Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 148


__ADS_3

Zain dan Meka masih ngobrol di ruang tunggu. Hingga setelah beberapa menit, mereka pun berangkat ke Paris. Selama perjalanan, Meka lebih memilih menghabiskan waktunya dengan beristirahat saja.


Sekian jam lamanya menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di Paris dengan selamat.


"Alhamdulillah ya Mas kita sudah sampai di Paris," ucap Meka merasa senang.


"Iya sayang, ayo, kita sudah di tunggu sama mobil yang akan mengantar kita ke Hotel," ajak Zain.


Meka dan Zain mengambil barang-barang mereka, lalu berjalan menuju keluar. Ternyata benar di luar sudah ada seseorang yang menggunakan kalung bertuliskan Tuan Zain dan Nyonya Meka.


Zain dan Meka langsung menghampiri orang tersebut yang tak lain adalah seorang supir.


"Bonjour Monsieur, c'est votre nom M. Peter de Grab Mobil?" tanya Zain dengan menggunakan bahasa Perancis.


(Hallo Tuan, apakah anda bernama Tuan Peter dari Grab Mobil)?"


"Oui, je suis M. Peter. Êtes-vous avec M. Zain et Mme Meka ? Si oui, je vous emmènerai à l'hôtel," ucap supir itu.


(Benar, saya Tuan Peter. Apakah anda dengan Tuan Zain dan Nyonya Meka? Kalau benar, saya akan mengantar anda ke Hotel)."


Lalu Zain dan Meka mengikuti laki-laki itu menuju mobil yang akan membawa mereka ke Hotel.


"Mas bisa menggunakan bahasa Perancis?" tanya Meka takjub dengan kepintaran suaminya.


"Tentu sayang, Mas kan kuliah di sini kemaren," jawab Zain tersenyum.


"Wahhhh, pantes aja Mas lancar menggunakannya. Salut aku Mas sama kamu," puji Meka.


"Mas akan membawa kamu ke tempat-tempat yang romantis di sini. Kamu bisa menikmatinya sayang," ucap Zain.


"Aku udah gak sabar Mas pengen jalan-jalan," Meka sangat antusias ingin jalan-jalan di Paris.


Ini adalah kali pertama Meka menginjakkan kakinya ke Paris. Dia tak menyangka akan terwujud keinginan yang sudah lama diinginkannya. Meka merasa senang dan dia bertingkah laku berlebihan melihat Paris.


Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah Hotel yang bagus. Lagi-lagi Meka tak bisa menahan rasa kagumnya melihat interior dari bangunan Hotel itu. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sementara Zain melakukan ceking.


Setelah Zain selesai, dia menghampiri Meka yang masih terkagum-kagum dengan bangunan Hotel itu.


"Sayang, ayo ke kamar. Kita istirahat dulu," ajak Zain.


"Eh iya Mas, kamarnya dimana Mas?" tanya meka.


"Ada di lantai dua sayang, ayo." Zain menggenggam tangan Meka mengajaknya ke kamar menggunakan lift.

__ADS_1


Tak berapa lama, mereka sampai di lantai dua. Mereka berjalan menyusuri koridor ruangan hingga menemukan no kamarnya.


"Ini dia kamar kita sayang," ucap Zain yang berhenti di depan kamarnya.


"Ayo Mas buka, aku udah pengen mandi," balas Meka.


Lalu Zain membuka pintu kamarnya dengan menggunakan kartu. Setelah pintu terbuka, mereka masuk ke dalam.


"Wah Mas.....ini benar-benar keren. Aku suka banget Mas," Meka tak henti-hentinya kagum dengan Hotel yang mereka tempati.


"Kalau kamu suka dan senang, Mas juga senang melihatnya," balas Zain.


"Kalau gitu aku mau mandi dulu ya Mas, udah gerah nih," Meka pun bergegas masuk ke kamar mandi.


Zain meletakkan barang-barang mereka di dekat tempat tidur. Lalu dia berjalan ke arah balkon. Zain memandang ke luar dimana pemandangannya sangat indah. Zain bisa melihat keindahan Paris.


"Hah, akhirnya aku datang lagi kesini. Kali ini aku membawa istriku seperti keinginanku," gumam Zain yang masih berdiri di balkon.


Kemudian terdengar suara pintu kamar mandi bergeser, Meka sudah selesai membersihkan tubuhnya. Zain menoleh ke arahnya.


"Gimana sayang, udah segeran?" tanya Zain yang menghampiri Meka.


"Sudah Mas, kamu buruan mandi biar segar juga," suruh Meka.


"Iya, Mas mandi dulu ya."


Meka pun berpakaian, kemudian dia merapikan barang-barang yang dibawa mereka. Meka melihat ruangan yang sangat mewah, dia berjalan ke arah balkon melihat pemandangan dari tempatnya berdiri.


"Indah sekali," itulah ucapan Meka yang tiada hentinya mengagumi Paris.


Meka sudah tidak sabar ingin jalan-jalan menghabiskan waktu berdua bersama Zain di luar sana.


Zain pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak segar. Dia melihat bajunya sudah di siapkan di atas tempat tidur.


"Sayang, kamu mau makan disini atau kita jalan keluar?" tanya Zain sambil menggunakan pakaiannya.


"Aku sih pengen nyari makan diluar Mas. Kalau kamu mau di mana? Tapi kalau mau disini juga boleh, aku nurut kamu aja Mas," jawab Meka.


"Ya udah, kita keluar aja ya nyari makannya. Biar kamu bisa sekalian jalan-jalan."


"Aku siap-siap dulu ya Mas."


Meka pun segera merias dirinya dengan penampilan natural. Dia mengenakan stelan jeans dan kaos lengan panjang. Dan make up yang senatural mungkin.

__ADS_1


"Kamu cantik banget sayang," Zain memeluk Meka dari belakang.


"Ah Mas, kamu bisa aja. Dari dulu kan emang cantik Mas," ucap Meka malu-malu dengan percaya dirinya.


"Istriku emang sangat cantik, aku gak mau kehilangan kamu sayang. Tetaplah disisiku, apapun yang terjadi ya," pinta Zain sambil mengecup kening Meka.


"Iya Mas, aku gak akan pernah pergi kok. Kamu juga harus selalu disisiku, apapun yang terjadi," balas Meka.


Suasana menjadi melankolis dengan sikap mereka yang saling meminta untuk selalu berada disisi masing-masing. Zain pun memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Ayo Mas kita keluar cari makanan, aku udah laper nih," Meka melepaskan pelukannya.


"Iya, ayo kita nikmati hari ini berdua."


Mereka keluar dari kamar. Berjalan ke arah lift. Tepat di depan lift, Meka merasakan hawa yang pekat di kamar depan lift. Dia memandang terus ke arah kamar itu, hingga tak sengaja Meka mendengar suara teriakan kesakitan dan jeritan menyayat dari dalam kamar itu. Tentu saja hal itu hanya Meka yang dapat mendengarnya. Zain tidak bisa mendengar hingga dia dengan santainya memasuki lift yang sudah terbuka.


Berbeda dengan Meka, dia terus menatap ke arah kamar itu hingga pintu lift tertutup. Dia tak mendengar ucapan Zain, pikirannya masih fokus ke kamar itu. Hingga Zain menggoyangkan tubuhnya.


"Sayang, kamu kenapa? Kok malah melamun gitu di tanyain?" tanya Zain bingung.


"Ah nggak Mas, nanti aku akan cerita ke Mas ya. Sekarang kita cari makan dulu, ok," ucap Meka yang sengaja mengalihkan pertanyaan Zain.


"Kalau ada apa-apa, kamu bilang ya sayang, jangan di tanggung sendiri. Mas ingin kamu berbagi ya," pinta Zain dengan memegang pipi Meka.


"Iya Mas, aku akan menceritakan apa yang terjadi. Tapi saat ini aku gak mau terganggu karena perutku udah laper loh Mas," balas Meka sambil merengek.


"Iya sayang, kita jalan kaki aja ya biar lebih enak melihat-lihat tempat yang ada di kota Paris ini."


"Aku lebih suka jalan kaki Mas, selagi nyaman dan berdua dengan kamu."


Saat mereka keluar dari lift, gak sengaja Meka bertabrakan dengan seorang laki-laki yang menggunakan penutup topi.


"Désolé madame, je ne l'ai pas fait exprès," ucap laki-laki itu sambil menundukkan kepalanya berulang kali.


(Sorry Nyonya, saya tidak sengaja)."


"La prochaine fois, soyez prudent lorsque vous marchez. Tu es tellement pressé," tegur Zain yang tak suka jika Meka bersentuhan dengan laki-laki lain.


(Lain kali hati-hati kalau berjalan. Anda sangat terburu-buru)."


"Sudah Mas jangan di perpanjang. Aku gak mau makan malam kita rusak karena hal seperti ini," pinta Meka agar Zain tidak mempermasalahkannya.


Laki-laki yang masuk ke dalam lift menatap Meka sebelum lift itu tertutup rapat.

__ADS_1


Meka bisa merasakan hal lain dari laki-laki itu. Rasa tak nyaman dan tenang mulai dirasakan Meka saat bersentuhan dengan laki-laki itu. Meka mengingat cara laki-laki itu memandangnya dengan tatapan tajam tapi dingin hingga menusuk ke jantung. Sampai akhirnya Meka bergidik ngeri.


Kemudian, keduanya keluar dari Hotel itu dengan berjalan kaki. Meka melihat di luar Hotel itu ternyata sangat menakjubkan. Pemandangan yang memanjakan mata dengan bangunan-bangunan unik nan cantik, membuat Meka ingin terus mengabadikan foto setiap moment dalam perjalanannya.


__ADS_2