Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 78


__ADS_3

Deon dan Isna saling berpandangan. Lalu terdengar suara deheman dari Dosga mereka.


"Ekhem ekhem, ingat tempat," ledek Dosganya.


"Eh maaf Pak, kita hampir terbawa suasana dan perasaan," ungkap Deonn


Isna menjadi malu dan merasa salah tingkah. Dia melirik kearah Meka. Meka hanya senyum-senyum dengan apa yang dilihatnya.


"Mas, apa gak sebaiknya kamu hubungi dulu orang tua kamu, biar mereka tau kalau kita mau kerumah."


"Kayaknya gak usah deh sayang, Mas gak mau nanti Papa memberitahukan semua keluarga untuk berkumpul. Jadi kita datang tanpa pemberitahuan dahulu," jelas Zain.


"Mmmm, baiklah. Aku ngikut kamu aja Mas. Kan yang tau bagaimana keluargamu adalah dirimu sendiri. Dan aku belum mengenal mereka."


"Nanti kamu juga akan mengenal keluarga Mas. Sabar ya sayang," Zain mengusap lembut rambut istrinya.


"Bagaimana kalau kita berangkat sekarang aja Mas. Takut jalanan macet. Nih sudah jam 15.00 pas. Aku gak mau terlalu malam disana," pinta Meka.


"Baik. Kalau gitu kamu siap-sial di dalam. Mas mau menghubungi seseorang kepercayaan Mas."


"Mek, gw ikut ya ke dalam kamar Lo, boleh?" tanya Isna yang ingin membantu Meka merias diri.


Meka menatap kearah Zain. Dan Zain mengangguk memperbolehkan Isna kedalam.


"Ayo Na, Lo bantuin gw ya buat merias diri. Gw takut penampilan gw nantinya buruk," ajak Meka.


"Tenang Meka, gw pasti buat penampilan Lo menarik," balas Isna dengan semangatnya.


Lalu Isna dan Meka masuk ke dalam kamar. Di dalam, Meka mulai memilih baju yang pas untuk dia gunakan saat bertemu orang tua suaminya.


"Na, menurut Lo ini cocok gak ya gw pakai?" Meka menunjukkan baju dress panjang dengan lengan seperempat.


"Mmmm, bagus. Ini juga pas buat kulit putih Lo. Pakai gih, biar gw dandanin," Isna mendukung pilihan Meka.


Meka pergi ke dalam kamar mandi dan membersihakn tubuhnya. Lalu dia keluar dari dalam dan menggunakan dress pilihannya.


"Kemari lah, biar gw dandanin Lo," pinta Isna.


"Tapi gw gak mau terlalu menor. Gw mau make up yang terlihat natural."


"Tenang aja. Pasti mertua Lo senang melihat penampilan Lo yang elegan."


"Ah Lo bisa aja Na, gw jadi deg degan nih Na. Gw khawatir kalau orang tuanya akan marah besar karena kami menikah tanpa sepengetahuan msreka," terang Meka.


"Gimana kalau orang tau Pak Zain tidak menyetujui hubungan kalian Mek? Apa Pak Zain akan mempertahankannya?" tanya Isna yang ikut khawatir juga.


"Dia sudah berjanji dengan Almarhum Mama gw, kalau dia akan menjaga gw sampai mau memisahkan. Dan dia tidak perduli jika orang tuanya tidak menyukai hubungan kami," jelas Meka.

__ADS_1


"Syukurlah Mek, kalau Pak Zain tetep memilih Lo. Nah sudah selesai. Lo terlihat cantik banget," puji Isna dengan senyumannya.


Meka menatap dirinya di cermin, dan dia melihat bayangan samar sedang menatapnya dari luar jendela.


"Astaghfirullahal'adzim," Meka terkejut dan menoleh kebelakang. Namun sosok itu tidak terlihat lagi.


"Kenapa Mek? Lo lihat mahluk halus lagi ya?" tanya Isna ketakutan.


Dia juga memandang ke sekeliling ruangan Meka. Buku kuduknya berdiri karena takut.


"Ah nggak kok Na, gw ngucap karena makeup Lo benar-benar sempurna," jawab Meka bohong.


"Terus kenapa Lo lihat kebelakang?" tanya Isna.


"Gw lihat cahaya dari luar terang, sehingga makeup gw terlihat jelas. Gw cuma mastiin, apakah nanti di dalam rumah Pak Zain, make ini akan terlihat memukau," Meka berbohong karena dia tidak mau Isna ketakutan.


"Masa sih? Benaran Lo gak lihat setan atau demit Mek?" tanya Isna lagi.


"Nggak loh Na.....! Benaran gw gak lihat. Ini kan Apartemen gw sama Pak Zain. Masa ada demitnya," jawab Meka yang lagi-lagi berbohong.


"Oh....syukurlah," Isna merasa lega karena ternyata Meka tidak melihat adanya demit.


"Udah yuk keluar, nanti gw kelamaan bernagkatnya." Meka mengajak Isna keluar kamar dan menghampiri Zain dan Deon.


Saat Meka keluar, Zain menatapnya tanpa berkedip, Meka benar-benar terlihat cantik dan elegan dengan busana yang digunakannya.


Meka tersenyum mendengar pujian dari suaminya yang tampan ini.


"Wah Pak Zain gak bisa berkedip Mek lihat penampilan Lo. Lo benar-benar sempurna," Deon pun memuji Meka.


"Ini hasil riasan Isna loh Deon....! Dia pinter banget buat penampilan gw seperti ini," Meka menyenggol lengan Isna dengan memberikan pujiannya.


"Ah Lo bisa aja Mek," balas Isna.


"Kita berangkat sekarang sayang?"


"Iya Mas."


"Na, Deon, titip Apartemen nya ya. Kalian makan aja duluan dan jangan tungguin kita ya," ucap Meka mengingatkan.


"Iya, semoga sukses ya Mek! Kami do'akan berjalan sesuai harapan ya," Isna memberikan semangat dan dukungan buat Meka.


"Makasih Na."


Lalu Meka dan Zain keluar dari Apartemen. Mereka turun ke lantai bawah dan masuk kedalam mobil. Saat di dalam mobil Meka menceritakan tentang penampakan di dalam kamarnya tadi.


"Mas, aku mau ngomong nih."

__ADS_1


"Mau ngomong apa sayang?" tanah Zain.


"Tadi saat aku dirias sama Isna di dalam kamar, aku melihat sosok bayangan hitam berada diluar jendela. Dia menatapku dengan tatapan merah dan penuh amarah. Aku terkejut dan mengucap. Dan Isna ketakutan saat mendengar aku mengucap Mas," cerita Meka.


"Maksud kamu di dalam kamar kita ada mahluk ghaibnya sayang?" tanya Zain sambil tetap fokus menyetir.


"Iya Mas, tapi aku terpaksa bohong terhadap Isna. Aku mengarang kalau aku mengucap karena takjub dengan riasan dia. Dan dia sedikit mempercayainya."


"Terus itu mahluk apa sayang?"


"Aku juga gak ngerti Mas. Dan aku bingung kenapa ada mahluk itu muncul di kamar kita."


"Apa ada yang berniat jahat dengan kita ya sayang?" Zain terus bertanya.


"Mungkinlah Mas. Semoga semua berjalan sesuai harapan kita ya Mas," harap Meka.


"Aamiin..."


Mereka akhirnya sampai di depan rumah orang tuanya Zain. Zain memarkirkan mobilnya dihalaman depan.Lalu dia mengajak Meka keluar dari mobil.


"Mas, aku kok takut ya."


Zain menggenggam tangan Meka dan memberikan semangat terhadap istrinya.


"Kamu jangan khawatir ya sayang, kita lihat dulu bagaimana respon keluarga Mas. Yuk kita masuk," Zain mengajak Meka keluar.


Meka akhirnya keluar dari mobil dan menggandeng lengan Zain. Mereka berjalan ke depan pintu rumah. Ternyata saat Zain mau mengetuk pintu rumah, pembantunya sudah membukakan pintu itu untuk mereka.


"Silahkan masuk Tuan," ucap si bibi dengan sedikit menunduk.


"Papa dan Mama dirumah bi?" tanya Zain.


"Ada Tuan, mereka sudah dirumah dari tadi dan menunggu dari tadi," jawab si bibi.


Lalu Zain membawa Meka masuk ke dalam rumah dan melihat kedua orang tuanya yang sudah duduk di sofa.


"Assalamu'alaikum Ma, Pa," sapa Zain sambil mencium tangan mereka bergantian.


Meka pun ikut melakukan hal yang sama dengan Zain.


"Siapa dia Zain?" tanya Papanya langsung.


"Dia yang Zain ceritakan ke Papa kemaren. Zain ingin memperkenalkan dia dengan Papa dan Mama."


Papanya Zain menatap Meka dari atas sampai bawah. Begitu juga dengan Mamanya Zain.


"Maaf Tante, nama saya Meka," dia memperkenalkan dirinya dihadapan orang tua suaminya.

__ADS_1


__ADS_2