Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 63


__ADS_3

Asih keluar dari dalam kamarnya, dia pun menuju kearah kamar Meka.


"Tok tok tok, Mek...! Gw masuk ya?" tanya Asih yang sudah berdiri di depan pintu kamar Meka.


"Masuk aja Asih!" sahut Meka dari dalam kamarnya.


"Lo udah siap Mek?" tanya Asih saat masuk kedalam kamar Meka.


"Udah nih. Kita jalan sekarang?" tanya Meka balik.


"Iya yok. Gw dah lama gak jalan bareng Lo Mek. Jadi kangen pengen hangout bareng lagi."


"Ya udah sekarang kita puas-puasin buat jalan-jalan. Gw dah pesan grab online. Tar lagi sampai didepan. Kita nunggu didepan aja ya," Meka mengajak Asih keluar dari dalam kamarnya.


Mereka berdua menuju teras dan menunggu grab mobil online datang.


"Mek Lo kapan masuk kuliah?Tentang sahabat-sahabat Lo gimana? Apa mereka tau tentang keadaan Lo ini?" tanya Asih penasaran.


"Mereka tidak ada yang menghubungi gw selama di Medan Sih. Dan mengenai gw yang nikah sama Dosga, tidak ada yang mengetahuinya," jelas Meka.


"Terus orang tua Pak Zain gimana Mek?" tanya Asih lagi.


"Itu urusan Mas Zain. Gw gak mau ikut campur Sih. Tapi yang pasti besok kami akan kerumah Mas Zain untuk memberitahukan tentang pernikahan kami," terang Meka.


Saat mereka asyik ngobrol, grab mobil online yang dipesan, akhirnya datang juga.


"Itu mobilnya dah datang. Ayok Sih kita naik."


"Iya ayo. Semoga hari ini menyenangkan ya Mek," harap Asih.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil tersebut. Lalu mobil itu melaju ke arah Malioboro. Karena tujuan Meka adalah ke Malioboro buat belanja. Meka merasa senang akhirnya Zain masih memberikan toleransi kebebasan terhadapnya.


Sepanjang perjalanan menuju Malioboro, Asih dan Meka banyak bercerita tentang selama mereka tak bertemu. Meka yang sedang dalam masa berduka dan Asih yang dalam keadaan galau karena putus dari mantannya yang bernama Eko. Hingga mereka sampai disebuah Mall yang terkenal di Malioboro.


"Akhirnya sampai juga ya Sih."


"Iya dah kangen gw main ke sini."


Mereka masuk kedalam Mall itu. Dan tak sengaja melihat Eko mantannya Asih sedang berjalan dengan seorang wanita yang tidak bisa mereka lihat. Karena posisi wanita itu membelakangi Meka dan Asih.


"Sih, ayo kita lebih baik pergi dari sini. Ntar kamu ngamuk-ngamuk lagi, yuk," Meka menyeret tangan sahabatnya untuk menjauh dari Eko.


Meka tidak mengetahui kalau yang bersama Eko adalah salah satu Dosennya di Kampus yaitu Bu Arin. Meka juga tidak mengetahui bahwa mereka adalah saudara kandung.


"Siapa wanita itu? Kenapa ada wanita tua itu bersamanya? Apakah Eko dipelet sama wanita itu hingga meninggalkan Asih?" bathin Meka yang terus-terusan bertanya.


Hingga sebuah suara mengagetkannya dan menoleh kesamping.


"Hati-hati dengan mereka Meka. Dia ingin mencelakaimu, jangan dekati mereka," bisik suara yang ternyata Khodamnya.


"Maksudnya apa? Siapa yang ingin menyakiti? Dan siapa yang ingin disakitinya?" tanya Meka dengan bathinnya.


Saat Meka bertanya seperti itu, Khodamnya menghilang dan tak menjawab pertanyaan Meka.


"Dasar Harimau bongsor, kayak jelangkung aja. Datang tak diundang, pergi tak pamit-pamit," gumam Meka dengan kesalnya.


"Siapa yang seperti jelangkung Mek?" tanya Asih yang mendengar gumaman Meka.

__ADS_1


"Ah, eh itu anu.Gw lagi bilangin si Eko mantan Lo. Kayak jelangkung, datang tak diundang dah nongol aja dihadapan kita, hehehe," jawab Meka sambil cengengesan.


"Ah Lo bisa aja."


Meka terus membawa Asih menghindar dari Eko. Disepanjang jalan Meka banyak melihat mahluk tak kasat mata. Meka berusaha menenangkan jantungnya yang suka kaget karena harus melewati mahluk-mahluk tersebut.


Akhirnya Meka dan Asih sudah jauh berjalan. Saat mereka melihat-lihat baju batik disebuah toko batik yang ada di Malioboro, sebuah tangan menggenggam tangan Meka.


Meka tersentak lalu menghempaskan tangan itu. Tapi saat Meka melihatnya, tangan itu tidak ada. Meka melihat kesana-kemari, tidak ada sosok yang dilihatnya.


"Siapa tadi yang memegang tanganku?" bathin Meka.


"Lo kenapa Mek? Kok celingak-celinguk gitu. Emang Lo nyariin siapa?" tanya Asih bingung.


"Nggak ada Sih. Ayo kita lihat-lihat lagi. Sapa tau ada yang pas buat dibeli."


"Ini gw dari tadi lihat-lihat kok. Lo aja yang bingungin," celetuk Asih.


"Hehehehe," Meka hanya cengengesan menanggapi ucapan Asih.


Lalu mereka kembali melihat-lihat koleksi baju-baju batik yang ada di toko itu. Lagi-lagi ada sebuah tangan yang menggenggam tangan Meka. Meka tersentak dan langsung teriak.


"Siapa sih yang megang-megang tangan gw?! Keluar gak Lo?!" teriak Meka dengan kencang dan emosi. Dia tidak sadar banyak mata yang melihat kearahnya dengan tatapan penuh arti.


Meka langsung tersadar dan melihat sekeliling nya. Orang-orang pada memandangnya aneh. Dan sahabatnya juga menatap Meka dengan tatapan bingung.


"Meka, Lo kenapa sih dari tadi seperti orang kebingungan dan ketakutan gitu. Ada apa? Lihat tuh semua orang ngelihatin Lo!" bisik Asih yang tak mau orang mendengar obrolan mereka.


"Gak apa-apa sih. Gw kaget aja, kirain Lo megangin tangan gw, rupanya nih baju yang nyangkut," ucap Meka yang sengaja berbohong.


Saat Meka melangkah keluar, dia menyempatkan untuk menoleh kebelakang. Disaat itulah dia melihat sosok laki-laki tampan tersenyum kearahnya. Meka langsung mengucap.


"Astaghfirullahal'adzim....," ucap Meka sambil terus berjalan keluar.


"Dia adalah anak pemilik toko itu yang sudah dijadikan tumbal untuk melariskan usaha orang tuanya," ucap Khodamnya yang tiba-tiba muncul.


"Duh, masa aku dikerjain sama demit," bathin Meka.


"Dia ingin berkenalan denganmu, tapi dia takut saat melihat sosok yang menjagamu, sehingga dia hanya mengganggumu Meka," jawab Khodamnya secara bathin.


"Lama-lama aku bisa seperti orang gila, yang selalu terkejut dan ketakutan saat bertemu demit," bathin Meka.


"Biasakan dirimu Meka dengan hal ghaib. Kedepannya kamu akan melihat dan mengetahui sesuatu hal yang akan membuatmu bimbang," ucap Khodamnya.


"Kenapa main teka teki begini! Maksudnya apa, bimbang apanya?!" balas Meka dengan kesal karena harus tebak-tebakan dengan mahluk Khodamnya.


Lagi-lagi tidak ada jawaban sehingga membuat Meka menjadi kesal. Dia berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Meka pun menarik nafasnya dan membuangnya perlahan.


"Mek, nih lihat bagus loh batiknya. Gw pengen beli ah satu," ucap Asih yang melihat kearah Meka.


"Iya cakep kok bajunya Sih. Gw mau juga ah beli. Kalau pakai batik kan adem ya. Lebih simpel dipakai," balas Meka yang memilih-milih baju batik dipinggiran Malioboro.


Sekitar satu jam lebih mereka berbelanja menghabiskan waktu buat cuci mata dan belanja. Hingga akhirnya Meka merasa capek dan kakinya pegal. Mereka memutuskan untuk nongkrong di sebuah cafe di Malioboro.


"Kita istirahat disini dulu ya, nih dah pegal kaki gw," ucap Meka yang sudah meluruskan kakinya di sofa.


"Hahaha, biasanya Lo paling hebat kalau diajak jalan-jalan. Tumben nih gak kuat," ledek Asih.

__ADS_1


"Iya gw capek banget Sih. Makanya pegel nih kaki."


"Ahhh gw tau nih. Pasti Lo sama Pak Zain sudah wik wik ya...?" goda Asih sambil senyum-senyum.


"Hehehe, gitu deh," jawab Meka malu-malu.


"Mantep, gimana rasanya Mek? Pasti sakit ya?" tanya Asih yang merasa penasaran.


"Ah Lo mau tau aja urusan ranjang gw. Rahasia tau! protes Meka.


"Yeeee, kan kita sahabatan. Gw kan pengen tau juga Mek! Biar nanti kalau gw nikah, udah ada persiapan loh," balas Asih yang memanyunkan bibirnya.


"Hahaha,Lo belajar dewe aja. Nanti juga tau sendiri."


"Udah ah, Lo mau pesan apa nih Mek?" tanya Asih.


"Gw pengen mie goreng aja deh Sih sama capcin susu dingin ya."


Asih mencatat pesanan mereka. Lalu dia beranjak dari meja mereka dan menghampiri meja kasir.


"Mbak, nih pesanan meja yang disana ya," Asih memberikan kertas catatan dan menunjukkan meja mereka.


"Baik Mbak, tunggu sebentar ya. Nanti diantar pesanannya," jawab kasir itu.


Lalu Asih kembali ke meja yang ditempati mereka.


"Udah dipesan Sih?" tanya Meka saat melihat Asih datang.


"Udah Mek. Bentar lagi diantar sama pelayannya kemari," jawab Asih.


Tiba-tiba ponsel Meka berdering. Meka melihat nama yang tertera ternyata Dosganya. Lalu Meka mengangkat tlpnya.


"Assalamu'alaikum Mas!" sapa Meka.


"Wa'alaikumussalam sayang!" sahut Zain.


" Kamu sudah makan sayang?" tanya Zain.


"Ini lagi mau makan Mas. Baru aja mau aku hubungi, eh kamunya udah duluan tlp."


"Pas banget ya. Mas khawatir aja sama kamu. Kamu masih lama diluarnya?" tanya Zain.


"Ya mungkin sekitar satu jam lebih Mas. Nanti aku hubungi kalau sudah dikontrakan," jawab Meka.


"Ya udah, kamu lanjut lagi maemnya ya. Mas mau kerja lagi. Hati-hati diluar ya sayang, emmmuach. Assalamu'alaikum," ucap Zain.


"Iya Mas emmmuach, Wa'alaikumussalam Mas," balas Meka.


Lalu tlp pun dimatikan. Meka langsung menatap kearah Asih. Dia pun tersenyum malu. Karena Asih menatap Meka dengan tatapan menggoda.


"Jangan lihatin gw seperti itu Sih! Tar Lo juga bakalan ngalamin seperti gw," protes Meka dengan tatapan Asih.


"Hahahaha, baru ini gw lihat Lo seperti kucing yang jinak saat dikasih makan majikannya," ledek Asih.


"Enak aja gw disamakan dengan kucing," protes Meka.


Mereka berdua tertawa bersama. Selagi menunggu pesanan makanan datang ,Meka dan Asih ngobrol santai.

__ADS_1


__ADS_2