Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 178


__ADS_3

"Ya, kamu benar. Semoga besok kita mendapatkan khabar yang baik," Deon pun menyetujuinya.


"Mana De, makanan aku?" tanya Isna.


"Ini Na, yuk makan. Aku udah duluan malah makannya," jawab Deon.


"Kayaknya enak nih makanannya," Isna menatap lapar ke arah makanannya.


Isna langsung menyantap makanan yang di pesannya. Dia tak membuang waktu karena cacing di dalam perutnya sudah meronta untuk anak di kasih makan.


"Na, nanti aku tidur di kamar kamu ya. Aku tidurnya dibawah aja. Karena aku masih agak takut Na dengan yang kemaren," pinta Deon.


"Oh ya udah. Tapi ingat jangan macam-macam ya De," tegas Isna.


"Yeeee, ya gak dong Na. Aku ingin macam-macam kalau kita udah halale," balas Deon tersenyum miring.


"Apaan sih," Isna menundukkan wajahnya yang bersemu merah, takut ketahuan Deon.


Mereka asyik ngobrol berdua sambil menikmati makan malam yang terlalu lama.


Sementara di dalam kamar, Meka dan Zain juga menyantap makan malamnya dengan ngobrol.


"Sayang, setelah selesai makan, kamu istirahat aja ya. Mas mau ngecek laporan keuangan Perusahaan Papa," ucap Zain.


"Iya Mas, aku akan istirahat. Nih juga masih terasa ngilu Mas kakiku," balas Meka yang melihat ke arah kakinya.


"Besok pagi ya kita obatin ke rumah sakit. Mas gak mau kamu kenapa-napa sayang. Jangan khawatir ya," Zain mengusap rambut panjang Meka.


"Iya Mas."


Setelah mereka menyelesaikan makan malamnya, Zain menggendong Meka ke tempat tidur. Dia meletakkan Meka perlahan agar tidak menyakiti kakinya Meka.


"Makasih Mas, kamu perhatian banget sama aku," ucap Meka tersenyum.


"Kamu seperti ini juga karena Mas. Demi menyelamatkan Mas, kamu harus terluka sayang."


"Gak apa Mas. Kita harus saling melindungi satu sama lain kan Mas," ucap Meka.

__ADS_1


"Kamu benar sayang. Tapi seharusnya Mas yang melindungi kamu sayang. Tapi Mas malah terperangkap seperti itu," kesal Zain.


"Mas jangan menyalahi diri sendiri. Ini semua sudah jaaln dari Allah SWT Mas. Kita hanya menjalankannya saja Mas," Meka mencoba menenangkan suaminya.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya. Mas mau lanjut kerja dulu," suruh Zain.


"Iya Mas."


Malam semakin larut. Zain bekerja mengecek laporan keuangan Perusahaan Papanya. Dia ingin mempelajari tentang Perusahaan Papanya sebelum mengambil alih. Zain ingin semua bisa berjalan sempurna ketika dia menduduki CEO di Perusahaannya.


Pagi pun menyapa. Matahari muncul menyinari bumi. Cuaca yang cerah mengajak penduduk bumi untuk semangat beraktifitas.


Meka membuka matanya dan melihat sinar matahari yang menembus tirai jendelanya. Lalu Meka menoleh ke samping, Zain masih tidur terlelap.


Meka bangkit dari tempat tidur. Dia mencoba menggerakkan kakinya. Perlahan-lahan Meka berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Meka menyelesaikan ritual mandinya tidak membutuhkan waktu yang lama. Lalu dia keluar dari dalam kamar mandi dan menggunakan pakaian yang rapi.


Dia melihat Zain yang masih terlelap. Meka pun menghampiri Zain. Saat Meka hendak membangunkan Zain, ternyata Zain sudah terbangun saat Meka mandi. Tapi dia masih ingin berlama-lama di dalam selimutnya.


"Sayang, kamu kenapa gak bangunin Mas dari tadi? Apa kakimu sudah baikan?" tanya Zain memperhatikan kaki Meka.


"Kalau kamu memang sedang sakit, jangan ada istilah seperti itu ya sayang. Mas gak suka. Mas lebih senang kalau kamu bergantung sama Mas. Toh kalau kamu sudah sembuh, kamu akan sangat mandiri kan!" protes Zain.


Zain sangat menyayangkan sikap Meka yang berbuat seperti itu. Padahal dia malah ingin Meka benar-benar mengandalkannya sebagai seorang suami yang bertanggung jawab.


"Maaf ya Mas, aku gak akan mengulanginya lagi. Aku hanya takut kamu kerepotan dan membuat kamu lelah Mas. Sekali lagi aku minta maaf ya Mas," Meka memeluk Zain dengan kesedihan.


Meka gak menyangka jika sikapnya seperti itu justru membuat Zain kecewa. Dia berpikir, Zain akan senang jika Meka mandiri ketika dalam keadaan sakit. Ternyata dugaannya salah.


"Iya sayang, Mas maafin. Biarkan Mas bertanggung jawab sama kamu ya," Zain mencubit dagu Meka dengan gemas.


"Mas, dah mandi sana. Kita kan mau berobat," suruh Meka.


"Iya sayang, Mas mandi dulu ya."


"Ntar Mas aku pengen sarapan soto ayam Mas yang dekat Kampus itu loh sebelum kita ke rumah sakit ya," ucap Meka memohon.

__ADS_1


"Iya, kita sarapan di sana."


Zain pun berlalu dari hadapan Meka. Dia berjalan ke arah kamar mandi.


Sedangkan Meka mengambil ponselnya. Dia menghubungi Isna.


Isna yang masih molor dan ogah-ogahan bangun, tak mendengar suara dering tlpnya. Ponselnya dia letakkan di bawah bantal satunya lagi, hingga tak terdengar suaranya deringnya.


Meka yang mencoba beberapa kali menghubungi no Isna tak juga dapat respon. Dia pun mencoba menghubungi no Deon.


Deon yang posisinya tidur di bawah samping tempat tidur, juga tak mendengar suara dering ponselnya. Karena ponsel Deon sedang dalam keadaan di charger di ruangan depan.


"Kemana mereka? Apa belum pada bangun ya?" gumam Meka heran.


Meka pun bersiap-siap. Dia menyiapkan pakaian Zain yang sedang mandi.


Beberapa menit pintu kamar mandi terbuka, Zain keluar dari dalam kamar mandi.


"Sayang, kamu udah siapkan pakaian Mas?" tanya Zain.


"Udah Mas, ini pakaiannya," jawab Meka sambil mengambil bajunya.


"Makasih sayang, apa kamu udah menghubungi mereka?" tanya Zain.


"Udah Mas, tapi gak ada satupun yang ngangkat," jawab Meka.


Zain menaikkan alis mata sebelahnya.


"Belum pada bangun ya?" tanya Zain.


"Mungkin sih Mas. Masih pada ogah-ogahan bangun Mas," jawab Meka.


"Kalau begitu biar Mas buat dulu di kertas," Zain mencari buku dan pulpennya.


Setelah Zain membuat tulisan pesan di kertas, mereka segera keluar dari dalam kamar. Zain meletakkan kertas itu di meja di bawah pot bunga kecil. Lalu keduanya keluar dari Apartment.


"Wah Mas kelihatannya ramai tempatnya," Meka melihat banyak yang parkir di depan warung itu.

__ADS_1


"Iya, wajar aja sayang, makanannya emang enak dan lezat," balas Zain.


"Ayo kita turun, aku udah laper Mas. Pengen ngerasain sotonya. Udah lama gak sarapan disini," ajak Meka.


__ADS_2