
Setelah menyampaikan apa yang harus dilakukan, sang Khodam kembali menghilang. Sedangkan Meka dan Kakek tua mulai mempersiapkan diri mereka.
Saat mereka mempersiapkan semuanya, Ustadz Ahmad kembali masuk ke dalam kamar dan menyampaikan keadaan diluar kamar.
"Semua yang akan mengaji sudah siap di luar dan saat ini sudah melakukan pengajian. Bagaimana nak Meka, sudah siap disini semuanya?" tanya Ustadz Ahmad.
"Sudah Ustadz, kalau begitu kita akan melakukannya. Saya dan Kakek tua akan melakukan meditasi. Saya minta tolong sama Ustadz dan Mas Zain untuk menjaga raga kami disini. Apapun yang terjadi jangan pergi meninggalkan raga kami. Teruslah mengaji supaya raga yang kami tinggalin, tidak di masuki mahluk ghaib lainnya," jelas Meka yang mengingatkan mereka untuk waspada.
"Baik sayang, Mas akan selalu mengaji sampai kamu dan Kakek kembali ke raga. Pergilah, do'a Mas selalu bersama kamu," balas Zain sambil mengecup kening istrinya.
Begitu juga dengan Kakek tua yang berpamitan sama Nenek yang juga sudah ada di dalam kamar.
"Bu, Bapak pergi dulu. Tolong temani istri Ustadz mengaji di luar," pamit Kakek tua dan meminta istrinya menunggunya di luar.
"Iya Pak, hati-hati, semoga kalian bisa kembali dengan selamat. Kalau gitu Ibu keluar dulu," ucap Nenek itu.
"Nak Zain dan Pak Ustadz, tolong jaga mereka berdua ya. Kami akan menunggu di luar," ucap Nenek itu dengan harapan penuh ke Ustadz dan Pak Zain.
"Iya Nek, kami akan menjaga mereka disini," balas Ustadz Ahmad.
Lalu Nenek itu keluar dari kamar itu meninggalkan mereka di dalam ruangan.
Sepeninggalan Nenek, sang Khodam mulai menutup ruangan itu dengan pagar ghaib untuk menghalau gangguan mahluk lainnya yang ada di luar sana.
"Ayo nak Meka," ajak Kakek tua untuk duduk bersila di tempat yang sudah disiapkan.
"Baik kek," Meka pun mengangguk.
Kemudian mereka mulai duduk berdampingan dengan cara bermeditasi. Mereka berdua mulai berkonsentrasi untuk memisahkan jiwa dengan raganya.
Sedangkan Ustadz Ahmad dan Pak Zain sudah mulai mengaji melantunkan ayat-ayat suci Al'quran.
Hingga kemudian, jiwa Meka dan Kakek tua mulai keluar dari tubuh mereka. Ustadz Ahmad yang memang bisa melihat mahluk tak kasat mata, menatap ke arah dua mahluk yang sedang melayang. Dia pun mengangguk, mengucapkan semoga berhasil.
__ADS_1
Meka dan Kakek tua di tuntun sama sang Khodam menuju tempat dukun dan dua jasad yang akan di masukkan dua jiwa lainnya.
Meka melihat sebuah bangunan tua yang sangat kusam dan di sekelilingnya banyak di jaga oleh mahluk bernama genduruwo. Mahluk-mahluk itu sedang menjaga rumah itu.
"Meka, jasad itu di sembunyikan di belakang rumah itu. Di belakang sana ada sebuah bangunan kecil yang hanya bisa di masuki 2 orang atau 3 orang. Dukun itu sudah meminta iblis itu memagari rumah kecil itu. Meka, kamu bisa menggunakan liontinmu untuk membuka segel rumah itu. Lakukan sekarang karena sebentar lagi akan menjelang malam," jelas Khodamnya.
"Tapi bagaimana kami harus melewati genduruwo itu. Mahluk itu sangat mengerikan?" tanya Meka yang bingung.
"Kita tidak mungkin melawannya. Kita harus memikirkan caranya nak Meka," jawab Kakek tua itu.
"Meka gunakan liontinmu untuk membuat lingkaran ilusi agar bisa mengelabui mahluk-mahluk itu. Sehingga genduruwo itu akan mengira bahwa semuanya tetap keadaan yang sama. Kalian lewat dari samping, karena di samping tidak ada penjaganya. Cepat lakukan?" ucap Khodamnya yang mengarahkan Meka bertindak.
Kemudian Meka mengambil liontinnya dan menggoreskan tangannya, lalu dia membuat gerakan memutar menggunakan liontinnya sehingga sebuah lingkaran seperti gelembung halus melingkari rumah itu. Lalu Meka dan Kakek tua berlari ke arah samping rumah itu setelah keadaan aman.
"Ayo kek kita lewat sini," ajak Meka.
Mereka berjalan hati-hati. Jalan yang mereka berdua lewati bukan jalan yang aman, akan tetapi banyak tengkorak dan tulang belulang yang berserakan. Bahkan bau anyir mulai terasa di penciuman mereka sehingga membuat Meka mual-mual ingin muntah.
"Apa kek? Sisa tubuh manusia?" tanya ulang Meka.
"Hussttt nak Meka jangan kenceng-kenceng suaranya. Takut ada yang mendengarnya," protes Kakek tua.
"Maaf kek, tapi saya tidak tahan. Ini benar-benar membuat saya ingin muntah kek. Perut saya gak bisa lagi menahannya kek," ucap Meka gemetar karena menahan rasa mualnya.
Lalu Khodamnya Meka muncul dan memberikan sebuah air dan menyuruh Meka untuk meminumnya.
"Meka minumlah air ini agar kamu tidak merasakan mual ingin muntah lagi," ucap Khodamnya sambil menyerahkan kendi kecil ke Meka.
"Air apa ini?" tanya Meka penasaran.
"Minum saja, karena kamu memang memang membutuhkannya," jawab Khodamnya.
Lalu Meka segera meneguk air minum itu dari kendi kecil. Setelah beberapa menit, Meka tak merasakan mual-mual lagi.
__ADS_1
"Gimana nak Meka, sudah mendingan?" tanya Kakek tua. "Bisa kita lanjutkan perjalanan ke belakang?" tanya Kakek tau itu.
"Saya sudah tidak merasakan mual lagi kek. Apa Kakek mau meminumnya?" tanya Meka yang hendak menyerahkan kendi kecil itu.
"Jangaaaannnn," ucap Khodam Meka yang menghentikan Meka.
"Kenapa? Kenapa Kakek tua ini tidak boleh meminumnya?" tanya Meka bingung.
"Bukan waktunya untuk menjelaskannya Meka. Kalian harus segera memusnahkan jasad itu dan segera kembali ke raga kalian, cepat Meka!" seru Khodamnya.
"Saya tidak apa-apa nak Meka. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita," ucap Kakek tua.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah kecil di belakang. Semakin lama jalan yang mereka lewati ternyata semakin menjijikkan. Pemandangan mengerikan terlihat di hadapan mereka berdua. Kepala menggantung dengan lidah yang menjulur keluar serta mata yang sudah tidak ada lagi menjadi pemandangan yang mengerikan dan menjijikkan.
"Oh ya ampun kek..., kenapa tempat ini mengerikan sekali! Kenapa banyak tulang belulang dan kepala menggantung disini?" tanya Meka bingung.
"Sepertinya ini santapan mahluk genduruwo-gendueuwo yang ada disini nak Meka. Jangan perdulikan, kita fokus ke depan. Sebentar lagi kita sampai di belakang," jawab Kakek tua.
Mereka kembali berjalan hingga sampai di halaman belakang yang lebih mengerikan. Mereka dihadapkan dengan mahluk yang sedang menyantap seonggok daging kecil dengan buas seperti seekor singa yang kelaparan. Dengan gigi taring yang tajam, mahluk itu menarik paksa kaki itu hingga terlepas dari tubuh itu dan mengeluarkan banyak darah. Dan yang lebih menjijikkan, mahluk-mahluk itu berebut untuk meminum darah-darah itu.
"Ya Allah kek, apa lagi ini! Kenapa mengerikan sekali. Gimana kita masuk ke dalam rumah itu? Mahluk-mahluk itu sedang menikmati santapannya," ucap Meka yang merasa jijik dengan pemandangan di depan.
"Kita tidak mungkin menunggu mahluk-mahluk itu selesai menyantap makanannya. Kakek juga sedang memikirkannya," balas Kakek tua itu.
Saat mereka berdua sedang memikirkan cara masuk ke dalam, seseorang keluar dari dalam rumah itu. Meka dan Kakek tua segera bersembunyi di balik pohon besar yang tak berpenghuni. Karena penghuninya sedang berada di depan rumah.
"Hei, kalian, jaga yang benar. Kalau mau ditambah makanan lagi, harus benar menjaga tubuh di dalam rumah ini, mengerti...!" bentak seseorang yang ternyata dukun itu.
Dukun itu hendak pergi melangkah ke depan, namun penciumannya memberikan sinyal berbeda.
"Wangi sekali!" dukun itu mulai mengendus-endus sekitarnya, namun tak menemukan wangi yang sedikit menyengat.
Dukun itu mulai melihat sekeliling, dia merasakan sesuatu yang berbeda di sekitarnya.
__ADS_1