Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 45


__ADS_3

Setelah pertemuan mereka dengan kakek itu, Meka dan Zain saling menatap. Banyak pertanyaan yang ada didalam pikiran mereka berdua.


"Gimana ini Zain? Papa pasti sangat bingung, jika kuncen pemakaman ini mau bertemu," ucap Meka yang masih menatap Zain.


"Kita harus membicarakannya Meka, bagaimana pun ini pasti menyangkut hal yang serius," balas Zain.


Meka melihat kearah pusaran Mama dan adiknya. Lalu dia bersimpuh dihadapan gundukkan tanah yang masih basah. Meka menangis sambil menaburkan bunga diatas tanahnya.


"Mama yang tenang ya disana, Meka akan selalu mengirimkan do'a untuk Mama," ucap Meka dengan air mata yang terus mengalir.


"Tante, saya akan memenuhi janji saya kemaren. Akan selalu menjaga Meka dan melindunginya dari hal apapun," Zain juga bersimpuh dihadapan pusaran Mamanya Meka.


Setelah sejam mereka disana, Meka dan Zain pergi dari pemakaman itu. Meka menatap kebelakang melihat pemakaman itu. Meka merasa ada yang janggal. Ntah kenapa perasaannya tidak tenang.


Meka dan Zain naik keatas motor. Zain mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


"Sayang, kenapa kamu diam aja dari tadi setelah kita keluar dari pemakaman?" tanya Zain yang fokus menatap kedepan.


"Aku gak tau Zain, tapi perasaanku gak enak. Seperti ada sesuatu yang terjadi," ungkap Meka.


Lalu mereka terdiam, dengan pikiran masing-masing. Meka teringat akan Omnya, adik dari Mamanya.


"Oh ya Zain, kita sekarang ke Om Sandy aja. Aku belom pernah menjenguknya setelah tabrakan terjadi kemaren," ucap Meka yang mengajak Zain ke rumah sakit.


"Oh iya, aku juga hamoir lupa dengan Om kamu. Ayo kita kesana, semoga mereka belom keluar dari rumah sakit," ujar Zain.


"Aku akan menghubungi no Tante ku dulu. Biar tahu kalau kita kesana."


Zain memutar haluan perjalanannya. Saat ini motor bergerak ke arah rumah sakit yang dituju. Ternyata ruang sakit dari pemakaman tidak terlalu jauh. Mereka sampai di rumah sakit.


Meka sudah memberitahukan kedatangan mereka terhadap Tantenya. Saat ini Tantenya sedang menunggu Omnya didalam kamar rumah sakit.


Zain memarkirkan motornya diarea parkiran motor. Lalu mereka berjalan masuk kedalam rumah sakit dan berhenti di depan Reseptionist.


"Siang kak!" ucap Meka saat sudah berada didepan meja Reseptionist.


"Siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu pekerja di Reseptionist itu.


"Bu saya mau menanyakan kamar Anggrek dilantai berapa ya?" tanya Meka lagi.


"Mau cari siapa ya?" tanya petugas itu.


"Mau cari kamar Anggrek atas nama Sandy Baskoro," balas Meka.

__ADS_1


"Oh..., silahkan lurus saja kesamping sana, nanti diujung ada tangga, naik kelantai pertama, belok ke kanan, kamar ke dua dari tangga," si petugas memberitahukan letak kamar tersebut.


"Terima kasih Bu."


Lalu Meka dan Zain pergi meninggalkan meja Reseptionist dan berjalan kearah yang di infokan oleh sipetugas.


"Tante kamu sudah tau kan Meka kalau kita mau kesini?" tanya Zain.


"Sudah, tadi aku kirim pesan ke Tante. Dia menyuruh kita untuk datang," jelas Meka.


Mereka terus berjalan hingga menemui tangga dan naik keatas. Setelah sampai diatas meja berjalan kearah kanan. Zain hanya mengikuti Meka. Tak jauh dari tangga, Meka menemukan kamar Anggrek yang ditempati Omnya.


Meka mengetuk pintu kamar Omnya.


"Tok tok tok."


Lalu pintu itu pun terbuka dan Meka melihat Tantenya yang membuka pintu.


"Tante...! Meka memeluk Tantenya dengan rasa haru. Dia melihat Tantenya yang sedang mengandung.


"Ayo masuk dulu Meka. Didalam Om kamu sudah menunggumu," ucap Tantenya yang membawa Meka kedalam kamar.


Meka melihat Omnya yang masih terbaring diatas tempat tidur dengan infus ditangan.


Meka sangat dekat sama adik Mamanya. Karena adik Mamanya sangat memanjakan Meka dari kecil sebelum Omnya Sandy menikah.


"Meka..., Om minta maaf karena gak bisa menjaga Mama dan adikmu! Om turut berduka ya. Om juga gak menyangka bisa terjadi seperti itu," ucap Omnya penuh penyesalan.


"Iya Om,hiks hiks hiks, Meka gak nyalahin Om kok. Mungkin ini udah kehendak yang diatas Om," balas Meka dengan tangisan.


"Sabar ya nak, Tante juga gak nyangka bisa terjadi seperti ini," Tantenya Meka mengusap-usap punggung Meka.


Lalu Meka tersadar karena dia tidak sendirian kerumah sakit. Dia menoleh kearah Zain yang duduk di sofa.


"Om, Tante kenalin, itu teman Meka dari Jogja," Meka memperkenalkan Zain kepada mereka berdua.


"Om, saya Zain, Dosen Meka dikampus. Dan saya ikut Meka ke Medan, karena sudah berjanji untuk menjaga Meka selalu," ucapan Zain percaya diri.


"Om sudah mendengar cerita dari Mamanya Meka, saat almarhum didalam mobil sebelum kecelakaan terjadi. Om harap kamu bisa menepati janji sama almarhum kakak saya."


"Iya Om, saya gak akan mengingakrinya. Om gimana keadaannya sekarang? Udah ada kemajuan?" tanya Zain yang berada disamping Omnya Meka.


"Alhamdulillah Zain, sekarang Om udah mulai membaik. Kasihan Tantenya Meka. Selalu menjaga saya disini."

__ADS_1


"Kalau boleh tau kejadiannya seperti apa Om?" tanah Zain ingin tau.


"Om juga gak mengerti Zain kenapa secepat itu kejadiannya. Rasanya masih tidak percaya dengan apa yang Om alami."


Lain halnya dengan Meka. Dia duduk bersama Tantenya disofa ngobrol. Namun sesekali mencuri dengar tentang apa yang dibicarakan Zain dan Omnya.


"Meka tadi dari rumah kan? Gimana kondisi Papa kamu? Tante kemaren cuma sebentar saja disana. Karena harus menemani Om kamu disini," ucap Tantenya dengan wajah yang letih.


"Papa, dia masih syok mungkin Tante. Karena Papa lebih memilih untuk mengurung dirinya dikamar dan tidak mau bergabung dengan keluarga yang lainnya. Pantesan kemaren Meka tidak melihat Tante dirumah," balas Meka.


"Nanti kalau Om kamu sudah sembuh, kami akan datang kerumah melihat keadaan Papa kamu. Oh ya, kapan Meka balik kejogja" tanya Tantenya.


"Lusa Meka balik Tante. Karena Papa nyuruh Meka jangan lama-lama di Medan. Biar gak banyak ketinggalan kuliahnya," Meka sedikit berbohong sama Tantenya.


"Oh..., Zain itu siapa Meka?" Tantenya melirik kearah Zain lalu kembali menatap Meka.


"Dia orang terdekat Meka, Tante. Kemaren sebelum Mama balik ke Medan, mereka sudah sering bertemu. Dan....," Meka menghentikan ucapannya karena terisak menangis.


"Dan apa Meka?" tanya Tantenya penasaran.


"Dan kami juga beberapa kali sarapan bareng Mama, Tante," Meka menundukkan wajahnya saat mengenang kejadian ketika Mamanya di Jogja.


"Sabar ya sayang, kamu harus kuat dan tabah. Ini semua udah kehendak yang diatas," ucap Tantenya dengan lembut.


"Iya Tante. Oh ya Tante sudah berapa bu LAN sekarang usia kandungannya?" tanya Meka


"Usia kandungan Tante sudah masuk empat bulan Meka. Do'ain ya Tante biar sehat-sehat aja. Dan sibaby didalam juga sehat," pinta Tantenya.


"Meka akan do'akan Tante yang terbaik dan alncar semuanya sampai persalinan nanti."


"Aamiin." balas Tantenya tersenyum.


Sedangkan Zain dan Omnya Meka, serius ngobrol membahas tentang kejadian tabrakan kemaren yang menewaskan Mama dan adiknya Meka.


Meka menghampiri Zain dan mengingatkan Zain untuk segera kembali. Karena Meka masih ada yang harus diselesaikannya.


"Om, maaf, kami tidak bisa lama-lama sini. Karena nanti malam mau tahlilan malam kedua. Jadi kami harus segera kembali," ucap Zain yang merasa sungkan.


"Iya Om, Meka ada perlu sama Papa, dan tadi juga Papa gak tau kalau kami kesini. Karena awalnya kami pamit sama Papa ke pemakaman Mama dan Biyu," jelas Meka.


"Gak apa-apa Meka. Om yang minta maaf karena membuat kamu bersedih dan juga Papamu. Rasanya Om menyesal banget harus menjemput Mama kamu," Omnya menunduk tak mau menatap Meka.


"Jangan seperti itu Om, Meka dan Papa sudah berusaha mengikhlaskan kepergian Mama dan Biyu. Yang terpenting sekarang, Om lekas sembuh biar bisa nemani Tante. Kasihan Tante yang kurang tidur Meka lihat," Meka menoleh kearah Tantenya.

__ADS_1


Apa yang dikatakan Meka memang ada benarnya. Karena saat ini, kondisi Tantenya terlihat letih dan kurang istirahat.


__ADS_2