
Zain melihat perempuan itu hendak masuk ke dalam kamar mereka dengan membawa segelas susu.
"Berhenti....!" teriak Zain dari jarak yang sedikit jauh.
Zain pun berjalan cepat ke pembantu itu. Dia melirik ke gelas susu yang ada di nampan.
"Siapa yang menyuruh kamu membawa susu ke sini?" tanya Zain dengan tegas dan tatapan tajamnya.
"S--saya di minta Nyonya untuk membuatkan susu buat Mbak Meka," jawab pembantu itu.
"Sini, biar saya yang membawakannya. Kamu tidak perlu masuk ke dalam kamar, silahkan pergi dari sini," usir Zain dengan kejam.
"B--baik tuan," kata perempuan itu dengan gugup.
Perempuan itu lantas pergi dari hadapan Zain. Sementara Zain menunggu perempuan itu menjauh dari kamarnya. Kemudian Zain pun masuk ke dalam kamar dan melihat Meka sedang tertidur.
Zain menghampirinya dan membangunkan Meka.
"Sayang, kamu sudah tidur ya?" tanya Zain saat dia duduk di samping Meka.
"Mmm, Mas, kamu baru datang?" tanya Meka yang belum sepenuhnya sadar.
"Iya, tadi Mas udah ngobrol sama Papa di ruang kerjanya," jawab Zain.
Meka pun duduk dan menyandarkan punggungnya ke belakang kepala dipan. Meka melihat Zain sedang memegang nampan berisi segelas susu.
"Mas, itu kamu yang buat?" tanya Meka sumringah. "Sini Mas biar aku minum susunya," pinta Meka dengan mengulurkan tangannya.
"Tidak sayang, bukan Mas yang buat. Tapi....," Zain menghentikan ucapannya.
"Tapi apa Mas?" tanya Meka penasaran.
"Tapi perempuan yang bekerja di rumah ini," jawab Zain.
"Loh kok dia bisa-bisanya membuat susu untukku Mas?" tanya Meka lagi. "Emangnya siapa yang menyuruh dia membuat susu untukku Mas?"
"Kata perempuan itu kalau Mama yang nyuruh dia buatkan susu untuk kamu. Tapi Mas gak percaya. Jadi kamu gak usah meminumnya ya sayang. Biar Mas aja yang buat nanti," jawab Zain yang memberitahu.
"Atau jangan-jangan, perempuan itu sengaja di kasih Mamanya si Mona untuk memantau kita selama di rumah Mama?" tebak Meka.
__ADS_1
Zain berpikir sambil kedua tangannya dilipat depan dadanya. Kemudian dia teringat akan kejadian saat hendak masuk ke ruangan kerja Papanya.
"Mas baru teringat, tadi saat Mas mau ke ruangan Papa, Mas merasa ada yang mengikuti Mas. Tapi pas Mas membalikkan badan, ternyata Papa. Mas yakin ada orang lain di dekat ruangan Papa," jelas Zain tanpa menoleh ke Meka.
"Kalau ini ulah Tantemu, apa niatnya dan tujuannya? Apakah ini ada hubungannya dengan Mona?" tanya Meka yang menebak keadaan sekitar mereka.
"Kenapa dengan dia? Malah kata Mama, dia tidak ikut datang kemari bersama Mamanya. Mas rasa dia tidak terlibat. Ini hanya tebakanmu aja sayang. Jangan berasumsi begitu, tidak baik karena akan menimbulkan fitnah," ucap Zain yang secara tidak langsung membela Mona.
Meka kaget dan langsung menoleh ke Zain dengan memicingkan matanya mencari apa yang ada dalam pikiran suaminya sehingga dia tidak suka jika dirinya menjelekkan Mona.
Meka pun memalingkan wajahnya, hatinya menyesek dengan sikap Zain. Meka merasa Zain berubah dan tidak mendukung dirinya lagi.
"Mas, aku mau istirahat dulu, ini sudah malam. Kamu juga harus istirahat," ucap Meka yang sudah merasa tak enak untuk melanjutkan pembicaraan.
Tentu saja Zain terkejut dengan tiba-tiba sikap Meka berubah acuh. Dia pun menatap istrinya yang sudah berbaring dan menarik selimutnya sampai sebatas dada.
Zain tak menjawab Meka, tapi dia pun ikut berbaring dan masuk ke dalam selimut dengan memeluk tubuh Meka.
"Selamat tidur sayang," ucap Zain sambil mengecup kening Meka.
Meka tak meresponnya, dia hanya diam sambil memejamkan matanya. Hatinya masih terasa sakit dengan ucapan suaminya. Ntah kenapa dia merasa sensitif belakangan ini.
"Mona....., kenapa kamu mengambil baju suamiku?" teriak Meka yang tak akan di dengar sama Mona.
Meka menggeram karena baju yang menjadi kesukaan Meka berada di tangan Mona.
Pada saat itu Khodamnya muncul dan menegur Meka dengan memegang bahunya.
"Jangan panggil dia lagi Meka. Dia bukan Mona yang dulu. Dia sudah bersekutu dengan iblis. Kau harus berhati-hati Meka. Aku akan membantumu jika dalam keadaan yang sangat membahayakan, tapi untuk saat ini, kau harus berhati-hati," jelas Khodamnya yang muncul di belakang Meka.
Meka langsung membalikkan badannya dan menatap dingin ke arah Khodamnya.
"Kau selalu memberiku penjelasan yang tak jelas. Kenapa kau tidak membantuku untuk menghancurkan mereka yang akan merusak keluargaku," kesal Meka.
"Tidak Meka, itu sama saja aku yang mengontrol hidupmu. Kau harus menjalaninya tanpa bantuanku. Tapi keselamatanmu aku bisa memberikannya," balas Khodamnya yang langsung menghilang.
Meka merasa kesal karena kedatangan Khodamnya membuatnya kehilangan Mona. Meka pun kembali ke dunia nyatanya. Dia mendengar suara Adzan subuh. Meka membuka mata dan duduk menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Dia menoleh ke arah Zain yang masih terlelap.
"Apa arti mimpiku itu ya? Kenapa aku selalu memimpikan dia? Dan kenapa selalu berkaitan dengan suamiku?" gumam Meka dengan melirik ke arah jam dinding di hadapannya.
__ADS_1
Kemudian Meka beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi. Selama Meka di dalam kamar mandi, ternyata Khodamnya Meka berada berdiri di dekat Zain. Dia menatap dengan dingin dan tersenyum penuh arti.
"Kau tak bisa menjaganya, maka aku akan mengembalikannya ke tempatnya bersama dia," gumam Khodamnya Meka dengan tatapan yang sadis.
Tepat ketika Meka keluar dari kamar mandi, Khodamnya menghilang. Dia tidak mau Meka melihat kehadirannya.
Meka melangkah berjalan mendekati Zain dan membangunkannya.
"Mas, ayo bangun. Ini sudah subuh," ucap Meka membangunkannya.
"Sudah pagi ya sayang." Zain masih merasa ngantuk dan sangat berat untuk membuka matanya.
"Iya Mas, aku subuh duluan ya Mas," ucap Meka yang berlalu dari hadapan Zain.
Zain masih tidak bergeming. Dia malanjutkan tidurnya dan melupakan Meka yang berusaha membangunkannya.
Hingga Meka selesai, Zain masih tertidur. Meka kembali menghampiri Zain dan membangunkannya.
"Mas, ayo bangun! Apa kamu gak subuh dulu?" tanya Meka yang berusaha membangunkan suaminya.
"Mas ngantuk banget sayang. Bentar lagi Mas bangun ya," jawab Zain.
Meka mengelak nafasnya yang terasa berat, dia masih berdiri di samping tempat tidur dan menatap suaminya yang sedikit bersikap aneh menurutnya.
Kemudian Meka keluar dari dalam kamarnya. Dia berjalan ke arah ruang makan. Namun saat kakinya hendak melangkah ke dapur, samar-samar Meka mendengar seseorang sedang berbicara. Meka pun pelan-pelan melangkahkan kakinya dan mencari sumber suara itu. Meka bersembunyi di bawah di bawah tangga yang gelap dan banyak nyamuknya demi mendengar apa yang di bicarakan orang tersebut.
"Nyonya, saya kemaren hampir kepergok sama tuan Zain ketika dia masuk ke dalam ruangan kerja tuan besar. Dan syukurnya saya bisa bersembunyi dengan cepat hingga Tidka ketahuan," ucap orang itu yang ternyata perempuan yang menjadi pembantu di rumah itu. Pembantu yang diberikan Mamanya Mona terhadap Mamanya Zain dengan alasan tambahan tenaga.
"Baik Nyonya, saya akan lebih berhati-hati. Saya akan terus memantau mereka," balas perempuan itu lagi.
Meka hendak menegurnya, tapi dia khawatir akan keselamatan anaknya. Meka hanya diam bersembunyi dan terus mendengar apa yang direncanakan mereka.
"Kalau gitu saya tutup dulu ya Nyonya. Tolong kirimkan uangnya buat kebutuhan saya Nyonya. Saya akan terus memantau mereka dan mungkin pengaruhnya sudah sedikit demi sedikit berjalan Nyonya," balas perempuan itu.
"Baik Nyonya," lalu perempuan itu mematikan ponselnya dan menengok kesana kemari memastikan tidak ada yang mendengar percakapannya. Kemudian dia kembali berjalan memasuki kamarnya.
Meka pun keluar dari persembunyiannya dan menatap perempuan itu yang telah menghilang dari pandangannya.
"Apa yang diinginkan mereka? Apakah dia melaporkan semuanya ke Mamanya Mona?" bathin Meka.
__ADS_1
Meka melanjutkan keinginannya yang hendak ke dapur. Dia ingin membuat susu dan mencari cemilan di kulkas karena pagi ini Meka merasakan laper.