Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 277


__ADS_3

Papanya Zain merasa melupakan anak dan menantunya. Lalu dia langsung menghubungi Zain. Nada dering terdengar berbunyi, namun Zain belum juga mengangkatnya.


"Kemana dia? Jangan bilang dia masih di luar bersama Mona?" Papanya Zain menoleh ke arah istrinya dengan mengerutkan keningnya.


"Pa, ada apa? Kok Papa seperti menyembunyikan sesuatu?" tanya istrinya bingung yang melihat wajah suaminya.


"Ma, maaf karena Papa tidak cerita ke Mama. Papa hanya mengikuti kemauan Zain agar tidak mengatakannya ke Mama," jawab suaminya dengan wajah bersalah.


"Maksud Papa apa? Apa yang kalian sembunyikan dari Mama?" tanya istrinya yang mulai curiga.


"Papa juga tidak tau Ma, apakah Zain jadi ikut ke Medan atau tidak. Karena sampai saat ini dia dan Meka belum ada kasih khabar ke Papa. Dan saat Mama tadi bilang kalau ada yang melihat Mona berjalan bergandengan dengan Zain, Papa merasa cemas Ma," ungkap suaminya masih dengan wajah bersalah.


"Jadi maksud Papa, Zain tidak jadi ke Medan? Terus kenapa dia tidak datang berkunjung ke sini?" Mamanya Zain semakin bingung. "Coba Papa hubungi Zain lagi," pinta Mamanya yang juga merasa cemas.


Papanya Zain mencoba menghubungi Zain, hingga beberapa kali berdering, Zain tidak juga mengangkatnya. "Suaminya menggeleng mengatakan bahwa tidak ada tanggapan dari Zain,"


Mamanya semakin gelisah, dia pun mondar-mandir di hadapan suaminya. "Ayo Pa lebih baik sekarang kita ke Apartement Zain. Mama khawatir dengan Mona yang berada di dekat Zain," ajak istrinya.


"Ayo Ma, lebih baik sekarang kita lihat mereka, apakah sedang di Apartement atau masih di luar," suaminya pun setuju.


Papa dan Mamanya Zain bergegas ke Apartment Zain. Kegelisahan yang di rasakan mereka tentang Zain terbukti benar.


Saat ini Mona dan Zain sedang menghabiskan waktu berdua di Mall. Mereka makan malam di sebuah cafe yang sangat romantis.


"Mas Zain, Mona senang banget akhirnya Mas mau menerima Mona. Apa Mas sadar sekarang bahwa Meka tidak baik?" tanya Mona yang duduk di hadapan Zain.


Zain yang sudah sangat terpengaruh oleh susuk Mona, menjawab "Mas tidak bisa mengatakan menyesal Mona. Tapi Mas sudah salah memilihnya," jawab Zain.


"Makanya Mona menyelamatkan Mas agar tidak terus berlanjut dengannya. Mona rasa dia menggunakan guna-guna agar Mas terpikat dengannya," Mona terus memprovokasi Zain tentang Meka.


"Mas ingin membuka lembaran baru Mon. Apakah kamu bersedia menerima Mas yang sudah pernah menikah?" tanya Zain yang tersenyum melihat Mona.


Mona betapa terkejutnya dia mendengar Zain memintanya menjadi istrinya. Hati Mona berbunga-bunga, dia ingin menari-nari saat ini karena bahagianya.


"Iya Mas Mona mau, mau banget," jawab Mona bersemangat dan antusias.


"Nanti setelah Mas menyelesaikan urusan Mas dengan Meka, kita akan segera menikah,"ucap Zain.


Zain tak menyadari apa yang di ucapkannya. Dia sudah terpengaruh oleh susuk Mona. Mona yang selalu menempel kayak perangko dengan Zain, terus memberikan perhatian agar Zain melihatnya berbeda. Saat ini Mona sengaja meminta kepada Zain agar dia menonaktifkan ponselnya demi keromantisan mereka yang sedang berlangsung. Zain pun menyetujuinya. Sehingga Mama dan Papanya Zain tidak bisa menghubunginya.

__ADS_1


"Mas, gimana kalau kita kembali ke Apartement kamu. Kita rayakan berdua malam ini kebersamaan kita. Aku ingin melakukan malam pertama duluan dengan kamu Mas," bisik Mona dengan suara dibuat manja.


"Heum," Zain mengangguk menuruti kemauan Mona.


Mona sangat bahagia, karena keinginan dan tujuannya untuk mendapatkan Zain akhirnya sudah berhasil. Dia tinggal membuat Zain sah bercerai dengan Meka dan mereka segera menikah.


Tiba-tiba iblisnya Mona muncul di hadapannya dan mengatakan sesuatu.


"Kaau jaangaan lupa meenyeediaakan tuumbaal untuk kuu. Aakuu meembuutuhkaannya, maalam iini kaau haarus meenyediakaannya," ucap iblis itu yang sudah menginginkan tumbal.


"Kalau aku tidak bisa menyediakan tumbal janin bagaimana? Apakah aku bisa memberikan tumbal yang lainnya?" tanya Mona dalam hatinya. "Kalau malam ini aku memberimu tumbal itu tidak mungkin, karena aku akan melakukan penyatuan dengan dia," ucapnya dengan mengarahkan matanya ke Zain.


Setiap Mona memberikan tumbal ke iblis itu, dia harus melakukan ritual malam dengan dukun itu yang tak lain adalah iblis itu dan Mona juga harus ikut menikmati janinnya.


"Baik, beesok kaau haarus meenyediakaannya," ucap iblis itu yang tak mau lagi kompromi. Lalu iblis itu menghilang dari hadapan Mona.


Mona kembali menatap ke Zain yang sedang menikmati minumannya yang masih ada.


"Ayo Mas kita kembali ke Apartement," ajak Mona. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Dia ingin segera merasakan tubuh Zain yang sudah sering dibayangkannya.


"Ayo, kita akan melakukannya," balas Zain dengan tersenyum hampa.


Saat di jalan, ponsel Mona berdering. Mona melihat ponselnya di dalam tas. Lalu dia mengecek nama yang tertera.


"Ah si Mama, ya Ma ada apa?" tanya Mona yang malas-malasan menerimanya.


"Mona kamu dimana sekarang? Sayang bisa tidak kamu mengirimkan Mama uang sekarang? Mama kehabisan uang nih!" ucap Mamanya yang ternyata menghubungi Mona hanya untuk memeras uangnya.


"Loh Mama dimana sekarang?" tanya Mona sambil melirik Zain.


"Mama masih di luar kota sayang. Tapi saat ini Mama sudah kehabisan dana. Mama tidak mungkin meminta sama Papa kamu. Mau ya kirim buat Mama," ucap Mamanya dengan merengek.


"Baiklah Ma, karena hari ini Mona merasa bahagia, jadi Mona akan kirimkan uang untuk Mama beserta bonus tambahan," ucap Mona sambil tersenyum bahagia.


"Wah sayang, apa sudah ada perkembangan?" tanya Mamanya penasaran.


"Ya begitulah Ma. Hari ini Mona sedang bersama Mas Zain. Nih kami baru selesai jalan-jalan Ma," ucap Mona memberitahu.


"Kamu lagi sama Zain sekarang?" tanya Mamanya lagi yang makin penasaran.

__ADS_1


"Iya Ma, aku lagi sama Mas Zain. Dan malam ini kami akan menghabiskan waktu bersama," ucap Mona dengan suara pelannya.


"Wah sayang....kamu hebat. Apa kamu sering memberikan tumbal untuk iblis itu?" tanya nya.


"Ya, kemaren malam dua makanan Ma, makanya langsung mendapatkan Mas Zain," jawab Mona senyum-senyum.


"Mantep, kalau begitu selamat menikmati malam yang panjang sayang. Jangan lupa kirim uang buat Mama ya. Jangan lupa, Mama tunggu," ucap Mamanya memastikan.


"Iya, iya Ma, nih langsung Mona kirim buat Mama. Ingat jangan ganggu Mona sampai besok," balas Mona.


Setelah itu obrolan pun berkahir. Mona segera mengirim uang untuk Mamanya dan bonus karena hari ini Mona merasa bahagia.


Beberapa jam menempuh perjalanan ke Apartemen, akhirnya mereka sampai juga.


"Ayo kita sudah sampai," ucap Zain.


"Ah iya Mas, ayo kita masuk. Aku sangat bahagia makanya gugup Mas," ucap Mona malu-malu.


Mona menggandeng lengan Zain, mereka berjalan masuk ke arah Apartement Zain.


Sesampainya di dalam kamar, Mona segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur milik Zain.


Zain menatap serius ke arah Mona. Mona mulai membaca mantranya lagi dan memberikannya melalui kecupan jarak jauh. Hingga cahaya kecil keluar dari mulut Mona yang hanya bisa di lihat olehnya saja menyatu ke mata Zain hingga membuat Zain terpesona melihat tubuh Mona yang sudah berada di atas tempat tidur.


"Mas, ayo kemari," panggil Mona dengan manjanya.


Zain masih diam berdiri di depan Mona, ntah kenapa hatinya merasa bergejolak antara menolak atau melangkah.


Sementara Mama dan Papanya Zain sudah hampir sampai di Apartement Zain. Mereka berdua tampak gelisah memikirkan Zain.


Setelah sampai, mereka bergegas menuju ruangan Apartement Zain.


"Ayo Pa cepatan...," Mamanya berjalan cepat sambil menarik tangan suaminya agar segera ke ruangan Zain.


"Iya Ma, ini juga sudah cepat jalannya. Mama pakai heels gitu, apa gak takut keplekok dengan jalan buru-buru gitu," goda Papanya Zain yang mencoba mencairkan suasana.


"Udah ah Pa, jangan pikirkan sepatu hak tinggi Mama. Kita harus menyelamatkan Zain kalau benar si Mona di sana. Mama jijik lihat perempuan itu," balas istrinya yang sudah tidak sabaran.


Mereka terus berjalan hingga sampai di depan pintu ruangan Apartementnya Zain.

__ADS_1


__ADS_2