
Zain tak memperdulikan umpatan Omanya, dia terus melangkah membawa Meka dari hadapan keluarganya dan keluar dari rumah itu.
Mona menatap sinis kearah Meka. Dia benar-benar membencinya.
"Awas kau Meka....! Lihat saja nanti, bersenang-senanglah saat ini. Tapi tidak akan lama lagi kau akan aku buat menderita," bathin Mona sambil menggeretekkan giginya.
Mona pun kembali memperlihatkan wajah manisnya dihadapan keluarga besarnya.
Zain dan Meka masuk ke dalam mobil. Meka hanya bisa diam dengan semua yang terjadi.
"Sayang, kamu gak apa-apa kan?" tanya Zain yang mengkhawatirkan Meka.
"Nggak sih Mas. Tapi aku melihat sepertinya kuarga besar Mas tidak menyukaiku," jawab Meka dengan menatap kearah Zain.
"Maaf ya sayang, seharusnya Mas tidak membawamu kembali kesana. Kalau Mas tau seperti ini, dengan kamu diperlakukan tidak hangat begitu, Mas tidak akan datang," sesal Zain.
"Jangan gitu Mas. Kita kan datang bukan karena mereka. Tapi kita datang, karena ingin bertemu sama Mama dan Papa, ya kan," ucap Meka yang tidak ingin melihat Zain bersedih.
"Iya, kamu benar sayang. Tapi Mas benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan mereka," ucap Zain.
"Ya mungkin mereka yang menginginkan pertemuan keluarga kali Mas. Ambil positifnya aja Mas. Kamu jadi tau gimana mereka," balas Meka tenang.
"Mas khawatir kamu tidak tahan dengan ucapan mereka sayang."
"Awalnya sih iya Mas. Aku gak tahan mereka memojokkan ku. Apalagi membahas kamu dan sepupu kamu itu. Tapi, aku mencoba memahami perilaku mereka. Dan tidak ada gunanya membalas perbuatan mereka dengan kata-kata yang tak baik," ucap Meka dengan bijak.
"Makasih ya sayang, kamu udah memperlihatkan bahwa dirimu memang terbaik untuk Mas," puji Zain sambil menggenggam tangan Meka.
Sepulang dari rumah orang tua Zian, mereka tidak langsung kembali ke Apartement. Zain mengajak Meka makan siang yang tertunda di Mall.
"Sayang, ayo kita makan siang di Mall. Sekalian aku ingin membelikan kamu sesuatu," ajak Zain semangat.
"Kamu mau belikan aku apa Mas?" tanya Meka penasaran.
"Ada deh...,kita parkir dulu ya."
"Iya Mas."
Zain memarkirkan mobilnya di basement. Lalu mereka keluar dari mobil dan berjalan memasuki Mall.
__ADS_1
"Ayo sayang, kita cari tempat dulu untuk makan. Mas udah laper banget nih," ajak Zain yang tak sabaran.
"Iya Mas, aku juga udah laper banget," Meka setuju dengan ajakan Zain.
Mereka mencari cafe untuk makan siang. Ternyata Deon dan Isna juga sedang jalan-jalan di Mall yang sama. Ketika Zain dan Meka keluar dari lift, mereka bertemu dengan Deon dan Isna.
"Loh Mek.., kalian disini?" tanya Isna kaget melihat mereka merdua.
"Kalian juga disini?" tanya Meka balik.
Mereka seperti orang yang lama tak bertemu, reunian di tengah lift terbuka hingga membuat pengguna lift lain menegurnya.
"Mbak, kalau mau ngobrol jangan di tengah pintu lift. Liftnya jadi gak bisa jalan lagi. Awas minggir," ucap salah satu pengguna lift itu.
"Eh iya Mbak, maaf ya," balas Meka yang menyadari kesalahannya.
Lalu Meka mengajak Isna menjauh dari lift tersebut.
"Na, kalian mau kemana nih?" tanya Meka.
"Kami baru aja sampai Mek. Tadi Deon ngajak gw pengen makan diluar. Katanya bosen di Apartement, jadi dia ngajak gw deh," ucap Isna memberitahu.
"Kalau gitu sama dong. Kita juga baru sampai disini. Kami juga mau nyari tempat makan," ucap Meka.
"Loh, bukannya Lo dan Pak Zain pergi kerumah orang tua Pak Zain? Kenapa malah nyari makan disini?" tanya Isna yang kepengen tau.
"Itu artinya gw gak bisa makan siang disana, makanya nyari makan disini," jawab Meka.
"Iya deh, gw ngerti maksud Lo. Ayo kita makan siang sama," ajak Isna.
Mereka mencari cafe untuk makan siang. Hingga akhirnya Meka dan Isna memilih cafe yang pas untuk mereka kumpul.
Meka dan Zain serta kedua sahabatnya masuk ke dalam cafe itu. Mereka memilih tempat duduk untuk berempat.
Setelah mereka duduk dan memesan makanan, mereka mulai ngobrol.
"Mek, gw seneng banget bisa jalan hangout bareng Lo lagi. Jadi teringat waktu pertama kita menjadi sahabat, ya kan Deon?" ucap Isna menyenggol Deon.
"Iya Mek, gak terasa ya kita udah mau selesai juga. Oh ya besok kuliah berangkat bareng ya. Gw pengen makan soto tempat kita dulu kumpul," ajak Deon mengingat kenangan mereka dulu.
__ADS_1
"Boleh juga tuh. Gimana Mas, besok berangkat bareng ya sama mereka," Meka menoleh kearah Zain meminta persetujuannya.
"Iya, besok kita berangakt bareng. Mas juga mau menyelesaikan tugas dulu di ruangan nantinya," balas Zain yang mengiyakan keinginan Meka.
Setelah melewati obrolan panjang di cafe itu, mereka melanjutkan jalan-jalannya. Zain tidak jadi mengajak Meka untuk membeli sesuatu. Dia merasa kurang nyaman karena adanya Isna dan Deon.
"Sayang, besok aja kita kemari lagi ya. Gak enak sama mereka kalau Mas belikan kamu sekarang," ucap Zain.
"Iya Mas, gak apa-apa kok. Besok-besok aja kalau kita jalan berdua lagi ya Mas," balas Cha dengan tersenyum.
Zain pun mengangguk mengiyakan ucapan istrinya yang sangat dicintainya.
"Mek, ayo kita ke Butik itu, gw pengen beli sesuatu disana," ajak Isna.
"Ayo," balas Meka.
"Mas, kita kesana ya. Aku pengen beli sesuatu disana," ajak Meka sama Zain.
"Kamu mau beli apa sayang?" tanya Zain.
"Ada deh, nanti Mas juga akan tau kok," jawab Meka yang menyembunyikan sesuatu.
Meka ingin membelikan Zain kaos warna kesukaannya. Dan di Butik itu ada baju untuk laki-laki dan perempuan. Selain Meka, Isna juga ternyata ingin membelikan kemeja buat Deon. Mereka dua wanita yang perhatian terhadap pasangannya.
Setelah mereka memasuki Butik itu, Meka mengajak Zain ke pakaian laki-laki. Meka memilih-milih pakaian yang pas buat Zain.
"Mas, sepertinya ini pas buat Mas. Coba kamu tes bajunya," suruh Meka.
"Kamu suka baju ini ya?" tanya Zain.
"Iya Mas, warnanya aku suka banget dan sepertinya itu sangat pas di Mas nya," jawab Meka.
"Ya udah Mas coba dulu ya sayang," ucap Zain.
Lalu Zain masuk keruang ganti pakaian. Dia pun mencoba pakaian yang di sukai Meka. Setelah dia mencobanya, Zain keluar dari ruang ganti dan memperlihatkannya terhadap Meka.
"Waowww Mas...kamu tampan sekali!" puji Meka dengan senangnya.
"Berarti Mas tampan kalau pakai warna kesukaan kamu ya sayang?" tanya Zain polosnya.
__ADS_1
"Iya Mas, cakep pokoknya. Aku suka Mas pakai baju warna itu," jawab Meka.