Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 227


__ADS_3

Seseorang yang di suruh mematai Zain dan Meka di dalam rumah itu adalah pembantu yang di berikan Mamanya Mona untuk membantu persiapan syukuran atas kehamilan Meka.


Kemaren ketika Zain dan Meka memutuskan kembali ke Apartement paginya. Mamanya menghubungi keluarga mereka untuk memberikan khabar gembira atas kehamilan Meka sekaligus syukurannya. Dan saat itu Mamanya menghubungi Mamanya Mona untuk meminta mereka mau membantu persiapan acara syukurannya.


Pada saat itu ide muncul di benak Mamanya Mona untuk memata-matai keberadaan Zain dan Meka di rumah itu. Dia pun datang ke kediaman Mamanya Zain dengan membawa seorang perempuan yang masih muda.


"Jeng, nih saya bawakan orang untuk bantu-bantu di sini biar si Bibi tidak kewalahan. Karena Meka sudah berada di sini, jadi saya tidak mau dia kerepotan ikut mengurus persiapan acaranya," ucap Mamanya Mona yang mencoba bermanis-manis agar tujuannya tercapai.


"Wah...kebetulan sekali, saya juga sedang membutuhkan tambahan tenaga di rumah ini untuk membantu si Bibi. Makasih banyak loh Mamanya Mona," balas Mamanya Zain.


"Oh ya Monanya kemana ya, kok gak ikut datang ke sini?" tapi tanya Mamanya Zain yang heran melihat Mona yang tak biasa tidak ikut kalau Mamanya datang ke rumah Zain.


"Oh itu, si Mona lagi ada urusan ke luar Kota. Biasalah jeng, lagi jalan-jalan liburan bersama teman-temannya," bohong Mamanya Mona.


"Gak tau dia, padahal si Mona lagi main kuda-kudaan sama dukun tua itu di sana. Duh kuat gak ya si Mona melayani dukun itu. Gila tuh dukun, matanya jeli aja ngelihat yang bening," bathin Mamanya Mona sambil tersenyum.


"Oh...., berarti nanti gak bisa dong Monanya datang ke acara syukuran di sini?" tanya Mamanya Zain.


"Nanti saya akan khabari Monanya ya jeng. Mudah-mudahan dia bisa hadir. Kan dia gak bisa jauh-jauh dari Zain," jawab Mamanya Mona.


"Duh kamu ini, Zainnya sudah berumah tangga dan sebentar lagi punya anak. Monanya gak boleh seperti itu. Mendingan dia nyari laki-laki lain yang bisa memberinya kebahagiaan," nasehat Mamanya Zain.


"Gimana ya jeng, Monanya tuh udah cinta banget sama si Zain. Dia gak bisa melupakan cinta pertamanya. Andai aja Zain mau jadikan Mona istri keduanya, pasti Monanya bahagia banget jeng," ucap Mamanya Mona tak tau malu.


Mamanya Zain terdiam, ada rasa jijik melihat iparnya ini. Ingin marah tapi dia khawatir dengan kondisi Meka. Mamanya Zain takut melihat Mona yang sangat berambisi terhadap anaknya. Namun dia juga gak bisa melarang mereka untuk datang ke sini karena mereka berstatus ipar. Selain itu mereka juga di dukung sama Mama mertuanya sehingga membuat Mona dan keluarganya besar kepala.


"Oh ya jeng, Maaf saya harus pergi dulu karena sudah janji sama seorang EO untuk membuat acara syukurannya," ucap Mamanya Zain yang sengaja mengusir pergi iparnya.


"Oh ya sudah kalau begitu, ini namanya Hera, dia akan membantu si Bibi di rumah ini. Jangan sungkan-sungkan menyuruhnya ya jeng," ucap Mamanya Mona yang menyodorkan orang suruhannya.


"Ah terima kasih karena sudah membantu saya mendapatkan tenaga tambahan," balas Mamanya Zain.


"Sudah seharusnya saya membantu ipar loh," ucap Mamanya Mona penuh maksa dan menyunggingkan sedikit senyumannya.

__ADS_1


Kembali ke Meka dan Zain yang saat ini sedang bersiap-siap untuk melaksanakan Sholat Maghrib bersama.


"Ayo sayang, kamu udah siapkan?" tanya Zain yang melihat Meka menggunakan mukenanya.


"Sudah Mas, ayo," ajak Meka.


Mereka pun melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai, keduanya kembali duduk di sofa sambil menunggu pelayan memanggil mereka untuk makan malam.


"Mas, kamu ngerasa gak tadi sepertinya ada yang sedang menguping pembicaraan kita saat aku melihat mahluk itu," Meka tiba-tiba teringat akan kejadian tadi siang.


"Ah, masa sih sayang?" tanya Zain yang memang tidak mengetahuinya. "Mungkin itu perasaan kamu aja sayang."


Meka menggelengkan kepalanya dan yakin akan apa yang di rasakannya dan di dengarnya.


"Tidak Mas, gak sengaja saat aku menghadap ke kamu, aku melihat ada gerakan di bawah celah pintu itu. Karena pintu kamar itu tidak rapat menyentuh lantai," ungkap Meka meyakinkan Zain.


"Siapa yang menguping?" tanya Zain dengan mengerutkan keningnya. "Gak mungkin kan Mama, apalagi si Bibi yang sudah lama bekerja di sini," ucapnya.


"Aku juga gak tau Mas. Tapi aku yakin ada seseorang yang sedang menguping di balik pintu itu."


Meka menyandarkan tubuhnya di bahu Zain. Dia masih mengingat jelas bagaimana tatapan mata mahluk itu terhadapnya. Penuh dengan ejekan dan sekaan-akan ingin memangsa Meka hidup-hidup.


"Apa mahluk itu menginginkan janin dalam kandunganku ya Mas," ucap Meka bergumam tanpa sadar.


"Hah, Kam ngomong apa sayang?" tanya Zain bingung.


"Itu Mas, apa jangan-jangan mahluk itu menginginkan janin di dalam rahimku ini ya Mas?" tanya Meka sambil mengusap perutnya.


"Mas pikir tidak sayang. Lalu memang dia menginginkan janin ini, kenapa mahluk itu meneror Mas saat sendiri?" Zain malah balik bertanya.


"Iya juga ya Mas. Tapi apa yang diinginkan mahluk itu Mas?" Meka malah melemparkan pertanyaan balik.


Mereka berdua tak henti-hentinya saling memberikan pertanyaan yang tak tau jawabannya. Hingga terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.

__ADS_1


"Tok tok tok, Zain, Meka..ayo makan!" panggil Mamanya dari luar kamar.


"Tuh Mama sudah memanggil kita untuk makan. Ayo sayang, kasihan si kecil pasti udah laper," ucap Zain yang mengajak Meka keluar dari kamar.


"Iya Mas, anak kita ini pasti udah laper." Meka mengusap lembut perutnya.


Zain dan Meka keluar dari dalam kamar dan mendapati Mamanya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


"Zain, kenapa kamu membiarkan Meka belum makan?" marah Mamanya.


"Bukan membiarkannya tidak makan Ma. Tadi kami ngobrol dulu habis Maghrib, tapi malah kelupaan buat makan," bantah Zain.


"Sepertinya penting banget yang di bahas sampai lupa makan," celetuk Mamanya. "Ayo kita makan, Papa kamu sudah nungguin di sana," ajak Mamanya.


"Iya Mama, yuk sayang," ajak Zain.


"Kamu duluan aja, biar Meka sama Mama," suruh Mamanya. "Ayo sayang kita makan, nih cucu Nenek pasti udah kelaparan," ucap Mamanya sambil mengusap lembut perut Meka.


Ketiganya pun berjalan ke arah ruang makan. Disana Papanya Zain sudah menunggu kedatangan mereka.


"Zain, kenapa lama sekali. Papa sudah laper nih."


"Iya Pa, maaf karena tadi lagi membahas tentang si kecil yang di dalam sini," balas Zain sambil menunjuk ke arah perut Meka.


"Ya sudah, ayo kita makan. Kasihan Meka dan anak kamu pasti kelaparan."


Lalu Zain dan Meka duduk berdampingan. Mereka pun menikmati makan malam bersama. Obrolan ringan pun terjadi di atas meja makan. Mereka membahas seputar acara syukuran nanti. Dan pembahasan yang menyita perhatian dan pendengaran Meka tentang kedatangan Mamanya Mona yang memberikan tenaga bantuan.


Meka langsung teringat akan seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka. Ntah seberapa banyak orang itu mendengarkan apa yang di bahas kemaren.


Tepat saat Meka sedikit melamun, tiba-tiba orang itu datang menghampiri meja makan dan memberikan hidangan penutup.


"Silahkan Nyonya, tuan," ucapnya.

__ADS_1


Meka tersadar mendengar suaranya dan menoleh ke arah orang tersebut.


__ADS_2