
Malam pun tiba, tahlilan malam ketiga segera dilakukan. Para tamu, baik dari saudara dan tetangga bahkan teman berdatangan untuk memberikan do'a kepada Almarhum dan Biyu.
Papanya Meka dan Zain sudah menyambut kedatangan tamu dan Ustadz.
"Assalamu'alaikum Pak Ustadz!" sapa Papanya Meka saat kedatangan Ustadz Anwar.
"Wa'alaikumussalam Pak Bram," sahut Ustadz Anwar.
"Ayo Ustadz silahkan masuk," ajak Papanya Meka.
Ustadz dan Papanya Meka serta Zain masuk kedalam dan duduk gabung bersama yang lainnya. Acara tahlilan pun segera dimulai.
"Astaghfirullahal'adzim..," ucap Ustadz Anwar terkejut saat melihat kedatangan Meka dan Harimau putih besar.
"Ada apa Ustadz?" tanya Papanya Meka yang kebingungan.
"Ah gak apa-apa Pak, mari kita lanjut mengajinya," ajak Ustadz itu.
Ustadz Anwar dapat melihat mahluk tak kasat mata. Sehingga dia dapat melihat keberadaan Harimau putih yang menemani Meka.
Ustadz Anwar sempat menatap Meka dengan tatapan yang tak biasa. Dia bisa merasakan aura berbeda di diri Meka.
Pengajian pun terus berlanjut hingga pukul 21.00 malam. Hingga penutup tahlilan, Ustadz membacakan do'a untuk Almarhum dan keluarga yang ditinggal. Setelah pengajian malam terakhir, para tamu berpulangan. Simak saudara pun kembali kerumah masing-masing.
Tinggallah Ustadz Anwar bersama Papanya Meka dan Zain. Kemudian Ustadz itu menghampiri Meka yang diam berdiri melihat tamu-tamu satu persatu meninggalkan rumahnya.
"Nak Meka, boleh saya berbicara sebentar?" tanya Ustadz itu sambil melihat Papanya Meka.
"Maaf Ustadz, ada apa ya mengajak anak saya berbicara berdua?" tanya Papanya Meka yang langsung menghampiri keduanya.
"Saya hanya ingin ngobrol saja Pak Bram. Anda jangan khawatir, saya tidak berniat jahat," balas Ustadz itu.
Lalu Meka menganggukkan kepalanya agar Papanya mau memberikan waktu kepada mereka berdua.
"Baiklah Ustadz, silahkan," ucap Papanya Meka yang masih dalam keadaan bingung.
Akhirnya Meka dan Ustadz tersebut pergi meninggalkan Papanya dan Zain. Mereka duduk di ruang tamu depan. Dimana tidak ada siapapun disana kecuali Harimau putih yang mengikuti Meka.
"Nak Meka, sudah berapa lama memilikinya?" tanya Ustadz itu.
"Memiliki siapa ya Ustadz?" tanya Meka bingung.
__ADS_1
"Yang berada disamping kamu. Apakah dia sudah lama mengikutimu?" tanya Ustadz itu.
"Saya juga tidak tau Ustadz. Saya merasakannya sejak saya kuliah di Jogja. Dia beberapa kali menampakkan wujudnya. Pertama kali di menampakkan wujud sebagai sosok laki-laki ganteng dengan berpakaian jadul. Dan saat di sini, dia mulai memperlihatkan wujud sebenarnya," jelas Meka.
"Nak Meka tau, kalau kamu itu memiliki kelebihan?" tanya Ustadz itu.
"Saya mengetahuinya baru sekarang Ustadz saat kehilangan Mama dan Biyu. Papa memberitahukannya kepada saya. Emangnya ada apa ya Pak Ustadz?" tanya Meka balik.
"Apakah kamu juga tau, kalau kamu bisa merasakan jika seseorang akan pergi meninggalkan kita dari dunia ini?" tanya Ustadz itu lagi.
"Ustadz kok tau!"
"Subhanallah..bersyukurlah nak, jika kamu diberi kemampuan itu. Dan kamu memiliki kelebihan mata bathin yang bisa melihat mahluk tak kasat mata. Pergunakan lah semua itu untuk kebajikan dan tidak sombong. Dan jangan lupa tetap menjalankan ibadahmu. Dan kamu harus berhati-hati diluar sana, karena mereka akan mengincar orang-orang seperti nak Meka," terang Ustadz itu.
"Tapi saya tidak mau melihat mahluk tak kasat mata Pak Ustadz. Dan saya ingin menjalankan hidup normal," balas Meka.
"Itu sudah jalan hidup kamu Meka. Dan semua kelebihan yang kamu miliki memang sudah pilihan mereka."
Tiba-tiba Harimau putih itu merubah wujudnya menjadi sosok laki-laki tampan dan menawan. Dia menghampiri Ustadz Anwar.
"Assalamu'alaikum Ustadz," sapa laki-laki itu.
Cha terkejut melihat kehadirannya yang sudah berdiri disamping Ustadz Anwar.
"Bisakah Ustadz membuka mata bathinnya seutuhnya?" tanya laki-laki itu.
"Bisa, tapi apakah nak Meka siap untuk melihat segalanya?" tanya Ustadz itu.
"Saya belom siap Pak Ustadz. Kalau saya sudah siap, saya akan menemui Ustadz Anwar," balas Meka dengan tegas.
"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya malam ini nak Meka tidak tidur sendirian. Karena tengah malam nanti, akan ada pertarungan gaib untuk mengembalikan milik Almarhum adik kamu. Dan saya akan memantau di kediaman saya. Karena jika dia mengetahui keberadaan kamu, maka kamu akan dibawanya melalui mimpi.
"Ustadz tau tentang hal itu?" tanya Meka penasaran.
"Ya nak Meka. Karena dukun itu mengira Almarhum adik kamu yang memiliki khodam leluhur itu. Jika tengah malam nanti tali itu tidak berkhasiat, maka kamu sasarannya. Nak Meka saya sarankan, Sholatlah ditengah malam minta perlindungan dari sang pencipta," ucap Ustadz itu yang memberikan sarannya.
"Baik Ustadz. Terima kasih telah mengingatkan saya untuk tidak meninggalkan ibadah saya," balas Meka.
"Kalau begitu saya permisi," Ustadz itu pergi meninggalkan Meka yang terbengong.
Lalu Ustadz itu menemui Papanya Meka dan meminta izin untuk kembali kerumahnya.
__ADS_1
"Pak Bram, terima kasih sudah mengundang saya untuk memimpin tahlilan malam ini. Semoga segala amal kebaikan Almarhum diterima Allah SWT," ucap Ustadz Anwar.
"Aaamiiin Ustadz. Saya juga sangat berterima kasih Ustadz bisa menyempatkan waktu untuk kerumah saya," balas Papanya Meka.
"Baik, saya berharap malam ini semuanya merasa tenang dan nyaman. Saya permisi Pak Bram, Assalamu'alaikum," ucap Ustadz Anwar.
"Wa'alaikumussalam Ustadz," balas Papanya Meka yang masih bingung mendengar ucapan Ustadz tersebut.
Papanya Meka mengantar Ustadz itu kedepan rumah. Setelah kepergian Ustadz itu, Papanya Meka mengunci pintu rumahnya. Lalu dia menghampiri Meka dan Zain diruang tengah.
"Meka," panggil Papanya.
"Iya Pa," sahut Meka saat melihat kedatangan Papanya.
"Apa yang disampaikan Ustadz Anwar tadi?" tanya Papanya Meka penasaran.
"Ayo kita ngobrol dikamar Papa aja. Biar Papa bisa istirahat dikamar," pinta Meka. Lalu Meka membawa Papanya berjalan kearah kamar Papanya. Dan Meka membawa Papanya masuk kedalam.
"Duduklah Pa, biar Meka ceritakan apa yang disampaikan Ustadz Anwar tadi," Meka mengajak Papanya untuk duduk santai.
"Sekarang ceritakan lah sama Papa apa yang disampaikan Ustadz Anwar. Papa lihat sepertinya kalian serius ngobrolnya. Apa ada hal yang serius yang disampaikannya?" tanya Papanya dengan antusias.
"Iya Pa, Ustadz Anwar tau kalau Meka memiliki khodam leluhur. Dan beliau bisa melihat sosok dari Harimau putih yang menjadi khodam Meka, Pa," jelas Meka.
"Sudah Papa duga itu dari tadi saat dia mengucap seperti orang yang terkejut. Apakah dia juga tau kalau kamu memiliki mata bathin yang bisa merasakan kematian dari seseorang?" tanya Papanya.
"Iya Pa, Ustadz itu juga menyarankan Meka untuk tidak tidur sendiri malam ini. Karena akan ada pertarungan gaib untuk mengembalikan milik Almarhum Biyu, Pa," terang Meka.
"Kalau begitu kita tidur dikamar Papa saja. Biar kamu dijaga sama Papa dan Zain. Nanti Papa sama Zain tidur di sofa dan Zain bisa mengambil kasur busa di kamar Biyu. Biar Meka tidur ditempat tidur," jelas Papanya Meka.
"Baik Om. Kalau begitu saya kembali dulu ke kamar Om mau ganti baju. Habis tuh baru saya kemari lagi," ucap Zain.
"Ya sudah. Meka sekarang kembali kekamarmu dulu nak. Kamu bersih-bersih dulu, setelah itu kita kumpul disini," ucap Papanya Meka.
"Iya Pa."
Meka dan Zain pergi keluar dari dalam kamar Papanya Meka. Zain mengantar Meka kekamarnya.
"Sayang, kamu tidak apa-apa aku tinggal sendiri dikamar kan?" tanya Zain khawatir.
"Tidak Zain. Cepatlah kemari kalau kamu sudah selesai bersih-bersihnya," pinta Meka.
__ADS_1
"Iya, aku akan segera kemari kok yanx. Aku kekamar dulu ya." Zain berjalan kearah kamarnya.
Sedangkan Meka masuk kedalam kamarnya. Didalam kamar, Meka mulai membersihkan dirinya dan berganti pakaian.