
Isna dan Deon benar-benar bingung dengan sikap Meka yang aneh sehari ini.
"Emang Lo ada masalah ya beib sama tuh si Shinta? Kayak musuhan aja kalian nih!" celetuk Deon.
"Gak sih Deon...cuma gw lagi gak pengen aja gabung sama dia," balas Meka sambil melirik kearah suaminya.
"Ayo kita masuk kedalam," ajak Dosga mereka.
Mereka tiba di depan sebuah cafe ketika Deon melihat Shinta sedang jalan bersama seorang perempuan. Dan Deon hendak memanggilnya namun Meka langsung menahannya.
Meka melihat nenek-nenek bongkok yang mengikuti Shinta.
"Dia sudah menjadi pengikut iblis. Berhati-hatilah dengan perempuan itu, dia berniat tidak baik dengan suamimu," bisik Khodam Meka tiba-tiba.
Meka celingak-celinguk mencari keberadaan Khodamnya namun tak terlihat.
Tiba-tiba Deon nyeletuk diantara mereka yang sedang berdiri.
"Pak Dosga, eike juga mau dong digandeng....!" ucap Deon tanpa merasa malu sambil senyum kemayu.
Pak Zain menoleh ke arah Deon dengan tersenyum.
"Oh ya ampuuuun Pak....! Eike mau pingsan nih...tampung dong beib...gak kuat eike dengan senyum menawannya si Dosga," ucap Deon yang kegirangan.
Lalu Meka dan Isna tertawa bersama karena merasa terhibur dengan lelucon yang dibuat Deon.
"Udah yuk ah masuk kedalam," ajak Isna
"Iya yuk masuk, eike dah laper banget nih..!Deon langsung menggandeng tangan Meka dan membawanya masuk kedalam cafe.
Zain menatap tajam kearah keduanya, dia merasa tidak senang melihat istrinya di gandeng dengan laki-laki lain walaupun laki-laki itu kemayu.
Zain menghampiri Meka dan menarik Meka ke arah kasir. Dan akhirnya gandengan tangan Deon terlepas.
"Ihhhh Pak Zain...main rebut aja sih..!" protes Deon manyun.
"Kamu gandeng Isna aja," balas Dosganya dengan cuek. Lalu berjalan ke dalam mencari tempat duduk.
"Sayang, kita duduk disitu aja," Zain menunjuk tempat yang kosong.
"Na, Deon, ayo kita kesana," Meka menoleh kebelakang mengajak Deon dan Isna ke meja yang kosong.
Mereka berjalan kearah meja itu. Setelah duduk, seorang pelayan cafe datang menghampiri mereka.
"Selamat siang Tuan, Nona. Silahkan dipesan dan ini buku menunya," si pelayan memberikan buku menu dan menunggu mereka untuk memesannya.
Setelah melihat-lihat menu makanan dibuku menu, akhirnya mereka memesannya. Setelah semua selesai memesan sesuai keinginan, Meka beranjak dari tempat duduknya.
"Mek, Lo mau kemana?" tanya Isna.
"Gw mau ketoilet, kenapa, Lo mau ikut?" tanya Meka balik.
"Gak ah, gw lagi gak pengen ngelapor ketoilet," jawab Isna dengan cekikikan.
"Ya udah sama saya aja. Saya juga mau ke toilet," sambung Dosganya tiba-tiba.
Deon dan Isna saling menatap tak percaya. Mereka senyum penuh arti dengan sikap Dosganya.
__ADS_1
"Eh tapi Pak, saya bisa sendirian kok." balas Meka yang merasa gak enak.
"Udah gak apa-apa. Lebih baik kan kamu ada yang nemani," ucap Dosganya tersenyum.
Meka menoleh kearah Isna dan Deon. Mereka mengedikkan bahunya tanda tak mau ikut campur.
Meka berjalan bersama Dosganya dihadapan sahabatnya.
"Sayang, kamu mau ketoilet juga?" tanya Meka polos.
"Tidak sayang, mas hanya mau menemanimu. Mas khawatir kalau kamu sendirian ke toiletnya," jawab Zain.
"Lihat lah kebelakang, mereka terus menatap kita berdua."
Zain menoleh kebelakang dan sekilas melihat kedua Mahasiswanya.
"Jangan hiraukan mereka. Mereka juga mengerti kok dengan hubungan kita," Zain kembali menatap kedepan dan berjalan disamping istrinya.
Meka melihat papan yang bertuliskan toilet yang mengarah ke samping cafe. Lalu mereka. berdua sampai di depan toilet wanita.
"Sayang, mas tunggu di depan ya. Kamu bisakan sendirian? Apa perlu Mas bantu?" goda Zain.
"Ihhhh kamu ini Mas mesum terus mikirnya.
"Kamu seneng kan dengan Mas yang mesum sampai merem melek gitu!" Zain semakin menggoda istrinya.
Wajah Meka langsung merona karena malu digodain sama Dosganya yang sudah menjadi suaminya.
"Udah ah, aku masuk," Meka berjalan meninggalkan Zain yang masih tertawa karena gemes melihat sikap istrinya.
"Hmmmm bau busuk dari mana ini? Baunya seperti bangkai manusia. Kenapa aku jadi merinding begini ya?" bathin Meka yang sudah berdiri bulu kuduknya.
Lalu dia masuk kesalah satu bilik untuk membuang air kecil. Dan lagi-lagi dia mencium aroma busuk yang sangat menyengat di hidungnya. Sesaat Meka tertegun melihat ada darah dibawah kakinya. Darah yang berasal dari bilik sebelah. Dan baunya sangat anyir.
Meka terperanjat dan merasa jijik.
"Darah apa ini? Bau banget?" Meka ketakutan dan langsung membersihkan dirinya. Dan dia buru-buru hendak keluar dari bilik itu. Tapi saat dia hendak membuka pintunya, dia mendengar seperti ada yang sedang mengunyah makanan disebelah.
"Seperti orang yang sedang mengunyah? Tapi masa ada orang makan di dalam kamar mandi?! Kan jorok banget!" bathin Meka yang semakin penasaran bercampur takut.
Meka menatap kebawah lagi dan masih ada darah yang berasal dari bilik sebelah. Lalu Meka buru-buru keluar dari biliknya dengan ketakutan dan dia mencoba menahan dirinya dengan berkaca sambil membenahi penampilannya. Meka ingin mengetahui siapa yang berada dibilik sebelah biliknya tadi.
Tiba-tiba Meka dibuat terkejut dengan kehadiran Shinta yang baru saja keluar dari bilik disamping bilik Meka. Meka tertegun dan terdiam mematung. Dia menatap Shinta penuh curiga.
Shinta yang awalnya tidak mengetahui kehadiran Meka, berjalan santai keluar dari bilik itu. Tapi saat dia menatap kedepan, dia kaget dan merasa gugup karena melihat kehadiran Meka. Namun dia mencoba tenang dan bersikap santai agar tidak dicurigai. Shinta menghampiri Meka dan menyapanya.
"Hai Mek! Dari tadi ya disini?" Shinta sengaja bertanya seperti itu, dia takut kalau Meka sudah dari tadi berada di dalam dan mengetahui aktifitasnya di dalam bilik itu.
"Oh ini baru masuk kok Shin. Cuma mau numpang berkaca dan cuci tangan," Meka berbohong agar Shinta tidak mengetahui apa yang dilakukannya.
"Oh...baru ya," Shinta merasa lega.
"Kamu sama siapa kesini?" tanya Meka basa basi.
"Oh sama temenku tadi, tapi dia sudah pergi."
Meka menatap Shinta dari pantulan cermin besar. Dia melihat Shinta yang terlihat gugup dan salah tingkah. Dan yang membuat Meka terkejut adalah adanya noda darah disudut bibir Shinta.
__ADS_1
Meka merasa takut dan berpikir yang macem-macem.
"Apa dia makan daging manusia? Apa dia kanibal?" begitu banyak pertanyaan di benak Meka.
Lalu Meka mendengar bisikan dari Khodamnya.
"Dia bukan Shinta sahabatmu sepenuhnya. Dia sudah dikuasai iblis itu. Iblis yang membuatnya cantik dan bisa membuat banyak laki-laki menginginkannya."
"Tapi apa yang dilakukannya di dalam bilik itu? Ada darah yang mengalir dibawah tadi," Meka berbicara melalui bathinnya.
"Dia sedang mengunyah janin yang diambilnya secara paksa dari tumbalnya. Dan setelah dia memakannya, maka kecantikannya akan bertambah. Jauhi dia karena dia separuh iblis," balas Khodamnya.
Meka ketakutan dan bulu kuduknya merinding. Lalu dia cepat-cepat keluar dari toilet itu. Rasanya dia ingin muntah karena mendengar Khodamnya mengatakan bahwa Shinta baru saja mengunyah janin bayi sampai habis.
Meka keluar dengan berjalan cepat tanpa memperdulikan Shinta yang kebingungan melihatnya.
Meka mual-mual dan langsung menemui suaminya Zain.
"Sayang, ayo kita cepat pergi dari sini. Nanti aku ceritakan, ayo buruan," Meka ketakutan dan masih merasa mual.
"Kamu kenapa sayang, wajah kamu pucat banget! Kamu sakit ya..?" tanah suaminya.
"Nggak Mas, aku baik-baik saja. Aku rasanya mual," jawab Meka.
"Mual...! Masa kamu udah hamil sayang?" tanya Zain spontan.
"Bukan karena itu Mas. Udah ah nanti aja bahasnya. Aku lagi gak pengen makan," ucap Meka yang tak berselera.
"Loh kenapa, apa kamu mau diet sayang?" tanya Zain.
"Nggak Mas, aku lagi gak pengen. Nanti aku mual."
"Terus pengennya apa nih...?!" goda Zain.
"Pengen makan kamu sampai habis," kesal Meka digoda saat keadaan hatinya memburuk.
"Waowww, kalau gitu kita pulang sekarang ke Apartemen dan menjalankan keinginan kamu untuk makan aku," Zain terus-terusan menggoda Meka.
"Sayangggggg...! Please deh, jangan buat aku kesel!"
"Iya-iya maaf, Mas hanya ingin menghibur kamu kok sayang," Zain merasa tak enak karena Meka bukannya terhibur malah menjadi kesal.
Zain diam dan berjalan tanpa menoleh kearah istrinya. Dia bersikap dingin kembali tanpa ekspresi. Dia tidak tau kalau istrinya lagi ketakutan dan mual karena mendengar suara kunyahan makanan.
Meka merasa bersalah, lalu dia menggandeng lengan suaminya.
"Maaf ya sayang, aku akan ceritakan kenapa aku kesal saat kamu godain," ucap Meka.
Zain menoleh kesamping menatap istrinya dan dia berhenti sejenak.
"Ceritakan ada apa? Kenapa sikap kamu kesal habis dari toilet," Zain menuntut Meka untuk berbicara.
"Sayang, kamu janji gak akan jijik dan mual seperti aku ya?" pinta Meka harap cemas.
"Iya, Mas janji kok sayang, ceritakan dan kita kembali ke meja."
Lalu Meka menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Dia menggenggam tangan Zain saat menceritakan kejadiannya.
__ADS_1