
"Ya sudah, ayo Mama antar kamu ke kamar nak. Nanti kalau Ustadz nya sudah datang, Mama akan panggil kamu," ucap Mamanya yang mengantarkan Zain ke kamarnya.
Zain dan Mamanya berjalan ke arah kamar Zain. Lalu Zain masuk ke dalam dan Mamanya kembali ke ruang tengah dimana suaminya sedang menunggu kedatangan Ustadz itu.
"Gimana Ma, kenapa Zain makin kesini, bersikap aneh. Papa curiga dengan Mona," ucap suaminya.
"Mama juga mikir seperti itu Pa. Sejak kita membawanya kembali ke rumah ini, Mama jadi gak tenang dan terus memikirkannya. Mama gak mau rumah tangga anak kita berantakan Pa," balas istrinya dengan wajah sedih.
"Mudah-mudahan kita belum terlambat ya Ma, untuk menyadarkan Zain, jika dia salah langkah. Papa juga tidak ingin mereka berpisah. Apalagi kita tidak mengetahui keberadaan Meka. Papa lupa meminta nomer Papanya Meka," sesal suaminya.
"Oh iya, kenapa Mama tidak coba menghubungi Meka langsung ya Pa. Sepertinya Mama punya nomer Meka," ucap istrinya semangat.
"Oh iya Ma, ayo di coba Ma, sapa tau bisa tersambung," balas suaminya mendukung.
Lalu istrinya berjalan menuju kamar. Dia masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja dekat tempat tidur. Setelah itu Mamanya Zain kembali ke ruang tengah menghampiri suaminya.
"Mama cari dulu ya Pa nomer Meka," ucap istrinya yang mengecek ponselnya.
Tak berapa lama, akhirnya Mamanya Zain menemukan nomer Meka.
"Alhamdulillah Pa, dapat juga. Mama coba ya hubungi Meka. Mudah-mudahan bisa di hubungi," ucap Mamanya Zain penh harap.
__ADS_1
"Iya Ma, di coba cepatan," suaminya juga sangat antusias agar menghubungi Meka.
Mamanya Zain mencoba menghubungi Meka, namun ternyata nomer yang di hubungi tidak lagi tersambung.
"Pa, nomernya tidak dapat di hubungi. Gimana ini?" tanya istrinya.
"Coba lagi Ma," suruh suaminya.
"Iya Mama coba lagi ya Pa," balas istrinya. Lalu Mamanya Zian mencoba lagi menghubungi nomer Meka, beberapa kali di hubungi tetap tidak tersambung.
"Tidak bisa Pa," Mama Zain menggelengkan kepalanya dengan pasrah.
"Gimana dong Pa, kita tidak punya contact dengan Meka. Mama khawatir banget Pa," istrinya semakin cemas.
"Nyonya, di depan ada tamu mau ketemu sama Tuan dan Nyonya," ucap si Bibi memberitahu.
"Oh suruh masuk bi. Itu Ustadz yang mau mengaji di sini," balas Mamanya Zain yang meminta si Bibi menyuruh tamunya ke ruang tamu langsung.
"Baik Nyonya," si Bibi pun kembali ke depan menghampiri tamu yang datang.
"Pak, ayo silahkan masuk. Sudah di tunggu sama Tuan dan Nyonya di dalam," ucap si Bibi yang mengajak tamu masuk.
__ADS_1
Lalu Ustadz itu masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam. Saat dia masuk ke dalam rumah dia terkejut dan mengucapkan "Astaghfirullahal'adzim..," ucap Ustadz itu sambil matanya mengarah ke sebuah kamar yang tidak di tempati lagi.
"Ustadz tidak apa-apa?" tanya si Bibi heran.
"Ah tidak bi, makasih," balas si Ustadz. Lalu dia berjalan menghampiri Mama dan Papanya Zain.
"Assalammu'alaikum," sapa Ustadz itu dengan senyumnya.
"Wa'alaikummussalam Ustadz," sahut keduanya. "Ayo Ustadz silahkan duduk," ajak Papanya Zain.
"Terima kasih Pak," balas si Ustadz.
"Kami sangat senang dan berterima kasih karena Ustadz mau datang ke rumah kami. Mudah-mudahan kedatangan Ustadz bisa memberikan jawaban atas keadaan anak kami Ustadz," ucap Papanya Zain yang bersyukur si Ustadz mau datang.
"Sudah kewajiban kita untuk membantu Pak. Sebisa mungkin saya akan membantu Bapak dan Ibu atas masalah yang dihadapi," balas Ustadz itu.
"Kalau begitu, biar saya panggilkan anak saya dulu ya Ustadz, sebentar," Mamanya Zain berjalan meninggalkan mereka. Dia menuju kamar Zain.
"Zain, ayo keluar nak, kita mengaji dulu. Ustadz nya sudah datang," ajak Mamanya saat masuk ke dalam kamar Zain.
Zain yang saat itu sedang duduk di kamarnya sambil tertawa sendiri. Mamanya Zain yang melihat keadaan anaknya semakin merinding.
__ADS_1
"