Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 284


__ADS_3

Supirnya langsung mencari Masjid di dekat dari jalan mereka. Hingga akhirnya mobil berhenti di sebuah Masjid yang ternyata dekat dengan rumah Ustadz Ahamad.


"Ayo Pa, coba temui seseorang yang bisa membantu kita untuk membawa Zain ke Ustadz lain," suruh Mamanya Zain.


"Iya Ma, Papa keluar dulu. Papa akan menemui seseorang yang ada di dalam Masjid," balas suaminya.


Lalu Papanya Zain berjalan ke arah Masjid. Dan dia masuk ke dalam mencari seseorang yang bisa membantunya. Tanpa di duga ternyata Ustadz Ahmad sedang berada di dalam Masjid itu yang baru saja selesai melaksanakan sholat.


Papanya Zain masuk dan bertemu dengan seorang penjaga Masjid.


"Assalammu'alaikum," sapa Papanya Zain.


"Wa'alaikummussalam," balas Bapak tersebut.


"Maaf Pak, kalau boleh saya tau, apakah di sini ada seorang Ustadz yang bisa membantu saya?" tanya Papanya Zain.


Ketika Papanya Zain berbicara, Ustadz Ahmad yang dengan posisi membelakangi mereka, merasa mengenal suara itu. Dia terus mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.


"Seorang Ustadz?" Maaf kalau boleh tau untuk apa ya Pak?" tanya Bapak itu.


"Saya membutuhkan bantuannya untuk menyembuhkan anak saya yang sedang sakit," jawab Papanya Zain.


"Sekarang anak Bapak dimana?" tanya Bapak itu.


"Kami datang dari jauh dan sekarang anak saya sedang berada di mobil bersama istri saya. Saya sangat membutuhkan bantuan seorang Ustadz," ucap Papanya Zain yang sangat berharap dari laki-laki separuh baya.


Lalu laki-laki itu berpikir dan melihat sekeliling ruangan Masjid mencari seseorang yang tak lain adalah Ustadz Ahmad.


"Nah itu Ustadz yang memang biasa menangani hal tak wajar. Bapak bisa menemuinya," balas laki-laki itu. "Mari saya ajak bertemu dengan beliau. Sapa tau bisa membantu Bapak," ajak laki-laki separuh baya itu.


Keduanya berjalan menghampiri Ustadz Ahmad yang sedang melakukan dzikir.


"Assalammu'alaikum Ustadz," sapa laki-laki separuh baya itu.


Ustadz Ahmad seketika menoleh mendongak ke atas. Dia terkejut karena mendapatkan laki-laki yang berdiri disamping laki-laki menyapanya.


"Ustadz Ahmad!" seru Papanya Zain.


Ustadz Ahmad langsung berdiri dan bingung melihat keberadaan Papanya Zain di Masjid ini.


"Bagaimana anda bisa berada di sini Pak?" tanya Ustadz Ahmad.


"Ya Allah Ustadz, Alhamdulillah saya bisa menemukan Ustadz," ucap Papanya Meka penuh syukur dan langsung menyalami tangan Ustadz itu.

__ADS_1


"Ada apa Pak? Kenapa anda ke sini?" tanya Ustadz Ahmad.


"Saya mencari Ustadz dari tadi karena membutuhkan bantuan Ustadz. Ini mengenai Zain, Ustadz," ucap Papanya Zain.


"Ayo bagaimana kalau kita ke rumah saya. Kebetulan rumah saya dekat dari sini," ajak Ustadz Ahmad.


Ustadz Ahmad tidak bisa menebak apa yang terjadi dengan Papanya Zain. Tapi ada rasa kekhawatiran yang terlihat dari wajah Papanya Zain.


Lalu Papanya Zain mengajak Ustadz Ahmad ke mobil mereka.


"Ustadz, Zain ada di dalam mobil. Ayo kita naik ke mobil menuju rumah Ustadz," ajak Papanya Zain.


"Biar saya jalan saja Pak, karena sangat dekat dengan Masjid rumahnya," ucap Ustadz itu yang menolak secara halus.


Tanpa berdebat, Papanya Zain masuk ke dalam mobil. Sementara Ustadz Ahmad berjalan kaki ke rumahnya. Ternyata rumah Ustadz Ahmad berjarak empat rumah dari Masjid. Mobil yang membawa keluarga Zain mengikuti Ustadz itu dari belakang.


Kemudian Ustadz itu masuk ke dalam sebuah rumah yang sederhana dengan halaman yang luas. Mobil juga memasuki area perkarangan rumah itu. Setelah mobil di parkirkan, Papanya Zain langsung keluar dan menggotong Zain ke dalam rumah Ustadz Ahmad yang ternyata sedang terbuka.


Di dalam rumah, Kakek tua dan Papanya Meka mendengar suara mobil di halaman rumah itu. Mereka langsung keluar rumah dan melihat Zain yang sedang di gotong.


"Ya Allah..., apa yang terjadi dengan nak Zain...?" tanya Papanya Meka yang terkejut melihat kedatangan keluarga Zain.


"Ayo bawa masuk Zainnya, cepat," ucap Kakek tua yang memerintahkan mereka langsung membawa Zian ke dalam dan membaringkannya di dalam kamar Kakek tua.


"Iya Bu, ceritanya panjang dan saya sedang menunggu Meka melahirkan di sini," jawab Papanya Meka yang tidak bisa menjelaskan dengan jelas.


"Ada apa Pak?" tanya Nenek tua saat melihat kedatangan keluarga Zain.


"Zain sedang mengalami perjalanan ke alam ghaib," jawab Kakek tua.


"Apa..!" pekik Papanya Zain yang kaget mendengar penuturan Kakek tua.


"Perjalanan ke alam ghaib? Kenapa bisa seperti itu?" tanya Papanya Zain lagi.


"Pa, anak kita kenapa bisa seperti itu? Mama takut Pa," Mamanya Zain langsung memeluk suaminya dengan wajah ketakutan.


"Biarkan Zain bersama Kakek tua di dalam ruangan itu. Lebih baik kita keluar semua," ajak Papanya Meka.


Mereka semua keluar dari dalam kamar itu, kecuali Kakek tua dan Ustadz Ahmad yang masih berada di dalam kamar itu.


"Silahkan duduk Mas. Bisakah anda menceritakan kejadian yang terjadi dengan Zain?" tanya Papanya Meka yang sudah duduk di hadapan keluarga Zain.


"Kami juga tidak tau Pam besan kenapa Zain bisa seperti itu. Ini bermula dari kedatangan kami ke Apartement Zain. Saat itu kami bertemu dengan sepupu Zain yang bernama Mona. Mereka sedang berdua'an di dalam kamar. Karena kami curiga, kami mengusir Mona dan membawa Zain ke rumah. Sejak saat itu sikapnya aneh dan seperti tidak mengenal Meka," ungkap Papanya Zain terus terang.

__ADS_1


"Maksudnya tidak mengenal Meka bagaimana?" tanya Papanya Meka bingung dengan mengerutkan keningnya.


"Karena setiap kami bertanya tentang Meka, Zain seperti sedang berpikir. Dia tidak seperti seseorang yang kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidupnya," jawab Papanya Zain lagi.


Papanya Meka masih bingung dengan penjelasan besannya. Saat mereka berdua ngobrol, istri Ustadz Ahmad datang membawakan minuman hangat untuk orang tua Zain agar lebih tenang.


"Silahkan Pak, Bu diminum dulu biar tenang," Ummi mempersilahkan tamunya untuk minum.


"Terima kasih Bu, saya belum bisa tenang sebelum Zain kembali normal," balas Mamanya Zain yang sedang khawatir.


"Pasrahkan semua sama Allah SWT Bu. Semoga Kakek dan Ustadz bisa membantu nak Zain," ucap istri Ustadz yang memang mencoba membuat hati Mamanya Zain tenang.


"Terima kasih Bu," balas Mamanya Zain dengan wajah khawatirnya.


Lalu Ummi ikut nimbrung duduk bersama mereka. Dan dari arah ruang makan, Nenek tua pun ikut gabung bersama mereka di ruang tamu.


"Maaf Pak besan, dimana Meka?" tanya Mamanya Zain yang tidak melihat adanya Meka.


Papanya Meka mengenal nafas dengan kasar. Dia tidak tau harus menjelaskan dari mana. Dan sulit baginya untuk mengungkapkan jati diri Meka saat ini. Karena menurut penglihatan Papanya Meka, orang tua Zain belum mengetahui kebenarannya tentang Meka dan Zain.


Setelah beberapa jam, akhirnya Kakek tua dan Ustadz Ahmad keluar dari dalam kamar itu. Mereka menghampiri keluarga Zain dan yang lainnya di ruang tamu.


Papanya Meka dan yang lainnya berdiri saat melihat kedatangan Ustadz Ahmad dan Kakek tua.


Wajah Ustadz dan Kakek tua terlihat tegang.


"Bagaimana dengan keadaan Zain, Ustadz?" tanya Papanya Zain dan Meka bersamaan.


Kakek tua menggelengkan kepalanya dan menghembuskan nafas dengan berat. "Kami sudah berusaha, tapi jiwanya belum mau kembali. Mahluk ghaib yang berada di dalam rumah anda sudah membawa jiwa Zain sangat jauh," jawab Kakek tua.


"Ya Allah Zain.....!" Mamanya Zain seketika lemas dan akhirnya pingsan dalam dekapan suaminya.


"Ma, ma bangun ma...!" Papanya Zain kaget dan langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke sofa untuk dibaringkan.


"Hanya ada satu cara agar jiwa nak Zain kembali," ucap Kakek tua.


Mereka semua yang berada di ruangan itu langsung menoleh ke arah Kakek tua. Terutama Papanya Zain yang sangat berharap anaknya bisa kembali ke mereka.


"Bu, tolong ambilkan air putih, bawakan ke sini satu gelas saja," suruh suaminya.


"Baik Ustadz," balas istrinya. Lalu Ummi pergi ke ruang makan mengambil segelas air putih dan kembali ke ruangan itu. Lalu dia menyerahkan gelas itu ke Ustadz.


"Ini Ustadz," Ummi memberikan gelas berisi air putih ke tanga Ustadz Ahmad.

__ADS_1


"Terima kasih Bu," balas Ustadz Ahmad dengan mengangguk.


__ADS_2