
"Baiklah, aku akan menunggu mereka dan menyambut kehadiran mereka dengan tangan terbuka, hahahaha," ucap Mona dengan tawa yang mengerikan jika di dengar.
Mona merasa senang, karena dia tidak perlu mencari tumbal untuk iblisnya. Tumbal itu akan datang dengan sendirinya ke hadapannya.
Lalu iblis itu menghilang meninggalkan Mona menikmati kehidupannya yang saat ini sedang berbahagia karena bisa membuat Zain terpengaruh.
"Lebih baik aku menunggu mereka di dalam kamar Zain sambil memandang fotonya
Itu lebih menyenangkan," gumam Mona.
Di tempat lain, Deon dan Isna sudah mempersiapkan segalanya untuk berkunjung ke Jogja. Mereka ingin menemui Meka dan Dosganya di apartement mereka.
"Deon, apakah sudah di bawa kebutuhan yang kita butuhkan selama di Jogja nanti?" tanya Isna yang sibuk merapikan pakaian yang mau di bawa.
"Sudah sayang, aku sudah mempersiapkan semuanya. Kamu hanya tinggal merapikan pakaian kita saja," jawab Deon.
"Hah, aku sudah tidak sabar ingin bertemu Meka, De. Tapi kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi ya?" tanya Isna penasaran.
"Apa mungkin Meka dan Pak Zain sudah berganti nomer? Tapi kenapa?" tanya Deon sambil menatap Isna istrinya.
__ADS_1
"Tidak mungkin Meka menghindar dari kita kan? Aku yakin Meka tidak akan melakukan itu," ucap Isna yang menebak.
"Iya itu tidak mungkin sayang. Meka bukan orang seperti itu. Dia sudah memaafkan kita. Kita ini sahabatnya dari awal sampai sekarang," balas Deon yang tidak mendukung ucapan Isna.
"Deon, nanti sampai di Jogja, aku ingin memeriksakan kandunganku. Karena perjalanan kita menempuh beberapa jam, aku ingin memastikan bayi kita sehat-sehat aja," ucap Isna.
"Tentu sayang, kita akan memeriksakan kandungan kamu saat sudah sampai di Jogja ya.
Isna merasa bahagia karena setelah menikah dengan Deon dia mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Deon. Deon yang dulunya di perkirakan menjadi sosok laki-laki gemulai, sekarang dia benar-benar membuktikan kalau dia laki-laki sejati.
Deon dan Isna berpamitan dengan keluarga Deon yang berada di Semarang.
"Maaf Om, kami sangat ingin berkunjung kesana. Apalagi di sana ada sahabat kamu yang bisa kami datangi. Insyaallah tidak terjadi apa-apa Om. Deon akan melindungi Isna dari bahaya," jawab Deon sambil tersenyum.
Om nya Deon menatap ke arah Isna yang sedang hamil muda. Ada ke khawatiran yang terpancar dari tatapan Om nya Deon.
"Om jangan khawatir. Do'akan saja kami sampai dengan selamat di sana. Begitu kami sampai, aku akan menghubungi Om," ucap Deon yang mencoba menenangkan pikiran Om nya.
"Hah," Om nya menghela nafas dengan berat. Kalau itu sudah keputusan kalian, Om hanya bisa mendo'akan semoga kalian baik-baik aja di sana. Khabari kalau sudah sampai di sana," balas Om nya dengan rasa khawatirnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, kami pamit dulu ya Om," ucap Deon.
Om nya Deon tinggal hanya sendirian karena istri dari Om nya sudah meninggal sebelum mereka datang ke Semarang.
"Iya nak, kalian harus berhati-hati ya," pesan Omnya. "Isna tolong gantungkan ini di pinggang kamu. Ini hanya sebagai alat untuk berjaga-jaga dari gangguan iblis," ucap Om nya Deon yang menyerahkan sebuah buntelan kecil yang bertali.
Isna menerima pemberian Om nya itu dan melihat benda tersebut. Isna pun menerimanya dan mengikatnya di pinggangnya.
"Om nya Deon merasa legah melihat Isna menurut perintahnya. Dia sedikit tenang. Semoga kalian selamat sampai tujuan," ucap Om nya.
Om nya bukan orang yang memiliki kelebihan, dia hanya orang tua sepuh yang banyak makan asma garam. Sehingga dia mengerti akan hal ghaib seperti itu jika berhubungan dengan wanita hamil.
"Kami pergi dulu Om, Assalammu'alaikum," ucap mereka bersamaan.
"Wa'alaikumussalam, balas Om nya.
Isna dan deon berjalan keluar dari rumah itu dan masuk ke dalam mobil milik Deon. Lalu Deon pun membawa mobilnya pergi dari rumah itu menuju kota Jogja.
Sepanjang perjalanan, Isna dan Deon masih memikirkan ucapan Om nya tentang larangannya untuk pergi ke Jogja. Mereka tidak tau apa yang akan mereka hadapi di Jogja sana nantinya.
__ADS_1