
Deon mencibir kearah Isna. Sedangkan Meka tersenyum mendengar kata-kata Isna.
Tak lama kemudian, mereka menyelesaikan sarapan paginya. Meka dan Zain meninggalkan Deon dan Isna yang masih berada di meja makan.
"Na, gw duluan ya. Gak enak sama Mama mertua gw nungguin kami dari kemaren," ucap Meka.
"Iya Mek gak apa-apa. Semoga semua baik-baik aja ya," dukung Isna.
"Iya Na."
Lalu Meka menyusul Zain masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap.
"Mas, kamu udah menghubungi Mama buat memberitahukan ke mereka kalau kita akan ke rumah sekarang?" tanya Meka mengingatkan suaminya.
"Udah sayang, tadi Mas udah ngabari Mama buat ngasih tau kalau kita jadi siang ini kesana," jawab Zain.
"Oh..., ya udah, aku siap-siap dulu ya Mas," ucap Meka berjalan ke kamar mandi.
"Iya sayang."
Meka pun bergegas bersiap-siap. Begitu juga dengan Zain, dia juga bersiap-siap.
Kemudian Meka dan Zain keluar dari kamar. Mereka melihat Isna dan Deon sedang asyik nonton berdua.
"Na, De, kami pergi dulu ya. Kalian kalau mau jalan silahkan. Khabari aja kalau keluar ya," ucap Meka.
"Iya Mek, santai aja. Kami mau nongkrong disini aja. Paling nanti kalau pas makan siang baru keluar, ya Deon!" Isna menoleh ke Deon.
"Iya Mek, semoga semua baik-baik aja ya," sambung Deon.
"Ok, makasih ya karena kalian selalu mendukung gw," balas Meka.
Meka dan Zain pun pergi ke rumah orang tuanya Zain. Mereka tidak mengetahui, kalau saat ini di rumah Zain sedang berkumpul keluarga besar dari Papa nya Zain. Dan keluarga ingin melihat istri Zain dan mengenal bagaimana sosok istri Zain.
Meka juga tidak mengetahui apa yang akan terjadi dengannya saat bertemu dengan keluarga besar Zain. Banyak sepupu baik dekat maupun jauh yang menginginkan Zain. Sehingga mereka menjadi penasaran dengan sosok Meka.
Saat ini Zain dan Meka masih berada di jalan. Mereka harus melewati jalanan yang sedikit macet. Namun tak lantas membuat Meka kesal. Dia menikmati perjalanannya ke rumah orang tua suaminya. Hingga tak terasa waktu singkat dan mereka pun tiba di rumah orang tua Zain.
Ketika mobil memasuki pekarangan rumah, Zain mengerutkan keningnya menatap banyaknya mobil yang terparkir di halaman itu. Begitu juga dengan Meka, dia bingung melihat banyaknya mobil terparkir.
"Loh Mas, kok banyak banget mobilnya. Apa ada acara ya disini? Tapi kok Mama gak ngasih tau kamu ya Mas?" tanya Meka penasaran.
__ADS_1
"Iya sayang, Mas gak tau loh kalau Mama punya acara. Ada apa ya?" Zain juga bertanya.
"Ya udah Mas, kita masuk aja. Daripada penasaran kan!"
"Iya, ayo sayang kita masuk ke dalam dan menemui Mama dan Papa," ajak Zain.
Meka dan Zain keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah orang tuanya. Saat Zain dan Meka berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar, dia melihat banyaknya keluarga besar yang berkumpul.
"Nah itu dia orangnya," tunjuk salah satu Om nya adik dari Papanya.
Mereka semua yang berada disana seketika menoleh kearah yang ditunjuk. Meka hanya bisa menggenggam erat tangan suaminya. Zain yang paham dengan kecemasan Meka, membawanya masuk ke dalam menghampiri orang tuanya tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Salah seorang istri dari adik Papanya menghampiri Zain.
"Hallo sayang...ponakan Tante. Gimana khabarnya? Kok tau-tau udah bawa istri aja kamu Zain. Kasihan tuh Tania nungguin kamu malah di tinggalin gitu aja," gerutu Tantenya.
Perempuan yang dimaksud Tantenya itu adalah anak perempuannya yang pertama. Lalu Tania pun menghampiri Zain dengan genitnya.
"Mas Zain...., Tania kangen banget loh sama Mas," ucap Tania yang bergelayut manja di lengan Zain sambil melirik Meka dengan sinis.
Zain buru-buru melepaskan lengannya dari tangan Tania sepupunya.
"Maaf Tania, kamu yang sopan. Tidak seperti ini sikapmu, saya sudah memiliki istri, ngerti!" bentak Zain sambil melotot kearah Tania.
Tantenya marah dan ikut pergi dari hadapan Zain mengejar anak kesayangannya.
Lalu Zain berjalan bersama Meka mendekati kedua orang tuanya.
"Ma, Pa, ini ada acara apa ya? Kenapa bisa ada keluarga besar disini?" tanya Zain tanpa basa basi.
"Zain apa begini cara kamu mengunjungi kami? Tidak sopan sekali," tegur Papanya Zain.
"Maaf Pa," Zain langsung menyalami kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Meka, dia mengikuti apa yang dilakukan Zain.
Mamanya Zain menatap Meka dengan senyum ramahnya. Dia sudah menerima kehadiran Meka di keluarga besarnya.
"Meka sini, Mama mau minta maaf atas sikap Mama dan Papa kemaren. Jujur kami sebagai orang tua terkejut dengan apa yang dilakukan Zain. Apalagi dia anak kami satu-satunya. Mama harap kamu bisa mengerti ya," ucap Mamanya Zain.
"Iya Ma, Meka juga salah telah membuat Mas Zain seperti itu. Ma, Pa, maafin Meka," ucap Meka dengan tulus.
"Kami sudah memaafkanmu nak. Mama hari ini memang mengundang keluarga besar untuk memperkenalkan Meka dengan mereka semua. Apa nak Meka tidak keberatan?" tanya mertuanya.
__ADS_1
"Tidak Ma, Meka senang bisa mengenal keluarga besar Mas Zain," jawab Meka.
"Zain kemari lah, kamu harus memperkenalkan Meka terhadap mereka semua," suruh Mamanya.
"Apa perlu Ma?" tanya Zain tak suka.
"Perlu dong sayang, biar mereka tau kalau kamu benaran sudah menikah. Ayo Zain...!" paksa Mamanya.
"Iya, iya Zain akan memperkenalkan Meka."
Lalu Zain dan Meka berjalan ditengah-tengah keluarga besarnya dan berdiri dihadapan semuanya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakathu. Perkenalkan Om, Tante dan sepupu-sepupu,. ini istri saya yang bernama Meka. Kami sudah menikah hampir setahun. Maaf kalau belom mengadakan pesta besar. Karena saat ini kami masih sibuk dengan urusan masing-masing. Terima kasih atas kedatangan semuanya," ucap Zain yang menyudahi perkenalannya.
"Eh Mon, Lo kalah cepat sama tuh perempuan. Coba dari dulu Lo minta Nyokap Lo nikahin sama Zain, pasti yang berdiri disitu bukan perempuan itu, melainkan diri Lo," ucap salah satu sepupu Zain yang berusaha memprovokasi nya.
Mona menatap tak suka dan kebencian dari sorot matanya sangat jelas mengarah ke Meka. Tapi dia berusaha tenang dan tidak memperlihatkan rasa tak sukanya dihadapan Zain.
Setelah perkenalan itu, mereka semua menikmati makan siang. Zain dan Meka berkumpul dengan Om dan Tantenya. Mereka asyik ngobrol, mendengar cerita tentang Meka dan Zain.
Sedangkan Mona sepupu Zain yang sangat menginginkannya, hanya memandangnya dari jauh. Sama halnya dengan Tania, dia hanya bisa melihat Zain dengan rasa kecewa. Dan menatap Meka dengan permusuhan yang besar.
Mona mencoba ikut gabung dengan mereka yang orang tua.
"Eh Mona sini nak. Ayo gabung sama kami," ajak salah satu Om nya saat melihat Mona berjalan kearah kumpulan mereka.
"Iya Om," balas Mona.
Dia berjalan dan gabung bersama mereka. Namun sesekali dia mencuri pandang kearah Zain.
"Oh Zain...sungguh tampannya dirimu. Bodoh sekali aku ninggalin dia kuliah di luar negeri. Kalau aku kuliah disini, pasti sekarang sudah bisa menjadi istrinya dan merasakan tubuhnya yang membuatku tergila-gila," bathin Mona yang sangat menginginkan Zain.
"Mona, gimana kuliah kamu di luar negeri sayang" tanya salah satu Om nya.
"Alhamdulillah baik Om. Nih juga udah mau wisuda," jawab Mona dengan kalem.
"Wah udah mau wisuda toh. Terus kapan mau nikah kamu?" tanya Tantenya.
"Hehehe, belom punya calon Tante. Habis ditinggal nikah, jadi mau cari yang lain," sindir Mona.
"Oalah, makanya Mona, kemaren jangan kuliah jauh, jadinya Zain keburu kepincut yang lain," balas Tantenya yang mengerti kalau Mona menyukai Zain.
__ADS_1
"Kasihan sekali kamu Mona, padahal kamu cocok banget loh sama Zain. Sama-sama kuliah dari luar negeri," sambung Tantenya, Mama dari Tania. Dia sengaja memanasi Meka untuk membuatnya cemburu.
Meka merasa tak nyaman mendengar obrolan itu. Tapi dia berusaha meredam dan menekan amarahnya. Dia tetap menampilkan senyuman manisnya.