Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 58


__ADS_3

Sesampainya di Pemakaman, Meka dan Zain turun dari mobil. Mereka memasuki area makam. Saat hendak melangkah ke makam Mamanya dan adiknya, Meka melihat sosok kuncen kemaren. Kuncen itu berdiri di dekat makam Mamanya Meka.


Hanya Meka yang dapat melihat kuncen itu. Sedangkan Zain tak dapat melihatnya. Lalu Meka berjalan kearah kuncen itu. Zain bingung kemana Meka melangkah.


"Sayang, ngapain kesana?" tanya Zain heran.


"Aku ingin menemuinya Zain," jawab Meka yang terus berjalan ke arah kuncen itu.


"Sayang, sayang mau kemana?" tanya Zain yang mengejar Meka.


Lalu Meka berhenti di tempat gubuk kemaren. Kuncen itu menatap Meka dengan senyuman.


"Semua sudah selesai nak. Dia sudah tenang di alamnya. Kamu segeralah kembali ke Jogja bersama suamimu," ucap kuncen itu tersenyum.


"Terima kasih kakek kuncen. Anda telah membantu untuk mengembalikannya," balas Meka.


"Semua itu sudah ada bantuan dari yang maha kuasa nak Meka."


"Saya kesini mau berpamitan dengan Mama saya kek, mungkin saya tidak bisa setiap saat ke makam ini, karena saya kembali keJogja sekarang," jelas Meka.


"Saya sudah mengetahuinya nak Meka, kalau kamu dan suamimu akan kemari. Saya hanya ingin berpesan, berhati-hatilah disana, karena akan banyak rintangan yang akan kalian hadapi," pesan kakek kuncen itu.


"Iya kek, Insya Allah kami akan berusaha memperbaiki diri dan menjaga hubungan kami tetap baik," balas Meka.


"Sekarang kalian segeralah pergi dari sini," ucap kuncen itu.


"Baik kek, tapi saya mau ke makam Mama dan adik saya dulu, setelah itu kami akan segera berangkat."


Lalu kuncen itu langsung menghilang. Zain menatap horor melihat Meka istrinya berbicara sendirian didepan makam orang lain.


Meka pun membalikkan badannya dan mendapati Zain yang diam berdiri dibelakangnya.


"Kenapa kamu ngikutin aku Zain?" tanya Cha.


"Aku khawatir sayang, kamu jalan kesini tanpa mendengarkan ucapanku. Aku pikir kamu kesambet," protes Zain.h


"Maaf Zain, tadi aku menemui kakek kuncen kemaren. Tadi dia sedang menungguku. Dia berdiri disitu tadi," ungkap Meka.


"Ya udah sekarang kita ke makam Mama dan Biyu," ajak Zain.

__ADS_1


Lalu mereka berjalan kembali ke makam Mama dan adiknya Meka. Sesampainya di makam tersebut, Meka menaburkan bunga mawar yang harus diatasi tanah kuburan Mama dan adiknya. Kemudian, Zain dan Meka membaca do'a untuk Mama dan adiknya. Setelah selesai mengirimkan do'a, Meka pun berpamitan.


"Ma, sekarang Meka sudah menikah dengan Dosganya Meka. Mama sekarang bisa tenang ya, karena sudah ada yang menjaga Meka disini," ucap Meka sambil meneteskan air matanya.


"Ma, Zain sudah memenuhi janji Zain kemaren sama Mama. Zain sudah menikahi Meka dan dia sudah menjadi istri dan tanggung jawab Zain. Kami sekarang mau kembali ke Jogja. Kami akan usahakan sering mengunjungi Mama disini," ucap Zain dengan perasaan haru.


"Zaaaiiin...," Meka menangis dibahunya Zain.


"Jangan bersedih sayang, Mama pasti senang melihat kita sudah menikah," ucap Zain sambil mengusap-usap punggung Meka.


Lalu Meka dan Zain beralih ke makam adiknya yaitu Biyu.


"Sayang, kakak kembali ke Jogja sekarang ya, kamu yang tenang disana. Semua sudah berakhir kan? Kakak akan selalu mengirimkan do'a untuk Biyu dan Mama. Kakak akan sering mengunjungimu dan Mama," ucap Meka yang masih meneteskan air matanya.


"Biyu, walaupun kita belom pernah bertemu, Abang yakin, kamu pasti anak yang baik dan lucu. Sekarang abang sudah menjadi pendamping kak Meka. Kamu yang tenang ya disana, kami akan selalu mengirimkan do'a untuk Biyu dan Mama," ucap Zain yang ikut berbicara.


"Ayo sayang kita berangkat. Nanti kelamaan dijalan," ajak Zain.


"Ma, Biyu, kami berangkat dulu ya. Meka pasti merindukan kalian berdua," ucap Meka dengan tangisan yang tak berhenti-hentinya.


lalu Zain membawa Meka keluar dari area Makam. Mereka langsung masuk kedalam mobil dan menyuruh Pak supir untuk melanjutkan perjalanan ke Bandara.


Zain berusaha menenangkan Meka. Dan merangkul Meka kedalam pelukannya.


Beberapa menit menempuh perjalanan ke Bandara, akhirnya mereka sampai juga. Zain mengajak Meka turun dan membawa barang-barang bawaannya.


Setelah menyelesaikan urusan bagasi dan semuanya, mereka berdua masuk kedlam ruangan tunggu. Pesawat yang akan mereka naik, sebentar lagi akan berangkat. Semua penumpang disuruh naik kedalam Pesawat.


"Zain, rasanya aku sedih meninggalkan Papa sendirian disini," ucap Meka saat mereka sudah didalam Pesawat.


"Kamu gak usah kahawtir ya sayang, Papa kan kembali ke kampung dekat dengan keluarga yang lainnya," hibur Zain.


"Iya kamu benar Zain. Tapi ntah kenapa perasaanku gak nyaman aja Zain. Sepertinya rasa sedihku ini belom berakhir."


"Itu mungkin perasaan kamu aja sayang. Karena kamu baru saja mengunjungi makam Mama dan Biyu. Jadi masih terbawa kesedihan itu," jelas Zain.


"Ntahlah Zain. Semoga Papa sehat selalu di kampung. Aku gak tau gimana jadinya jika hal buruk terjadi sama Papa," sesal Meka.


"Jangan bicara seperti itu syaang. Kita do'akan yang terbaik untuk Papa ya," pinta Zian.

__ADS_1


Lalu Meka merebahkan kepalanya ke bahu Zain. Zain memeluk Meka yang sekarang sudah menjadi istrinya. Perjalanan dari Medan ke Jakarta memakan waktu sekitar ± 2 jam. Mereka berdua mengabiskan waktu di dalam pesawat dengan memejamkan mata.


Setelah menempuh perjalan yang lumayan lama, akhirnya mereka sampai di Jakarta. Zain yang sudah bangun dari tadi, membangunkan Meka.


"Sayang, ayo bangun. Kita sudah sampai di Jakarta."


Meka pun membuka matanya dan melihat keluar jendela.


"Akhirnya sampai juga ya Zain," ucap Meka.


"Ayo kita turun, kamu pegangan ya sama aku," pinta Zian.


Meka menuruti ucapan Zain. Dia memegang lengan Zain dan berjalan mengikuti Zain.


Lalu mereka berdua keluar dari Pesawat dan masuk kedalam ruangan untuk mengambil barang dibagasi.


Setelah selesai dengan barang bawaan mereka. Zain dan Meka mencari cafe. Meka mengajak Zain makan di Solaria.


"Zain kita minum dulu di sini aja ya. Nanti kita bicarakan mau naik Pesawat lagi atau kereta api, tapi aku mau minum dulu, karena sudah haus," ucap Meka yang menahan hausnya.


"Iya sayang, ayo kita kesana," Zain mengajak Cha naik keatas tangga untuk duduk santai di Cafe Solaria.


Mereka memesan kentang goreng untuk cemilan dan Frozen Capuccino. Setelah memesan, mereka membahas tentang balik ke Jogja.


"Sayang gimana kalau kita menikmati waktu berdua dengan naik kereta api. Aku pengen banget naik kereta api bareng kekasihku. Dan ternyata sekarang aku pengen naik sama kamu Zain," ucap Meka memohon.


"Kamu tidak capek naik kereta api? Kalau naik pesawat kan cepat sampainya, hanya satu jam. Gimana?" tanya Zian.


"Aku pengen naik kereta api saja ya Zain!" Cha memohon dengan suaminya.


"Hmmm, baiklah, kita naik kereta api. Tapi sebelumnya, kita stock dulu cemilan untuk dijalan ya," ucap Zain.


"Makasih sayangku...!" Meka mencium pipi Zain dengan rasa senangnya.


"Tapi ada imbalannya. Sampai di Jogja, kamu harus melayaniku sampai pagi, gimana?" tanya Zain yang menggoda Meka.


"Baiklah suamiku, aku akan menuruti apa mau suamiku," balas Meka dengan senyuman.


Lalu pesanan mereka datang. Zain dan Meka menikmati cemilan dan minumannya. Meka yang kehausan langsung tandas menghabiskan minumannya.

__ADS_1


__ADS_2