Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 117


__ADS_3

Meka sudah curiga dengan Kakek itu, ternyata dugaannya benar, dia memiliki kelebihan.


"Apakah aku harus berurusan dengan hal seperti ini? Aku takut akan membahayakan keluargaku kelak jika aku menyelesaikan masalah ini. Si Kakek ini saja memilih bungkam mencari aman dari keadaan yang terjadi, Apa yang harus aku lakukan...?!" bathin Meka berkecamuk.


"Oh iya Kek, bisakah anda menceritakan apa yang terjadi dengan teman-teman kami disini kemaren malam?" tanya Meka lagi.


"Mereka sebagian sudah tidak ada lagi bahkan jasadnya juga sudah habis di makan mahluk ghaib disana. Hanya tinggal beberapa saja yang terkurung di dalam rumah itu. Mereka tidak bisa keluar dari rumah itu bagaimanapun caranya. Karena seseorang sudah menutupnya dengan pintu ghaib," jelas Kakek itu.


"Gimana Mek? Kita tidak bisa membantu mereka, bagaimana kita bisa membebaskannya?" tanya Deon.


"Kamu bisa nduk melakukannya. Kamu punya kelebihan yang tak semua orang memilikinya walaupun punya mata bathin," sambung Kakek itu.


Meka berpikir sejenak dengan apa yang diucapkan Kakek itu. Dia menoleh ke arah Zain, meminta pendapat dari suaminya.


"Gimana Mas, apakah kita akan menyelamatkan mereka?" tanya Meka penuh harap.


"Nduk, kamu bisa menyelamatkan mereka sebelum malam hari. Karena malam hari, semua mahluk ghaib akan keluar memangsa tumbalnya yang sudah di sediakan di rumah itu," ucap Kakek itu.


"Gimana Mas?" tanya Meka lagi.


Dengan kebingungan yang dialami Meka, tiba-tiba dia mendengar suara dari Khodamnya.


"Meka, jika kamu ingin menyelamatkan mereka yang tersisa, pergilah sekarang dan buka pintu ghaib itu dengan liontin merah bulan sabit itu. Dan pegang liontin itu lalu buka pintunya. Tapi kamu harus bisa menahan rasa mual karena kalian akan melihat kotoran dan bau busuk serta anyir dari teman-teman kamu yang sudah meninggal," ucap Khodamnya yang memberitahukan.


Meka menarik nafas panjang, sungguh berat baginya untuk melakukan semua itu. Tapi, dia juga tidak ingin membiarkan teman-teman yang lainnya meregang nyawa disana. Dan masalah ini akan menyeret Bu Arin ke penjara.


"Sayang, ayo kita lakukan. Semua sudah kita jalani, jadi kita harus menyudahinya supaya bisa kembali ke Jogja," ucap Zain sambil memegang bahu Meka.


"Apa kamu siap untuk menerima konsekuensi dari apa yang akan kita lakukan Mas?" tanya Meka khawatir.


"Insyaallah Mas siap sayang. Apapun yang akan terjadi ke depannya, kita hadapi bersama ya," jawab Zain dengan penuh keyakinan.


"Apakah Kakek tidak ingin membantuku? Ini semua demi kebaikan kita ke depannya. Aku harap Kakek bersedia membantuku untuk menyelesaikan semua ini," pinta Meka dengan penuh harapan.


Si Kakek menoleh ke arah istrinya meminta dukungannya. Dan ternyata istrinya itu menganggukkan kepalanya memberi izin si Kakek untuk membantu Meka


"Baiklah nduk, Kakek akan membantumu sebisanya Kakek. Ayo kita berangkat sekarang, sebelum semuanya terlambat," ajak Kakek itu.


"Iya sayang, ayo kita berangkat sekarang," ucap Zain.


Isna menahan lengan Meka, dan menatapnya dengan rasa cemas.

__ADS_1


"Tenang Na, gak usah khawatir. Kita berdo'a semoga ini semua bisa berkahir," Meka meyakinkan Isna.


Sedangkan Deon menggenggam tangan Isna dan memberinya semangat dan rasa keyakinan.


"Kita harus melakukannya Na, demi teman-teman yang lain. Dan menghentikan Ki Baron mendapatkan tumbal lagi hanya untuk jasad orang yang sudah meninggal, ya," ucap Deon menatap Isna penuh keyakinan.


"Iya De, aku akan dukung kok," balas Isna.


Sebelum mereka berangkat ke rumah gadis kembang Desa itu, Nenek itu berpesan kepada si Kakek.


"Kek, hati-hati karena yang akan kalian hadapi bukan manusia biasa. Dia sudah bertahun-tahun bersekutu dengan iblis. Tentunya sudah banyak yang membantunya. Nenek harap semua bisa selesai dengan kedatangan nak Meka disini," ucap Nenek itu yang sangat penuh dengan harapan.


"Iya, kami berangkat dulu, Assalamu'alaikum," ucap Kakek itu.


Meka dan yang lainnya juga berpamitan dengan Nenek itu dan mengucapkan salam.


Lalu mereka keluar dari rumah dan berjalan menuju mobil. Kakek itu duduk di depan menemani Zain. Dan Meka duduk di belakang bersama Isna dan Deon.


Sedangkan di luar mobil, Khodamnya Meka menemani mereka dalam wujud Harimau putih besar. Selama dalam perjalanan banyak mahluk ghaib yang ketakutan bersembunyi melihat Harimau putih itu. Mahluk-mahluk itu mengira Harimau itu mengejar mobil karena menginginkan manusia yang berada di dalamnya. Hingga mobil sampai di sebuah rumah besar dimana teman-teman Meka masih berada di dalamnya.


Khodam Meka merubah wujudnya menjadi sosok pemuda tampan dengan menggunakan pakaian zaman dulu guna menghindari kecurigaan mahluk ghaib yang berada di Desa ghaib.


"Kek, kita sudah sampai," ucap Zain saat mobilnya berhenti.


"Ayo kita keluar dan lihat ke dalam. Kasihan mereka," ucap Zain.


Mereka keluar dari mobil dan berjalan ke arah rumah itu. Meka melihat banyak mahluk ghaib yang menatapnya dengan mata menyalang. Namun Meka tak merasa takut. Karena tekadnya sudah bulat untuk menolong teman-temannya.


"Meka, gunakan liontin merahmu untuk membuka pintu rumah itu. Dan pintu itu akan terbuka sendiri. Karena sesungguhnya pintu itu adalah pintu ghaib yang sengaja dipasang untuk menghentikan mereka yang berada di dalam keluar dan yang di luar masuk ke dalam," ucap Khodamnya.


Kemudian Meka berjalan ke depan pintu rumah itu. Dia berdiri dan diam sejenak. Lalu Meka mengambil kalung liontin dari lehernya dan mengarahkannya ke pintu itu serta memutarnya.


Hingga kemudian, pintu itu pun terbuka lebar. Bau menyengat, bau busuk, anyir keluar dari dalam rumah itu.


Kakek itu melangkah duluan masuk ke dalam dan menghidupkan lampu diruangan itu. Hingga terlihat terang benderang. Namun mereka semua terkejut melihat pemandangan yang menjijikkan dan mengerikan di dalam ruangan.


Isna dan Deon tidak tahan hingga mereka kembali keluar dari dalam rumah dan muntah-muntah di halaman itu.


Sedangkan Meka menggenggam tangan Zain untuk menahan rasa misalnya dan kengeriannya.


Di dalam ruangan itu, penuh dengan bercak darah yang menempel di perabotan rumah, dan kotoran manusia serta serpihan-serpihan daging-daging manusia bekas pembantaian. Selain itu juga mereka melihat kepala yang sudah bolong dan lepas dari tubuhnya. Sungguh pemandangan yang mengerikan dan menjijikkan.

__ADS_1


Meka mencoba berjalan perlahan dan melewati semua yang berceceran dilantai. Dia menatap ke lantai atas yang senyap tak ada suara ataupun aktivitas.


"Kemana mereka yang tersisa Mas?" tanya Meka heran.


"Mungkin mereka berada di kamar lantai atas. Gimana kalau kita melihatnya," saran Zain.


"Nak Meka dan Zain, sepertinya Ki Baron mengetahui kehadiran kita disini. Lebih baik kita segera mencari teman-teman yang lainnya dan membawa mereka keluar dari Desa ini," perintah Kakek itu.


"Baik Kek," balas Zain.


Lalu mereka berjalan menaiki tangga dan mencoba membuka pintu kamar bagian perempuan. Pintu pertama kosong tak ada orang. Lalu mereka berjalan ke pintu ke dua. Zain mencoba membuka pintunya dan ternyata di dalam ada beberapa teman-teman Meka yang perempuan. Mereka seperti mayat hidup, pucat dan tatapan mata mereka kosong. Tidak ada satupun yang antusias melihat kehadiran Meka dan Pak Zain.


Lalu Kakek itu menyuruh Meka segera membawa mereka ke luar rumah agar segera disadarkan oleh Kakek itu. Pak Zain yang dibantu dengan Deon yang sudah datang, mengeluarkan perempuan-perempuan yang tersisa. Mereka membawanya ke halaman rumah itu dan di dudukkan.


Setelah itu Zain dan Meka serta Isna masuk ke dalam rumah lagi mencari keberadaan teman laki-laki mereka. Hingga mereka akhirnya menemukannya. Pak Zain dan Meka serta Isna segera membawa mereka keluar dari dalam rumah itu.


Setelah perempuan di sadarkan oleh Kakek itu, lalu giliran laki-laki yang akan disadarkan.


Hingga akhirnya mereka semua kembali normal.


Teman-teman Meka ketakutan setelah menyadari keadaannya.


"Pak Zain..., apa yang terjadi tadi malam? Mereka kerasukan dan....," Pak Robby tak berani melanjutkan ucapannya.


"Meka, teman kamu..., di...dia menghilang bersama adiknya Bu Arin. Kami gak tau dia kemana. Kami menunggunya, tapi gak juga kembali. Hingga kami mendengar suara jeritan dan minta tolong dari suara perempuan," jelas Dewi.


"Iya Mek, dua teman kita juga menghilang, dan ketika kami ingin keluar, ternyata pintu disini tidak bisa terbuka. Kami kembali ke kamar karena ketakutan Mek...!" teman yang lainnya menangis ketakutan.


"Kemana Bu Arin dan adiknya?" tanya Pak Anton.


"Mereka lah dalang dari semua ini Pak. Ceritanya panjang. Kita harus keluar dari Desa ini sekarang juga cepatan...!" seru Meka.


"Kenapa Mek?" tanya yang lainnya.


"Iya Mek, kenapa harus buru-buru. Ada apa sebenarnya?" tanya Rodho ketua rombongan.


"Nanti saja penjelasannya. Yang pasti saat ini kita harus segera keluar dari Desa ini dan harus bisa melewati hutan angker itu," jawab Meka.


Lalu mereka segera masuk ke dalam Bus dan yang membawa Bus tersebut adalah Pak Anton. Karena supir Bus itu sudah tewas di santap mahluk ghaib di Desa itu.


"Kek, gimana dengan kalian? Ikutlah bersama kami, dan kalian mulailah kehidupan baru di luar Desa ini," ajak Meka.

__ADS_1


"Iya Kek, disini juga kalian tidak akan aman. Ikutlah bersama kami. Ayo Kek!" paksa Zain.


Lalu Kakek itu menyetujui ajakan Zain dan mereka segera menjemput si Nenek ke rumahnya. Setelah selesai semua, mereka mulai melewati hutan angker itu.


__ADS_2