Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 91


__ADS_3

Meka akhirnya membuat janji dengan Ustadz itu.


"Gimana Mek, Ustadz nya bilang apa?" tanya Isna yang mulai penasaran.


Meka duduk disamping suaminya. Dia melihat kearah Deon yang sedang menunggu Mamanya datang.


"Na, udah pesan makanan?" Meka malah balik bertanya.


"Nungguin Lo selesai menghubungi Ustadz itu dulu Mek," jawab Isna.


Saat Meka hendak memanggil pelayan, suaminya langsung menahan tangannya.


"Biar Mas aja yang memanggil pelayannya sayang," ucap Zain. Lalu memanggil seorang pelayan.


"Silahkan Mbak, Mas. Mau pesan apa ya?" tanya pelayan perempuan itu.


"Saya lihat menunya dulu ya," jawab Meka.


Setelah melihat menu-menu yang ada, Meka dan Isna mulai memesan makanan yang diinginkan mereka.


"Ini aja Mbak pesanannya?" tanya pelayan itu lagi.


"Iya Mbak, nanti kalau mau pesan lagi, pasti saya panggil," jawab Meka dengan senyum ramahnya.


"Baik, saya tinggal dulu. Dan silahkan ditunggu beberapa menit ya," ucap pelayan itu dan berlalu dari hadapan Meka dan yang lainnya.


"Sayang, apa kata Ustadz nya tadi?" Zain memulai obrolannya.


"Ustadz itu menyuruh kita segera membawa Mamanya Deon. Dan kalau ditunda akan berbahaya. Lagian waktunya juga tidak banyak Mas," jawab Meka sambil menatap Zain dan Isna.


"Berarti Lo harus kasih tau Deon, agar dia bisa berusaha membujuk Mamanya ikut bersama kita dan melakukan rukiyah," balas Isna.


"Iya Na, kayaknya gw kirim pesan aja kali ya sama Deon sekarang. Takutnya bentar lagi Mamanya datang," khawatir Meka.


"Iya Lo benar Mek. Ya udah kirim pesan aja sekarang biar Deon sempat membacanya," saran Isna.


Meka mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke Deon agar dia berusaha membujuk Mamanya agar mau dirukiyah hari ini juga.


Setelah selesai mengirim pesan ke Deon, Meka dan Isna bisa melihat situasi Deon di mejanya. Mereka melihat Deon membaca pesan di ponselnya.


Deon menoleh kearah meja Meka dan Isna. Lalu dia menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia mengerti maksud dari pesan Meka.


Tak berselang lama, datang sosok wanita yang berumur kepala empat menghampiri Deon.


"Sayang....Mama kangen banget sama kamu nak!" seru Mamanya Deon yang tiba-tiba datang dari belakang merangkul anaknya Deon.

__ADS_1


Deon berdiri dan menoleh kearah Mamanya. Lalu dia membalas pelukan Mamanya yang sangat dirindukannya. Deon merasa senang akhirnya bisa melihat sosok Mamanya lagi. Walaupun ia tahu bahwa Mamanya terjerat dalam lingkaran iblis, tapi Deon tidak bisa menghilangkan kerinduannya terhadap Mamanya.


"Kamu udah lama disini sayang?" tanya Mamanya sambil melepaskan pelukannya.


Orang disekitar Deon berpikir bahwa Deon adalah seorang gigolo yang tak tau malu mempertontonkan kemesraannya dengan wanita yang sudah berumur. Padahal mereka tidak mengetahui wanita yang berumur itu adalah Mamanya sendiri.


"Belom Ma. Deon baru sampai kok Ma. Mama kenapa lama banget? Apa ada sesuatu yang terjadi Ma?" tanya Deon menyelidik curiga.


"Ah..nggak, Mama tadi lama dijalan kok. Sedikit macet sih tadi nak," jawab Mamanya jujur.


Mamanya Deon memperhatikan kondisi anaknya yang terlihat berbeda. Tidak ada lagi tampilan mewah yang menempel ditubuh anaknya. Semua terlihat biasa saja. Mamanya mengernyitkan keningnya menatap Deon.


"Kamu kelihatan sedikit kurus nak. Apa kamu jarang makan? Dimana kamu sekarang tinggal? Oma dan Kakekmu mencari keberadaanmu. Begitupun dengan Mama yang sangat mengkhawatirkanmu sayang," ucap Mamanya.


"Deon makan kok Ma, hanya saja tidak seperti dulu lagi Ma. Deon ingin membuka lembaran baru dan berusaha menghasilkan rezeki dengan cara yang baik dan halal.


Mendengar ucapan anaknya seperti itu merupakan tamparan yang sangat keras dirasakan Mamanya Deon. Betapa tidak, selama ini dia hidup bergelimang harta dengan cara melakukan pesugihan dengan menumbalkan suaminya bahkan keponakannya sendiri juga ikut menjadi korban yang dilakukan abangnya sendiri. Keluarga yang terikat sampai keturunan selanjutnya.


Ntah bagaimana jerat iblis itu bisa diakhirinya. Dan dia tidak ingin anak kesayangannya menjadi korban tumbal berikutnya.


"Ma,mama..!" Deon menggoyangkan tangan Mamanya hingga membuatnya tersadar.


"Eh...iya kenapa tadi Deon?" Mamanya gelagapan.


"Deon, Mama pengen lepas dari semua ini. Mama minta maaf karena membuatmu kehilangan Papa. Mama tau kamu pasti membenci Mama saat ini. Mama sudah menyeretmu kejeratan iblis yang selama ini keluarga Mama jalani," ucap Mamanya yang tak berani menatap mata anaknya.


Deon menggenggam tangan Mamanya dan memberikan kekuatan untuk Mamanya bisa menyelesaikan semuanya.


"Mama ingin ini semua selesaikan? Kalau gitu Mama harus mengikuti apa yang Ghani inginkan," ucap Ghani yang ternyata pucuk dicinta ulampun tiba. Tanpa permintaan Ghani, ternyata Mamanya sendiri yang menginginkan berakhir.


"Iya sayang, Mama mau ini berkahir. Mama akan mengikuti apa kata kamu nak, Mama ingin hidup tenang," balas Mamanya dengan penuh harap.


"Kalau begitu sekarang Mama ikut Ghani ke rumah Ustadz yang bisa membantu Mama lepas dari jerat iblis itu," ucap Ghani serius.


Mamanya berpikir dan menatap lekat kearah anaknya. Ada kebimbangan yang melanda hatinya namun ada juga keinginan untuk lepas dari semuanya.


"Ma, yakinlah sama Allah SWT, Mama masih punya kesempatan untuk kembali seperti dulu melalui perantara Ustadz Ma," jelas Ghani dengan memohon iba.


"Baiklah nak, kalau ini keinginan kamu, Mama akan lakukan demi kamu Ghan. Mama gak mau kehilangan kamu sayang. Cuma kamu yang Mama punya saat ini," Mamanya Ghani mengangguk setuju dengan keputusan anaknya.


"Kalau begitu sekarang kita kerumah Ustadz itu ya Ma," ajak Ghani.


"Sekarang nak?!" tanya Mamanya.


"Iya Ma, kita ke tempat Ustadz itu bersama teman-teman Ghani Ma. Karena merekalah yang membantu Ghani selama ini Ma. Mama mau ya," pinta Ghani penuh harap.

__ADS_1


"Dimana teman kamu sekarang nak?" tanya Mamanya.


"Mereka ada disana Ma. Menunggu Ghani disana," Ghani menunjuk meja dimana Meka dan yang lain berada.


Mamanya Ghani langsung menoleh ke belakang dan melihat teman-teman anaknya.


"Baiklah nak, Mama setuju dengan keputusanmu. Semoga kita bisa lepas dari jeratan itu," ucap Mamanya yang penuh harapan.


"Kalau gitu kita samperin mereka sekarang ya Ma," Ghani mengajak Mamanya menghampiri Meka dan Isna dan Dosganya.


Ghani dan Mamanya berjalan kearah meja Meka dan Isna.


"Mek, Pak Zain, Na, kenalkan ini Mama gw," Ghani memperkenalkan Mamanya kepada mereka.


"Siang Tante," sapa Meka.


"Eh Tante siang, senang bertemu dengan Tante," ucap Isna yang senang bisa melihat calon mertuanya


"Ma, ini suaminya Meka. Dia yang juga membantu aku di Kampus karena dia juga Dosen kami di Kampus," jelas Ghani menyela.


"Tante sangat berterima kasih sama Pak Dosen dan juga teman-teman Ghani karena sudah membantu dan mendukung Ghani saat keadaan Ghani terpuruk. Tante gak bisa membalas kebaikan kalian dan Bapak Dosen," ucap Mamanya Ghani yang merasa bersyukur anaknya bertemu dengan orang-orang yang baik.


"Sudah sepantasnya Tante kita saling membantu dan menolong selagi bisa," balas Meka.


"Mek, Pak, kita berangkat sekarang? Mama saya sudah setuju untuk mengikuti keinginan saya," ajak Ghani.


"Ya udah kita berangkat sekarang," Meka pun beranjak dari tempat duduknya.


Dosga mereka dan Isna juga ikut turut beranjak dari tempat duduknya.


Lalu mereka semua naik grab online dan diikuti oleh mobil Mamanya bersama Ghani menuju kediaman Ustadz Imron.


Mobil grab memasuki pekarangan rumah yang sangat luas halamannya. Dimana ada terdapat pendopo yang ditumbuhi dengan berbagai macam bunga. Dan di samping pendopo terdapat kolam ikan yang bisa memanjakan mata. Mobil grab berhenti di halaman rumah itu dan diikuti sama Mobil Ghani.


Setelah mobil berhenti, mereka semua keluar dari dalam mobil masing-masing.


Meka bersama suaminya dan Isna berjalan kearah mobil Ghani, menunggu mereka keluar dari dalam mobil.


Kemudian mereka berjalan kearah rumah Ustadz Imron.


"Mek, benaran ini rumahnya?" tanya Ghani.


"Iya Ghan, ini benar kok rumahnya. Ayo kita ketik aja pintunya," jawab Meka.


Meka dan suaminya melangkah keteras rumah Ustadz itu dan mengetuk pintu rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2