Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 144


__ADS_3

Zain melirik sekilas ke arah Meka. Dia menjadi gelisah kembali dengan sikap Meka yang tampak tak bersemangat.


"Sayang, kamu sedang melamunkan apa?" tanya Zain.


"Ah tidak ada Mas. Aku hanya menikmati pemandangan dari luar jendela ini. Melihat orang-orang dan mobil yang hilir mudik, rasanya senang aja karena banyak warna-warni dan berbagai macam model manusia dan mobil yang dilihat," jawab Meka.


"Oh..., Mas kira kamu sedang melamun."


"Mas, nanti kita main yuk ke rumah Mama. Sudah lama kan kita gak kesana," ajak Meka yang teringat mertuanya.


"Iya sayang, nanti kita kerumah Mama ya. Tapi Mas akan menghubungi Mama dulu, siapa tau gak dirumah, ya kan," ucap Zain yang menyetujui ajakan Meka.


"Iya Mas."


Tak lama kemudian, mereka sampai di Kampus. Zain dan Meka keluar dari mobil dan berjalan memasuki Kampus. Meka sudah terbiasa mendengar cibiran dari Mahasiswa lainnya tentang dia dan Dosga mereka. Namun bagi Meka itu bukanlah hal yang penting untuk di dengar.


Sedangkan Deon dan Isna, masih belom sampai. Mereka terjebak macet karena lampu merah.


"De, aku kasihan lihat Meka. Dia sangat kuat menjalani semua yang dialaminya. Kalau aku di posisi dia, udah bingung mau berbuat apa," Isna membuka obrolan.


"Iya Na, tapi syukurnya ada Pak Zain ya yang sangat menyayanginya dan memperhatikannya. Selain itu juga Pak Zain mau menerima kelebihan Meka itu. Sebagian orang kan menganggap hal itu impossible. Atau bahkan dibilang aneh, mengada-ada. Tapi Dosga kita menerimanya dengan lapang dada," sambung Deon.


"Menurut kamu apa ya De, maksud dari mimpi Meka itu?" tanya Isna penasaran.


"Aku gak taulah Na, aku tidak punya kelebihan buat mengetahuinya," jawab Deon.


"Tapi serem juga ya De, mimpi seperti itu. Kalau aku sih udah pasti pingsan melihat semua itu," ucap Isna lagi.


"Hahahaha, sama dong kita sayang," balas Deon dengan terbahak-bahak.


"Yeee, maunya kamu."


"Kita emang sehati banget ya Na, sama-sama penakut," ledek Deon lagi.


"Udah fokus aja nyetirnya. Nanti salah jalan lagi," ucap Isna cemberut.


"Nih kita udah mau sampai. Kayaknya mereka udah sampai deh. Tuh mobil Pak Zain," tunjuk Deon saat memasuki Kampus dan memarkirkan mobilnya.


"Ya udah, aku hubungi Meka dulu ya. Dia di ruangan Pak Zain atau di dalam kelas," ucap Isna mengambil ponselnya.


Lalu Isna menghubungi no Meka dan bertanya posisi Meka saat ini. Setelah mengetahui Meka dimana, Isna dan Deon berjalan ke arah ruangan Dosga mereka.


"Tok tok tok, Mek!" panggil Isna dari luar ruangan Dosganya.


Lalu pintu ruangan itu terbuka lebar. Meka keluar dari ruangan itu.


"Ayo, kenapa kalian bisa lama sampainya Na?" tanya Meka.


"Iya tadi kejebak mecet lampu merah Mek. Kalian udah lama sampai?" tanya Isna balik.


"Udah setengah jam yang lalu sih Na, gw disuruh nunggu kalian diruangan Pak Zain," ucap Meka memberitahu.


"Ya udah yuk kita ke kelas. Gw mau pinjem tugas dari Lo biar bisa gw kerjain," pinta Isna.

__ADS_1


"Gw juga ya Mek, nyontek dulu kali ini. Karena lagi ada hambatan saat mengerjakannya hehehe," sambung Deon cengengesan.


"Ah kamu De, ikutan mulu," protes Isna.


"Namanya juga sehati, pasti kemana pun kamu pergi, apa pun yang kamu lakukan, pasti aku melakukannya juga hehehe," balas Deon cengengesan.


"Kalau aku nyetor di kamar mandi, kamu juga ikut?" tanya Isna yang hendak mengerjain Deon.


"Ya kalau kamu izinin sayang," jawab Deon konyol.


"Ihhhhh jorok amat sih kamu Deon. Udah ah jangan bahas gituan," rajuk Isna.


"Lah yang bahas kan kamu sayang, aku mah ngikut aja," balas Deon lagi.


Isna semakin kesal mendengar balasan Deon yang nyebelin. Dia memilih diam sepanjang jalan menuju ruangan mereka.


Sedangkan Meka tak ingin menjadi penengah diantara mereka. Karena sejatinya mereka memang sering bertengkar konyol.


Sesampainya di ruangan kelas, Meka langsung mengeluarkan buku tugasnya dan menyerahkannya ke Isna dan Deon.


"Nih cepatan kalian kerjakan. Kalau bisa jangan sama persis banget ya jawabannya. Ya agak ngarang-ngarang dikit lah," ucap Meka mengingatkan keduanya.


"Sip deh. Akan kami laksanakan," balas Deon dengan semangat.


Kemudian Deon dan Isna mulai mengerjakan tugas mereka sebelum Dosen masuk ke dalam kelas.


Sementara Meka, memainkan ponselnya. Lalu gak sengaja dia melihat postingan ucapan bela sungkawa dari salah satu sosmed yang digunakan Meka. Dia melihat Eko mantannya sahabatnya memposting wajah Bu Arin yang sedang terbaring dengan kain kafan.


Meka menoleh ke arah Deon dan Isna. Dia ingin memberi tahu, namun Meka melihat mereka berdua sedang terburu-buru mengerjakan tugasnya. Meka tak mau mengganggu hingga membuat mereka tak konsentrasi mengerjakan tugas. Jadi Meka menyimpannya sendiri sampai selesai jam kuliah nanti.


Akhirnya Deon dan Isna selesai mengerjakan tugas mereka secara instan.


"Mek, thanks ya contekan dadakannya," ucap Isna.


"Iya Mek, gw juga mengucapkan banyak terima kasih," sambung Deon sambil membungkukkan kepalanya sedikit.


"Apaan sih Lo Deon. Konyol banget," ucap Meka.


"Eh tuh Dosennya datang, syukur udah selesai," ucap Deon sambil mengelus dadanya.


Lalu Dosen pun masuk ke dalam kelas mereka. Sebelum Dosen itu memberikan materinya, dia menyampaikan sesuatu yang mengejutkan isi ruangan itu.


"Saya ada pemberitahuan yang akan membuat kalian terkejut. Tadi malam salah satu Dosen kita yang perempuan telah berpulang ke Rahmatullah," ucap Dosen itu memberitahu.


Meka, Isna dan Deon saling menatap satu sama lain. Mereka sudah tak terkejut lagi mendengarnya karena Meka sudah memberitahukannya.


"Siapa Pak nama Dosen itu?" tanya salah satu Mahasiswa yang penasaran.


"Beliau adalah Bu Arin, Dosen yang baik di Kampus kita. Bagi kalian yang ingin melayat, silahkan ke rumahnya," jawab Dosennya itu.


"Boleh minta alamatnya Pak?" tanya Mahasiswa lainnya.


"Bisa, saya akan tuliskan di Papan tulis aja. Kalian bisa mencatat alamatnya. Beliau akan di kebumikan jam 1 siang," jawab Dosennya.

__ADS_1


"Baik kita akan mulai kuliah kita hari ini ya. Saya akan mengabsen satu persatu dulu ya."


Lalu Dosen itu memberikan pelajaran materi yang sudah disiapkannya.


Waktu pun terus berlalu, pelajaran selesai tepat waktu. Dosen itu keluar dari ruangan kelas. Setelah Dosennya keluar, Isna dan Deon langsung menghampiri Meka.


"Eh Mek, apa yang Lo katakan kemaren ternyata benar. Terus gimana sekarang, apa kita kesana melayat?" tanya Deon.


"Menurut kalian gimana?" tanya Meka balik.


"Sebaiknya kita ikut ngelayat, karena bagaimanapun beliau Dosen kita juga," jawab Isna bijak.


"Tapi gw khawatir Na dengan kedua orang tuanya. Mereka mengenal gw dan Pak Zain. Gw gak mau membuat keributan disana," jelas Meka.


"Iya juga sih. Ya terserah deh Mek. Emang mereka mengingatnya? Apakah mereka juga tidak hilang ingatan?" tanya Deon penasaran.


"Tidak De, mereka yang ada di Desa tua itu tidak hilang ingatan," jawab Meka serius.


"Kenapa bisa begitu Mek?" tanya Isna yang semakin penasaran.


"Karena mereka penduduk disana. Mereka sudah menetap disana dan sudah terikat dengan Desa itu. Hanya pendatang yang di buat hilang ingatan oleh Khodam yang ada di dekatku," jelas Meka.


"Coba Lo tanya Pak Zain, apa beliau juga gak akan ngelayat?" tanya Deon.


"Iya sih, ayo kita ke ruangannya," ajak Meka.


Kemudian mereka bertiga pergi keruangan Dosga mereka. Sesampainya di ruangan Zain, meka tidak melihat suaminya di ruangan itu. Lalu mereka bertiga menunggu kedatangan Dosganya.


"Apa Pak Zain lagi mengajar ya?" tanya Deon.


"Mungkin baru selesai mengajarnya. Kita tunggu aja," jawab Isna.


"Oh ya Na, De, nanti setelah selesai membantu kalian pindahan, gw sama Pak Zain mau berkunjung ke rumah mertua dulu. Jadi gw gak bisa lama-lama di kost Lo nanti ya," ucap Meka memberitahu.


"Ya udah gak apa Mek, gw dibantu aja udah senang banget," balas Isna.


"Iya Mek, kami senang kalau Lo mau nemani ke kostan nanti," sambung Deon.


Saat mereka ngobrol, pintu ruangan itu terbuka. Ternyata Dosga mereka yang masuk ke ruangan itu.


"Loh sayang, udah dari tadi disini?" tanya Zain.


"Ya lumayan Mas," jawab Meka.


"Deon, Isna kalian juga disini?" tanya Zain lagi.


"Iya Pak, kami mau nanyain soal Bu Arin. Tadi kami udah dapat khabar mengenai Bu Arin dari Dosen yang masuk ke kelas kami. Apa Pak Zain mau ngelayat kesana?" tanya Deon.


"Sepertinya tidak, Saya khawatir akan terjadi hal yang tak diinginkan," jawabnya.


"Wah kok sama persis ya Pak sama jawaban Meka," balas Isna.


Zain menoleh ke istrinya dan menatap dengan wajah lembutnya.

__ADS_1


__ADS_2