
Meka melihat kepergian mahluk yang menyedihkan itu. Dia merasa kasihan mendengar perjalanan hidup mahluk itu yang tragis. Tapi dia tidak ingin ikut terseret dalam masalah yang lebih besar. Terlalu banyak masalah yang timbul belakangan ini. Meka berusaha kuat untuk menghadapinya.
Meka masih duduk disamping Zain hingga dia lelah dan tertidur.
Tak terasa waktu terus berlalu malam hingga menjelang pagi tiba.
Seorang suster masuk ke dalam ruangan. Dia melihat Meka tertidur disamping pasien. Lalu suster itu membangunkan Meka karena pasien harus diperiksa keadaannya.
"Permisi Mbak, ini sudah pagi. Saya ingin memeriksa kondisi pasien," ucap suster itu.
"Oh iya suster, silahkan. Maaf saya tidak mendengar suster masuk," balas Meka dengan senyum ramah.
"Tidak apa-apa Mbak," suster itu membalas dengan senyuman ramah juga.
Meka beralih kearah Deon dan Isna. Mereka masih tertidur dan belum bangun.
"Meka memegang tangan Isna, dan mengusap rambutnya.
"Na, ayo bangun, ini sudah pagi," Meka mencoba membisikkan ketelinga Isna.
Ternyata bisikkan Meka didengar oleh Isna, perlahan dia membuka kan matanya dan menatap kearah Meka.
"Mek, ini Lo!?" tanya Isna ketika sadar.
"Iya Na, ini gw. Syukurlah akhirnya Lo siuman. Gw khawatir banget sama Lo Na," ucap Meka yang tak henti-hentinya mengucapkan syukur di dalam hatinya.
Meka tak mungkin menceritakan sama Isna dan Deon tentang kejadian yang membuat mereka berakhir di rumah sakit. Meka merasa takut, jika Isna dan Deon tak bisa menerima hal itu.
"Kita kenapa Mek?" Isna bertanya.
Namun Meka tidak mendengarnya, karena dia sibuk dalam pikirannya.
"Mek, Lo kok melamun," Isna mencoba menggoyangkan lengan Meka.
Meka menatap Isna dan berkata, " Lo tadi ngomong apa?" tanya Meka seperti orang yang linglung.
"Gw bilang, kenapa kita bisa masuk rumah sakit? Apa yang terjadi semalam?" Isna memburu Meka dengan banyak pertanyaan.
"Hanya kesalahan kecil kok Na. Pak Zain terkejut karena mendengar teriakan ku. Dan aku melihat ada kucing yang sedang melintas di depan kita," Meka terpaksa berbohong.
Padahal yang terjadi sebenarnya adalah, Meka melihat anak kecil yang berumur enam tahun sedang merangkak dengan menggunakan baju sobek-sobek tepat berada di depan mobil merek, hingga membaut Meka berteriak. Dan tabrakan itu terjadi.
"Lo jangan menyembunyikan sesuatu Mek dari gw dan Deon. Apapun yang terjadi jujurlah Mek!" pinta Isna.
Meka terdiam dan menatap ke arah Isna. Dia masih takut jika Isna gak mau menerima jika hidupnya akan terus terlibat dengan hal ghaib jika dia dekat dengan Meka.
__ADS_1
Tiba-tiba Deon yang sudah sadar dari tadi mendengar obrolan Isna dan Meka. Dia pun ikut berbicara.
"Iya Mek, jujurlah terhadap kami. Kami sudah sejauh ini ikut terlibat dalam hal ghaib seperti ini. Jadi mau tak mau, kami juga harus siap menghadapinya," ucap Deon dengan tulus.
"Maaf Na, maafin gw, gara-gara gw kalian harus ikut terseret dalam kecelakaan ini. Semua ini karena Shinta yang menaruh dendam terhadap gw. Dia sangat menginginkan Pak Zain bersamanya dan kematian gw. Dia sudah dibutakan dengan iblis.
Isna dan Deon tentu terkejut mendengarnya. Terutama Isna, dia gak habis pikir dengan tingkah laku Shinta yang sangat terobsesi dengan Dosga mereka.
"Apa yang terjadi rupanya Mek?" tanya Deon lagi.
"Kemaren saat Pak Zain menyetir mobil, the merasakan hal yang tak enak. Saat mobil berjalan , tiba-tiba gw melihat sosok anak kecil dengan pakaian yang sobek-sobek berada tepat didepan mobil kita, dan gw menjerit. Pada saat itu Pak Zain berusaha menghindar dan mengerem mobil. Syukurnya Pak Zain bisa mengendalikan mobil sehingga kita tidak terlalu terluka," Meka menundukkan wajahnya merasa sedih.
"Terus siapa yang menolong dan membawa kita kesini Mek?" Deon ikut bertanya.
"Oh ya gw lupa Deon, kemaren ada seorang Ustadz yang membantu gw membawa kalian kesini. Dan dia meminta gw untuk menyuruh Lo membawa Mama Lo kerumah Ustadz itu," jelas Meka.
"Kok bisa Ustadz itu menyuruh Lo membawa Mama gw ke tempatnya? Apa Ustadz itu tau tentang keluarga gw Mek?" Deon bertanya serius.
"Iya Deon, saat Ustadz itu membantu Isna dan Lo, Ustadz itu melihat wajah Lo dan dari situlah dia tau bahwa keadaan Mama Lo harus segera ditolong."
"Bukannya hari ini kamu janjian sama Mamamu Deon?" tanya Isna disamping mereka.
"Oh iya, aku lupa Na. Gimana ini, keadaanku seperti ini. Apa aku batalin pertemuannya ya?" tanya Deon dengan Isna dan Meka.
"Baiklah Mek, gw hubungi dulu ya Mama gw."
Deon mencari ponselnya, "oh ya dimana ponselku Mek?" tanya Deon yang kehilangan ponselnya.
"Oh, gw lupa, ada di dalam tas. Tunggu sebentar gw ambilkan," Meka berjalan kearah tempat Zain. Dia melihat Zain masih tertidur.
Meka mengambil tasnya dan menyerahkan ponsel Deon.
"Ini ponsel Lo Deon," Meka menyerahkan ponsel Deon.
Deon pun mengambil ponselnya dari tangan Meka, kemudian dia menghubungi Mamanya.
"Oh ya Na, kalian mau sarapan apa? Biar gw pesankan, apa mau sarapan dari rumah sakit ini atau mesan dari luar?" tanya Meka.
"Gw mau makan yang dari luar aja deh Mek. Gw kurang suka makan dari sini, pasti dikasih bubur nasi."
"Mmm, baiklah kalau gitu, gw akan delivery soto ayam aja buat kita semua."
Lalu Meka memesan soto ayam melalui ponselnya. Kemudian dia beralih ke Isna lagi.
"Bentar ya Na, gw mau lihat Pak Zain dulu," ucap Meka.
__ADS_1
"Iya Mek, gak apa."
Meka berjalan menghampiri suaminya. Dia mengelus lengan suaminya dan mengecup keningnya dengan lembut dan berkata, "Sayang ini sudah pagi, ayo bangun biar kita sarapan."
Meka menunggu Zain membuka matanya. Dengan rasa sabar yang dimilikinya, akhirnya Zain membual matanya perlahan. Dia melihat Meka istrinya sedang tersenyum menatapnya.
"Sudah pagi ya sayang?" tanya Zain yang mencoba untuk duduk.
"Pelan-pelan Mas, apa kepalanya masih pusing?" tanya Meka.
"Sudah tidak lagi sayang. Mas sudah enakan kok. Tapi Mas laper, jam berapa sarapannya datang?" tanya Zain yang kelaparan.
"Aku udah mesan sarapan kita dari luar Mas. Aku dan Isna kurang suka kalau makan makanan dari rumah sakit. Jadi kami memesan dari luar soto ayam."
"Oh...ya udah gak apa, Mas juga gak mempermasalahkan nya kok. Apa mereka sudah bangun dari tadi? Bagaimana kondisi Deon dan Isna?" tanya Zain.
"Mereka sudah membaik Mas pagi ini. Oh ya aku mau ke administrasi nanti, mau bilang kalau kalian ingin keluar dari rumah sakit siang ini," ucap Meka memberitahukan ke suaminya.
"Oh..Mas gak masalah. Apa yang lainnya sudah merasa pulih kalau nanti siang keluar dari rumah sakit?" tanya Zain.
"Deon dan Isna tadi udah setuju Mas, jika kita siang ini keluar dari rumah sakit. Karena rencananya nanti siang, Deon akan ketemu dengan Mamanya," jelas Meka.
"Untuk apa?" tanya Zain bingung.
"Loh kamu lupa Mas, kemaren kan kita janjian sama Mamanya Deon untuk membawanya ke Ustadz agar segera dirukiyah dan menghilangkan jeratan iblis dari dirinya." Meka mengerutkan keningnya menatap bingung kearah suaminya.
"Ah Mas lupa. Mas sedikit melupakan tentang rencana Deon," balas Zain.
Saat itu Deon turun dari tempat tidurnya dan datang menghampiri Meka.
"Mek, Mama gw bilang, dia bisa datangnya agak sorean. Gimana nurut Lo?" Deon minta pendapat Meka.
"Itu lebih baik Deon, jadi kita punya persiapan.Tapi sebelumnya, kita harus kerumah Ustadz itu dulu. Kita harus membicarakannya dengan Ustadz itu. Karena gw gak tau Ustadz itu ada dirumah atau tidak," jelas Meka.
"Gw ngikut apa saran Lo aja Mek. Gw hanya ingin yang terbaik buat Mama gw. Karena gw gak mau kehilangannya," ucap Deon dengan wajah sendunya.
Kemudian ponsel Meka bergetar memberitahukan bahwa pesanan mereka sudah tiba.
"Mas, aku kedepan dulu ya, pesanannya sudah datang," Meka memberitahukan sama suaminya kalau pesanannya menunggu di depan.
"Mas temani ya?" pinta Zain.
"Mas emang kamu udah kuat buat jalan?" Meka balik tanya.
"Insyaallah kuat, dari pada membiarkanmu sendirian jalan keluar sana, mending Mas kuat-kuatkan buat jalan," jawab Zain tersenyum.
__ADS_1