
Meka yang masih duduk di meja makan bersama Zain terus mengawasi Omanya, dengan berpura-pura bermain ponsel.
"Bi, sarapannya sudah di buat ya?" tanya Zain memastikan.
"Sudah tuan, nih saya mau menghidangkannya di atas meja," jawab si Bibi.
"Bi, biar saya bantu ya. Saya lagi pengen menyiapkan sarapan," pinta Meka.
"Gak usah Non, biar saya aja menyiapkannya. Lagian ada si Nina yang bantu saya. Non duduk manis aja ya sama tuan Zain," mohon si Bibi yang tidak mau majikannya memegang pekerjaan rumahnya.
"Udah Bi, gak apa. Lagian saya bosen duduk aja. Biar cepat selesainya saya bantu," balas Meka dengan senyum manisnya.
Meka sengaja melakukan itu untuk mengawasi perempuan yang bernama Nina dan Omanya Zain. Meka berpikir keduanya sedang merencanakan sesuatu.
"Sayang, kamu gak apa-apa ngerjain tugas dapur?" tanya Zain.
"Nggak Mas, aku lagi pengen aja mengerjakannya," jawab Meka sambil berdiri memulai aktifitasnya.
"Istri kamu itu susah di atur ya. Suka gak dengarin omongan suaminya," ucap Omanya yang mencoba mencuci pikiran Zain. Omanya berpura-pura tak menoleh ke arah Zain tapi dari sudut ekor matanya dia melihat Zain yang sedang memperhatikan Meka.
"Selama itu menyenangkan hati Meka, Zain tidak masalah Oma. Zain tidak mau membuat Meka tidak bahagia," balas Zain yang juga tidak menoleh ke arah Omanya.
Omanya menggeram dan mengepalkan tangannya karena ucapannya tidak di dengar oleh cucu kesayangannya.
"Kamu itu kalau dibilangin suka gak mau dengar. Apa sih yang di kasih perempuan itu ke kamu hingga menurut sama dia?" tanya Omanya penuh kebencian.
"Hati yang tulus Oma, Meka tulus mencintai Zain dan menerima apapun diri Zain," jawab Zain santai.
"Halah cuma itu doang. Tuh si Mona juga sangat mencintaimu dengan tulus. Apa bedanya," tanya Omanya yang terus mencecer Zain.
"Aku tidak mencintainya, dan dia bukan tipeku," jawab Zain dengan kejam.
Saat Omanya mau bicara, Meka datang membawa piring yang berisi lauk. Meka meletakkannya di atas meja dan tersenyum melihat suaminya. Lalu dia kembali ke dapur untuk melihat apa yang sedang dikerjakan perempuan itu.
"Lihat istri kamu, wajahnya Oma tidak menyukainya," ucap Omanya.
"Kenapa Oma tidak menyukainya? Apa salah Meka sama Oma? Sepertinya Oma memang dari dulu tidak suka Zain sama dia?" tanya Zain dengan rahang yang mengetat.
__ADS_1
Zain tidak ingin membenci Omanya karena dialah Nenek yang dari kecil sangat menyayanginya. Namun kebersamaannya dengan Meka membuat Omanya bersikap seperti itu.
"Tidak perlu kamu tanya lagi Zain. Oma sangat tidak menyukainya," jawab Omanya dengan menatap Zain tajam.
"Kalau Oma tidak menyukainya, jangan mempersulit dia selama di rumah ini. Kalau Oma tetap melakukannya, Zain tidak akan memaafkan Oma," ucap Zain tegas.
"Zain....!" teriak Omanya dengan emosi yang menggebu. "Kamu membela dia dari pada Omamu ini, hah!"
"Tentu Zain membelanya karena dia istri Zain yang sedang mengandung anak Zain. Maaf Oma kalau Zain harus menegaskan smaa Oma," Zain menatap Omanya dengan tatapan tanpa daya.
Karena kesal bercampur marah, Omanya pergi meninggalkan meja makan itu. Dia melupakan keinginannya yang akan memberikan sesuatu di minuman Zain.
Sedangkan Zain menghela nafas beratnya dan menundukkan wajahnya dengan menopang kedua tangannya menutup wajahnya.
Sementara Meka yang melihat perdebatan antara cucu dan Nenek hanya bisa memandang sendu ke arah Zain. Meka menghampiri Zain dan mengusap lembut kepala suaminya.
"Maaf," ucap Meka dengan suara pelan.
Zain mendongakkan wajahnya menatap sang istri dengan memberikan senyuman.
"Tidak apa-apa, sudah jangan di pikirkan ya," pinta Zain sambil menarik tangan Meka dari kepalanya dan menggenggamnya erat.
Meka tau suasana hati suaminya yang sedang tidak nyaman, karena bagaimanapun itu adalah Nenek yang sangat di sayangnya.
"Kita makan bareng yang lainnya aja ya," jawab Zain. "Sayang makan duluan ya, kasihan si kecil nanti kelaparan," ucap Zain sambil mengusap lembut perut Meka.
"Kita bareng aja Mas. Tadi aku udah makan buah di dapur. Si Bibi memotongkan buah apel untuk cemilan ku tadi," balas Meka.
"Oh syukurlah kamu udah ngemil. Kasihan anak kita kalau kelaparan," ucap Zain.
"Iya Mas, nih kamu mau buahnya. Kebetulan masih ada aku lainkan buat kamu selagi nunggu yang lainnya," Meka menyodorkan potongan buah apel ke meja Zain.
"Makasih sayang," Zain memakan buah tersebut sembari menunggu yang lainnya datang.
"Tuan, saya mau memanggil Nyonya dan keluarga Non Meka dulu," ucap si Bibi saat menghampiri Meka.
"Iya Bi." Lalu si Bibi pun berjalan ke arah kamar orang tuanya Zain, setelah itu beranjak ke kamar keluarga Meka.
__ADS_1
Zain dan Meka menunggu kehadiran mereka di meja makan. Keduanya ngobrol santai sambil menikmati buah apel.
"Zain, Meka, kalian sudah dari tadi di sini?" tanya Mamanya Zain saat melihat Zain dan Meka sedang tertawa.
"Iya Ma, tadi pagi Meka kelaparan. Makanya Zain ajak ke sini. Ternyata si Bibi lagi nyiapin sarapannya. Tapi Meka maunya ngunyah buah apel dulu baru sarapan bareng sama keluarga," jelas Zain.
"Oalah sayang, kenapa gak sarapan duluan aja. Pasti cucu Oma nih di dalam sana kelaparan ya," Mamanya Zain menghampiri Meka dan mengusap perut Meka.
"Iya Ma, dia cepat banget lapernya. Tapi nih udah Meka kasih makan buah," balas Meka.
"Ya udah ayuk, kamu makan yang banyak ya sayang," Mamanya Zain sangat memperhatikan menantunya.
"Ayo Mas kita makan, ayo dek Sandy silahkan di nikmati sarapan pagi ala kadarnya," ajak Papanya Zain yang sudah duduk di tempatnya.
"Iya ayo Pak besan, dek Sandy sama dek Mawar, jangan sungkan-sungkan ya. Nikmati makanan yang ala kadarnya," sambung Mamanya Zain.
Mereka pun mengambil tempat dan mulai mengambil makanannya. Papanya Meka dan Omnya serta Tantenya sangat senang melihat mertua Meka yang begitu perhatian terhadap Meka.
"Alhamdulillah, Mama mertuanya sangat menyayanginya. Kamu beruntung sayang, memiliki Mama mertua yang baik. Mudah-mudahan selamanya seperti itu sikap Mama mertuaku," bathin Papanya Meka sambil menatap anaknya.
Papanya Zain melupakan anggota keluarga yang lainnya saat dia makan. Namun ketika dia menyadarinya, dia langsung menyuruh si Bibi memanggil yang lainnya.
"Bi, Mama dan Mamanya si Mona sudah di ajak sarapan?" tanya Papanya Zain.
"Sudah tuan. Kemungkinan mereka sarapan belakangan. Karena Mamanya tuan sedang tidak enak badan," jawab si Bibi memberitahu.
"Loh, Mama sakit Bi?" tanya Papanya Zain yang seketika menghentikan sarapannya.
"Tidak tau tuan. Nyonya besar hanya menyampaikan seperti itu sama saya," jawab si Bibi.
"Oh ya sudah. Biar nanti saya melihatnya," balas Papanya Zain.
Kemudian si Bibi meninggalkan mereka yang sedang menikmati sarapannya.
"Maaf Pak besan, saya dan yang lainnya hari ini akan langsung berangkat ke Bandara. Kami akan kembali ke Medan sore nanti. Tapi sebelumnya kami akan singgah ke Apartement Zain dan Meka dulu. Setelah itu kami lanjut ke rumah Ustadz Ahmad. Baru setelah dari sana, kami lanjut ke Bandara," jelas Papanya Meka.
"Loh kok cepat banget Pak besan kembali ke Medan? Padahal kami ingin ngajak kalian jalan-jalan di Kota Jogja ini," balas Mamanya Zain.
__ADS_1
"Maaf Mamanya Zain, saya tidak bisa meninggalkan usaha di sana. Lain kali saja kami berkunjung lagi ke sini."
Zain dan Meka hanya diam sambil menatap mereka satu persatu. Dan mendengarkan obrolan orang tua.