Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 191


__ADS_3

Di dalam mobil, Zain memfokuskan pikirannya dengan memejamkan matanya. Dia menggenggam tangan Meka dengan sedikit rasa takut bercampur khawatir. Dengan hitungan menit, Zain sudah berpindah tempat ke ruang tamu rumah Ustadz Ahmad.


Meka masih menatap ke arah tempat Zain duduk sebelum tubuhnya berpindah.


"Meka, lebih baik kita segera berangkat. Karena waktu kita tidak lama," tegur Kakek tua itu.


Meka tersadar dan langsung mengangguk. Dia pun pindah ke depan untuk membawa mobil ke Desa tua.


"Ayo kek, apakah Kakek sudah siap menghadapi mahluk-mahluk itu?" tanya Meka.


"Siap gak siap, kita harus menghadapinya Meka," jawab Kakek itu.


"Heum," balas Meka.


Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju Desa tua. Selama perjalanan Meka terus memikirkan Zain yang berada di rumah Ustadz Ahmad.


"Meka jangan melamun, fokus ke depan. Sebentar lagi kalian akan memasuki kawasan hutan terlarang. Harus waspada walaupun aku membuat pagar ghaib untuk kalian, tapi kamu jangan lengah terhadap sekeliling," peringat Khodamnya.


"Baik, aku akan fokus," balas Meka.


Lalu mobil itu berhenti sejenak di depan pintuasuk hutan terlarang. Meka melihat ke depan, disana banyak mahluk tak kasat mata beraktifitas. Kabut pun mulai berkumpul menghalangi pemandangan Meka dan Kakek itu agar tak sampai ke Desa tua.


Kabut yang awalnya tidak ada, begitu merasakan kehadiran Meka dan Kakek itu yang pernah berasal dari Desa itu terendus oleh mahluk-mahluk itu, sehingga mereka berkumpul ditengah-tengah jalan di sepanjang hutan itu menuju gapura Desa tua.


"Gimana kek, kabut itu menghalangi pandangan saya, saya tidak bisa melihatnya dengan jelas jalan itu," tanya Meka yang meminta pendapat Kakek itu.


Lalu si Khodamnya Meka menyela ucapan Meka dan berkata.


"Jalan Meka, aku yang akan menuntun kamu untuk terus berjalan hingga sampai ke tujuan kalian," bisik Khodamnya tiba-tiba.


"Baiklah, aku akan mencobanya, Bismillahirrahmanirrahim," ucap Meka.


Meka menarik nafasnya perlahan dan membuangnya dengan berat.


"Ayo kita mulai menyelesaikan masalah ini. Aku tidak akan membiarkan iblis itu menyentuh suamiku," bathin Meka menguatkan dirinya sendiri dengan keberanian yang membara.

__ADS_1


Meka pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sedikit kencang. Dia tidak ingin berhenti ataupun terkecoh dengan kejadian yang aneh nantinya.


Sesaat mereka tidak merasakan hal yang aneh, namun ketika mobil itu hendak melewati kabut itu, mobil yang di bawa Meka terguncang hebat seperti melewati bebatuan-bebatuan besar.


"Kek, pegangan, mahluk itu mencoba menyentuh mobil ini!" ucap Meka dengan berteriak.


Ketika mereka memasuki kabut itu, suara berisik yang membuat telinga mereka berdengung hingga merasakan sakit. Meka menahan rasa sakit itu dan berkonsentrasi menjalankan mobil itu.


"Terus nak Meka, jangan berhenti....!" teriak Kakek tua itu.


Suara-suara itu semakin kuat dan banyak, membuat Meka berkeringat dingin. Walaupun mereka sudah di batasi dengan pagar ghaib, gangguan seperti itu akan tetap bisa menembusnya. Namun mahluk-mahluk itu tidak akan bisa menyentuh mereka berdua selama pagar ghaib itu ada melindungi mereka.


"Meka fokus....., kalian akan segera sampai!" ucap Khodamnya Meka.


Khodamnya Meka tidak ingin terlibat saat ini, karena akan ada hal yang lebih dahsyat nantinya untuk di hadapinya. Dia hanya membantu Meka dengan sedikit bantuan.


Meka terbatuk-batuk hingga memuntahkan darah merah, begitu juga si Kakek tua itu. Iblis itu tau bahwa mahluk yang dikirimnya untuk menghentikan Meka dan Kakek itu tidak akan bisa menyentuh mereka berdua. Tapi dengan membuat kebisingan dengan ribuan mahluk ghaib, itu akan menghentikan perjalanan Meka.


Namun Meka terus berusaha hingga dia menancapkan gasnya dengan kecepatan tinggi agar keluar dari kabut itu.


Meka terus melajukan mobilnya hingga mereka keluar dari kabut pekat itu dan berhenti di dalam gapura Desa tua.


Meka langsung muntah-muntah darah dengan wajah pucat dan tubuh yang lemas.


"Kek, apa kita masih hidup?" tanya Meka ambigu.


"Meka kamu berhasil, uhuk uhuk uhuk," Kakek tua itu pun batuk dan mengeluarkan seteguk darah segar dari mulutnya.


"Lebih baik kalian pulihkan tenaga terlebih dahulu. Meka, bawa mobil ini langsung ke rumah Ki Baron. Dia sedang berada disana," perintah Khodamnya.


Meka masih mengatur degup jantungnya yang masih deg-degan. Sesaat dia menoleh ke belakang melihat kabut itu sudah tidak seperti tadi berkumpul. Mahluk-mahluk itu tidak bisa memasuki wilayah Desa tua sebelum waktu menjelang malam. Karena itu sudah kesempatan yang dilakukan Ki Baron dulunya. Sehingga mahluk-mahluk itu hanya bisa melihat ke arah mobil Meka dengan tatapan menggeram dan dengan gerakan tangan ingin menggapai keduanya.


"Kek, ayo kita lanjut perjalanannya ini. Kita akan langsung ke tempat Ki Baron. Kakek bisa menunjukkan arah jalannya," ucap Meka.


"Iya nak Meka," balas Kakek tua itu dengan tubuh yang masih lemah.

__ADS_1


Meka pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah Ki Baron. Mereka melewati rumah besar tempat pembantaian teman-temannya waktu itu. Meka merasakan kesedihan yang amat pedih, kala mengingat sahabatnya Asih ketika ikut bersamanya dalam kegiatan itu.


"Maafkan gw Sih, Lo harus mengantarkan nyawa Lo kemari. Gw benar-benar menyesal Asih," gumam Meka. Tak terasa air matanya menetes.


Saat mereka melewati rumah besar itu, Meka mendengar teriakan-teriakan kesakitan dan minta tolong dari dalam rumah itu. Dan Meka sekilas melihat keberadaan Asih yang sedang melambaikan tangannya di depan pintu rumah itu dengan wajah senyum menyeringai.


"Tooolooong aakuuu Meeekaaa. Tooolooong baaawaaa aaaakuuu daaariii siiniii," teriak Asih dengan melambaikan tangannya ke Meka.


"Tooolooong kaaamiiiii......!" teriak yang lainnya.


"Aaaaaaaaaa, saaakiiiit, tooolooong," masih banyak teriakan kesakitan dari yang lainnya.


"Jangan melihat kesana Meka. Mereka bukan lagi orang yang kamu kenal. Mereka sudah berbeda. Jangan mempercayai mereka lagi. Senyuman itu tidak tulus. Jika kamu mencoba menghampirinya, maka kamu tidak akan bisa lepas darinya," bisik Khodamnya yang mengerti perasaan Meka.


Meka mencoba membuang perasaan sedihnya saat melihat Asih terus melambaikan tangannya sambil menangis meneteskan air mata darahnya.


Meka tak tega dan langsung memalingkan wajahnya. Dia fokus menatap ke depan melajukan mobilnya cepat menuju rumah Ki Baron.


Kakek tua itu bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Meka karena dia juga bisa melihat seorang perempuan yang melambaikan tangannya ke arah Meka. Selain itu juga ada beberapa teriakan yang mengerikan terdengar dari dalam rumah itu. Kakek itu hanya bisa diam sambil fokus melihat jalanan.


"Mana rumahnya Ki Baron, kek?" tanya Meka yang sudah memfokuskan pandangannya ke depan.


"Sebentar lagi kita akan sampai nak Meka. Teruslah berjalan. Di depan sana, rumah di tepi dekat dengan perbatasan hutan dan Desa tua, itulah rumah Ki Baron," jawab Kakek itu menunjuk ke depan dengan mengarahkan tangannya.


"Semoga kita bisa mengendalikan Ki Baron dan dia mau bekerja sama dengan kita kek," ucap Meka penuh harap.


"Semoga Meka, Kakek juga berharap seperti itu. Kita harus bisa membujuk Ki Baron untuk membantu kita," ucap Kakek itu juga penuh harap.


"Iya Kek."


"Itu rumahnya ada di depan sana nak Meka" tunjuk Kakek tua itu.


Meka melihat ke arah yang ditunjuk Kakek tua itu, lalu dia mengarahkan mobilnya ke ruang itu. Meka memasuki perkarangan luas tanpa pagar dengan bangunan yang terbuat dari papan dan semen. Meka memarkirkan mobilnya di halaman itu.


Kemudian Meka dan Kakek tua itu keluar dari mobil. Tepat saat mereka berjalan ke arah rumah itu, tiba-tiba pintu rumah itu terbuka.

__ADS_1


__ADS_2