Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 280


__ADS_3

Saat si Kakek tua sedang bersemedi, tiba-tiba Khodamnya Meka muncul di hadapan Kakek itu. Dan si Kakek tua bisa merasakan kehadiran sang Khodam.


"Apa yang membuatmu datang menemuiku. Apakah ada hal penting?" tanya si Kakek tanpa membuka matanya.


"Ya, ada sesuatu yang akan aku sampaikan kepadamu," jawab Khodam itu tanpa basa basi.


"Katakan, apa yang ingin kau sampaikan," si Kakek tua membuka matanya dan menatap serius Khodam itu.


"Aku menemui karena ini merupakan hal penting. Meka dalam beberapa bulan lagi akan melahirkan. Tepat pada saat Meka melahirkan itu di bulan purnama. Dimana iblis itu sedang melakukan ritualnya untuk mendapatkan kekuatan besar. Jika sampai iblis itu mengetahui kelahiran anak Meka, maka itu sangatlah berbahaya bagi Meka," jelas Khodam itu.


Kakek tua menatap serius Khodam itu. Dia melihat kekhawatiran yang sangat besar terhadap Meka.


"Apakah ini ada hubungannya denganmu saat kelahiran bayi Meka?" tebak Kakek tua.


Sang Khodam terkejut, namun dia mencoba tenang agar Kakek tua tidak bisa membaca aura kegelisahan dalam diri sang Khodam.


"Tentu, karena aku dan Rudy akan melindunginya saat ini," kilah Khodam itu.


"Bulan purnama beberapa bulan lagi. Iblis itu saat ini sedang mengumpulkan kekuatannya. Pemujanya selalu mampu memberinya tumbal," ucap Kakek tua saat dia turun dari tempat tidurnya dan menghampiri Khodam itu.


"Ya, aku juga mengatakan hal itu sama Rudy. Dan satu hal lagi, Meka ingin menemui Papanya di sini. Bagaimana?" tanya Khodam itu minta pendapat Kakek tua.


"Kapan?"


"Secepatnya," jawab Khodam itu.


"Menurutku, lebih baik, Papanya Meka yang menemuinya di alam ghaib. Biar aku yang membantunya untuk mengantarkan ke istananya," saran Kakek tua.


"Tetapi dia manusia yang tidak memiliki kemampuan lebih besar sepertimu. Dan waktunya tidaklah banyak, bagaimana dia bisa ke alam ghaib. Itu bisa mempertaruhkan nyawanya," balas Khodam.


"Sepertinya tidak ada cara lain. Bagaimana kalau aku membicarakannya dulu. Karena Meka juga tidak mungkin ke alam nyata dengan kondisinya yang sedang hamil. Itu bisa sangat membahayakannya," uac si Kakek tua.


Sang Khodam mengerti dengan apa yang dimaksud Kakek tua. Khodam itu terus memikirkan cara agar Meka mau bersabar menunggu sampai kelahiran bayinya yang sangat dinantikan banyak mahluk.


Jauh dari tempat Meka, Deon dan Isna sahabat Meka yang lama dilupakan, tak mendengar khabar mereka. Saat ini ternyata keduanya sudah menikah setelah kepergian Mamanya Deon. Mereka mencoba menghubungi Meka, tetapi tidak bisa di hubungi. Terakhir mereka berkomunikasi saat kepergian Mamanya Deon. Meka sudah memberikan maafnya terhadap pengkhianatan yang dilakukan mereka.


"De, gimana ya khabar Meka? Aku kangen sama dia. Gak tau nih ntah kenapa bawaan bayi kali ya yang kangen sama sahabat Mamanya," ucap Isna yang saat ini sedang mengandung sebulan anak Deon.

__ADS_1


"Kamu merindukan Meka? Gimana kalau kita ke rumah Ustadz Ahmad. Sapa tau beliau mengetahui keberadaan Meka," ajak Deon.


"Kamu belum bisa menghubungi Meka?" tanya Isna.


"Belum sayang, sejak kita menikah dua bulan lalu, aku belum bisa menghubungi Meka. Aku ingin berbagi kegembiraan bersama Meka dan Pak Zain. Aku tau mereka belum sepenuhnya menerima kita, tapi aku benar-benar merasa kehilangan sahabat kita sayang," ucap Deon dengan wajah penyesalan.


"Kapan kita ke Jogja menemui Meka?" tanya Isna antusias.


Isna yang sangat bersalah karena meninggalkan Meka saat sahabatnya itu dalam keadaan sulit, menjadi beban yang mendalam baginya. Dia ingin berbagi kebahagiaannya terhadap sahabat satu-satunya.


"Kamu maunya kapan sayang?" tanya Deon.


"Gimana kalau besok kita ke Jogja," tanya Isna balik.


"Kalau besok aku tidak bisa karena pekerjaan di Restaurant sangat banyak. Apalagi besok ada acara di Restaurant," jawab Deon yang gak enak membuat istrinya kecewa.


"Kalau lusa, apa kamu bisa Deon?" tanya Isna penuh harap.


"Baiklah, lusa kita berangkat ke Jogja menemui Meka. Kita akan berbagi cerita dengannya," jawab Deon tersenyum.


"Ya sudah, sekarang kita tidur ya. Besok aku harus pagi ke Restaurant," ajak Deon.


"Iya, aku juga sudah mengantuk," balas Isna.


Setelah kepergian Mamanya Deon, dia dan Isna akhirnya memutuskan menikah. Lalu Deon membuka usaha Restaurant yang sederhana. Tidak disangka usaha yang di bangunnya saat ini mulai banyak di datangi pengunjung. Apalagi saat ini Isna sedang mengandung anaknya, Restaurant semakin banyak pengunjung.


Akhirnya Isna dan Deon pun mulai memejamkan matanya. Deon memeluk Isna dari samping. Dan mengusap lembut perut istrinya hingga Isna dan Deon terlelap.


Sinar matahari yang memberikan sinarnya menerangi bumi, membuat semua mahluk mulai beraktifitas. Begitu juga dengan Deon. Dia bangun dan mulai bersiap-siap untuk pergi ke Restaurant nya.


"Sayang, apa kamu sudah siapkan pakaianku hari ini?" tanya Deon saat hendak masuk ke kamar mandi.


"Sudah Deon. Semua sudah aku siapkan, kamu bisa mandi dan bersiap-siap. Aku akan ke dapur menyiapkan sarapan buat kita," jawab Isna.


"Baiklah, kamu hati-hati melakukan sesuatu dan jangan terburu-buru, ok," ucap Deon mengingatkan istrinya agar tidak teledor berkerja.


"Iya aku akan hati-hati, pergilah mandi," balas Isna tersenyum.

__ADS_1


Isna keluar dari dalam kamar, lalu dia menuju dapur untuk membuat sarapan pagi. Di dalam rumah itu hanya ada mereka berdua dan tukang bersih-bersih yang setiap pagi setelah Deon berangkat bekerja barulah datang. Isna dengan semangat membuat nasi goreng untuk Deon.


Setelah selesai menyiapkan sarapan pagi, Isna kembali ke kamar mereka untuk mengajak Deon sarapan.


"De, ayo kita sarapan," ajak Isna saat melihat Deon lagi bersiap-siap.


"Ayo Na, aku udah siap. Kamu buat sarapan apa lagi ini?" tanya Deon.


"Aku buat nasi goreng, pagi ini ntah kenapa pengen banget makan nasi goreng kesukaan kamu," jawab Isna yang membantu Deon bersiap-siap.


Kemudian mereka keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan.


"Hmmm baunya harum," puji Deon sambil mengecup pipi Isna.


"Ah, kamu bisa aja De. balas Isna malu-malu.


"Oh ya, kemaren aku sempat mikir, gimana kalau kita ke Apartement mereka. Siapa tau Meka dan Pak Dosga di sana," saran Deon.


"Mmmm, boleh juga. Aku gak kepikiran mau ke sana," balas Isna yang mendukung saran Deon.


Mereka pun sarapan pagi dengan ngobrol santai. Mereka sepakat akan ke Jogja dan pergi ke Apartement Meka untuk berkunjung.


Sedangkan di rumah orang tua Zain, saat ini Zain malam berada di dalam kamarnya. Dia merasa kepalanya berat untuk bangun.


Namun suara ketukan pintu membuatnya memaksakan diri untuk bangun.


"Ya, siapa?" tanya Zain.


Namun tidak ada sahutan. Zain mengerutkan keningnya.


"Siapa?" tanya Zain lagi dengan suara keras.


Lagi-lagi tak ada jawaban dari luar. Zain mengernyitkan keningnya bingung. "Apa aku berhalusinasi? Tapi itu jelas banget suara ketukannya," gumam Zain bingung.


Zain bangkit dari tempat tidur, dia penasaran dengan suara ketukan pintu itu. Dia berjalan perlahan-lahan hingga mencapai pintu. Zain diam berhenti sejenak. Ada keraguan yang menerpanya.


"Kenapa gak ada lagi suara ketukannya? Apa benar tadi halusinasi ku saja?" gumam Zain yang kembali bingung.

__ADS_1


__ADS_2