.


Malam semakin larut, kedua pasangan yang sedang berbulan madu, menghabiskan malam ini dengan kenikmatan yang tiada duanya.

__ADS_1


Saat matahari menyinari bumi, pagi pun tiba. Meka terbangun dari tidurnya. Dia melihat Zain yang mendekapnya dalam pelukannya. Meka mencoba melepaskan tangan Zain dari pinggang Meka.


Namun pergerakan Meka, dirasakan oleh Zain.


"Sayang, ini masih pagi. Ayo tidur lagi. Nanti kita sarapannya ya," Zain masih enggan untuk membuka matanya.


Meka mau tak mau mengikuti kemauan suaminya. Lalu dia merebahkan badannya kembali dan menutup kedua matanya agar terlelap.


Hingga siang pun tiba. Zain dan Meka tersentak, mereka sama-sama bangun dan terduduk di atas tempat tidur. Mereka saling menatap satu sama lain.


"Mas, kita terlalu lama tidurnya. Lihat ini sudah jam makan siang loh," Meka kesal karena Zain mengajaknya untuk tidur kembali tadi pagi.


"Hehehe, sesekali kan gak apa sayang. Lagian Mas capek loh. Kita jalan-jalan seharian, setelah itu kita main beberapa ronde. Nih pegal semua sayang," ucap Zain yang cengengesan.


"Ayo mandi Mas. Biar mempersingkat waktu kalau mandi berdua," ajak Meka.


Dengan senang hati Zain menerima ajakan Meka.


"Mas mau banget sayang. Ayo kita mandi bareng," Zain tersenyum penuh arti dan menaik-naikkan alisnya menggoda Meka.


"Tidak ada lagi pertempuran ya Mas. Aku juga lelah Mas," ucap Meka memohon.


Seketika Zain lemas. Apa yang ada dalam pikirannya tak bisa terwujudkan. Zain pun mengalah, untuk kesehatan istrinya dulu.


Kemudian mereka masuk ke dalam kamar mandi berduaan. Tidak ada aktifitas antara keduanya. Mereka hanya saling membantu membersihkan tubuh pasangannya. Zain menggosok-gosok badan Meka hingga menyiraminya dengan air shower.


"Mas, aku ingin kita punya anak laki-laki biar tampan seperti kamu," ucap Meka disela kegiatan mereka.


"Mas ingin sepasang biar kita memiliki anak yang tampan dan cantik seperti Mamanya," balas Zain yang sesekali menjagili istrinya.


"Sayang, kita makan disini aja ya, Mas agak lelah hari ini," ucap Zain memohon.


"Iya Mas, kita istirahat aja hari ini seharian ya," Meka menyetujui kemauan suaminya.


Zain segera memesan makanan melalui Hotel. Mereka menyibukkan diri dengan menonton TV.


Sesaat kemudian makanan yang di pesan pun datang, Zain membukakan pintu untuk mempersilahkan pelayan Restaurant mengantar ke dalam.


"Ceci est votre commande monsieur, profitez-en."


"(Ini Tuan pesanannya, silahkan di nikmati)," ucap pelayan itu.


"Heum," balas Zain dengan anggukan.


Lalu pelayan itu keluar meninggalkan kamar Zain.


"Ayo sayang kita makan dulu, biar ada tenaga buat bertempur lagi. Karena kita harus gencar membuat anak," ucap Zain dengan menggoda Meka.


"Ihhhh kamu Mas, katanya mau istirahat, berarti tak ada acara pertempuran," protes Meka.


"Istirahat disini iya, tapi kalau tenaga sudah pulih, kenapa tidak buat bertempur," balas Zain.


Perdebatan yang tak berfaedah pun terus berlanjut sambil menikmati makan siangnya. Zain dan Meka mengabiskan waktu berdua di kamar Hotel.

__ADS_1


"Mas, aku ingin menghubungi Isna. Gimana ya khabar mereka? Kemaren aku ngasih tau mereka kita sudah berangkat. Tapi sampai sekarang mereka tidak ada khabarnya. Aku sedikit khawatir Mas," ucap Meka yang dari kemaren terus memikirkan Isna.


"Sayang, kita lagi bulan madu. Hilangkan dulu mengkhawatirkan yang lain. Kita fokus untuk kesenangan kita untuk membuat anak," protes Zain.


Zain tidak ingin bulan madunya terganggu untuk hal yang seperti itu. Mungkin egois yang di inginkan Zain. Tapi Zain hanya ingin merasa tenang selama berliburan.


"Iya Mas, maaf. Tapi apakah salah kalau aku menghubungi mereka Mas?" tanya Meka dengan wajah memelasnya.


"Baiklah, kalau memang kamu mau menghubungi mereka, Mas gak akan larang. Tapi tidak memikirkan apapun yang terjadi dengan mereka ya," ucap Zain yang memberi izin Meka.


"Iya Mas, makasih banyak ya, Mas emang pengertian banget, aku sayang Mas," Meka mencium pipi Zain dengan gemasnya.


"Sayang, kamu membuat gairahku naik nih...! Kalau aku minta jatah sekarang, kamu harus tanggung jawab," balas Zain tersenyum puas.


"Nanti aku akan memuaskan mu Mas," kamu mau gaya gimana aja, aku turuti," bisik Meka dengan menaik-naikkan alisnya menggoda Zain.


"Awas kamu ya sayang, aku gak akan memberimu ampun nanti," geram Zain yang sudah tak sabar ingin menerkam istrinya.


Meka berlari mengambil ponselnya, lalu dia mencoba menghubungi Isna. Tlp pun berdering, namun tak ada sahutan dari seberang.


"Kenapa gak diangkat ya?" gumam Meka cemas.


"Kenapa sayang? Gak diangkat sama Isna ya?" tanya Zain.


Meka menoleh ke arah Zain, dia pun mengangguk membenarkan pertanyaan Zain.


"Iya Mas, belum diangkat," jawab Meka.


"Mungkin mereka lagi diluar sayang, coba lagi. Sapa tau diangkat," ucap Zain.


"Iya Mas, aku coba lagi ya."


Meka mencoba menghubunginya kembali, lagi-lagi tak ada jawaban dari seberang.


"Apa yang terjadi dengan mereka ya? Kenapa perasaanku gak enak ya Mas," ucap Meka yang masih mencoba menghubungi Isna.


"Kamu coba hubungi Deon aja sayang," saran Zain.


"Oh iya, lupa Mas. Aku hubungi no Deon dulu. Semoga diangkat," balas Meka.


Lalu Meka mencoba menghubungi Deon, namun tak ada juga jawaban dari seberang.


"Apa yang terjadi dengan mereka ya? Gimana nih Mas. Mereka gak mengangkatnya," ucap Meka khawatir.


"Ya mungkin mereka berdua memang gak mendengarnya sayang. Kita tunggu aja ya. Nanti juga mereka hubungi kamu balik, ya," balas Zain yang mencoba menenangkan istrinya.


"Mungkin ya Mas. Semoga nanti mereka menghubungiku balik," harap Meka.


"Sekarang lebih baik temani Mas nonton TV yuk. Atau kita nonton film aja. Kamu mau yang mana?" tanya Zain minta pendapat.


"Kayaknya kita nonton film aja deh Mas. Biar seru nonton horor tapi romantis, ada gak ya," ucap Meka dengan nyengir.


"Hahaha, Mas gak tau sayang. Kita lihat aja ya," balas Zain.

__ADS_1


Lalu Zain mencari film yang pas buat mereka menonton. Akhirnya pilihannya jatuh pada film romantis yang menampilkan adegan berhubungan.


__ADS_2