Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 66


__ADS_3

Meka berjalan ke arah ruang tamu, dimana Zain sudah menunggunya.


"Mas, ayo kita balik," Meka mengajaknya pulang.


"Udah selesai temu kangennya sama Asih?" tanya Dosganya.


"Sudah Pak. Tapi sebenarnya sih belom puas Pak Zain. Lusa rencananya Meka mau nemani saya Pak buat nyari kost-kostan. Boleh ya Pak kalau Meka kemari!" Asih meminta izin sama Pak Zain agar Meka dibolehin pergi sama dia.


"Benarkah itu sayang?" tanya Zain sambil menatap istrinya.


"Iya Mas, itupun kalau dibolehin. Asih gak mau tinggal disini lagi katanya. Apalagi aku udah gak disini, sepi kata Asih. Makanya dia mau pindah ngekost aja biar ramai," jelas Meka dengan suaminya.


Zain memandangi wajah Meka. Dia melihat sesuatu yang berbeda diwajah istrinya. Zain mengerutkan keningnya saat menatap Meka


"Ada apa sayang? Kenapa melihatku seperti itu?" Meka pun ikut mengerutkan keningnya.


Asih pun ikut-ikutan menatap ke arah Meka. Namun dia tidak begitu memperhatikan dengan jelas apa yang ada di wajah Meka.


"Ah tidak ada apa-apa. Aku lihat kamu sepertinya letih banget Meka!" seru Zain yang beralasan bohong.


"Iya tadi kita jalan sepanjang Malioboro, makanya capek banget nih kaki."


"Maaf ya Pak Zain buat Mekanya kecapean. Habis udah lama gak jalan bareng lagi," sambung Asih yang berdiri disamping Meka.


"Ya sudah kalau begitu kami balik dulu. Makasih ya Asih sudah bantuin Meka buat beresin barang-barangnya," ucap Pak Zain tulus.


"Ah..bapak ini kayak sama siapa aja. Udah sewajarnya saya bantuin Meka. Dia kan sahabat saya yang terbaik," balas Asih.


"Ya udah Sih, gw balik dulu ya. Nanti gw khabari tentang tour itu ya. Yang pasti Lo harus ikut," Meka tersenyum melihat sahabatnya itu.


"Siplah Mek. Gw tunggu khabarnya," balas Asih.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam Meka, Pak Zain," Asih memeluk Meka dengan erat. Ada rasa sedih dihatinya saat sahabatnya meninggalkannya sendirian dikontrakannya.


Lalu Meka dan Zain keluar dari kontrakan dan masuk ke dalam Mobil. Meka melambaikan tangannya kearah Asih sampai Mobil keluar jauh dari kontrakan itu.


Meka juga merasakan kesedihan saat berpisah tempat tinggal dari Asih. Selama ini mereka sering melakukan kegiatan bareng. Mereka seperti saudara yang sangat dekat.


"Sayang, Mas boleh bertanya sesuatu?" tanya Zain sambil menyetir.


Meka menoleh kearah Zain dan menjawab, "Iya Mas, kamu mau nanyain apa?" tanya Meka balik. Sebenarnya Meka takut kalau Zain bakalan menanyakan tentang sudut bibirnya.


"Itu kenapa wajah kamu sepertinya ada yang luka ya!"


"Mana sih Mas. Kayaknya gak ada deh Mas," kilah Meka merasa takut.


"Sayang, jujur deh sama Mas. Kita ini sudah suami istri, dan kamu itu sudah menjadi tanggung jawab Mas. Jadi Mas minta jangan ada rahasia diantara kita, ya," pinta Zain dengan memohon.


"Maaf Mas, bukannya aku gak mau berbagi. Tapi aku takut kamunya marah dan menganggapku aneh."


"Loh kenapa kamu berpikiran seperti itu! Mas gak pernah nganggap kamu aneh. Mas kan sudah tau kelebihan yang kamu miliki. Dan sudah menjadi resiko Mas apapun yang terjadi, Mas tetap bersamamu!" ucap Zain tegas.

__ADS_1


Meka langsung bergelayut manja dilengan suaminya. Dia merasa beruntung mendapatkan Dosganya yang dewasa dan penyayang ini. Dan itu membuatnya semakin takut kehilangannya.


"Iya Mas, maaf. Ceritanya sih agak gimana gitu. Ini hal yang memang diluar nalar manusia normal."


"Emang ada apa? Kok bisa bibir kamu itu agak membiru disudutnya?" tanya Dosganya.


Meka menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia mulai menceritakan tentang kejadian tadi.


"Ceritanya saat, aku masuk ke kamar Asih. Tapi ternyata Asihnya lagi di kamar mandi. Dan di dalam kamar Asih ada sosok laki-laki tak kasat mata. Sebenarnya dari tadi pagi pas kita ke kontrakan dia sudah ada disitu. Dan aku pikir dia sudah pergi saat kami jalan-jalan. Ternyata dia tinggal di kamar itu sudah lama."


"Kamu serius sayang, ada mahluk ghaibnya di kamar Asih tadi?" tanya Zain tak percaya.


"Iya Mas. Dia menginginkan Asih, dan bahaya kalau dibiarkan. Bisa-bisa mahluk itu membawa asih ke dunianya," terang Meka.


"Terus apa yang terjadi lagi sayang?" tanya Zain lagi.


"Terus mahluk itu marah, dan di menghempaskan ku hingga aku terjatuh diatas tempat tidur dan mengenai pinggiran tembok sehingga aku mengeluarkan darah segar tadinya Mas," jelas Meka.


Tiba-tiba Zain langsung menghentikan Mobilnya dan Meka terkejut dengan tindakan suaminya.


"Sayang kamu kenapa menghentikan Mobil tiba-tiba begini?" tanya Meka takut.


Zain menatap Meka dengan tajam. Dan dia langsung memegang kedua pipi Meka.


"Kenapa kamu sembunyikan ini dari Mas tadinya sayang? Kalau kamu terluka, jangan pernah merasakannya sendiri. Kamu harus jujur apapun yang terjadi," lalu Zain memeluk Meka dengan erat. Dia sangat takut kehilangan Meka.


"Maafin aku ya Mas. Aku janji gak akan tertutup lagi. Aku sayang sama kamu Mas," Meka merasa nyaman berada dalam pelukan Zain.


"Iya Mas."


"Terus gimana dengan Mahluk itu?" tanya Zain.


"Dia sudah dimusnahkan oleh Harimau itu Mas," jawab Meka.


"Syukurlah kalau gitu. Biar dia tidak mengganggu istriku. Sekarang kita jalan lagi ya," Zain mengecup kening Meka penuh kasih sayang.


Meka menganggukkan kepalanya dan kembali ke posisi duduknya.


Sepanjang jalan, mereka asyik ngobrol, bercanda dan tertawa. Mereka pasangan yang sangat serasi dan bahagia. Namun mereka tidak mengetahui apa yang akan dihadapi mereka didepan nantinya.


Akhirnya Mobil sampai di Apartement Zain. Mereka keluar dari Mobil dan masuk ke Apartment. Zain menggenggam tangan Meka dan meminta pelayan di Apartement membawakan barang-barang mereka ke atas.


"Mas, kapan kita menemui orang tua Mas?" tanya Meka saat berada di dalam lift.


"Insyaallah besok sehabis kita ke kampus ya ketemu orang tua Mas," jawab Zain.


"Aku takut Mas, mereka gak menerimaku dikeluarga Mas."


"Kamu gak usah khawatir ya sayang. Apapun yang terjadi, Mas gak akan ninggalin kamu," ucap Zain yang menghibur hati Meka.


"Janji ya Mas, kamu gak akan ninggalin aku. Apapun kondisinya nanti yang terjadi," pinta Meka.


"Janji sayang."

__ADS_1


Lalu pintu lift terbuka, mereka keluar dari lift dan berjalan menuju kamar Apartemen Zain.


Meka masuk dan duduk di sofa, dia meregangkan otot kakinya yang kecapean berjalan bersama Asih.


"Sayang, besok masuk kuliah kan?" tanya Zain.


"Iya Mas. Oh ya tadi pas di Kampus, apa Masnya ketemu sama Isna, Shinta dan Ghani?" tanya Meka penasaran.


Zain duduk disamping Meka dan mencium pipinya.


"Mas tadi gak masuk ke kelas mereka. Mas hanya mengerjakan tugas diruangan Mas aja. Kenapa emangnya?" Zain bertanya.


"Ah nggak apa -apa Mas. Aku males besok ketemu sama mereka. Semuanya sudah berbeda saat kejadian di rumah Ghani kemaren."


"Tapi bukan berarti kamu males buat kuliah kan sayang?! Lagian mereka juga gak ada menghubungi kamu kan?" tanya Zain dengan serius.


"Iya Mas. Mereka menghilang ditelan bumi, hehehe," canda Meka sambil dia merebahkan kepalanya di bahu Zain.


"Tidak usah dipikirkan Meka. Kuliah aja seperti biasanya. Kalau ketemu mereka, ya disapa seperti dulu," Zain memberikan masukan kepada Meka.


"Oh ya Mas, tadi waktu aku sama Asih jalan di Malioboro, aku ngelihat Bu Arin jalan sama mantan Asih loh!"


"Loh, mereka selingkuh?" tanah Zain heran.


"Tidak, ternyata mereka itu kakak beradik. Aku juga baru tau dari Asih tadi saat jalan berdua."


"Oh ya..., wah dunia ini emang sempit banget ya sayang, sesempit punya kamu, buat nagih terus," goda Zain sambil memeluk Meka.


"Ihhhh apaan sih Mas. Aku serius loh...!" Meka menjadi sewot di godain suaminya.


"Hehehe, sayang nanti malam, kita tempur lagi ya. Tadi bentar banget tempurnya. Mau ya...," rengek Zain seperti anak kecil.


"Mmmm, tapi janji loh, gak pake lama. Besok kita mau ke Kampus, aku takut gak bisa bangun."


"Iya sayang, gak lama kok, sampe Mas puas baru berhenti ya," ucap Zain dengan menampilkan senyum mengembangnya.


"Tuh kan, gak jelas." Meka memanyunkan bibirnya karena kemauan suaminya yang minta jatah terus.


"Kamu udah laper belom?" Zain bertanya.


"Laper sih Mas, tapi aku lagi males keluar cari makanan. Kita delivery aja ya, makan disini!" pinta Meka.


"Ya udah, habis Maghrib kita pesan delivery aja ya."


"Mas kamu belom pernah cerita tentang keluarga kamu. Mama dan Papa kamu apakah mereka galak, pemilih atau tipe orang tua yang menerima kemauan anaknya?" tanya Meka yang ingin mengetahui tentang kuathan Zain.


"Mmm mereka baik kok Meka. Besok juga pasti kamu ketemu. Jadi biar kamu aja yang menilai bagaimana keluarga Mas ya."


"Iya deh. Tapi aku deg-deg an ya Mas. Takut mereka gak bisa nerima aku. Apakah kamu akan memberitahukan kepada mereka tentang kelebihan ku?" tanya Meka lagi.


"Itu hanya kita berdua yang tau sayang. Mas gak mau kamu kenapa-napa jika keluarga Mas tau tentang kelebihanmu. Dan Mas minta kamu juga jangan memberitahukan ke siapapun tentang hal itu, ya sayang!"


"Iya Mas," Meka menuruti apa kemauan suaminya. Dia berjanji akan berusaha menjadi istri yang baik buat Dosganya.

__ADS_1


__ADS_2