Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 134


__ADS_3

Pagi menyapa, udara yang dingin membuat Isna dan Deon enggan bangun. Ditambah suara rintik hujan yang deras menambah suasana menjadi nyaman untuk bermalas-malas di bawah selimut. Namun sesuatu terjadi, Deon yang memang dasarnya penakut, mendengar suara rintihan seseorang menangis. Dan itu mengusik indera pendengarannya.


Tak hanya Deon, Isna pun begitu. Dalam keadaan mata terpejam, dia mendengar suara rintihan seseorang. Lalu dia tersentak dan langsung terduduk. Isna belom menyadari kehadiran Deon di sebelahnya. Hingga dia tak sengaja memegang benda kenyal milik Deon. Isna menekan-nekan benda kenyal itu sambil mengernyitkan keningnya.


Karena penasaran, Isna pun mencoba menarik benda kenyal itu. Saat benda itu ditarik, sang pemiliknya menjerit karena sakit.


"Awwww," Deon terkejut akibat miliknya ditarik paksa. Dan dia langsung terduduk sambil memegang tangan Isna yang masih setia menempel dimilik Deon.


Isna dan Deon saling menatap hingga beberapa detik mereka terbengong, hingga akhirnya keduanya menjerit bersamaan.


"Deoooooooon, kurang ajar kamu ya...!" teriak Isna sambil melepaskan tangannya dari milik Deon.


"Naaaaaaa, punya ku bisa impoteeeeeen," teriak Deon juga.


Baik Isna maupun Deon, mereka bangkit dari tempat tidur dan saling berhadapan diantara tempat tidur.


"Sialan kamu Deon, apa yang kamu lakukan, hah? Ngapain tidur disini diatas tempat tidurku?" bentak Isna yang merasa malu karena perbuatannya.


Deon langsung menghampiri Isna yang berada di seberangnya.


"Na, dengerin dulu penjelasanku. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Ayo kita duduk dulu, biar aku jelaskan," ucap Deon yang mencoba menenangkan Isna.


"Awas kamu ya, kalau berbuat yang aneh-aneh denganku tadi malam," balas Isna.


"Beneran Na, aku gak macem-macem kok. Cuma satu macam, numpang tidur di tempat tidurmu," ucap Deon tersenyum.


"Kamu mau jelasin apa, hah! Jangan coba-coba menipuku ya Deon. Kalau kamu menipuku, aku kebiri punya kamu," ancam Isna lagi.


"Yee, kalau kamu kebiri, gimana kita punya anak?" tanya Deon.


"Udah kamu mau cerita apa?" tanya Isna.


Deon mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan itu, lalu dia menarik Isna untuk duduk.


"Na, tadi malam aku gak bisa tidur. Aku ketakutan Na. Aku ngerasa ada yang memperhatikan kita Na," ucap Deon memberitahu.


"Kamu ketakutan kenapa?" tanya Isna bingung.


"Aku seperti merasakan ada yang memperhatikan kita di ruangan ini. Terus aku sempat mendengar suara-suara aneh. Makanya aku langsung naik ke atas dan menutup muka ku dengan selimut Na," jelas Deon.


"Kamu jangan nakut-nakutin aku ya De," ucap Isna kesal.


"Beneran Na, aku berani sumpah deh Na. Terus tadi aku seperti mendengar seseorang menangis. Tapi aku takut membuka mata, hingga akhirnya kejadian ini terjadi," jelas Deon lagi.

__ADS_1


"Loh kok sama. Aku juga dengar seseorang menangis. Makanya aku bangun dan terjadi hal ini," balas Isna.


Mereka saling menatap, hingga hitungan detik, keduanya langsung kabur dari dalam kamar menuju kamar Meka.


Deon dan Isna menggedor-gedor kamar Meka. Mereka tak perduli dengan Dosga mereka yang berada di dalam. Mereka takut karena mendengar suara tangisan itu.


"Meka, Meka buka pintunya!" teriak Isna dari luar.


"Mek, cepatan buka pintunya!" pinta Deon yang sudah ketakutan.


Meka yang berada di dalam mendengar suara ribut-ribut dari luar. Lalu dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu. Meka membukakan pintu kamarnya dan melihat sepasang kekasih dengan wajah pucat.


"De, Na, kalian kenapa?" tanya Meka heran.


"Mek di--di dalam kamarku ada suara orang menangis," ucap Isna terbata.


"Be---be--benar Mek, gw juga mendengarnya," sambung Deon.


.


"Masa sih, mungkin kalian masih terbawa suasana mistis tadi, sehingga mendengar hal yang lain," ucap Meka.


"Kami serius Mek, ayo Lo lihat aja sendiri ke dalam kamar," Isna menyuruh Meka masuk ke kamarnya.


Lalu Meka berjalan duluan dan diikuti oleh Isna dan Deon dari belakang. Meka membuka pintu kamar Isna dan langsung mencium aroma busuk di dalamnya.


"Mek, gimana? Apa ada hal yang mencurigakan?" tanya Isna yang mengikutinya di belakang.


"Seperti memang ada hal ghaib disini. Tapi gw gak menemukannya," jawab Meka.


"Lo serius Mek? Berarti benar dong tadi apa yang kami dengar. Suara tangisan perempuan yang memilukan," ungkap Deon.


"Sejak kapan kalian mendengarnya?" tanya Meka penasaran.


"Kalau Deon dari tadi malam mengalami hal aneh. Dan tadi pagi kami berdua mendengar tangisan itu," jelas Isna.


Meka menarik nafasnya seketika dan menghempaskannya perlahan.


"Ayo kita duduk di meja makan aja. Sekalian buat sarapan pagi," ajak Meka.


Isna dan Deon saling menoleh dan mereka bergidik melihat ke dalam ruangan itu. Lalu buru-buru keduanya meninggalkan kamar Isna.


"Meka, ada apa? Apa Lo tau sesuatu?" cecer Isna.

__ADS_1


"Iya Mek, gw jadi gak tenang nih Mek!" seru Deon.


"Kita ngobrol sambil saran aja. Biar agak santai ya," ucap Meka memohon.


"Baiklah, nanti Lo harus menceritakannya. Dan jangan ada yang ditutupi," pinta Deon.


"Ya,asalkan Lo jangan ketakutan," ledek Meka.


Lalu Meka dibantu sama Isna menyiapkan sarapan pagi. Setelah selesai, Meka masuk ke dalam kamarnya dan memberitahukan Zain, kalau sarapannya udah selesai.


"Mas, ayo sarapan. Aku udah buatkan sarapan untuk kamu di meja makan. Isna dan Deon juga sudah menunggu disana," ajak Meka.


Zain membuka matanya dan dia langsung meregangkan otot-ototnya. Lalu dia menatap ke Meka.


"Sayang, apa kamu sudah bangun dari tadi?" tanya Zain.


"Iya Mas, aku udah bangun dari tadi pagi. Tapi ada urusan sedikit sama Deon dan Isna di kamarnya," jawab Meka.


"Oh, bentar sayang, Mas mau cuci muka dulu."


"Iya Mas, aku nunggu kamu disini aja."


Lalu Zain segera mencuci mukanya. Setelah itu dia menghampiri Meka.


"Ayo sayang kita sarapan," ajak Zain.


Meka bangkit dari tempat tidurnya dan mengikuti Zain keluar dari dalam kamar.


Zain dan Meka berjalan ke meja makan. Disana Isna dan Deon sudah mulai menikmati sarapannya.


"Eh Pak Zain, sarapan Pak," ajak Deon.


"Iya silahkan," balas Zain.


Lalu Meka mulai mengambil sarapan di piring Zain. Kemudian dia pun mengambil sarapannya sendiri.


Mereka berempat menikmati sarapan pagi yang sangat nikmat. Apalagi disuasana hujan deras. Membuat Deon dan Isna menambah makanan mereka.


"Mek, ayo cerita, apa yang Lo tau di kamar itu?" Deon yang gak sabaran, langsung memberikan pertanyaan ke Meka.


"Iya Mek, gw penasaran nih," sambung Isna.


Zain menoleh ke Meka, dan mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Emang ada apa sayang?" tanya Zain bingung.


"Itu Mas, tadi mereka berdua mendengar suara tangisan di kamar Isna. Tapi mereka gak bisa melihatnya. Terus pas aku ke sana, aku gak ada dengar sama sekali. Tapi aku mencium aroma busuk di kamar itu. Jadi apa yang kalian dengar itu memang benar ada sosok ghaib disana," jelas Meka


__ADS_2