Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 205


__ADS_3

Meka dan Kakek tua sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi iblis itu. Waktu yang di nantikan mereka akan segera tiba.


"Kek, apakah kita akan menghadapinya di dalam sini? Atau bagaimana?" tanya Meka.


"Sepertinya kita harus bergabung dengan mereka yang ada di luar sana. Karena Kakek yakin iblis itu mencoba memprovokasi murid-murid Ustadz Ahmad yang masih muda dan labil," jawab Kakek tua.


"Kalau begitu, ayo kek kita keluar dari dalam ruangan ini," ajak Meka yang merasakan kegelisahan luar biasa.


"Mas, kita akan gabung dengan mereka yang ada di luar sana. Mas juga akan ikut bersama mereka mengaji karena iblis itu sasarannya adalah kamu Mas," ucap Meka yang mengingatkan Meka.


"Iya sayang, Mas tidak akan jauh-jauh dari kamu dan yang lainnya. Ayo kita keluar," ajak Zain.


Ketiganya pun keluar dari ruangan itu dan berjalan ke arah kumpulan Ustadz Ahmad.


Mereka yang berada di dalam ruangan depan melihat ketiganya keluar dari kamar itu. Begitu juga Rudy, pandangannya langsung tertuju ke arah Meka.


"Wanita ini kenapa terlihat berbeda ya? Ah perasaan apa ini. Rudy, jangan gila kamu, dia itu udah bersuami. Kamu itu kayak gak ada perempuan lain aja," Rudy berperang dengan bathinnya sendiri.


Pandangan Rudy tak lepas dari Meka yang berjalan ke arah mereka. Matanya terus menatap Meka dengan tatapan berbeda. Hatinya berdesir saat mata mereka tak sengaja bertabrakan. Namun Meka segera mengalihkan pandangannya. Tetapi Rudy tak mengalihkan perhatiannya sedikitpun.


"Loh kek kenapa kalian keluar? Bukannya kalian harus bersimedi?" tanya Ustadz Ahmad saat melihat ketiganya datang.


"Kami akan bergabung dengan kalian di ruangan ini. Biar kekuatan kita tidak terpecah. Saya khawatir, iblis itu membuat kekacauan dengan murid-murid Ustadz disini," jawab Kakek tua.


Meka dan Kakek tua tidak mengetahui kejadian yang baru saja terjadi dengan murid Ustadz Ahmad.


"Itu sudah terjadi kek," balas Ustadz Ahmad.

__ADS_1


Kakek tua dan Meka terdiam dan berdiri di hadapan mereka.


"Maksud Ustadz?" tanya Meka yang tidak mengerti.


"Iya nak Meka, iblis itu sudah berhasil menghasut dan mengontrol pikiran salah satu murid saya disini. Dan kejadiannya baru saja terjadi," jawab Ustadz Ahmad.


"Ya Allah, bagaimana kejadiannya Ustadz?" tanya Kakek tua terkejut.


"Saya dan yang lainnya juga tidak habis pikir karena kejadiannya begitu cepat kek. Awalnya saya yang salah karena terhasut dengan iblis yang menyamar sebagai sahabatnya nak Meka," jawab Ustadz Ahmad.


"Maksud Ustadz sahabat saya Isna dan Deon?" tanya Meka yang mengernyitkan keningnya.


"Ya benar nak Meka. Iblis itu menyamar sebagai Isna dan nak Deon. Saya juga sempat terprovokasi dan mempercayai iblis itu untuk membantu mereka yang datang dari luar. Keduanya mencoba menarik saya untuk melewati pagar ghaib itu dengan tujuan agar kekuatan kita berkurang dan yang ada di dalam ruangan akan melemah," jawab Ustadz Ahmad menjelaskan.


"Jadi maksud Ustadz, iblis lain menyerupai Isna dan Deon dan mencoba mengelabui Ustadz agar menjadi santapan mahluk di luar sana?" tanya Meka yang tak percaya.


"Iya, benar nak Meka. Syukurnya Khodamnya nak Meka dengan cepat menarik saya hingga terhempas kebelakang dan pintu depan kembali tertutup. Dan Khodamnya nak Meka menyadarkan saya dan memperlihatkan bahwa yang di depan sana bukan Isna dan Deon," jawab Ustadz Ahmad.


Meka tak menyangka jika iblis itu berhasil mengambil salah satu murid Ustadz Ahmad. Dan itu terjadi ketika dia dan Kakek tua sedang memulihkan tenaga dengan bersimedi di dalam kamar.


"Kamu benar nak Meka, iblis itu ternyata memanfaatkan keadaan kita yang terpecah karena Kakek dan kamu sedang bersemedi di dalam. Sedangkan yang berada di luar hanya Ustadz Ahmad. Dan itu kesempatan bagi dukun dan Iblis itu untuk menghancurkan kita secara perlahan," sambung Kakek tua.


"Ayo kita mengaji lagi, sebentar lagi sudah bulan purnama. Kita tidak tau apa yang akan di lakukan iblis itu untuk menghancurkan kita," ajak Ustadz Ahamd.


Di tempat lain, dukun sakti itu berusaha mencari wadah jasad manusia untuk di jadikan tempat bersemayam jiwa Bu Arin dan laki-laki yang di inginkannya yaitu Zain. Dan keinginannya itu terlaksana. Dukun itu sudah mendapatkan wadah jasad yang di inginkannya. Mereka akan melaksanakan ritual dengan iblis janin itu.


Dukun dan Iblis janin itu bekerja sama. Si dukun menginginkan kekuatan sebagai dukun yang sangat tersakti. Sementara iblis janin itu menginginkan kekuatan yang abadi sehingga dia akan berkuasa di atas iblis lainnya.

__ADS_1


Kembali ke rumah Ustadz Ahmad. Mereka sudah kembali mengaji bersama. Zain yang akan menjadi sasaran iblis dan dukun itu tidak mau jauh dari Meka. Dia ikut mengaji diantara Meka dan Kakek tua serta Ustadz Ahmad.


Dan akhirnya waktunya tiba, malam bulan purnama pun tiba.


Khodamnya Meka muncul di hadapan Meka dan Kakek tua. Dia memberitahukan bahwa mereka harus menghancurkan ritual dukun dan Iblis itu sekarang.


"Meka kau harus menghancurkan ritual itu tepat tumbal terakhirnya akan di tumbalkannya. Karena jika tumbal terkahirnya hancur, maka kekuatan iblis itu tidak akan berguna. Dan mereka tidak bisa menarik jiwa suamimu dan memasukkannya ke jasad yang sudah tersedia," ucap Khodamnya Meka.


"Bagaimana aku harus melakukannya? Aku tidak tau dimana mereka akan melakukan ritual itu?" tanya Meka yang memang tidak tau harus bagaimana.


"Meka, dukun dan Iblis itu akan melakukan ritualnya di rumah dukun itu. Saat ini mereka sedang bersiap melakukan ritual itu. Ayo hancurkan ritual itu!" seru Khodamnya.


Kemudian Meka berbicara dengan Kakek tua dan Ustadz Ahmad.


"Kek, kita harus kembali ke rumah itu. Karena dukun dan Iblis itu akan melakukan ritualnya di tempat kita menemukan jasad itu. Sekarang apa yang akan kita lakukan?" tanya Meka.


"Kalau gitu kita kembali seperti tadi. Mari kita semedi di ruangan ini dengan berbaring hingga jiwa kita lepas dari tubuh dan pergi ke rumah dukun itu. Karena jika kita melakukannya disini, mereka bisa memantau kita dan semua berkumpul disini," jawab Kakek tua menjelaskan.


"Apa yang dikatakan Kakek tua itu benar. Lakukan Meka seperti tadi. Tapi kali ini kalian harus pergi bertiga," suruh Khodamnya.


Meka dan Kakek tua bingung mendengar ucapan Khodamnya Meka.


"Maksudnya bertiga? Siapa yang akan ikut bersama kami lagi?" tanya Meka bingung.


"Pemuda itu, dia akan ikut bersama kalian menuju rumah dukun itu. Dia akan membantu kalian disana," jawab Khodamnya.


"Ta--tapi dia tidak mungkin ikut bersama kami. Dia tidak memiliki kemampuan itu," balas Meka.

__ADS_1


"Nak Meka, pemuda itu sama seperti kita. Dia memiliki kelebihan. Mungkin Khodamnya kamu memilih dia karena dia pasti punya kelebihan," jelas Kakek tua.


Meka dan Rudy saling berpandangan. Rudy yang tidak mengerti apa-apa menjadi kaget. Namun ntah kenapa dia merasa senang bisa membantu Meka saat ini.


__ADS_2