
Sang Khodam hanya terdiam mendengar ucapan Kakek tua. Khodam itu pun menghilang dari hadapan Kakek tua.
Sementara Kakek tua masih setia berada di ruangan itu dengan duduk bermeditasi di atas lantai.
Di tempat lain, dimana Mamanya Mona dan Mona sedang menikmati harinya di pusat perbelanjaan. Wajah Mona yang kian hari makin mempesona berkat susuk yang dipasangnya membuatnya lebih percaya diri.
"Ma, aku ingin membelikan Mas Zain baju dengan warna kesukaannya. Mama bisa temani Mona kan?" tanya Mona saat mereka maru saja memasuki Mall terbesar di Jogja.
"Tentu sayang, Mama akan menemani kamu belanja," jawab Mamanya. "Tapi sayang, apakah kamu tidak ingin membelanjakan Mamamu yang cantik ini juga? Lihat baju Mama, ini terus yang Mama gunakan kalau pergi ke Mall," ucap Mamanya dengan wajah memelas.
"Bukannya Mona baru saja memberikan Mama sesuatu yang mahal. Terus kenapa Mama memintanya lagi!" kesal Mona. Dia menatap ke arah Mamanya dengan wajah dongkolnya.
"Sayang, yang kamu kasih ke Mama kemaren kan Tas, kalau ini Mama pengen baju satu set. Masa sih kamu keberatan memberikannya. Padahal sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Zain," balas Mamanya yang tak mau menyerah.
Mona pun berpikir saat mendengar ucapan Mamanya.
"Hmmm benar juga yang dikatakan Mama. Sebentar lagi aku akan menjadi istri Zain. Dan aku akan menguasai hartanya," bathin Mona dibarengi senyum di wajahnya.
"Sayang, kamu memikirkan apa?" tanya Mamanya sambil mendekatkan wajahnya ke hadapan Mona.
"Mama....!" teriak Mona karena terkejut tiba-tiba wajah Mamanya sudah ada di depan wajahnya. "Kenapa buat Mona kaget begini!" bentak Mona tak suka.
"Habis kamu diam aja. Nanti kesambet demit di sini loh sayang," ucap Mamanya menakuti Mona.
"Apaan sih Ma. Jangan buat Mona takut deh," kesal Mona.
"Hahaha, masa iblis takut sama demit," ledek Mamanya Mona.
Mona terdiam mendengar kata-kata Mamanya yang tak enak di dengar.
Mamanya pun tersadar akan ucapannya yang mengatai Mona iblis. Lalu Mamanya senyum-senyum melihat Mona.
"Sayang jangan marah ya. Apa yang Mama ucapkan itu kebenarannya kan sayang. Kamu kan sedang bersekutu sama iblis. Masa takut sama demit," ucap Mamanya yang berusaha menjelaskan.
Mona tak menghiraukan ucapan Mamanya. Dia pergi berjalan ke arah toko baju yang menjual perlengkapan laki-laki.
"Sayang, tungguin Mama dong!" seru Mamanya yang sengaja ditinggal Mona.
Mamanya Mona berjalan cepat mengikuti langkah Mona dari belakang hingga dia pun bareng sama Mona memasuki toko itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih gak nungguin Mama? Main nyelonong aja ninggalin Mama. Dasar anak gak sopan kamu," gerutu Mamanya yang ngos-ngosan karena mengejar Mona.
"Mama mau nyerocos terus atau diam. Mona mau nyari baju buat Mas Zain nih!" bentak Mona dengan beraninya.
"Iya-iya Mama akan diam. Asal kamu jadi membelikan Mama baju satu set," balas Mamanya yang masih tetap pada keinginannya.
"Iya nanti Mona belikan. Sekarang Mona harus memilih-milih baju buat Mas Zain. Karena rencananya Mona sore ini akan ke Apartment Mas Zain," ucap Mona.
"Wah sayang, kamu emang pinter. Maju terus pantang mundur. Buat dia terpesona melihat kecantikan kamu sayang," dukung Mamanya.
"Mama tenang aja. Mona sudah menyiapkan segalanya. Mona harap Mama terus mendukung Mona," pintanya.
"Tentu sayang, Mama akan mendukung kamu terus," balas Mamanya dengan senang hati. Mamanya Mona tersenyum jahat, karena dia pun memiliki niat tidak baik terhadap hubungan Mona dan Zain.
Mereka berdua berjalan-jalan mengitari toko itu, hingga akhirnya Mona menemukan baju yang diinginkannya.
"Wah baju ini bagus banget!" serunya. Mona merasa senang karena sudah mendapatkan baju pilihannya. "Pasti Mas Zain suka dengan baju ini," ucapnya dengan percaya diri.
"Ini bagus banget Mona. Pilihanmu gak salah. Zain pasti senang menerima pemberianmu ini," sambung Mamanya yang terus memberikan pujian terhadap pilihan Mona.
"Siapa dulu Ma, Mona gitu loh," ucapnya dengan bangga.
Setelah selesai dengan beberapa baju pilihan Mona, mereka keluar dari dalam toko itu. Namun tak disangka, Mona mendapatkan bisikan dari iblis itu yang menginginkan tumbal janin saat ini juga.
"Apa..!" pekik Mona terkejut. Ntah kenapa Mona bisa mendengarkan bisikan iblis itu dengan jelas. Dia pun bingung melakukannya.
"Apa-apaan sih kamu Mona, teriak begitu," protes Mamanya. "Lihat tuh, banyak mata yang melihat ke arah kita," tunjuk Mamanya dengan menggunakan dagunya.
"Ma--a, iblis itu menginginkan tumbal janin saat ini juga," bisik Mona dengan gugup.
"Apa..!" pekik Mamanya. Sekarang Mamanya Mona yang dibuat terkejut dengan permintaan iblis itu.
"Hussst, Mama jangan teriak begitu," Mona menyuruh Mamanya diam.
"Gimana Mama tidak teriak Mona....!" geram Mamanya. "Dimana kita mencari tumbal janin saat ini. Lagian iblis itu tidak bisa lihat apa, orang lagi senang-senang," kesal Mamanya.
"Mama ini gimana sih, itu tuh iblis. Bukan manusia yang bisa menunda keinginannya," balas Mona. "Jadi gimana dong Ma. Kalau tidak dituruti, bisa-bisa susuk yang sudah Mona pakai hilang. Dan kesempatan Mona buat dapatin Mas Zain hilang dong Ma...," ucap Mona sambil merengek.
"Kamu bisa diam gak sih. Mama lagi mikirin caranya nih," bentak Mamanya.
__ADS_1
Kemudian Mamanya Mona mengedarkan pandangannya ke segala arah di dalam Mall itu. Lalu matanya menangkap sosok wanita yang sedang hamil muda. Karena dilihat dari kondisi perutnya masih menonjol sedikit.
"Ayo ikutin Mama, kamu ikutin aja apa kata Mama," ajak Mamanya.
Mona heran akan tingkah Mamanya. Namun saat ini dia hanya mengikuti kemana Mamanya membawa dirinya.
Mereka berjalan menuju arah seorang wanita yang menjadi incaran Mamanya.
"Kamu lihat wanita itu? Dia sedang hamil," tunjuk Mamanya melalui arah pandangan matanya.
"Darimana Mama tau kalau wanita itu sedang hamil?" tanya Mona bingung.
"Kamu gak lihat tas belanjaannya. Dia membawa susu ibu hamil dalam kresek belanjaan yang berwarna putih itu," tunjuk Mamanya lagi.
Mona memperhatikan tas belanjaan itu yang ternyata memang benar kalau wanita itu baru saja belanja di sebuah supermarket besar di dalam Mall.
"Terus apa yang akan kita lakukan Ma?" tanya Mona bingung.
"Tunggu, Mama juga lagi memikirkannya Mona," jawab Mamanya yang sedang berpikir keras.
Lalu Mamanya Mona memiliki ide. Dia membisikkan sesuatu ke telinga Mona.
"Wah...Mama benar-benar hebat dan pinter," puji Mona.
"Siapa dulu, Mama gitu loh," bangga Mamanya sambil senyum bangga.
"Kalau begitu ayo kita lakukan Ma," ajak Mona bersemangat.
Mereka berdua berjalan mendekati wanita yang sedang sendirian menunggu suaminya di depan cafe. Mona berpura-pura meminum minuman yang di belinya sambil berjalan mendekati wanita itu. Kemudian dia dengan sengaja menabrak kan dirinya ke wanita itu sehingga minuman yang di pegang nya tumpah mengenai baju wanita itu.
"Oh ya ampuuun Mbak...aduh maaf-maaf," Mona berpura-pura merasa bersalah.
"Mbak kalau jalan hati-hati dong. Lihat ini tumpah ke baju saya minuman coklatnya," bentak wanita itu.
"Iya Mbak maaf. Jadi gimana dong! Apa saya ganti bajunya, kita beli ke toko baju sana, atau gimana Mbak," Mona berpura-pura panik.
"Sayang, kamu gimana sih. Teledor banget, jalan tuh pakai mata dong nak...," Mamanya Mona berpura-pura marah dengan sikap Mona.
Mona hanya diam menunduk merasa bersalah dengan tingkah sembrono nya.
__ADS_1