Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 201


__ADS_3

Meka berpikir apa yang sudah dikerjakan nya sudah berhasil hingga mereka bisa kembali ke raga mereka. Namun itu tidak seperti harapan. Mereka harus berhadapan dengan hal yang mengerikan.


Ketika Meka dan Kakek tua itu membuka pintu rumah itu dengan lebar, Meka membelalakkan matanya menatap ke arah depan.


"Astaghfirullahal'adzim kek!" seru Meka.


"Nak Meka, sepertinya kita terlambat. Lingkaran ilusi itu sudah musnah. Kita harus menghadapinya," ucap Kakek tua itu.


"Tapi kek, genduruwo itu banyak sekali, bagaimana kita menghadapinya?" tanya Meka ketakutan.


"Meka, pergilah dari sini, aku yang akan mengahadapi mahluk itu, cepat! Karena harus segera kembali ke dunia kalian!" sentak Khodamnya Meka tiba-tiba.


Lalu Khodamnya Meka mengembuskan kunang-kunang yang memiliki cahaya ke arah mahluk genduruwo itu hingga menghalangi pandangan mahluk itu. Dalam keadaan ini, Meka dan Kakek tua berlari kencang melewati gerombolan genduruwo itu.


Tepat saat langkah kaki Meka di halaman itu, tiba-tiba tangan Meka ditarik paksa oleh dukun sakti itu.


"Akhhhhh, tolong aku kek.....!" teriak Meka saat dia ditarik paksa oleh dukun itu ke dalam rumah.


Meka....., Kakek tua itu memberikan pukulan terhadap dukun itu hingga genggaman tangan dukun itu terlepas.


"Meka lari.....kembali ke tempatmu...!" teriak Kakek tua itu.


Ta--tapi kek, saya gak mungkin meninggalkan Kakek sendirian!" teriak Meka karena suasana disana sangat berisik.


"Jangan hiraukan saya, cepat kembali ke duniamu!" seru Kakek tau itu.


Meka masih terdiam menyaksikan perkelahian dukun itu dengan Kakek tua.


"Cepat Meka lari.....!" bentak Kakek tua.


Lalu Meka lari dari tempat itu. Dan snag Khodam membantu Meka untuk kembali ke raganya, dan ternyata mereka sudah terlambat untuk kembali, namun suara-suara ngaji membuat Meka tertarik untuk mengikuti arah suara itu.


"Suara itu, Mas Zain...!" teriak Meka. Meka terus mencari-cari arah suara itu. Hingga dia menemukan cahaya yang berkilau, Meka berlari ke arah cahaya itu dan dia pun kembali ke raganya.


Meka kejang-kejang saat memasuki raganya. Hingga dia bangkit terduduk dan memuntahkan seteguk darah.

__ADS_1


"Uhuk uhuk uhuk," Meka tersadar dan kembali ke dunianya. Darah segar keluar dari mulutnya.


"Sayang....!" teriak Zain saat melihat Meka sudah sadar.


Meka melihat sekeliling, dan mendapatkan keberadaannya yang sudah berpindah tempat.


"Apakah aku sudah kembali?" tanya Meka tak percaya.


"Iya sayang, kamu sudah kembali dengan selamat," jawab Zain.


Lalu Meka teringat akan Kakek tua. Kemudian dia menoleh ke samping dan melihat tubuh Kakek tua yang masih belum kembali sadar.


"Bagaimana dengan Kakek tua ini?" tanya Meka kepada mereka.


"Kakek belum kembali. Kemungkinan dia terjebak disana. Semoga dia mendapatkan bantuan disana," jawab Ustadz Ahmad.


"Lebih baik kita terus mengaji Ustadz, semoga dengan lantunan ayat Alqur'an bisa membuat Kakek tua kembali ke raganya," saran Zain.


"Kamu benar Pak Zain. Ayo kita kembali mengaji," ajak Ustadz Ahmad.


Sementara di dunia ghaib, Kakek tau masih bertarung melawan dukun sakti itu. Kekuatan Kakek tua dan dukun sakti itu seimbang. Mereka sama-sama memiliki ilmu yang tinggi.


Dan akhirnya Kakek tua itu terjatuh ke tanah karena kemampuannya bertahan sudah melemah. Dia akhirnya memuntahkan darah segar dari mulut dan hidungnya akibat kena ajian pukulan dari dukun sakti itu.


Kakek tua itu terbatuk-batuk sambil memegang dadanya yang terasa sakit, dia menatap nyalang ke arah dukun sakti.


"Hei Kakek tua, menyerahlah! Kemampuanmu bertarung sudah berkurang, dan kau ingin melawanku! hahahaha," ejek dukun sakti itu.


"Aku tidak takut, selagi kau belum musnah, aku akan bertahan..! Uhuk uhuk uhuk," teriak Kakek tua lalu terbatuk-batuk.


"Lihat dirimu! Sudah tidak berdaya untuk melawanku. Kau pikir mudah menaklukkan ku, tidak akan bisa! Hahahaha," ucap dukun itu dengan sombong sambil terbahak-bahak dengan congkaknya.


"Jangan sombong dukun, kau akan musnah sebentar lagi, tunggu saja," ancam Kakek tua.


"Heh, kau mengancamku! Kau sudah mau mati masih mengancamku....! Sepertinya aku sangat berbaik hati terlalu lama membiarkanmu hidup di dunia ini. Lebih baik aku akhiri kehidupanmu!! Matilah kau Kakek tua.....!! Hiaaaaaaa!"

__ADS_1


Tepat saat dukun itu hendak memberikan pukulan keras ke arah Kakek tua itu, tiba-tiba angin kencang berhembus beroutar-putar ke arah dukun itu hingga membuat tulang belulang dan daging-daging yang berceceran di tanah berterbangan menghantam dukun itu hingga dia pun terhempas ke dalam rumah tempat jasad tadi di musnahkan. Dan pintu rumah itu langsung menguncinya disana.


Lalu bayangan transparan datang tiba-tiba dan tubuh Kakek tua yang sudah terluka dan membawanya kembali ke raganya. Akhirnya Kakek tua itu kembali ke dunia nyata dengan keadaan yang memprihatinkan.


Kakek tua sadar dan dia batuk-batuk memuntahkan darah segar. tubuhnya juga terasa sakit akibat terkena pukulan dukun sakti itu. Tenaga dalam Kakek tua semakin lemah, dia harus beristirahat.


Sementara, pagar ghaib yang melingkari rumah itu masih ada sampai malam bulan purnama selesai.


Ustadz Ahmad membuka pintu kamar dan memanggil istrinya untuk membawakan air putih di teko dan beberapa gelas.


"Kakek dan Meka lebih baik melakukan meditasi di dalam ruangan ini. Kami semua akan menunggu diluar sampai saat malam bulan purnama tiba," saran Ustadz Ahmad.


"Iya Ustadz, kondisi Kakek sangat lemah. Dia harus segera di obati. Dan kami harus melakukan meditasi di dalam ruangan ini untuk pemulihan," Meka membalasnya.


Lalu pintu kamar itu di ketuk dari luar, Ustadz Ahmad beranjak dari tempat duduknya. Dia membukakan pintu kamar itu dan mengambil minuman yang diantar istrinya.


"Makasih ya Bu, tolong pantau terus keadaan diluar, dan saat ini kalian bisa berhenti dahulu karena sudah waktunya Maghrib. Nanti setelah Isya, lakukan lah pengajian lagi secara bergantian," ucap Ustadz Ahmad yang menjelaskan sama istrinya.


"Baik Pak." Ummi meninggalkan kamar itu dan kembali bergabung dengan Nenek di ruangan tengah.


Sementara, Ustadz Ahmad masuk ke dalam kamar lagi dan memberikan gelas yang berisi air putih dan memberikannya ke Kakek tua dan Meka.


"Kek diminum dulu," ucap Ustadz Ahmad dengan menyodorkan gelas itu.


Begitu juga dengan Meka, Ustadz Ahmad memberikannya. Meka pun segera meneguk air putih itu sampai habis.


Saat mereka sedang kumpul diruangan itu, diluar rumah terdengar suara gaduh, ternyata iblis itu mengirimkan mahluk-mahluk ghaib ke rumah ini.


"Kalau begitu kami saya keluar. Pak Zain silahkan menemani nak Meka untuk bermeditasi disini. Kalau ada apa-apa cepat keluar kasih tau saya," ucap Ustadz Ahmad.


"Baik Ustadz, saya akan menjaga Meka dan Kakek disini," balas Zain.


Lalu Ustadz Ahmad keluar dari dalam kamar itu menuju ruangan tengah bergabung dengan istrinya dan yang lainnya.


Sementara di dalam kamar, Meka dan Kakek tua mulai duduk bersila melakukan meditasi untuk pemulihan tenaga dalam mereka. Disamping Meka sudah ada Khodamnya yang mendampinginya dan menyalurkan tenaga dalamnya untuk Meka dan Kakek tua. Sehingga Meka dan Kakek tua merasakan sengatan listrik mengalir ke dalam tubuh mereka masing-masing.

__ADS_1


Zain yang duduk di bawah menunggu dengan setia. Dia terus memantau keadaan Meka dan Kakek tua. Zain merasa sedih saat melihat Meka berjuang untuk menghancurkan iblis dan pengikutnya sehingga tidak banyak memakan tumbal.


__ADS_2